Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Pelaku Yang Terangkap


__ADS_3

Anna dan Barrow mengintai rumah pelaku menggunakan sebuah teropong, mereka bersembunyi di balik sebuah mobil. Beberapa  petugas juga melakukan hal yang sama. Mereka melihat berapa orang yang ada di dalam rumah.


Dua pria yang ada di ruang tamu dapat terlihat dengan mudah, lalu sang manager yang mondar mandir di dalam sebuah kamar. Dilihat dari gerak gerik para pelaku, mereka adalah penjahat amatiran. Komputer yang mereka temukan di rumah sang manager sudah diamankan karena mereka menebak korbannya tidak hanya satu.


Sang manager yang sedari tadi terlihat gelisah tampak curiga melihat beberapa mobil yang berhenti di luar sana. Dia sudah tahu ada yang tidak beres, namun dia memantau situasi. Sang manager masih memperhatikan dengan banyak pikiran tapi gerakan beberapa orang yang mencurigakan membuat sang manager itu waspada.


Para petugas mulai mengepung rumah itu, Anna dan Barrow pun melangkah bersama mendekati rumah dengan sepucuk senjata api di tangan. Mereka mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh dua pemuda yang masih menikmati minuman. Salah satu dari mereka mengintai gerak gerik sang manager yang tampak semakin gelisah di kamar tersebut.


Mereka memberi informasi dengan alat talkie walkie yang mereka bawa. Mereka saling berbagi informasi dengan situasi yang ada. Kedua pria itu tidak tahu jika mereka sedang diintai. Hanya sang manager hotel yang sadar dan berusaha untuk melarikan diri.


"Bagaimana? Apa kita bisa langsung menyergap?" seseorang bertanya demikian.


"Langsung saja, jangan sampai ada yang lepas!" perintah sang pemimpin.


Perintah sudah didapatkan, pasukan pun semakin siaga. Kedua penjahat yang masih belum sadar bersenang-senang. Minuman yang ada di teguk sampai habis, tawa mereka pun terdengar karena sebentar lagi mereka akan pergi untuk bersenag-senang tapi sebelum keinginan itu tercapai, mereka dikejutkan oleh kaca jendela yang pecah.


"Apa yang terjadi?" belum sempat lagi mereka melihat para petugas sudah masuk menyergap.


"Angkat tangan!" dua petugas menyergap mereka sedangkan yang lain berpencar untuk mencari keberadaan sang manager.


Kedua penjahat dapat di tangani dengan mudah tanpa perlawanan, mereka pun dibawa keluar dari rumah tersebut namun sang manager masih dicari keberadaannya.


Sebagian dari mereka berpencar untuk mencari keberadaan sang manager, Anna dan Barrow pun mengikuti beberapa petugas untuk mencari dalang dari pembunuhan tersebut.


Sebuah kamar di mana sang manager terlihat di dekati, mereka sudah mengintai dan melihat jika pria itu tidak keluar dari kamar. Para petugas itu melangkah mendekat dengan perlahan, pistol pun sudah siap di tangan.


"Sepertinya dia tidak berada di sana, Anna," ucap roh pelindungnya.


Anna tidak menjawab, lankahnya pun terhenti sehingga membuat Barrow heran. Barrow bahkan berpaling untuk melihat ke arahnya.


"Kenapa kau berhenti?" tanya Barrow dengan suara pelan.


Anna masih tidak menjawab tapi Anna mengajak Barrow untuk ke tempat lain menggunakan isyarat tangan. Barrow pun mengikuti walau dia tidak mengerti. Anna melangkah menuju sebuah ruangan yang ditunjuk oleh Roh pelindungnya.

__ADS_1


"Hei, kenapa kita ke sini?" tanya Barrow sambil berbisik.


"Stttss... Pelaku tidak ada di sana," jawab Anna.


"Kau tahu dari mana?"


Belum lagi Anna menjwab, terdengar suara pintu yang didobrak dan suara petugas yang menyergap masuk ke dalam kamar di mana mereka meyakini pelaku ada di dalam. Para petugas itu berpencar namun sang pelaku tidak ditemukan sama sekali.


"Pelaku telah pergi!" teriak salah satu dari petugas itu.


"Wah... Kau benar-benar seperti cenayang," ucap Barrow.


"Sebab itu, kau harus berpikir dengan benar jika ingin bersama denganku!"


"Cenayang atau pengusir setan, aku tidak akan mundur!"


Mereka berdua sudah berdiri di sebuah pinu, dalam hitungan ketiga pintu itu didobrak oleh Barrow. Mereka mengira ada sebuah ruangan tapi ternyata di balik pintu ada sebuah tangga yang menuju basemen.


