
Lucia terkejut karena begitu sadar, dia mendapati sedang terikat di tiang. Tidak itu saja yang membuatnya terkejut, dia juga harus dikejutkan dengan sekumpulan orang yang berdiri di hadapannya. Sekumpulan orang itu memakai jubah hitam. Semua tertutup dari atas sampai ke bawah, hanya kedua mata saja yang terlihat dan kedua tangan.
Ritual itu diadakan di belakang kastil, di mana sebuah pentagram belambang bintang dengan lingkaran sudah berada di atas tanah. Lilin juga menyala mengitari pentagram tersebut. sebuah altar dengan kotak terkutuk di atasnya, Mariana berdiri di depan altar, di hadapan semua pengikut yang memuji dan memuliakan dirinya.
Mariana tersenyum saat Lucia sudah sadar, dia mendongak sebentar untuk melihat bulan yang sebentar lagi berada di atas kepala. Tinggal menunggu sebentar lagi, maka dunia berada di dalam genggaman tangannya. Lucia masih berteriak ketakutan, karena teriakannya itu pula membuat ibunya tersadar. Ibunya tidak jauh berbeda, Maria Devan juga berteriak melihat kumpulan orang-orang yang memakai jubah serba hitam yang berada di hadapannya.
Apa yang terjadi? Bukankah mereka sedang melakukan perjalanan? Kepalanya terasa sakit, dia ingat walau samar. Saat mereka pergi, dia merasa sangat mengantuk dan tertidur. Dia tidak tahu apa pun lagi setelah itu.
"Mommy!" teriakan Lucia terdengar, Maria Devan melihat ke arah putrinya dan terkejut mendapati putrinya teringat di sebuah tiang.
"Lucia, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau terikat di sana?" teriak ibunya.
"Aku tidak tahu, Mom. Di mana Daddy dan Kakak?"
"Berhentilah berteriak, Lucia!" ucap ayahnya yang melangkah mendekati putrinya.
"Daddy, apa yang terjadi? Tolong lepaskan aku, aku takut," pinta Lucia memohon.
"Melapaskanmu? Malam ini kau harus berkorban untuk kami, Lucia!" ucap ayahnya tanpa ragu.
"Apa maksudmu?" tanya Maria pada suaminya.
"Apa kau tidak mengerti? Semua kekayaan yang aku miliki aku dapatkan dari Nyonya Mariana dan aku sudah berjanji akan mempersembahkan jiwa putriku padanya untuk kebangkitannya."
"Apa?" Maria berusaha mencerna karena dia belum mengerti dengan apa yang diucapkan oleh suaminya.
"Apa Daddy bersekutu dengan setan?" tanya Lucia.
"Benar. Dulu aku miskin, selalu mendapat penghinaan dari semua orang. Aku melakukan perjanjian dengan iblis untuk mendapatkan kekayaan dan aku pun berjanji akan memberikan anak perempuan yang terlahir kelak. Jika aku tidak memiliki uang, apa kau pikir ibumu mau menikah denganku?"
__ADS_1
"Kau gila, Galen. Kau benar-benar gila!" teriak Maria. Dia sungguh tidak menduga suaminya bersekutu dengan iblis untuk mendapatkan kekayaan dan yang lebih membuatnya tidak percaya adalah, suaminya begitu tega menumbalkan putri mereka.
"Diam!" Galen melangkah mendekati istrinya dan mengangkat dagu istrinya, "Kau tidak pernah merasakan dihina oleh orang-orang. Kau pun tidak pernah ditolak bahkan oleh keluarga sendiri oleh sebab itu kau tidak tahu bagaimana rasanya!" ucapnya seraya mendorong dagu istrinya dengan kasar.
"Tapi kenapa kau harus mengorbankan Lucia, kenapa harus mengorbankan putrimu sendiri?" Maria menangis tersedu, perjanjian dengan iblis sungguh mengerikan.
"Itu persyaratannya jadi aku harus mematuhinya. Secara kebetulan Lucia terlahir sebagai anak pertama kita, setelah dia ditumbalkan aku akan semakin kaya dan aku akan memiliki anak lain dengan wanita lain!"
"Kau benar-benar baji*ngan! Apa maksudmu Lucia sebagai anak pertama, apa kau melupakan Nick?"
Galen tertawa terbahak, istrinya benar-benar sudah tertipu dan masih menganggap Nick sebagai putranya. Maria sangat heran tapi akhirnya dia menyadari sesuatu. Apa selama ini dia pernah melahirkan seorang anak laki-laki? Kenapa dia tidak ingat sama sekali? Jangan katakan Nick bukanlah putranya dan memanglah demikian.
"Apa Nick bukan putraku? Apa kau sudah mengelabui aku sehingga aku menganggap Nick sebagai putraku?" tanya Maria sambil berderai air mata.
"Dia memang bukan putramu, Nick adalah keturunan murni Nyonya Mariana."
"Apa pun yang kau katakan, aku tidak peduli. Setelah Lucia menjadi tumbal, kau yang berikutnya akan mati!" Galen melangkah pergi, dia akan bergabung dengan pengikut yang lain.
