
Peluru bius yang Anna tembakan melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Barrow. Napas Anna tertahan, dia harap tidaklah gagal karena jika dia gagal maka Mariana akan mengetahui keberadaannya dan Barrow akan kembali menghancurkan apa saja yang ada dengan senjata otomatisnya.
Angin malam yang bertiup membuat Anna waspada dan semakin was-was. Sungguh sangat kecil kemungkinan mengenai Barrow. Mata Anna bahkan terpejam, dia sudah sangat yakin jika dia akan gagal namun peluru bius yang dia tembakan menancap tepat ke leher Barrow.
Barrow terkejut, secara refleks menyentuh lehernya dan menarik peluru bius yang tertancap di sana. Barrow mengangkat senjata apinya namun tidak lama kemudian, tubuhnya tumbang ke samping karena obat bius yang sudah bekerja.
Anna sangat senang, tidak ada cara lain selain membuat Barrow pingsan dan rencananya berhasil. Pengaruh obat bius itu cukup lama, cukup membuat Barrow tidak sadarkan diri selama dua puluh empat jam sehingga tidak mengganggu apa yang dia lakukan.
Anna merangkak keluar dari semak-semak. Energi gelap luar biasa dia rasakan. Itu adalah energi pelindung yang dibuat oleh Mariana. Ana mengambil jimat yang sudah dia bawa lalu menyelipkan jimat itu di saku celana Barrow. Semoga saja dengan jimat itu, Mariana tidak bisa melihat keberadaan Barrow. Dengan pelindung yang dia buat, Mariana yakin tidak ada yang bisa melihat rumah itu lagi dan masuk ke dalamnya.
Jimat sudah terpasang, Anna melepaskan senjata api yang dipakai oleh Barrow. Keadaan Barrow tampak memprihatinkan. Mariana benar-benar sudah keterlaluan. Setelah melepaskan senjata otomatis yang dibawa oleh Barrow, Anna menarik tubuh Barrow dengan susah payah menuju mobilnya. Dia tidak bisa meninggalkan Barrow dalam keadaan seperti itu.
Sebuah kain yang ada di mobil diambil, Anna menutup tubuh Barrow menggunakan kain itu. Pandangannya tidak lepas dari wajah Barrow, Anna bahkan mengusap wajah Barrow dengan perlahan.
"Aku akan segera kembali. Kali ini Mariana tidak akan memanfaatkan dirimu lagi. Tunggulah aku, Barrow," sebuah ciuman di berikan di dahi Barrow dan setelah itu Anna beranjak. Tatapan mata tidak lepas dari rumah tua yang ada di depan mata. Sekarang waktunya memasuki rumah tua itu namun menggunakan jalan lain yaitu jalan yang sudah ditunjukkan oleh teka teki tersebut.
__ADS_1
Buku yang dia bawa diambil, Salib dan air suci tidak dia lupakan. Pelita yang ada di mobil pun diambil. Anna melangkah menuju pohon besar yang ada di sisi rumah, itulah jalan yang disebutkan dalam teka taki. Jalan itu sempit tapi tidaklah sempit, tempat yang tertutup dari dunia luar. Bukan pintu, bukan pula makam. Orang awan yang melihat tidak akan menyadari tempat tersebut dan tidak bisa memasukinya karena yang dimaksud adalah sebuah pohon. Cukup lama dia memecahkan teka teki tersebut, namun saat melihat buku sang nenek dan gambar pohon juga gadis pembawa pelita, dia yakin itulah jalannya. Semoga apa yang dia terka tidaklah salah, dengan mantera yang ditulis oleh neneknya, dia yakin jalan menuju alam gain dapat terbuka.
Setelah mendapatkan semua yang diperlukan. Anna melangkah menuju pohon yang berbeda dengan pohon lainnya. Hanya pohon itu saja yang tidak terkena peluru senjata api yang di tembakan oleh Barrow. Anna menelan ludah melihat pohon tersebut, pohon apa pun itu dia harap tidak salah.
Pelita dinyalakan, Anna memegang buku berisi mantera yang sudah dia tulis. Mantera yang panjang, yang harus dia baca dengan benar. Anna memejamkan mata, dia siap masuk ke dalam sana. Dalam satu tarikan napas, dengan suara lantang Anna membaca mantera tersebut yang ditulis dalam bahasa latin.
..."Hanc guttam sanguinis offero ad aperiendam ianuam in alium mundum ut per eam transire possim et intrare illam permittitur."...
