
Asap hitam tipis keluar dari lukisan lalu asap itu terbang dan berubah menjadi sosok seorang wanita bergaun hitam. Sosok itu pun melangkah mendekati seorang pria yang sudah menunggunya di depan jendela.
Mariana mendekati putranya, menyentuh bahunya dari belakang. Mariana bahkan berdiri di sisi keturunan murninya yang sedang memandang ke luar jendela.
"Ada kabar apa yang hendak kau sampaikan?" tanyanya.
"Apa kau yang membelenggu jiwanya?"
"Hng, apa kau keberatan?"
"Tidak, tapi untuk apa?"
"Tentu saja untuk aku jadikan sandera. Selama dia berada di tanganku, Anna Baker tidak akan bisa menghalangi kebangkitanku," ucap Mariana.
"Aku harap kau tidak salah mengambil tindakan," seorang pria berada di ujung ruangan, pria itu seperti sedang di rantai. Tentunya pria itu adalah Barrow.
"Tentu saja tidak, anakku. Aku sudah menunggu ini selama seratus tahun, aku tidak mungkin salah mengambil tindakan apalagi untuk kebangkitan abadiku. Aku akan berbuat apa saja agar tidak ada yang menghalangi kebangkitanku, siapa pun tidak akan bisa. Setelah kita bangkit, kita akan menguasai dunia ini!" ucap Mariana. Dia pasti akan menguasai dunia, lalu dengan kecantikan abadi yang dia miliki, dia akan menjadikan semua laki-laki sebagai budaknya.
"Lalu bagaimana dengan Anna Baker? Dia ancaman terbesar kita, bukan?"
Mariana memejamkan mata, mencoba merasakan keberadaan Anna Baker. Dia sudah mendapat kabar jika Anna seperti orang linglung saat ini. Anna seperti cangkang kosong yang tidak memiliki jiwa.
"Aku tidak bisa merasakan keberadaannya," ucap Mariana. Aneh, ini kali pertama dia tidak bisa merasakan kehadiran seseorang. Apa yang terjadi? Jika memang jiwa Anna sudah tidak berada di raganya lagi lalu kenapa dia tidak bisa merasakan di mana jiwa Anna saat ini?
"Kenapa, Mom? Apa bukan kau yang mengurung jiwanya?"
"Tentu saja tidak!" jawa Mariana.
Putranya menatap sang ibu dengan lekat, jika bukan ibunya yang mengurung jiwa Anna lalu siapa?
"Dengan kekuatan yang kau miliki seharusnya kau bisa merasakan keberadaannya meskipun bukan kau yang menawan jiwanya saat ini."
__ADS_1
"Aku tidak bisa merasakannya, keberadaannya seperti hilang. Apa yang sebenarnnya terjadi?"
Mariana dan putranya saling pandang, apa yang sebenaranya terjadi? Kenapa keberadaan Anna tidak bisa dirasakan oleh Mariana? Itu karena jimat yang dibuat oleh nenek Anna yang terpasang diseluruh rumah. Jimat itu memang untuk menagkal roh jahat Mariana. Karena jimat itu pula, Mariana tisak bisa merasakan kehadiran Anna. Keputusan ibu dan bibinya untuk membawa Anna kembali sangatlah tepat dan memang itulah yang Anna inginkan.
Apa benar jiwanya menghilang? Tentu saja tidak. Apa yang dilakukan oleh Anna semata-mata untuk mengelabui musuh saja. Seperti yang dikatakan oleh Roh pelindungnya, dia harus cerdik apalagi musuh ada didekatnya yang berarti musuh itu bisa siapa saja.
Anna ingat di rumah neneknya dipasangi dengan jimat, dia yakin jimat itu tidak bisa ditembus oleh kekuatan Mariana. Oleh sebab itu dia berpura-pura menjadi orang linglung. Walau harus membuat bibi dan ibunya juga Nick khawatir tapi dia harus melakukannya. Dia sengaja ingin mengelabui keturunan murni Mariana yang mengganggapnya bagaikan cangkang tanpa isi.
Mungkin dengan begitu mereka tidak akan begitu waspada dan dengan kebohongan yang sedang dia lakukan dan waktu yang dia miliki, dia akan mencari pisau juga payung terkutuk yang membelenggu jiwa arwah si payung merah. Tidak ada yang boleh tahu akan hal ini. Anna harap rencananya berjalan lancar. Sesuai dengan perkiraannya, ibu dan bibinya membawanya pulang.
Anna sudah berada di rumah neneknya, oleh sebab itu Mariana tidak bisa merasakan keberadaannya karena Anna terlindungi oleh jimat yang dibuat oleh neneknya.
Anna masih seperti cangkang kosong saat ibu dan bibinya membantunya untuk berbaring di ranjang. Dia sudah sangat ingin menyudahi aktingnya tapi dia tidak bisa mengejutkan ibu dan bibinya secara tiba-tiba.