Maria berteriak marah sambil menangis, sedangkan Lucia memohon pada ayahnya agar melepaskan dirinya. Lucia juga memohon pada Nick yang baru bergabung dan berdiri di sisi ibunya.
"Kakak, katakan ini hanya bercanda saja dan bebaskan aku dari sini!" pinta Lucia sambil berteriak.
"Berhentilah, Lucia. dia bukan kakakmu," pinta ibunya sambil menangis.
"Tidak, tidak mungkin!" teriak Lucia karena dia belum bisa mempercayai hal itu.
"Kakak, tolong lepaskan aku!" teriaknya lagi.
"Aku bukan kakakmu, Lucia. Kita tidak pernah memiliki ikatan darah sebelumnya!" ucap Nick.
__ADS_1
"Bohong, kalian pasti melakukan hal ini untuk menakuti aku, bukan? Kau kakakku, ini acara pesta, bukan? Kau bilang ingin melamar kak Anna, apa kau sengaja melakukan hal ini sebelum kau melamar kak Anna?" dia harap semua itu hanya tipuan saja untuk menakutinya dan ibunya tapi sayangnya semua itu tidak bercanda.
"Berhentilah, Lucia. Berhentilah!" pinta ibunya karena dia tidak tega dengan putrinya yang sedang memohon. Tidak ada gunanya memohon pada mereka yang sudah tertutup hatinya karena bagi mereka yang ada di dalam hati mereka hanya ada harta kekayaan saja.
Lucia menangis dengan keras dan berteriak dengan keras pula. Dia sungguh tidak menduga keluarga yang selalu bersama dengannya ternyata palsu. Ayah yang sudah berencana menumbalkan dirinya, kakak yang selama ini sangat dia sayangi ternyata bukanlah kakaknya. Tangisannya memecah kesunyian di tempat itu, teriakannya pun di dengar oleh Anna dan Barrow yang sedang melakukan penyergapan dari luar.
Tumbal lain yang akan menggantikan Anna pun tersadar, dia pun ketakutan melihat apa yang ada di depan matanya. Arwah si payung merah masih pura-pura tidak berdaya karena belum waktunya untuk bertindak. Dia akan menunggu waktu yang benar-benar tepat, karena kesempatannya tidaklah banyak.
"Waktunya sudah hampir tiba, Nick. Segeralah bersiap, kita akan melakukan ritual sebentar lagi!" ucap Mariana. Dia harap Anna Baker tidak muncul di saat yang tepat dan mengacaukan semuanya.
"Sepuluh menit lagi, kita memang harus segera memulainya!" ucap Nick.
"Para pengikutku, waktu kebangkitanku sudah akan di mulai!" teriak Mariana.
"Hidup, Mariana. Hidup Mariana!" teriak semua pengikutnya.
Lucia menangis terisak begitu juga dengan ibunya. Natalie sudah siap dengan aksinya, dia akan menyerang Mariana agar ritual itu gagal tapi dia menunggu Anna karena mereka sudah sepakat akan menyerang secara bersama. Dia akan menyerang Mariana sehingga perhatian Mariana teralihkan dan pada saat itu, Anna akan menghancurkan kotak terkutuk itu. Pasukan yang bersama Anna akan melumpuhkan para pengikut Mariana dan Barrow akan menghadapi Nick. Itu adalah rencana yang telah mereka susun bersama-sama untuk menggagalkan Mariana.
Anna dan Barrow sudah dekat, tadinya mereka mengira ritual itu diadakan di bawah namun ternyata suaranya itu terdengar dari arah belakang kastil. Suara sorakan para pemuja Mariana terdengar, sebilah pisau dan juga cawan berbentuk tengkorak diantar seseorang dan diletakkan ke atas meja.
Pisau dan cawan itu akan digunakan nanti untuk menusuk jantung Lucia dan cawan itu berguna untuk mengambil darah Lucia dan setelah itu, darah Lucia akan dituangkan di atas kotak di mana semua arwah yang sudah terkumpul berada di sana. Jiwa Natalie pun akan digabungkan bersama di dalam kotak dan tumbal yang tersisa akan langsung di penggal. Sebab itu sudah ada seorang algojo yang akan memenggal kepalanya bertepatan dengan jantung Lucia yang ditusuk.
"Hidup Mariana, Hidup Mariana!" sorak para pengikutnya namun sorakan mereka terhenti saat sebuah letusan pistol terdengar.
Mereka semua berpaling ke arah dua orang yang melangkah maju sambil menodongkan pistol tapi Barrow sudah siap dengan senjata otomatisnya.
"Maaf aku menyela, kalian semua ditahan dan junjungan kalian yang ada di sana, dicari oleh raja neraka!" ucap Anna.
Lucia berteriak memanggil karena senang, sedangkan Anna melihat sekitar untuk mencari ibu dan bibinya. Kenapa mereka tidak ada? Mereka memang tidak ada karena Nick akan melakukan pertukaran dengan Anna jika dia menginginkan ibu dan bibinya dalam keadaan hidup.
__ADS_1