Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Sudah Selesai.


__ADS_3

Angin berhembus melewati Anna yang saat itu masih menunggu tubuh ibu dan bibinya diturunkan dari atas mobil crane. Barrow membantu yang lainnya, malam ini mereka benar-benar sibuk. Kastil tua menjadi saksi bisu untuk apa yang telah terjadi malam ini. Tidak ada wartawan yang meliput karena misi itu memang begitu rahasia.


Anna memperhatikan dedaunan yang menggulung di bawah kakinya, api yang masih menyala pun bergoyang karena di tiup oleh angin. Sebuah perasaan aneh dia rasakan saat angin itu menerpa dirinya, namun Anna tidak terlalu memikirkannya karena dia sedang mengkhawatirkan keadaan ibu dan bibinya yang sudah tergantung begitu lama di atas sana.


Tubuh ibu dan sang bibi di turunkan di tempat aman, di mana jauh dari api yang masih berkobar. Berkat api itu pula, tempat itu menjadi terang. Anna berlari untuk menyambut tubuh ibunya terlebih dahulu. Ibunya benar-benar sudah lemah, tubuhnya sudah dingin karena hembusan angin malam. Lapar dan dehidrasi membuat keadaannya semakin tidak berdaya.


Ibunya bahkan sudah tidak sanggup berdiri lagi, tentunya hal itu sangat membuat Anna terkejut dan berteriak ketakutan.


"Mom!" teriakannya menarik perhatian Barrow sehingga pemuda itu berlari ke arahnya.


"Mom, apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?" teriak Anna lagi.


"A-Anna," tangan ibunya sudah terangkat untuk menyentuh pipi Anna namun tangan ibunya kembali terjatuh ke samping karena tidak ada tenaga.


"Jangan memaksakan dirimu, Mom. Aku akan segera meminta mereka untuk membawamu ke rumah sakit!" Anna berusaha memapah tubuh ibunya yang sudah tidak berdaya.


"Biar aku," ucap Barrow yang sudah mengambil alih tubuh ibu Anna.


"Ibu dan bibiku harus segera ditangani, Barrow," ucap Anna. Dia benar-benar takut dengan keadaan mereka. Semoga saja ibu dan bibinya tidak terlambat di tangani karena keadaan mereka yang begitu lemah.


"Serahkan mereka berdua padaku, kau urus yang lain!" Barrow menggendong ibu Anna dan meminta seseorang untuk membawa bibi Anna yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan keadaan kakaknya.


Anna mempercayakan ibu dan bibinya pada Barrow, dia harus mengurus yang lain namun langkahnya terhenti saat Lucia yang sedari tadi berlari ke arahnya sudah memeluknya. Lucia pun menangis terisak di dalam pelukan Anna, hari ini dia benar-benar bertemu dengan Anna namun dalam keadaan berbeda karena dia mengira mereka akan bertemu lalu Nick akan melamar Anna.


"Terima kasih, Kak. Lagi-Lagi kau menolong aku," ucap Lucia di sela tangisannya.


"Jangan berterima kasih, aku sangat senang kau masih bisa aku selamatkan karena insiden ini."


"Aku benar-benar tidak menyangka ternyata Kak Nick dan ayahku berada di balik semua ini," ucap Lucia lagi.


"Tidak ada yang menyangka, bukan? Bahkan aku pun tidak. Aku tidak curiga dengannya sama sekali karena dia begitu baik namun seseorang yang dia cintai dan yang telah dia bunuh dengan keji membuat aku sadar jika dia tidak sebaik yang kita lihat."

__ADS_1


"Kenapa kak Anna tidak mengatakan hal ini padaku? Kenapa Kakak menyembunyikan hal ini dariku dan Mommy?"


"Maaf, Lucia. Aku harus diam agar rencana yang telah aku susun tidak berantakan. Aku harus menghentikan semua ini sebab itu aku tidak bisa mengatakannya padamu dan membiarkan apa yang Mariana dan Nick inginkan berjalan sesuai dengan rencana mereka."


Lucia tidak berkata apa-apa lagi namun dia masih memeluk Anna. Dia benar-benar bersyukur dapat bertemu Anna Baker yang sudah banyak kali menyelamatkan nyawanya.


"Sekarang, apa yang harus aku lakukan?" tanya Lucia.


"Hidup dengan baik bersama dengan ibumu."


"Apa aku masih bisa bertemu dengan kak Anna?"


"Tentu saja, datanglah ke rumahku kapan pun kau mau. Sekarang kau sudah aman, tidak ada yang akan mencelakai dirimu lagi."


"Terima kasih, Kak," Lucia melepaskan pelukannya dan tersenyum dengan manis.


Anna pun tersenyum, gadis manis yang masih beruntung karena dia menjadi korban terakhir yang dipilih oleh Mariana sehingga Lucia bisa diselamatkan. Lucia melangkah mundur karena ibunya ingin berbicara dengan Anna. Maria Devan pun memeluk Anna, dan mengucapkan terima kasih. Padahal mereka tinggal dengan dua orang penjahat tapi mereka masih bisa hidup sampai saat ini.


