
Anna sedang menyiapkan perlengkapan yang akan di bawa nanti. Malam bulan purnama, di mana Mariana akan bangkit abadi sudah tinggal menghitung jam saja. Sebelum pergi, dia harus menyiapkan beberapa perlengkapan yang dia butuhkan.
Beberapa pistol sudah berada di atas meja, selongsong peluru pun sudah siap. Barrow sedang memodifikasi sebuah senjata otomatis, dia mengganti peluru dari senjata itu dari timah panas menjadi peluru bius yang akan mereka gunakan untuk menembak para pengikut Mariana.
Mereka sudah mendapat informasi dari Natalie jika acara kebangkitan Mariana akan diadakan di kastil tua. Tempat itu dipilih karena pengikut Mariana yang banyak. Rumah tua yang ada di hutan itu tidak bisa menampung semua pengikutnya.
Anna dan Barrow begitu serius mempersiapkan semua yang mereka perlukan. Pisau Artsbon pun tidak Anna lupakan, dia masih tidak mengatakan pada siapa pun akan pisau itu. Setelah bersiap-siap mereka harus pergi ke kantor karena mereka harus bertemu dengan pasukan elit yang akan membantu mereka nantinya.
Pagi itu, tidak Anna dan Barrow saja yang sibuk. Maria Devan pun sangat sibuk karena suami dan putranya tiba-tiba mengajak pergi yang sudah pasti itu hanya akal-akalan Nick dan ayahnya saja untuk membawa Maria dan Lucia.
Mereka tidak curiga sama sekali apalagi Lucia. Gadis itu sangat senang saat sang kakak masuk ke dalam kamarnya dan memberikan sebuah gaun indah untuknya. Tentunya gaun itu harus dia kenakan saat ritual tiba.
"Gaun yang sangat indah, Kak," ucap Lucia dengan wajah berseri.
"Kau menyukainya?" tanya Nick.
"Tentu saja, selera kakak benar-benar bagus."
"Aku sangat senang mendengarnya, kenakanlah gaun itu sekarang," perintan Nick.
"Sekarang?" tanya Lucia heran.
"Yeah.. Apa kau tidak ingin pergi?"
"Wah, ada apa ini? Apa kakak ingin melamar kak Anna?" tebak Lucia.
__ADS_1
"Yeah, aku memang berniat melamarnya," dusta Nick. Sangat disayangkan, Anna harus menjadi tumbal tapi dia akan mencoba bernegosiasi nanti dengan Anna karena sesungguhnya dia menyukai Anna. Jika Anna baker mau bersekutu dengan mereka dan menjadi pendamping hidupnya maka dia akan meminta ibunya untuk membebaskan Anna dan menumbalkan gadis yang lainnya. Tentunya Mariana belum mengetahui hal itu, dia belum tahu jika putranya menyukai Anna Baker.
"Bagaimana dengan kabar Kak Anna, aku belum bertemu dengannya lagi sejak hari itu," ucap Lucia.
"Tidak perlu khawatir, sebentar lagi kau akan bertemu," jawab Nick.
"Benarkah?" Lucia tampak begitu senang. Dia sudah lama tidak melihat Anna, dia bahkan sudah merindukan Anna.
"Yeah, pergilah coba gaun itu. Saat kembali kita pergi akan mencarikan gaun untuk Anna. Kita akan pergi menemuinya hari ini untuk memberikan gaun itu tentunya tanpa sepengetahuan Daddy," dusta Nick tapi memang, malam ini mereka akan bertemu dengan Anna.
"Wah, aku sudah tidak sabar," Lucia benar-benar tidak curiga sama sekali dengan sikap pria yang dia sangka sebagai kakaknya.
"Tentu saja, Lucia. Segeralah bergegas agar kita bisa segera bertemu dengan Anna."
Nick mencari di dalam laci, tapi jimat itu tidak ada. Di bawah bantal pun tidak ada. Beberapa tempat dia cari namun tidak ada. Sepertinya jimat itu dibawa oleh Lucia. Agar Lucia keluar dari kamar, Nick keluar dengan terburu-buru untuk mengelabui Lucia. Dia menunggu di sisi ruangan lainnya untuk memantau dan benar saja, Lucia keluar dengan gaun indah yang dia gunakan.