"Beristirahatlah, Mommy buatkan bubur untukmu," ucap ibunya. Walau Anna tidak juga merespon tapi dia harap Anna mau makan walau sedikit.
"Aku akan menurunkan barang-barang," ucap sang bibi.
Mereka berdua keluar dari kamar, Anna masih diam namun beberapa saat kemudian Anna menghembuskan napasnya dengan cepat. Sedari tadi dia sudah menahan diri, dia bahkan merasa seperti sedang berada di dalam air. Ternyata berakting tidaklah mudah. Semoga apa yang dia lakukan saat ini tidaklah sia-sia.
Ruang tamu, kamar ibunya semua dia periksa. Jimat-Jimat juga berada di sana, Anna hendak memeriksa di tempat lain tapi langkahnya terhenti saat sang bibi masuk ke dalam dan terkejut melihat keberadaannya.
"Anna, kenapa kau berada di luar?" barang-barang yang bibinya bawa terjatuh, bibinya pun berlari menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan di luar?" tanya bibinya. Anna kembali diam seperti sebelumnya.
"Kak, tolong bantu aku!" begitu mendengar teriakan adiknya, ibu Anna pun keluar. Seperti adiknya, dia juga terkejut mendapati putrinya berada di luar.
"Anna, apa yang kau lakukan? Apa kau baik-baik saja?" tanya ibunya.
Anna menarik napas lalu dia menjawab, "Aku baik-baik saja, Mom," tentunya bibi dan ibunya sangat terkejut karena Anna bisa menjawab.
__ADS_1
"Anna!" bibinya memeluknya sedangkan ibunya berlari ke arahnya dan memeluknya.
"Apa yang terjadi denganmu? Kenapa keadaanmu tiba-tiba membaik?" tanya ibunya sambil menangis.
"Sorry, Mom. Maaf telah membuat Mommy dan Aunty khawatir tapi aku baik-baik saja sejak tadi," ucap Anna. Semoga dia tidak keterlaluan karena sudah menipu ibu dan bibinya.
"Apa maksudmu, Anna?" tanya bibinya.
"Aku hanya berakting saja, Aunty. Maaf aku membuat kalian khawatir karena aktingku ini."
"Kenapa kau melakukan hal ini, apa kau tidak tahu bagaimana khawatirnya kami?"
"Mom, aku melakukannya untuk sebuah tujuan. Tentunya aku memerlukan peran kalian yang sesungguhnya. Aku melakukan hal ini untuk mengelabui arwah Mariana dan keturunan murninya. Aku harus pura-pura mati tapi dalam keadaan hidup. Aku harus berpura-pura tidak berada di dalam ragaku agar kalian membawa aku pulang ke rumah Nenek," jelasnya.
"Kenapa harus ke rumah Nenek? Kenapa kau harus berpura-pura melakukan hal seperti ini?" tanya ibunya, dia belum mengerti dengan apa yang sedang direncanakan oleh putrinya.
"Jimat itu," Anna menunjuk jimat yang ada di seluruh ruangan, "Mommy berkata jimat itu untuk menangkal roh jahat dan aku yakin jimat itu dapat menghalangi keberadaanku dari roh jahat Mariana. Roh pelindungku berkata, musuhku berada di dekatku jadi aku harus waspada dengan siapa pun jadi aku harus berakting seolah-olah jiwaku tidak ada agar kalian membawa aku pulang ke sini. Dengan berada di rumah ini aku akan aman, dan aku akan menggunakan waktu yang tersisa untuk mencari beberapa benda tanpa ada yang tahu," jelasnya.
"Jadi kau sudah berbicara dengan Roh pelindungmu?" tanya sang bibi.
"Benar, oleh sebab itu bantulah aku. Hanya kalian berdua yang tahu akan hal ini jadi jika sampai arwah jahat Mariana bisa tahu maka aku akan menganggap salah satu dari kalian adalah keturunan murninya," ucap Anna.
"Bodoh, hal itu tidak mungkin terjadi. Kami akan membantumu, ayo kita bicara lebih serius," ucap sang bibi yang melangkah pergi untuk menutup pintu.
"Jika begitu Mommy akan menghubungi Nick dan mengatakan keadaanmu."
"No, Mom. No!" cegah Anna.
"Selain kalian berdua, siapa pun tidak ada yang boleh tahu!" ucap Anna lagi.
"Baiklah, Sayang. Kita bahas hal ini lebih rinci setelah kau makan. Mommy sangat senang ternyata kau baik-baik saja," ibunya kembali memeluknya.
__ADS_1
"Maafkan aku telah membuat Mommy khawatir," Anna pun memeluk ibunya.
Dia harap rencananya berpura-pura seperti boneka hidup bisa mengelabui Mariana dan dia harap, dia bisa menemukan dua benda yang harus dia cari untuk menghancurkan kotak terkutuk itu dan membebaskan jiwa arwah si payung merah.