Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Jadilah Pacarku


__ADS_3

Malam melelahkan yang Anna lewati, membuat Anna lelah luar biasa. Anna terlelap tanpa ada yang mengganggu, ibu dan bibinya belum bertanya karena mereka membiarkan Anna beristirahat terlebih dahulu.


Sesungguhnya mereka bisa menebak apa yang terjadi karena Anna kembali dengan wajah lelah dan lesu, Anna juga tidak membawa apa pun. Mobil polisi yang dia gunakan sudah diambil kembali, beberapa polisi bahkan datang untuk berbicara dengan Anna namun ibu Anna tidak mengijinkan karena Anna butuh istirahat namun saat Nick dan Lucia datang, mereka dipersilahkan untuk masuk.


Nick dan Lucia sudah melihat apa yang terjadi, Lucia memaksa Nick membawanya ke rumah Anna. Lagi pula lukanya sudah sembuh, dia sudah diijinkan untuk kembali ke sekolah.


"Jika Anna masih tidur sebaiknya kami pergi, Aunty," ucap Nick. Dia tidak mau mengganggu tidur Anna.


"Tidak apa-apa, pergilah bangunkan dia. Yang manis ini ikut aku untuk membuat minuman," ibu Anna mengajak Lucia ke dapur.


"Ini kesempatanmu, Kak. Jadikan dia kakak iparku!" goda Lucia sambil berbisik.


"Sttss, ibunya mendengar!"


"Tidak perlu malu, sana!" Lucia mendorong tubuhnya kakaknya sedikit lalu melambaikan tangannya sebagai isyarat agar kakaknya cepat pergi.


Nick menggeleng, Lucia mengikuti ibu Anna ke dapur di mana bibi Anna juga ada di sana. Nick melihat ke arah kamar setelah dia ditinggal sendirian, sudahlah. Kakinya pun melangkah, menuju kamar Anna. Pintu kamar itu tidak terkunci sehinga bisa dia buka dengan mudah.


Nick masuk ke kamar yang remang karena seluruh jendela ditutup rapat. Senyuman menghiasi wajahnya, melihat Anna yang masih pulas. Dengan perlahan, Nick duduk di sisi ranjang. Rambut yang menutupi wajah Anna pun disingkirkan. Senyuman kembali menghiasi wajah dan tatapan matanya tidak lepas dari wajah cantik Anna.


"Anna," Nick memanggil, tubuhnya sedikit membungkuk lalu sebuah ciuman mendarat di pelipis Anna.


"Jangan ganggu aku, Barrow!" Anna menepis lalu berbalik.


Nick tampak tidak senang karena Anna menyebut nama Barrow. Apa Anna memiliki perasaan spesial pada pria itu? Hal itu bisa saja terjadi, sebab itu Anna belum membalas perasaannya.


Tiba-Tiba saja hatinya terasa panas Sepertinya dia sedang cemburu. Perasaan tidak suka pada Barrow kembali muncul padahal perasaan itu sudah tidak dia rasakan lagi.


"Anna," kini Nick naik ke atas ranjang dan berbaring di sisi Anna.


Anna masih juga tidur, dia belum menyadari jika Nick sedang memeluknya saat ini dan mencium bahunya yang terbuka.

__ADS_1


Bibir Nick tidak berhenti, Anna mulai merasa geli namun pelukan hangat pria itu membuatnya nyaman. Anna masih menikmatinya, tapi tiba-tiba matanya terbuka. Siapa yang sedang memeluknya saat ini?


Anna meraba pistol yang ada di bawah bantal, apa ada pemerkosa? Akan dia lubangi kepala orang yang begitu berani memeluk dan menciumnya.


Pistol sudah di tangan, Anna berbalik lalu pistolnya berada di dahi Nick dalam sekejap mata. Nick terkejut begitu juga Anna.


"Nick," ucapnya. Anna terlihat tidak percaya, bagaimana Nick bisa berada di dalam kamarnya?


"Wow, Anna. Bisakah turunkan pistolnya terlebih dahulu?" pinta Nick, kedua tangan sudah tidak memeluk Anna dan terangkat.


"Bagaimana kau bisa di dalam kamarku?" tanya Anna. Pistol segera disingkirkan.


"Ibumu yang meminta aku masuk dan membangunkanmu. Aku datang bersama Lucia untuk menjengukmu," kini tangannya kembali melingkar di tubuh Anna.