{Aku mempersembahkan setetes darah ini untuk membuka pintu dunia lain agar aku bisa melewatinya dan agar aku diijinkan untuk masuk ke dalamnya.}
Anna meletakkan lentera dan buku lalu mengambil pisau, menusuk jarinya sendiri lalu meneteskan darahnya di hadapan pohon tua yang besar dan terlihat semakin aneh.
{Terbukalah jalan untukku agar aku bisa masuk ke alam berbeda yang hendak aku masuki. Aku tidak akan lama, aku hanya ingin lewat saja.}
Anna melangkah mundur setelah membaca mantera, hawa dingin dia rasakan secara tiba-tiba. Angin malam berhembus, dedaunan yang kering tampak tertiup angin dan beputar di atas tanah menuju ke arahnya. Anna semakin melangkah mundur, bulu roma meremang. Angin yang tadinya berhembus pelan tiba-tiba saja berhembus kencang dan semakin kencang lalu angin itu reda.
__ADS_1
Anna sangat heran, apa mantera yang dibuat oleh neneknya tidak bekerja? Tidak ada reaksi apa pun, angin tidak bertiup lagi. Suasana hening, tidak terdengar apa pun. Tatapan mata Anna tidak lepas dari pohon besar yang tidak memiliki reaksi, apa manteranya salah atau dia sudah salah membaca?!
Anna memberanikan diri untuk melangkah namun tiba-tiba saja angin kencang kembali berhembus dari arah belakang, menghantam tubuhnya lalu angin itu seolah-oleh membuat pohon tua yang ada di hadapannya seolah-olah hidup. Tubuh Anna tidak bisa bergerak, ranting-ranting pohon bergerak begitu juta batang pohon lalu akarnya pun bergerak. Pohon itu berputar beberapa kali lalu sebuah lubang muncul dari akar pohon yang memang cukup besar namun lubang itu tidaklah besar.
Mata Anna terbelalak, Anna berusaha melangkah mundur walau dengan susah payah. Anna terlalu fokus pada pohon tua yang tampak hidup, bagaimanapun ini kali pertama dia melihat hal seperti itu. Ternyata sihir dan hal mistis memang ada di dunia ini.
Kaki Anna terus melangkah, dia terkejut saat kakinya tersandung sesuatu. Anna melihat ke bawah, matanya kembali melotot melihat beberapa tangan yang sudah berbentuk tengkorak keluar dari tanah. Anna masih melangkah mundur namun dia dikejutkan oleh dua tangan yang muncul kemudian lalu menangkap kedua kakinya.
Teriakan Anna terdengar, kini tidak saja dua tangan. Tangan-Tangan lain juga keluar dari tanah lalu menangkap kedua kakinya seperti tangan yang sebelumnya. Tangan-Tangan itu bahkan menarik kedua kakinya masuk ke dalam tanah, Anna mulai panik karena tubuhnya benar-benar tertarik.
"Lepas, lepaskan aku!" pintanya sambil memukul tangan-tangan yang sedang menariknya tapi tangan-tangan itu tidak berkurang bahkan semakin banyak. Anna mengambil pistolnya, menembak tangan-tangan yang sudah sebagian menjadi tengkorak itu sambil berteriak meminta kakinya dilepaskan apalagi dia merasa kedua kakinya sudah masuk ke dalam tanah dan sudah sampai kebetisnya.
"Bergabunglah... Bergabunglah bersama kami!" terdengar suara yang begitu ramai, mengajak Anna untuk bergabung dengan mereka.
"Lepaskan, aku tidak mau bergabung dengan kalian!" teriak Anna. Suara letusan senjata api kembali terdengar, tangan-tangan itu tidak berkurang sama sekali.
__ADS_1
Asap tebal tiba-tiba muncul dari pohon tua itu saat Anna sedang panik, hawa dingin pun melanda. Angin kencang pun kembali berhambus, semakin berhembus kencang. Anna kembali dikejutkan oleh dahan-dahan pohon yang tiba-tiba bergerak. Dahan-Dahan pohon itu memukul tanah, tidak sampai di sana saja, Anna kembali terkejut melihat pohon yang benar-benar hidup.
"Siapa? Siapa yang telah berani membangunkan aku dari tidurku?" suara teriakan keluar dari pohon itu, tubuh Anna mendadak membeku saat pohon itu bergerak seperti mencari orang yang sudah membangunkan dirinya dari tidur panjangnya.