Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Bukan Akhir Dari Kehidupan


__ADS_3

Anna dan Barrow sudah menghadap sang atasan untuk melaporkan kasus yang sudah mereka selesaikan karena sisanya akan ditangani oleh pihak berwajib. Beberapa pengikut Mariana sudah memberikan saksi jika kematian para korban yang melibatkan wanita muda memang untuk dijadikan korban sebagai ritual ilmu hitam. Walau sulit dipercaya tapi memang itulah yang terjadi.


Walau hukum hanya bisa menjerat mereka beberapa tahun hukuman penjara namun mereka akan mendapatkan hukuman sesuai dengan apa yang mereka lakukan. Tidak hanya itu saja, seluruh kekayaan mereka yang didapat dari hasil persekutuan dengan Mariana akan hilang dengan cara yang tidak terduga.


Itu sudah hukum alam, kekayaan yang didapatkan secara instan apalagi bersekutu dengan setan tidak akan bertahan lama. Entah bagaimana caranya yang pasti satu persatu akan mengalami hal demikian karena Mariana sudah tidak ada lagi.


Lega rasanya, satu kasus rumit sudah selesai. Kasus rumit yang tidak memiliki petunjuk sama sekali karena melibatkan arwah dan ilmu hitam tapi pada akhirnya dapat mereka selesaikan.


Anna dan Barrow berdiri di depan kantor, Anna menarik napas dan menghirup udara sejenak. Walau mereka akan kembali sibuk menangani kasus baru tapi mereka bisa bernapas lega untuk sesaat apalagi mereka sudah mendapatkan ijin cuti untuk dua minggu.


"Ke mana kita akan pergi berlibur, Anna?" tanya Barrow.


"Entahlah, pikirkanlah nanti. Sekarang aku mau pergi mengunjungi Lucia dan ibunya terlebih dahulu. Aku khawatir dengan keadaan mereka."


"Jadi aku yang menentukan tempatnya?" tanya Barrow memastikan.


'Yes, cari tempat bagus jika kau ingin membuatku berdebar!" ucap Anna seraya melangkah menuju mobil.


"Yes!" barrow bersorak senang, dia akan mencari tempat yang bagus untuk mereka berdua. Tentunya tempat romantis yang bisa membuat Anna berdebar agar hubungan mereka menjadi spesial.


Mereka berpisah di depan kantor, Barrow pergi ke tempat lain karena ada perintah yang harus dia lakukan. Tidak hanya itu saja, dia akan mencari tempat bagus yang bisa membuat Anna berdebar tentunya tempat yang tidak berhantu. Dia juga akan menyiapkan segala jimat untuk menangkal hantu agar tidak mengacaukan waktu mereka berdua.


Anna pergi ke kediaman keluarga Devan, dia ingin melihat keadaan Lucia dan ibunya. Dia iba dengan mereka yang sudah tertipu dan dikhianati. Semoga saja mereka baik-baik saja setelah semua kejadian tidak terduga yang tidak mereka inginkan.


Ketika Anna tiba, rumah kediaman Devan terlibat ramai. Beberapa orang berpakaian rapi hampir memenuhi rumah. Mereka seperti dari bank dan pegawai pajak, sepertinya sudah terjadi sesuatu. Maria Devan sedang berbicara dengan beberapa orang-orang tersebut, dia tampak menerima semua yang terjadi karena dia tahu semua yang mereka nikmati saat ini adalah hasil dari bersekutu dengan iblis.


Anna melewati mereka, melangkah mendekati Lucia yang terlihat pasrah. Kekayaan yang didapat dalam sekejap, lenyap dalam sekejap pula. Lucia sangat senang melihatnya, gadis itu segera berlari ke arah Anna dan memeluknya.

__ADS_1


"Kakak, kenapa tidak mengabari aku jika mau datang?"


"Apa yang terjadi?" Anna balik bertanya.


"Entahlah, semua terjadi secara tiba-tiba," Lucia melepaskan pelukannya dan memandangi ibunya.


"Siapa mereka?" Anna memandangi orang-orang yang masih berbicara dengan Marian Devan.


"Mereka dari bank, mereka berkata kakak meninggalkan banyak hutang dan juga belum membayar pajak," walau dia sudah tahu Nick bukan kakaknya tapi Lucia masih menganggap pria itu sebagai kakaknya.


Anna diam saja, dia tahu cepat atau lambat hal itu pasti terjadi pada pemuja Mariana. Ternyata secepat itu, bahkan yang menghancurkannya adalah Nick. Seharusnya Lucia dan ibunya menerimanya dengan lapang dada karena mereka sudah tahu apa yang telah terjadi.


