Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Jangan Terkecoh


__ADS_3

Anna mengira lubang itu tidak memiliki dasar namun ketika tubuhnya mendarat di atas suatu yang keras, Anna merasa lega namun tubuhnya terus berguling setelah berada di bawah lalu menghantam sesuatu benda yang keras.


Anna berteriak kesakitan, tubuhnya terasa remuk karena sudah dua kali tubuhnya menghantam benda keras seperti batu. Anna kembali memuntahkan darah segar, jika terus seperti itu maka dia akan kehabisan darah.


Satu lengannya seperti keseleo. Anna meringis karena sakit, dia merasa punggungnya terdapat banyak memar dan luka akibat benturan. Entah memar itu akan terlihat di dunia nyata atau tidak yang pasti punggungnya terasa sangat sakit.


Anna melihat sekeliling, walau tubuhnya terasa sakit tapi dia sangat berharap makhluk-makhluk buta itu tidak mengejarnya. Tapi dia tidak boleh senang terlebih dahulu karena bisa saja setiap makhluk memiliki daerah kekuasaannya sendiri. Anna beranjak, mengambil senter yang jatuh tidak jauh lalu mencoba mengarahkan senternya ke atas tapi tidak ada apa pun yang bisa dia lihat.


Dia memang terjatuh tapi entah dia berada di atas atau di bawah saat ini, dia tidak tahu. Dia bahkan sangat yakin jika kompas tidak akan berfungsi di tempat itu. Sekarang dia harus ke mana, kanan atau kiri? Depan atau belakang? Mau ke arah mana dia sendiri bingung.


Anna melihat sekeliling, dia akan kehabisan waktu jika dia terus melawan para penghuni alam gaib yang dia yakini pasti akan lebih banyak lagi. Senjata api yang dia bawa tidak mempan apalagi satu pistolnya sudah hilang, jatuh entah ke mana namun dia melupakan salib dan air sucinya.


Dia masih kebingungan, tidak tahu harus ke mana karena semuanya gelap dan dia tidak bisa melihat apa pun.


"Ke mana aku harus pergi, apa kau memiliki petunjuk?" Anna berbicara pada roh pelindungnya.


"Ke mana pun kau melangkah, sama saja Anna. Teruslah melangkah maju, jangan tergoda dengan apa pun!"


Anna mulai melangkah sambil mengangkat senter, kegelapan yang semakin mencekam. Dia harus waspada jika ada makhluk mengerikan lagi yang akan menghadang langkahnya.


"Apa kau tahu di mana Mariana menyimpan kedua benda itu?" tanya Anna, hanya roh pelindungnya yang bisa diajak bicara.

__ADS_1


"Kau tidak mungkin berpikir Mariana menyimpan kedua benda itu di tempat gemerlap yang disukai oleh banyak orang, bukan?"


"Bagaimana aku bisa menemukan keberadaan tempat itu sedangkan hanya kegelapan saja yang ada dan aku tidak bisa melihat apa pun!"


"Teruslah melangkah maju, kau pasti akan menemukan tempat itu karena akan ada sebuah tempat di mana kegelapan tidak begitu menguasainya namun kau harus berhati-hati karena Mariana tidak membiarkan tempat itu bisa diterobos dengan mudah."


Anna semakin melangkah maju, degup jantungnya terdengar dan suara napasnya akibat tempat yang sangat sunyi. Anna bahkan menelan ludahnya, dia merasa suasana semakin mengerikan melebihi tempat tadi.


"Hi... Hi.. Hi... Hi...!" tiba-tiba terdengar suara tawa mengerikan berada tidak jauh darinya.


Anna menyinari sekeliling untuk melihat situasi namun tidak ada apa pun di sekitarnya.


"Hi.... Hi.... Hi.... Hi...!" suara tawa mengerikan itu terdengar tepat dibelakangnya. Anna berbalik untuk mencari sumber suara tapi tidak ada.


Kini tawa mengerikan itu terdengar di semua penjuru arah, jantung Anna semakin berdegup. Sebaiknya dia terus melangkah maju karena dia merasa makhluk-makhluk itu ingin mengecoh dan memperlambat langkahnya. Anna tidak mempedulikan tawa mengerikan yang masih juga terdengar apalagi dia sudah memutuskan untuk pergi.