Para petugas dipanggil, mereka akan menyelusuri lantai bawah yang gelap. Barrow berusaha mencari saklar lampu namun lampu tidak menyala itu karena sang pelaku sudah merusaknya. Mau tidak mau mereka menyelusuri tempat itu menggunakan senter yang memang selalu dibawa.


Anna melangkah mendekati sang manager, dia bisa tahu tentunya sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh Roh pelindungnya. Sebuah batang besi sudah berada di tangan sang manager, dia akan memukul agen tersebut jika persembunyiannya ketahuan.


"Anna, dia tidak ada di sini!" ucap Barrow yang sudah berlari ke arahnnya.


"Benarkah? Sepertinya dia sudah lari!" walau berkata demikian tapi Anna menunjuk ke arah persembunyian sang pelaku.


Barrow melihat ke arah itu lalu melihat ke arah Anna. Anna mengangguk, senjata pun diangkat semakin tinggi. Suara langkah kaki mereka membuat sang pelaku yang bersembunyi mulai ketakutan, dia merasa sedang dikepung saat ini. Besi yang ada di tangan pun dipegang dengan erat, dia harus memiliki kesempatan untuk melarikan diri.


Dengan aba-aba, Anna dan Barrow menyergap namun mereka sedikit terambat karena pelaku itu keluar dari persembunyian. Teriakan pelaku itu terdengar, sebuah batang besi sudah mengayun ke arah Anna dan akan menghantam kepalanya.


"Anna, awas!" teriak Barrow.


Anna yang memang sudah siaga sedari tadi melepaskan timah panas dari senjata apinya. Letusan senjata api terdengar dari lantai basemen lalu disusul dengan teriakan sang pelaku karena timah panas yang Anna tembakkan menebus betisnya.

__ADS_1


"Kurang ajar!" teriak pria itu, tongkat besi masih terayun, hendak memukul Anna. Dia pasti bisa memukul kepala Agen tersebut tapi lagi-lagi sebuah timah panas menembus tangannya dan kali ini Barrow yang menembak.


"Arrghh... Sial!" teriakan sang manager bergema di lantai basemen. Pria itu jatuh berlutut, batang besi yang ada di tangan pun sudah terjatuh.


"Ingin lari? Rosaline berkata dia ingin bermalam denganmu," ucap Anna.


"A-Apa?" sang manager hotel terkejut karena Anna menyebut nama gadis yang dia bunuh.


"Dalam keadaan telanjang dan usus yang berurai," ucap Barrrow pula.


"Barrow!" Anna melotot ke arahnya.


"Hantu itu genit, dia bahkan tidak ragu menggoda aku yang tampan ini. Apa kau tidak cemburu dengannya?"


"Tidak!" jawab Anna, sebuah borgol diambil untuk membelenggu kedua tangan penjahat yang sudah membunuh Rosaline.


"Hei, apa kau serius?"


"Untuk apa aku cemburu pada hantu? Aku masih cukup waras sehingga tidak melakukan hal itu."


"Lepaskan aku, bukan aku yang membunuh Rosaline!" teriak sang manager hotel.


"Jelaskan di pengadilan nanti," ucap Anna.


"Berhati-hatilah, aku sudah melihat hantu itu," Barrow mendekati pelaku dan berbisik di telinganya, "Rupanya mengerikan, wajahnya sudah membusuk. Leher yang hampir putus dan usus yang berjuntai semakin menambah daya tariknya. Dia berkata akan menemani kalian bertiga nanti di pejara," ucap Barrow menakuti.


"Bo-Bohong," sang manager menelan ludah. Apa yang dikatakan oleh Barrow mengenai hantu Rosaline memang sangat persis saat kematiannya. Setelah memperkosa Rosaline, mereka berniat memutilasi tubuh Rosaline tapi tidak jadi karena mereka memutuskan menyembunyikan tubuh Rosaline di dalam dinding.


"Bersiaplah, dia akan mencarimu nanti malam," Barroow masih saja menakuti.


"Tidak.... Tidak mungkin!" pria itu berteriak ketakutan. Apa yang dikatakan oleh agen pria itu tidak benar, bukan?


Rasanya tidak ingin percaya tapi ciri-ciri yang disebutkan oleh Barrow menunjukkan jika mereka benar-benar bertemu dengan hantu Rosalina.

__ADS_1


Dua petugas menariknya keluar, mereka tidak peduli dengan teriakan pria yang ketakutan itu. Barrow mengejar Anna yang sudah menaiki anak tangga untuk naik ke atas. Akhirnya pelaku sudah mereka dapatkan tanpa banyak membuang waktu. Setelah ini, mereka bisa bersantai. Semoga saja.


__ADS_2