"Kak?" Lucia mencari kakaknya karena dia ingin memperlihatkan gaun itu.
Nick tidak ada di mana pun, Nick sengaja tidak menjawab padahal dia tahu Lucia memanggilnya. Lucia melangkah pergi, mungkin saja kakaknya kembali ke kamarnya. Itu kesempatan bagus bagi Nick. Pria itu kembali melangkah ke kamar Lucia dan masuk dengan terburu-buru. Kamar mandi adalah tujuannya, baju yang baru saja dilepaskan oleh Lucia pun diambil. Nick mulai mencari jimat di baju itu. Tidak menemukannya jimat itu tidak membuat Nick menyerah, celana pendek yang dikenakan oleh Lucia juga diperiksa dan benar saja, jimat itu ada di kantong celana.
Tidak ingin membuat waktu, Nick mengambil jimat itu namun tangannya terasa panas seperti terbakar saat dia menyentuh jimat itu. Nick mengumpat, sebuah handuk kecil pun dia ambil agar dia bisa membawa jimat itu keluar.
Lucia yang tidak curiga sama sekali masih mencari kakaknya, dia juga berteriak memanggil kakaknya.
"Kak, aku sudah selesai!" teriak Lucia.
__ADS_1
"Oh, jika begitu kita bisa pergi," tiba-tiba saja Nick keluar dari kamarnya. Lucia sangat heran, bagaimana mungkin kakaknya bisa berada di kamar? Dia baru saja mencari kakaknya di dalam sana beberapa saat yang lalu tapi tidak ada. Lalu, bagaimana mungkin kakaknya bisa berada di dalam?
"Kenapa menatap aku seperti itu?" tanya Nick pura-pura.
"Bagaimana kakak bisa berada di kamar? Aku baru saja dari dalam tapi kakak tidak ada," ucap Lucia.
"Aku memang sudah berada di kamar sejak tadi, kau saja yang tidak melihat!"
"Baiklah, bagaimana?" Lucia memutar tubuhnya agar kakaknya bisa melihat keseluruhan gaun yang dia kenakan.
"Bagus, sudah aku duga cocok untukmu!"
"Selera kakak benar-benar bagus," puji Lucia lagi.
Nick tersenyum, senyum palsu yang selalu dia tunjukkan pada keluarga itu. Lucia benar-benar senang mendapat hadiah gaun dari kakaknya namun pria itu bukanlah kakaknya dan dia akan mengetahui kebenarannya sebentar lagi.
"Nick, Lucia, apakah kalian sudah siap?" terdengar suara teriakan ibunya.
"Sudah, Mom. Coba lihat gaun yang aku kenakan??" Lucia pergi mencari ibunya untuk memperlihatkan gaun yang sedang dia kenakan saat ini.
Nick masuk ke dalam kamar setelah Lucia pergi, pintu dikunci rapat agar tidak ada yang bisa masuk ke dalam. Handuk yang dia gunakan untuk membawa jimat dibuka, jimat yang dia ambil masih berada di dalam handuk itu. Nick membawanya menuju balkon kamar dan tanpa ada yang tahu, Nick membakar jimat itu.
Sekarang tidak ada lagi yang melindungi Lucia, arwah apa pun sudah bisa mendekatinya. Jimat itu memang harus dihancurkan agar anak buah ibunya bisa mendekati Lucia dan menjaganya.
Nick melihat jam, tinggal beberapa jam lagi. Rasanya sudah tidak sabar, sesuai dengan rencana dia akan menghubungi Anna dan memancingnya untuk datang ke kastil tentu dengan ancaman nyawa ibu dan bibinya yang menjadi sandera. Dia yakin Anna pasti datang dan memang, tanpa dia undang pun, Anna pasti datang untuk menghentikan kebangkitan Mariana dan pada saat itu, Nick akan memberinya tawaran jika Anna masih menyayangi ibu dan bibinya.
__ADS_1