Setelah berbicara dengan orang-orang itu, Maria menghampiri Anna. Dia tampak tidak enak hati karena telah membuat Anna menunggu.


"Maaf, Anna. Aku harus berbicara dengan mereka terlebih dahulu," ucapnya.


"Terima kasih, kami baik-baik saja untuk saat ini tapi setelah ini, aku tidak yakin," ucap Maria.


"Apa yang terjadi?"


"Ayo masuk ke dalam, sebaiknya kita bicara di dalam."


Anna mengangguk, Lucia menggandeng tangannya dan mengajaknya untuk masuk. Anna mengikuti langkah mereka, pandangannya jatuh pada kertas yang menempel di depan pintu rumah di mana tulisan di kertas itu menyatakan jika rumah itu sudah disita.


"Secepat ini?" tanya Anna.


"Ya, kami bahkan tidak menduga," jawab Maria.

__ADS_1


Anna diajak masuk, beberapa koper sudah berada di sisi ruangan. Itu adalah barang-barang milik Maria Devan dan putrinya. Anna tidak berani bertanya, dia hanya mengikuti mereka duduk di ruang tamu.


"Sebentar lagi kami akan pergi dari kota ini, kak Anna," ucap Lucia.


"Ke mana? Apa tidak ada yang bisa dipertahankan lagi?"


"Tidak, kami harus segera pergi karena semua bukan milik kami lagi. Walau kami memiliki waktu satu minggu, tapi aku berpikir lebih baik kami pergi hari ini untuk menata kehidupan baru di kota lain," jawab Maria Devan.


"Ke mana kalian akan pergi?" entah kenapa dia jadi iba dengan keadaan Lucia dan ibunya.


"Aku akan mengajak Lucia tinggal di kampung halamanku, di sana tidak ada yang mengenal kami. Aku dan Lucia bisa memulai kehidupan baru kami di sana, menata kehidupan kami dan melupakan semua yang telah terjadi."


"Aku hanya bisa berharap kalian berdua mendapat kehidupan yang lebih baik lagi," ucap Anna. Hanya itu saja yang bisa dia katakan.


"Terima kasih, Anna," Maria menunduk, air mata menetas dengan sendirinya.


"Aku sangat berterima kasih padamu karena berkat kau, kami bisa selamat dan bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarga kami. Sekarang yang aku pedulikan hanya keadaan Lucia saja, aku tidak mempedulikan apa pun lagi apalagi harta benda yang didapat dari cara yang tidak benar ini. Orang-Orang itu berkata jika Nick meninggalkan banyak hutang dan menunggak banyak pajak, ibunya yang memberi, dia pula yang mengambil dan aku tidak keberatan sama sekali. Satu hal saja yang aku pinta darimu, Anna. Tolong jangan katakan pada samiku ke mana aku dan Lucia pergi setelah dia keluar dari penjara," pinta Maria Devan.


"Pasti, Nyonya. Aku tidak akan mengatakan apa pun padanya."


"Terima kasih, aku benar-benar berterima kasih padamu," air mata yang masih mengalir dihapus. Seandainya mereka tidak bertemu dengan Anna Baker, mungkin sampai sekarang dia tidak tahu kebenarannya dan mungkin saja suaminya akan menipunya saat Lucia harus menjadi korban.


Sekarang dia sangat bersyukur bertemu dengan wanita itu. Hidup bagaikan air, yang mengalir ke mana pun dia mau bahkan harus menerjang besarnya bongkahan batu yang tidak terduga untuk tiba di muara sungai. Sekarang dia dan Lucia akan meninggalkan kehidupan lama, ini bukanlah akhir dari kehidupan mereka karena kebahagiaan yang sesungguhnya ada di depan mata.


Setelah berbicara dengan mereka, Anna berpamitan. Mungkin ini terakhir kalinya dia bertemu dengan Maria Devan dan Lucia, gadis yang membawanya ke dalam kasus rumit yang harus dia pecahkan namun semua sudah usai dan semua sudah berubah.


Lucia memeluk Anna dan menangis, kata selamat tinggal pun terucap. Sangat disayangkan tapi begitulah kehidupan, ada pertemuan ada pula perpisahan. Dengan berat hati pun Anna harus pergi, meninggalkan rumah itu yang tidak mungkin dia datangi lagi apalagi rumah itu sudah disita. Semua manusia memiliki kehidupannya masing-masing dan sekarang, dia ingin menikmati masa liburannya sebelum dia kembali bekerja.

__ADS_1


__ADS_2