
Setelah beristirahat, Anna dan Barrow bergegas menuju lokasi kedua yang agak jauh. Mereka harus menempuh perjalanan selama satu jam. Misi mereka untuk menemukan keberadaan kotak itu tidak boleh gagal. Walau harus dikejar oleh hantu, namun mereka mendapat informasi penting jika kotak yang mereka cari tidak berada di bangunan itu.
Itu sebuah keuntungan untuk mereka, karena jika mereka menyelusuri tempat itu mungkin mereka akan menghabiskan waktu sampai pagi. Hantu itu tidak mungkin berbohong karena mereka bisa melihat bahwa hantu itu sangat marah.
Saat mereka pergi, waktu menunjukkan pukul setengah dua pagi. Jika mereka membawa mobil dengan kecepatan tinggi maka mereka akan tiba di tempat tujuan pukul setengah tiga pagi. Anna yang membawa mobil, sedangkan Barrow masih menenangkan diri karena dia masih shock harus bertatap muka dengan hantu yang jaraknya beberapa senti saja.
"Aku punya ide," ucap Barrow tiba-tiba.
"Ide apa?" Anna masih fokus membawa mobilnya.
"Bagaimana jika kita jadi youtuber saja, Anna."
"Maksudmu?"
"Hantu itu, kau bisa berkomunikasi dengan mereka, bukan? Kita bisa membuat video dan mendatangi tempat-tempat mistis. Kita bisa terkenal, Anna. Si payung merah juga kita bisa ajak bekerja sama untuk membuat para penonton kita takut," ucapnya.
"Sepertinya kau jadi gila setelah bertemu dengan hantu!" ucap Anna kesal.
"Ayolah, saat pagi sampai sore kita adalah agen Anna dan Barrow tapi saat malam kita adalah youtuber yang mencari penampakan hantu. Kita bisa kaya raya, Anna."
"Ya, setelah kita kaya dan terkenal lalu kita akan mati karena tidak pernah beristirahat lalu youtuber lain akan mengejar arwah kita yang penasaran!" ucap Anna.
Barrow terkekeh, yang diucapkan oleh Anna sangat benar. Mereka akan mati setelah terkenal. Anna fokus membawa mobil, sebentar lagi mereka akan tiba. Dia harap kali ini mereka menemukan kotak itu dan membawanya pulang.
Angin berhembus kencang malam itu, pepohonan yang mereka lalui tampak bergerak ditiup oleh angin. Barrow menegakkan duduknya. Tiba-Tiba suasana jadi terasa mencekam.
"Firasatku buruk, Anna," ucapnya.
"Bagus, itu berarti kita sedang menuju kotak itu," ucap Anna.
"Kau terlihat senang," Barrow melirik ke arahnya, Anna terlihat santai saja menghadapi situasi yang terasa mencekam itu.
"Ini kesempatan kita, Barrow. Aku punya firasat jika kita tidak menemukan keberadaan kotak itu malam ini maka kita tidak akan melihatnya sampai bulan purnama datang," ucapnya.
__ADS_1
"Kenapa seperti itu?" tanya Barrow.
"Entahlah, firasatku berkata demikian," ucap Anna.
"Menyebalkan, aku sungguh tidak suka situasi seperti ini!" gerutu Barrow.
Anna tersenyum tipis namun senyuman itu menghilang saat sebuah bangunan tua sudah terlihat. Bangunan itu seperti sebuah kastil, pepohonan yang menjulang tinggi' tumbuh di sekitar bangunan itu.
Barrow menelan ludah, apakah mereka tidak bisa memasuki bangunan tua itu saat matahari sudah besinar? Sungguh jika punya pilihan dia tidak mau memasuki kastil yangg tampak mengerikan itu.
Mobil yang Anna bawa menerobos masuk melalui pagar yang sudah hampir roboh. Kastil itu seperti ditinggalkan sejak jaman kerajaan. Entah siapa pemilik kastil tapi yang pasti tempat itu terlihat mengerikan dan sudah dihuni oleh arwah.
Anna dan Barrow keluar dari mobil, mereka berdiri di depan kastil sambil menerangi bangunan itu. Suasana sudah terasa menyeramkan padahal mereka masih berada di luar. Udara dingin yang berhemmbus justru membuat merinding. Barrow bahkan melihat sekeliling, firasatnya semakin buruk.
Malam itu begitu sunyi, tidak terdengar suara binatang malam sama sekali. Rasanya sebentar lagi mereka akan masuk ke dalam rumah angker paling mengerikan di muka bumi. Barrow bahkan mendekati Anna saat Anna sedang mengecek isi senjata apinya.
"Anna, sebaiknya kita masuk saat pagi saja," ucapnya sambil berbisik.
