Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Ilusi


__ADS_3

Kaki Anna mulai melangkah masuk, gelap yang sangat mencekam. Kegelapan yang lebih gelap dari pada malam. Hawa dingin semakin menusuk dan bau busuk semakin menyengat. Hanya ada hawa yang mengerikan, yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tidak ada setitik cahaya pun, perasaan takut melanda begitu dia masuk ke dalam tempat itu. Anna berpaling untuk melihat pintu yang dia masuki namun pintu itu sudah tidak ada, lenyap begitu saja.


Kaki Anna juga melangkah dengan berat, kedua kakinya seperti tertanam di dalam lumpur padahal tidak ada apa pun di bawahnya. Senter yang dia bawa benar-benar tidak bisa menebus gelapnya di tempat itu. Inikah yang dinamakan alam gaib? Alam yang menakutkan apalagi tidak ada yang bisa dilihat.


Suara rintihan samar terdengar, Anna menelan ludah dan melangkah semakin maju. Sulit, seperti ada yang menarik kedua kakinya. Senter yang dia bawa hanya bisa menerangi jalan setapak yang dia lalui. Sungguh kegelapan yang sangat mencekam.


"Toool.........oooonggg.....!" terdengar suara rintihan panjang orang meminta tolong dan suara itu berada di sisi kiri.


"Saa.....kit, tolong aku!" suara itu terdengar di sisi kanannya.


Anna berpaling dan mengarahkan senternya ke kanan lalu ke kiri tapi tidak ada yang bisa dia lihat. Suara rintihan minta tolong dan kesakitan kembali terdengar, bulu roma meremang di sekujur tubuh. Beruntungnya tidak ada suara serigala dan musik seram, jika ada maka dia akan menari dan menyanyikan lagu Thriller ala Michael Jackson yang menari dengan para zombie. Sial, bukan saatnya bercanda.


"To...looong!" rintihan masih juga terdengar, Anna berusaha mengabaikan suara teriakan itu sambil melangkahkan kakinya yang berat. Dia harus ingat dengan tujuannya dan bergegas karena waktu yang dia miliki tidaklah banyak.


"Tolong, Anna. Tolong selamatkan aku," seseorang mulai memanggilnya, itu godaan untuknya.


Anna masih juga tidak mempedulikan, dia tidak boleh tergoda dengan apa pun Karena itu dunia yang sangat asing baginya. Misinya mencari pisau dan payung tapi di mana?


Dia benar-benar buta di dalam sana, tidak tahu harus pergi ke mana. Sekarang dia hanya bisa menggunakan instingnya saja, terus melangkah sampai dia menemukan sebuah lokasi yang memungkinkan keberadaan payung dan pisau itu berada. Dia sangat berharap, dia mendapatkan petunjuk akan keberadaan dua benda tersebut.


Anna berusaha mengabaikan suara-suara meminta tolong dan rintihan yang tidak juga berhenti terdengar tapi ketika sebuah suara yang memanggil dan terdengar tidak asing membuat langkah Anna terhenti. Anna bahkan mencari sumber suara, dia melangkah berputar untuk mencari orang yang memanggilnya.


"Anna... tolong Daddy, Anna. Daddy tidak tahan berada di sini lagi," ya, suara yang dia dengar adalah suara ayahnya yang sudah meninggal belasan tahun lalu.


"Dad?" Anna memanggil, mencari keberadaan ayahnya di sekitar tempat itu.


"Di sini, Daddy berada di sini!" terdengar suara ayahnya dari sisi kanan.

__ADS_1


Anna melangkah ke kanan, mencari namun hanya ada kegelapan bahkan dia tidak menemukan apa pun apalagi sosok ayahnya.


"Dad, di mana kau?" teriaknya.


"Daddy di sini, Anna. Tolong Daddy agar Daddy bisa keluar dari dunia yang gelap ini!" pinta ayahnya memohon.


"Aku akan membantumu, Dad. Aku akan bantu tapi di mana Daddy? Aku tidak bisa melihat keberadaanmu!" teriak Anna. Apa ini hanya tipuan semata? Tidak, itu pasti ayahnya.


"Sakit.. Anna, sakit!" terdengar rintihan ayahnya yang membuat Anna panik.


"Di mana kau, Dad? Aku tidak bisa melihatmu!" Anna terus mencari, mencari sosok ayahnya yang tidak juga dia temukan sedari tadi. Dia sudah menghabiskan banyak waktu tanpa sadar untuk mencari keberadaan ayahnya yang sesungguhnya tidak ada.