"Jangan dipikirkan, Nyonya. Aku harap kau menjaga Lucia baik-baik dan tidak melakukan apa yang telah suamimu lakukan."


"Tentu saja, aku tidak mungkin melakukan hal itu pada putriku. Aku tidak segila suamiku yang begitu tega pada kami."


"Aku senang mendengarnya, akan ada yang mengantar kalian. Pulanglah untuk beristirahat karena kalian memerlukannya."


"Terima kasih, Anna," ucap Marian Devan lagi. Sebelum pulang, Lucia kembali memeluk Anna dan berkata akan menemui dirinya beberapa hari ke depan. Meski Anna tidak bisa menjadi kakak iparnya seperti yang dia inginkan namun mereka bisa menjadi sahabat meski mereka berbeda usia cukup jauh.


Seorang petugas mendapat perintah untuk mengantar Lucia dan ibunya kembali. Anna tersenyum dan melambai saat mereka pergi. Selesai, malam panjang sudah berakhir. Para petugas pun meninggalkan lokasi, seluruh pengikut Mariana sudah dibawa pergi.


Anna pun berpikir sudah saatnya dia pergi namun langkahnya terhenti saat Natalie muncul secara tiba-tiba di susul dengan para arwah korban yang lainnya. Natalie masih saja membawa payung merah, namun kebahagiaan terpancar dari ekspresi wajahnya karena mulai hari ini dia dan para korban yang lain benar-benar bebas.


"Kami semua sangat berterima kasih padamu, Anna," ucap Natalie.

__ADS_1


"Sudah tugasku untuk membantu kalian semua," Anna tersenyum, dia tidak menyangka bisa membebaskan mereka dan menghentikan kebangkitan Mariana.


"Aku sangat beruntung bertemu denganmu, Anna. Walau mereka tidak bertemu denganmu tapi kami sangat berterima kasih padamu yang telah membebaskan kami dari belenggu yang selama ini membelenggu kami. Jika tidak ada kau, mungkin kami sudah bergabung dengan jiwa Mariana lalu menjadi budaknya untuk selamanya."


"Apa yang akan terjadi dengan kalian setelah ini?" Anna melihat kumpulan arwah yang sedang berdiri di hadapannya itu.


"Kami akan kembali di mana seharusnya kami berada dan sekaranglah saatnya bagi kami untuk pergi. Terima kasih atas bantuan yang sungguh tidak terduga darimu."


"Senang mendengarnya," Anna tersenyum, para arwah melambai ke arahnya. Salah satu dari mereka terbang ke atas lalu menghilang, arwah yang lain pun menyusul. Mereka melesat ke atas bagaikan asap putih lalu menghilang namun terdengar ungkapan terima kasih mereka yang mereka tujukan pada Anna.


Anna pun melambai ke atas, para arwah itu terus melesat ke atas sehingga meninggalkan kelima arwah yang ada di rumah tua bersama arwah nenek tua juga Natalie.


"Kami juga berterima kasih padamu," ucap kelima arwah tersebut.


"Aku harap ini setimpal setelah apa yang kalian dapatkan dari Mariana."


"Tentu saja setimpal. Sekarang kami tidak terbelenggu lagi dan tidak tersiksa lagi. Kami sudah bebas dan bisa pergi dengan damai."


"Pergilah, kalian memang tidak pantas diperlakukan seperti itu," ucap Anna.


"Terima kasih kau telah membebaskan kami," keenam arwah itu terbang naik, melesat dengan cepat lalu menghilang. Anna mendongak untuk melihat mereka tapi tidak lama karena sekarang dia memandangi Natalie yang tinggal seorang diri.


"Untuk kesekian kali, terima kasih, Anna," ucap Natalie.


"Sudah aku katakan, aku sangat senang dapat menolong kalian semua, Natalie. Aku harap semua sudah berakhir dan tidak akan ada Mariana yang kedua."


"Mariana tidak akan ada lagi Anna, namun orang-orang yang bersekutu dengan iblis akan selalu ada karena harta duniawi selalu membuat orang buta."


"Kau benar, hidup ini memang ada yang baik ada pula yang jahat. Hal itu sulit untuk diberantas tapi aku harap tidak ada tumbal lagi seperti yang telah terjadi ini."


"Kau benar, sudah saatnya aku pergi," Natalie berbalik, dia sudah harus pergi, "Terima kasih, Anna," ucapnya lagi.

__ADS_1


Anna tidak menjawab namun  tangannya melambai ke arah  Natalie. Arwah Natalie melayang pergi, kini dia sudah tidak perlu membunuh lagi. Arwah yang Anna sebut sebagai arwah si payung merah itu pun menghilang di tengah kabut yang sangat tebal. Anna menarik napas sejenak, sebaiknya dia segera pergi, karena tempat itu sudah sepi. Malam panjang yang melelahkan namun semua sudah selesai dan semua berjalan sesuai rencana sehingga Mariana tidak jadi bangkit.  Mungkin saja arwah Mariana sedang mengantri di gerbang pintu neraka bersama dengan para pengikutnya.


__ADS_2