Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Trik Yang Harus Dipecahkan


__ADS_3

Anna menyelipkan payung merah itu baik-baik, payung yang tidak besar. Payung itu seperti payung kecil buatan cina, menggunakan gagang bambu dan kain. Payung yang sangat cocok untuk mengurung arwah, payung seperti itu pun tidak mudah rusak walau kainnya sudah terlihat robek.


Payung yang dia temukan dengan susah payah, Anna simpan baik-baik. Sekarang tinggal mencari pisau Artsbond saja lalu misinya selesai.


"Sekarang tinggal mencari pisau itu," ucap Anna. Dia siap kepetualangan berikutnya. Satu benda sudah didapatkan, dia jadi kembali bersemangat.


"Tetap waspada, Anna. Yang kali ini pasti lebih sulit lagi."


"Aku tahu tapi mau sesulit apa pun, Mariana tidak akan bisa menghalangi langkahku dengan jebakan dan makhluk yang dia ciptakan."


"Ternyata kau lebih berani yang aku duga," ucap roh pelindungnya.


"Jika aku penakut maka aku tidak akan menjadi seorang agen!" senter diangkat, ruangan gelap disinari karena sudah saatnya mencari keberadaan pisau Artsbond.


Roh pelindungnya kembali menuntut Anna melewati ruangan-ruangan aneh yang terus berpindah. Lorong-lorong sempit pun harus dia lewati sampai akhirnya Anna berada di sebuah ruangan di mana di tengah-tengah ruangan itu kosong dan memiliki lubang besar seperti jurang yang dalam. Anna harus melewati ruangan itu jika mau sampai ke sisi ruangan lainnya.


"Now what?" tanya Anna.


"Lewati jurangnya," ucap Roh pelindungnya.


"I know, but how?" lampu senter menyinari sekitar, mungkin saja ada tanaman rambat sehingga dia bisa melewati jurang itu seperti tarzan namun tidak ada.

__ADS_1


"Setiap jebakan, pasti ada cara untuk melewatinya, Anna. Carilah dengan teliti. Kita sudah berada di sini jadi jangan menyerah apalagi benda itu tidak jauh lagi."


"Aku tahu, aku tidak mungkin menyerah dan akan bisa melewatinya!" setelah berkata demikian, Anna melangkah ke sisi kiri dan melihat dinding batu dengan teliti. Pasti ada cara, dia yakin Mariana pasti membuat sesuatu yang bisa dilewati.


Setelah mempelajari pola batu yang ada di sisi kiri, Anna melangkah ke arah kanan dan melihat bebatuan yang ada di dinding. Dinding sebelah kiri sangat berbeda dengan dinding sebelah kanan. Bentuk-Bentuk pola kedua dinding sangatlah berbeda. Anna kembali ke sisi kiri untuk mempelajari pola yang ada lalu dia ke sebelah kanan lagi.


Jika dia tidak salah, sepertinya pola-pola itu saling berhubungan. Mungkin saja pola-pola tersebut akan memberikan sebuah jalan untuknya menyeberangi lubang besar yang menganga tanpa tahu ada dasarnya atau tidak.


"Apa yang kau lakukan, Anna?" tanya roh pelindungnya karena Anna hanya mondar mandir sedari tadi.


"Aku sedang mempelajari pola di kedua dinding ini. Ini seperti sebuah trik yang harus dipecahkan. Lambang ini," Anna menunjuk sebuah lambang tengkorak lalu menyinari dinding yang ada di sebelah kiri, "Dan lambang yang ada di sana, memiliki hubungan. Air dan api, bumi dan langit. Aku jadi teringat cerita rakyat cina jaman kuno," ucap Anna. Kini dia melangkah menuju dinding yang lain dan mempelajari setiap pola yang ada.


"Kau mendapatkan sesuatu, Anna?"


Anna mengarahkan senternya ke atas dan bawah lalu kakan ke kiri untuk melihat apa yang terjadi. Tidak ada apa pun, Anna memberanikan diri melangkah maju dan mendapati sebuah tangga berada di sisi dinding sebelah kanan. Tangga itu memiliki jarak yang lumayan jauh dan kecil.


Kakinya mulai melangkah mendekati tangga tersebut. Sudah dia duga, pasti ada cara untuk menyeberangi lubang tersebut namun tangga-tangga itu hanya untuk satu pijakan kaki saja.


Anna menghela napas, payung diselipkan dengan aman. Jangan sampai jatuh ke bawah jika tidak semua usahanya akan sia-sia.