Tawa itu terhenti, Anna berbalik namun Anna dikejutkan oleh sosok wanita menakutkan yang sudah berdiri di belakangnya. Sosok wanita bergaun hitam dengan wajah pucat itu membuka mulutnya sehingga memperlihatkan kedua taringnya yang panjang.


Anna bahkan berteriak dan melangkah mundur sampai dia terjatuh. Tawa-Tawa itu kembali terdengar, seperti menertawakan dirinya. Jantung Anna bagaikan genderang, napasnya bahkan memburu.


Senter diangkat dengan tangan yang gemetar, sosok wanita tadi yang mengejutkan dirinya tertawa lalu terbang ke belakang. Sosok itu berubah seperti kain hitam yang tipis dan terbang ke udara.

__ADS_1


Anna mengarahkan senternya dan mengikuti ke mana sosok itu terbang lalu dia terkejut melihat banyaknya sosok itu melayang di udara. Sosok-sosok menyeramkan itu menghadap ke arahnya, semula mereka seperti kain tipis namun mereka mulai berubah di mana mereka bagaikan vampir.


Para Makhluk tersebut menyeringai, memperlihatkan senyum mengerikan mereka lalu para makhluk itu berteriak sehingga mulut mereka tertarik ke bawah dan memperlihatkan gigi mereka yang tajam. Para makhluk itu terbang ke arah Anna dengan cepat, kedua tangan mereka berada di depan seperti siap mencekik Anna. Kuku mereka yang hitam dan panjang keluar bagaikan pisau yang siap mencabik mangsa.


"Hi.... Hi.... Hi.... Hi...!" para makhluk itu pun tertawa mengerikan.


Anna merogoh kantong celana seperti mencari sesuatu. Makhluk mengerikan yang semakin dekat membuatnya panik. Anna terus mencari benda yang dia butuhkan namun para makhluk yang menyerupai vampir itu sudah semakin dekat.


Makhluk itu semakin dekat, Anna semakin panik apalagi dia baru menemukan apa yang dia cari.


"Kau akan menjadi mangsa kami!" teriakan itu menggelegar.


Salah satu makhluk yang ada di paling depan sudah tidak begitu jauh, tangan dengan kuku yang panjang bagaikan pisau siap mencakar dan mencabik tubuh Anna. Anna sudah mendapatkan apa yang dia mau dan ketika jarak yang semakin minim di mana tangan makhluk itu sudah terayun hendak mencakar Anna, pada saat itu pula Anna mengarahkan salib yang dia dapatkan ke arah makhluk-makhluk tersebut.


Anna memegangi salib itu dengan kedua tangannya yang gemetar dan memegangnya dengan kuat. Anna bahkan berpaling karena dia merasa apa yang dia lakukan adalah hal paling konyol tapi siapa yang menduga, para makhluk itu terkejut melihat salib yang ada di tangan Anna lalu para makhluk menakutkan itu berteriak dan terbang ke belakang.


Anna membuka kedua matanya, dia ingin melihat apa yang terjadi. Para makhluk itu berteriak marah dan terlihat ketakutan. Anna mengatur napasnya, akhirnya salib yang dia bawa berguna juga. Anna berdiri, salib masih mengarah ke arah makhluk yang marah. Kali ini dia yakin bisa melewati mereka tanpa membuat keributan.


Tidak saja salib, Anna juga mengeluarkan air suci yang dia simpan di dalam botol semprot. Anna melewati para makhluk yang memandanginya dengan tatapan amarah. Mereka bahkan mencoba mendekati Anna namun salib dan air suci membuat para makhluk itu tidak berdaya. Kali ini Anna benar-benar beruntung. Dia bahkan mulai melangkah menjauhi para makhluk yang masih saya menatapnya dengan penuh amarah.


"Akhirnya bisa lewat tanpa adanya keributan!" ucap Anna.

__ADS_1


"Tetap waspada, Anna. Dan ingat, jangan terkecoh dengan apa pun!" roh pelindung memberinya peringatan.


"Aku tahu, sekarang ke mana kita akan pergi?" Anna menyinari tempat itu menggunakan senternya, ke mana dia harus pergi? Pertanyaannya itu kembali diulang namun langkahnya terhenti saat melihat sosok yang tidak asing baginya. Seorang wanita bergaun merah dengan sebuah payung di tangan. Itu adalah Arwah Natalie. Apa itu ilusi atau itu nyata? Ataukah itu jebakan yang disengaja? Apa pun itu, Anna harus bisa membedakannya.


__ADS_2