"Cepat, Anna. Mereka akan membakar Daddy!" suara itu semakin membuatnya panik dan semakin membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Di mana kau, Dad?" Anna berteriak dan semakin panik.


"Cepat Anna!" terdengar suara teriakan ayahnya lagi.


"Kau benar-benar tidak berguna, apa kau ingin Daddy terbakar?!" teriakan ayahnya terdengar menakutkan, kepanikan Anna pun semakin menjadi.


"Bukan begitu, bukan begitu!" air mata mengalir semakin deras, Anna berputar di tempat untuk mencari keberadaan ayahnya. Anna diperdaya oleh ilusi yang diciptakan oleh dunia itu tapi dia belum juga menyadarinya.


"Aku membencimu, Anna. Aku akan membencimu jika kau tidak menolong Daddy!"


"No, Dad. Please, no!" pinta Anna memohon. Anna mencari keberadaan ayahnya seperti orang gila, Anna menangis asampai-sampai dia tidak mendengar suara roh pelindung yang memangilnya.


"Anna, sadaralah, Itu hanya ilusi!" roh pelindung itu mengingatkan namun Anna terlalu panik karena yang dia pikirkan saat itu adalah menolong ayahnya.

__ADS_1


"Di mana kau, Dad? Di mana?" Anna masih terus berteriak dan mencari apalagi suara teriakan ayahnya yang kesakitan terdengar.


"Anna, wake up!" teriakan dari roh pelindung menyadarkan Anna dari apa yang sedang dia lakukan.


"Sakit Anna, sakit!" teriak ayahnya.


"Itu hanya tipuan untukmu, Anna. Sadarlah jika tidak kau akan kehabisan waktu!" roh pelindung masih berusaha menyadarkan dirinya.


Langkah Anna terhenti, apa yang sedang dia lakukan? Dia seperti orang linglung yang baru sadar dari sesuatu.


"Apa yang terjadi?" tanyanya pada diri sendiri.


"Jangan terpedaya, Anna. Kau sudah membuang banyak waktu," ucap roh pelindungnya.


"Tapi, aku mendengar suara Daddy."


"Tidak ada ayahmu, Anna. Di alam ini tidak ada yang kau kenal jadi jangan diperdaya dengan mudah. Kau baru masuk tapi kau sudah begitu mudah diperdaya, bagaimana kau bisa melangkah lebih jauh untuk mencari kedua benda itu? Di dalam sana lebih berbahaya, kau harus tahu itu jadi jangan diperdaya dengan mudah!"


"Aku mengira itu Daddy," ucap Anna.


"Tidak, lihatlah di sisi kirim!"


Anna berbalik dan terkejut Karena saat itu sesosok wajah hancur dengan kedua matanya yang keluar berdiri tepat di hadapannya. Jarak wajahnya dengan wajah mengerikan itu bahkan tidak jauh. Matanya bagaikan terbuka karena tiba-tiba saja begitu banyak sosok mengerikan sedang berdiri di sampingnya. Anna melangkah mundur, matanya melotot melihat sosok-sosok dengan wajah mengerikan yang begitu banyak. Sepertinya merekalah yang telah meniru ayahnya untuk memperdaya dirinya dan memang, sosok yang berdiri di hadapannya tadilah yang meniru suara ayahnya.


"Mereka makhluk peghuni alam ini, Anna. Mereka memang akan memperdaya siapa saja yang masuk agar tidak ada yang bisa melangkah lebih jauh jadi kau harus berhati-hati dan tidak terpedaya dengan mudah."


"Terima kasih sudah mengingatkan, aku terlalu ceroboh," pistol dan senter diangkat, Anna melangkah maju melewati penghuni alam itu yang mengerikan dan berbau busuk.

__ADS_1


"Segera bergegas, aku akan bersama denganmu," ucap Roh pelindungnya.


Anna mengangguk, sebaiknya dia mulai berhati-hati. Suara ayahnya kembali terdengar lagi untuk memperdaya dirinya tapi Anna sudah tidak peduli. Suara rintihan dan minta tolong tidak henti terdengar dari mahkluk mengerikan yang ada di sekitarnya. Anna kembali menarik kakinya yang terasa berat, apa pun yang ada di hadapan sana harus bisa dia hadapi dan dia tidak boleh terpedaya seperti itu lagi.


__ADS_2