Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Orang Yang Tertuduh


__ADS_3

Nick dan Lucia sudah datang siang itu. Tentunya Lucia sangat mengkhawatirkan keadaan Anna setelah mendengar dari kakaknya jika telah terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan pada Anna. Bagi Lucia yang sudah ditolong oleh Anna berkali-kali, Anna adalah penyelamat. Semula bermula di hutan, jika dia tidak dibantu oleh Anna mungkin malam itu dia sudah mati.


Begitu dia tiba, Lucia langsung mencari Anna. Gadis itu dibawa masuk ke dalam kamar di mana Anna sedang berakting kembali. Anna duduk di depan jendela, tatapannya kosong. Dia pura-pura tidak menyadari kedatangan Lucia. Dia juga pura-pura tidak merespons. Dalam hati sangat lega melihat keadaan Lucia yang baik-baik saja tapi dia tahu, tidak untuk malam bulan purnama karena jiwa murni Lucia'lah yang akan membangkitkan Mariana.


Melihat keadaannya Anna yang hanya duduk diam, Lucia menghampiri Anna. Dia berdiri di hadapan Anna dan menatapnya dengan lekat.


"Kak Anna, Lucia datang untuk menjenguk," ucap gadis itu. Dia harap apa yang dia dengar dari kakaknya tidak benar tapi nyatanya, Anna benar-benar tidak merespons dirinya.


"Kak Anna?" Lucia kembali memanggil. Anna diam dengan tatapan lurus ke depan. Air mata Lucia menetes, gadis itu kembali memanggil Anna dan memeluknya sambil menangis. Ternyata apa yang kakaknya katakan sangatlah benar, Anna seperti boneka hidup.


"Apa yang terjadi denganmu, Kak? Kenapa kau jadi seperti ini?" tanya Lucia di sela isak tangisnya.


Orang yang telah menolongnya, tiba-tiba jadi seperti itu. Apa keadaan Anna karena jimat yang telah berada di tangannya saat ini? Jika begitu lebih baik dia mengembalikan jimat itu.


"Apa keadaan Kak Anna gara-gara dia tidak memiliki jimat yang ada padaku, Aunty?" tanya Lucia pada ibu Anna.


"Aunty rasa tidak ada hubungannya, jangan dipikirkan."


"Tidak, jika keadaan Kak Anna bisa membaik setelah Lucia mengembalikan jimat itu maka akan Lucia kembalikan," Lucia hendak keluar untuk mengambil jimat yang dia simpan di dalam tas.


"Jangan, Lucia. Jika tidak ada jimat itu maka kau akan berada di dalam bahaya!" cegah Nick. Bagaimanapun nyawa adiknya masih terancam.


"Benar, tetaplah pegang jimat itu. Anna tidak akan senang kau mengembalikannya karena lebih dari apa pun, dia ingin kau tetap hidup. Sebab itu dia memberikan jimat itu padamu," ucap ibu Anna.

__ADS_1


"Tapi aku tidak tega melihat keadaan kak Anna seperti ini," Lucia kembali memeluk Anna dan menangis. Kenapa orang sebaik Anna harus mengalami hal seperti itu?


Anna menahan diri, dia harus tetap berada di dalam aktingnya. Lagi pula apa yang dia lakukan saat ini untuk keselamatan Lucia dan dirinya. Seperti rencana awal, keadaannya tidak boleh ketahuan sebelum malam bulan purnama. Saat ini dia justru memikirkan teka teki yang diberikan oleh roh pelindungnya.


Sempit tapi tidak sempit, tempat itu tertutup tapi banyak yang tinggal. Dalam teka teki tersebut tidak mengatakan yang tinggal adalah manusia. Banyak yang tinggal memiliki banyak artiannya, bisa saja itu arwah atau bisa saja binatang. Teka teki itu pun menyebutkan orang awan yang melihat pun tidak menyadari tempat tersebut dan tidak bisa memasukinya. Apa sebenarnya arti dari teka teki tersebut? Apakah kuburan atau semacam lorong rahasia?


Dia merasa informasi itu kurang, dia membutuhkan informasi lebih tapi di mana dia bisa mendapatkan informasi itu? Anna sedang berpikir saat Nick duduk di sisinya dan memberikan ciuman di dahinya. Satu tangan Anna dipegang dan diusap dengan perlahan.


"Ada apa denganmu, Anna? Kenapa kau belum juga kembali dengan kami?" tanya Nick, tangan Anna kembali diusap dengan perlahan.