"Tentu saja aku takut, aku baru saja dikejar hantu. Kau lihat bangunan itu? Kastil itu lebih menakutkan dibandingkan bangunan tadi!" ucap Barrow.
"Jika begitu tunggu di sini jika kau takut!" ucap Anna seraya melangkah maju.
Barrow mengumpat, mau tidak mau Barrow mengikuti Anna. Senjata api pun diambil, begitu juga dengan sebuah senter. Entah mendapatkan keberanian dari mana yang pasti Anna tidak takut sama sekali.
Pintu ditendang hingga terbuka, angin kencang berhembus. Mereka bagaikan disambut dengan kipas angin berkekuatan tinggi. Bau busuk yang entah berasal dari mana sangat menusuk hidung, Barrow bahkan menutup hidungnya begitu juga Anna. Bau itu bagaikan bau bangkai yang sudah berhari-hari berada di tempat itu.
"Firasatku benar-benar buruk, Anna," ucap Barrow.
"Aku juga," kali ini dia benar-benar merasa ada sesuatu yang tidak terduga sudah menunggu kedatangan mereka.
"Bagaimana, apa kita mundur atau terus maju?" tanya Barrow.
"Jangan jauh-jauh dariku, Barrow. Kali kita tidak boleh terpisah," ucap Anna.
__ADS_1
"Baiklah, aku harap tidak bertemu dengan hantu mengerikan seperti tadi lagi!" ucap Barrow.
"Percayalah, sepertinya kita akan bertemu dengan sesuatu yang lebih menggerikan dibandingkan hantu tadi," ucap Anna.
"Hei, apa maksud ucapanmu?" tanya Barrow.
"Go!" Anna melangkah masuk, mereka sudah berada di sana maka mereka tidak akan pergi.
Barrow mengikuti langkahnya memasuki kastil, tempat yang gelap dan bau yang tidak sedap benar-benar membuat suasana semakin menakutkan. Mereka sudah melangkah masuk dan pada saat itu juga, Brraakkk..... Pintu tertutup dengan keras di belakang mereka seperti yang ada menutupnya.
Barrow terkejut begitu juga dengan Anna. Senter mereka sudah mengarah ke arah pintu yang sudah tertutup rapat, ludah kembali ditelan dengan susah payah. Entah sudah berapa kali mereka melakukan hal itu tapi situasi yang mereka alami saat ini benar-benar menakutkan.
Mereka berdua bagaikan terkurung di dalam kastil di mana angin dingin berhembus perlahan membuat bulu roma meremang. Kedua kaki mereka bahkan terasa berat untuk digerakan namun mereka mulai melangkah maju.
Kastil yang begitu luas, mereka menyelusuri kastil itu sambil melewati barang-barang yang dibungkus dengan kain putih. Barrow bahkan terkejut dengan beberapa patung yang ada di dalam ruangan. Mereka terus melangkah namun mereka dikejutkan oleh suara dentingan piano.
Anna dan Barrow mencari datangnya suara, suara dentingan piano semakin terdengar jelas. Mereka tampak heran, lantunan piano yang memainkan musik karya Chopin semakin jelas terdengar. Piano yang ada di ujung ruangan menjadi tujuan mereka. Suara lantunannya tidak juga terhenti, mereka mengarahkan senter ke arah piano tapi tidak ada siapa pun di sana namun setiap tombol yang ada di piano terlihat ada yang memainkannya.
"Apa ini, Anna?" bisik Barrow.
"Ayo kita abaikan, sepertinya ini hanya untuk mengalihkan perhatian kita saja," ucap Anna.
"Kau yakin?" tanya Barrow memastikan.
"Yes, kita tidak boleh terkecoh," ucap Anna.
Mereka hendak melangkah pergi namun tiba-tiba saja lampu ruangan menyala, Anna dan Barrow terkejut namun yang membuat mereka semakin terkejut adalah, tiba-tiba di dalam ruangan itu begitu ramai dengan orang-orang yang berada di sana dan mereka seperti sedang menikmati pesta. Seorang wanita bergaun hitam sudah duduk di depan piano dan memainkan benda itu. Anna dan Barow saling pandang, apalagi sekarang?
Di saat mereka belum mengerti dengan situasi yang ada, mereka berdua dikejutkan oleh sosok yang tidak asing bagi mereka.
"Nick," Anna memanggil pria itu karena Nick sedang melangkah mendekatinya. Anna masih belum paham, dia melihat ke arah Barrow yang sedang melangkah ke arah seorang gadis yang tidak jauh darinya.
"Jenie," Barrow memanggil adiknya yang sudah meninggal lama dan menghampiri adik yang sangat dia rindukan.
__ADS_1