"Lalu, kenapa kau naik ke atas ranjangku dan berbaring denganku, Tuan Devan?"


"Kau begitu cantik saat tidur jadi aku tidak tahan untuk memelukmu."


"Apa kau sudah memikirkan pertanyaanku, Anna?" tanya Nick seraya mencium wajah Anna tiada henti.


"Yang mana?"


"Lagi-Lagi kau pura-pura tidak tahu, jadilah pacarku, Anna. Apa kau belum mendapatkan jawabannya?"


"Aku belum memikirkan hal itu, Nick. Aku sibuk dengan kasus yang sedang aku selidiki," Anna berbaring telentang, napas berat dihembuskan dan tatapan mata tertuju pada langit kamar.


"Aku sudah melihatnya, berita itu. Apa yang terjadi padamu semalam?" Nick juga berbaring telentang, dia tampak melirik ke Anna sesekali.


"Entahlah, semua sulit diungkapkan dengan kata-kata. Aku mencari sesuatu tapi aku justru menemukan para korban itu."


"Apa kau mencari pembunuh berantai?"

__ADS_1


"Anggap saja begitu," Anna berpaling, melihat ke arah Nick. Nick juga melakukan hal yang sama, Mereka saling pandang dan setelah itu Nick kembali mencium bibir Anna.


Rasanya tidak ingin melepaskan Anna, Nick semakin mencium bibirnya dengan penuh naf*su namun dia harus menahan diri karena sesuatu. Bibir mereka terlepas saat suara ketukan pintu terdengar dan terdengar pula suara ibu Anna.


"Anna, Nick. Ayo makan siang bersama," ucap ibu Anna.


"Kami akan segera keluar, Mom," teriak Anna.


Nick beranjak dari tempat tidur, Anna juga melakukannya. Tapi dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka terlebih dahulu. Mereka keluar bersama dari kamar, mereka pun langsung menuju dapur. Nick menyapa ibu dan bibi Anna namun sang bibi terkejut melihat aura gelap yang ada di belakang Nick.


Lucia sangat senang melihat Anna. Gadis itu melangkah mendekat dan memeluknya. Anna juga senang melihatnya namun dibalik rasa senang itu tersimpan sebuah rasa cemas luar biasa.


"Bagaimana kabar kak Anna?" tanya Lucia.


"Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu? Arwah itu tidak mengejarmu lagi, bukan?" Anna melepaskan Lucia dari pelukannya dan menatap Lucia dengan lekat.


"Tidak, semua berkat jimat yang kak Anna berikan. Aku sudah tidak melihat mereka dan merasakan mereka lagi."'


"Bagus," ucap Anna tapi sesungguhnya rasa cemas dan rasa curiga dia rasakan. Seharusnya si payung merah masih mengincar jiwa murni Lucia. Dia yakin jimat itu tidak bisa menghalangi apalagi si payung merah pernah merasuki seseorang untuk meracuni Lucia jadi tidak menutup kemungkinan si payung merah bisa melakukannya lagi.


Semuanya, dia tahu semua bisa diungkap jika dia bisa mengajak si payung merah berbicara karena dia merasa arwah si payung merah adalah kunci untuk mengungkap semuanya tapi pertemuan terakhir mereka menunjukkan jika arwah si payung merah adalah pion yang tidak berdaya.


"Nanti saja berbincangnya, kita makan terlebih dahulu. Kau belum makan dari pagi, Anna," ucap ibunya.


"Dari semalam, Mom. Aku benar-benar sudah lapar!" Anna mengusap perutnya yang lapar.


"Beberapa petugas yang mengambil mobil yang kau bawa mencarimu, Anna. Mereka bilang ada yang hendak mereka bicarakan padamu dan itu penting," ucap ibunya lagi.


"Aku akan menghubungi mereka nanti!"


Anna mengajak Nick dan Lucia untuk makan bersama. Ibu dan bibinya terlihat menyukai Lucia, mereka bahkan terlihat akrab dengan cepat. Mungkin mereka tahu jika Lucia adalah jiwa murni yang diinginkan oleh Mariana apalagi dia pernah menyebut nama Lucia namun tatapan mata sang bibi tidak lepas dari asap tipis yang ada di belakang Nick dan asap itu semakin lama semakin memudar. Apakah ada yang mengikuti Nick Devan? Entah kenapa bibinya merasa jika pria itu dalam bahaya.

__ADS_1


__ADS_2