"Apa jiwamu tersesat di hutan itu? Atau Barrow yang sudah menyesatkan jiwamu? Seharusnya aku tidak mendengarkan perkataanmu dan menghubungi polisi agar Barrow ditangkap. Jujur saja aku takut kau dijadikan tumbal oleh Barrow dalam acara ritual yang dia lakukan. Aku benar-benar takut kau mengalami hal itu sehingga jiwamu sudah terjual pada iblis!" semoga saja apa yang dia takutkan tidak terjadi. Dia harap keadaan Anna segera pulih seperti sedia kala.


"Aku merindukanmu, Anna. merindukan dirimu yang seperti biasa," tangan Anna diangkat dan di kecup perlahan, "Segeralah kembali, kau pasti bisa melawan iblis yang membelenggu jiwamu jika memang Barrow sudah menjual jiwamu pada iblis."


"Kami sudah berusaha, Nick. Orang pintar yang melihat keadaan Anna berkata yang bisa mengembalikan jiwa Anna hanya Anna sendiri," ucap ibu Anna.


"Apa maksudnya, Aunty? Apa dugaanku benar jika Barrow sudah menjual jiwa Anna pada iblis?"


"Entahlah, tapi orang pintar itu berkata memang sudah terjadi sesuatu pada Anna selama di hutan," ucap ibu Anna asal. Semoga dengan kebohongan itu, Nick tidak terlalu banyak bertanya lagi akan keadaan Anna sehingga mereka tidak perlu terlalu banyak berdusta.


"Tidak, aku yakin semua pasti ulah Barrow. Tidak ada lagi yang lain, dia sengaja membawa Anna ke dalam hutan lalu menumbalkan Anna di sana. Oleh sebab itu Anna hilang, aku yakin itu," Nick masih bersikukuh dengan dugaannya karena hanya itu saja alasan paling masuk akal kenapa keadaan Anna bisa seperti itu.


"Benarkah? Apa kau melihat Barrow akhir-akhir ini?" ibu Anna menghampiri Nick dan pura-pura serius.

__ADS_1


"Barrow menghilang, Aunty. Sejak hari itu dia tidak terlihat lagi oleh sebab itu aku curiga dengannya."


"Bagaimana ini? Jika kita bisa menemukan keberadaan Barrow, apa keadaan Anna bisa kembali?"


"Entahlah, aku sedang mencari keberadaannya," napas berat dihembuskan, Nick terlihat putus asa yang menunjukkan seolah-olah dia sudah berusaha untuk mencari Barrow tapi dia belum berhasil.


"Aku harap kau bisa menemukan keberadaannya agar Anna bisa segera kembali pada kita," padahal dia hanya asal bicara saja tapi dia tidak menduga pembicaraan mereka bisa sampai sejauh itu.


"Aku pasti akan menemukan keberadaannya, Aunty. Aku sudah tidak sabar keadaan Anna segera pulih karena aku ingin menikah dengannya," ucap Nick tanpa ragu.


"Benarkah? Apa kakak tidak bercanda?" Lucia yang mendengar perkataan kakaknya sangat senang karena dia memang sangat berharap Anna menjadi kakak iparnya.


"Tentu saja tidak, Lucia. Aku serius."


"Kau dengar itu, Kak?" Lucia kembali mendekati Anna dan duduk di sisinya, "Kakak akan segera menjadi kakak iparku, jadi segeralah kembali dengan kami semua," Lucia bersandar di lengan Anna, dia harap Anna cepat kembali agar keinginan mereka bisa terwujud.


Ibu Anna hanya tersenyum, kabar yang sangat bagus tapi sayangnya untuk saat ini siapa lawan dan siapa kawan belum mereka ketahui jadi mereka harus tetap waspada. Dia berusaha membantu putrinya untuk menutupi keadaannya walau sejujurnya dia tidak tega pada Nick dan Lucia karena mereka sangat baik apalagi mereka sudah datang jauh-jauh untuk menjenguk keadaan Anna.


"Guys, aku membeli cemilan. Apa ada yang mau?" tanya bibi Anna yang baru saja kembali dari membeli barang.


"Tentu saja, bantu aku menuntun Anna ke ranjang," pinta ibu Anna.


"Aku saja dan Lucia, Aunty," Nick beranjak begitu juga Lucia. Ibu Anna tidak mencegah, dia membiarkan mereka berdua menuntun Anna menuju ranjang. Akting Anna benar-benar pantas diberi pujian, dia memainkan aktingnya dengan sangat baik.

__ADS_1


Anna bahkan masih tidak bergeming saat Nick mengecup bibirnya sebelum keluar tapi setelah mereka sudah keluar, Anna menarik napas. Sungguh lelah berakting seperti itu. Sepertinya dia bisa mengambil pekerjaan sampingan menjadi artis dadakan setelah ini.


__ADS_2