Setelah merasa payung itu aman, Anna kembali mengulum senternya. Dia benar-benar harus melangkah dengan hati-hati. Satu anak tangga yang hanya cukup untuk satu pijakan kaki pun dilalui. Anna menempel pada dinding dan berpegangan pada dinding batu untuk melangkah ke anak tangga berikutnya yang berjarak satu meter.

__ADS_1


Setiap anak tangga itu berjarak satu meter dari satu anak tangga ke anak tangga yang lain oleh sebab itu, Anna benar-benar hati-hati karena jika dia terpeleset atau kakinya tidak sampai maka dia akan terperosok ke bawah.


Anna menapakkan kakinya dengan hati-hati, dia sudah berada di tengah-tengah saat itu namun langkahnya terhenti saat mendengar suara batu yang begeser. Anna melihat sekitar, senter yang dikulum pun diambil.


Entah kenapa dia curiga dengan anak tangganya. Anna menyenter ke arah anak tangga yang sudah dia lewati dan benar saja. Anak tangga yang sudah dia lewati dengan perlahan masuk ke dalam dinding batu.


"Sial!" Anna mengumpat, senter pun kembali dikulum. Dia harus cepat jika tidak semua anak tangga itu akan kembali masuk ke dalam dinding batu sehingga dia tidak memiliki pijakan lagi.


Di tengah rasa panik akibat dikejar oleh anak tangga yang mulai masuk kembali, Anna melewati anak tangga yang berjarak satu meter itu dengan cepat. Dia bakhan hampir jatuh beberapa kali akibat panik. Dua anak tangga yang baru dia lewati mulai masuk ke dalam dinding. Anna semakin panik saat anak tangga yang dia pijak mulai bergerak masuk.


Umpatannya kembali terdengar, celaka. Masih ada lima anak tangga yang harus dia lewati. Anna semakin melangkah cepat, empat anak tangga lagi, tiga, lalu dua tapi dia sudah hampir kehabisan anak tangga dan sialnya anak tangga yang dia pijak mulai masuk besamaan dengan dua anak tangga terakhir. Anna panik bukan kepalang, sebelum anak tangga yang dia pijak masuk semuanya ke dalam dinding batu, Anna melempar senter ke sisi ruangan lalu Anna melakukan aksi nekat yaitu melompat ke arah sisi lubang yang berjarak dua meter. Hanya itu saja cara yang dia punya, seandainya dia lebih cepat mungkin dia tidak perlu mengalami hal itu tapi dia tidak menduga jika tangga-tangga itu akan kembali masuk ke dalam dinding.


Teriakan Anna ketika melompat tedengar, dia harap dia bisa menggapai sisi lantai namun satu tanggannya justru tergelincir. Anna menggapai dengan satu tangannya lagi dengan terburu-buru dan beruntungnya berhasil. Ringisan Anna terdengar karena dua kukunya terantuk batu hingga terlepas. Telapak tangannya pun tergores oleh batu yang tajam.


Anna berusaha mengangkat tubuhnya dengan satu tangan, lalu satu tangan yang lain memegangi sisi lantai sehingga dia bisa naik dengan mudah. Ana terengah-engah, yang pertama kali dia periksa adalah payung. Beruntungnya masih ada dan tidak jatuh.


"Aku tidak akan melupakan ini," ucap Anna sambil terengah.


"Kau hanya perlu melewati tiga ruangan lagi, Anna," ucap roh pelindungnya.


"Aku istirahat sebentar," Anna berbaring sambil mengatur napas. Tangan meraba kuku yang terlepas. Sial, sakitnya sungguh luar biasa. Setelah beberapa saat, Anna mengambil senter untuk melihat kedua kukunya yang malang. Dia bahkan menarik kedua kuku yang masih sedikit menempel sampai terlepas.

__ADS_1


Anna menahan rasa sakit, dia bahkan menahan suara agar tidak berteriak. Sungguh jebakan yang luar biasa dan dia yakin tiga ruangan yang harus dia lewati pasti memiliki jebakan yang mematikan dan benar saja, dia harus melewati bola api dengan binatang ribuan kalajengking beracun yang mematikan. Panah beracun sambil melewati lantai yang dipenuhi dengan ular berbisa dan juga pisau besar yang bergerak ke kiri dan ke kanan. Jika dia salah melangkah maka dia akan terbelah menjadi dua.


Anna melewati tiga jebakan itu dengan susah payah sampai pada akhirnya dia tiba disebuah ruangan di mana dipenuhi oleh lava yang panas. Anna menelan ludah dan benda yang dia cari berada di tengah-tengah lava itu. Bagaimana cara Anna melewati lava itu untuk mendapatkan pisau Artsbond? Lagi-lagi dia harus mencari cara untuk melewati lava jika dia menginginkan pisau Artsbond yang ada di tengah-tengah ruangan.


__ADS_2