Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Para Korban


__ADS_3

Anna dan Barrow segera berlari ke bawah. Firasat ada orang lain di kastil itu selain mereka semakin kuat. Suara mobil semakin samar terdengar, mereka berlari menuruni tangga yang berbentuk spiral dengan cepat. Sungguh melelahkan.


Rasanya ingin terbang agar cepat tiba dan tentunya agar mereka tidak merasa lelah seperti itu. Napas mereka hampir habis, rasa lelah luar biasa yang mereka rasakan. Mereka bahkan belum mulai mencari keberadaan kotak di kastil tua tersebut tapi mereka sudah kehabisan tenaga.


Mereka berlari keluar setelah berada di lantai dasar, umpatan Barrow terdengar karena mobilnya hilang. Jangan-Jangan ada yang kebetulan lewat dan mengambil mobilnya.


"Sial, mobil warisan kakek buyutku hilang!" umpatnya.


"Siapa pun yang membawa mobilmu pergi, aku rasa dialah pelaku yang mencuri kotak itu dari kita!" ucap Anna.


"Sekarang bagaimana kita kembali, Anna?"


"Pikirkan itu nanti, sekarang ayo kita cari kotak itu!" ucap Anna seraya menepuk pundaknya.


"Kita masuk lagi? Apa kau bercanda?!" tanya Barrow tidak percaya. Sungguh dia tidak mau masuk ke dalam kastil mengerikan itu lagi.


"Ayolah, Barrow. Kita juga tidak bisa kembali jadi sebaiknya kita mencari kotak itu. Semoga saja kita menemukan keberadaannya."


"Sial, aku sungguh tidak mau setelah apa yang aku lewati di dalam sana!"


"Tidak perlu khawatir, hal itu tidak akan terjadi lagi!"


"Apa kau yakin?" tanya Barrow, sungguh dia takut kembali diperdaya.


"Percayalah!" Anna kembali melangkah masuk ke dalam, mau tidak mau Barrow mengikuti langkahnya. Jika bisa memilih dia benar-benar tidak mau.


Mereka kembali masuk ke dalam kastil, kali ini tidak ada keanehan lagi. Piano juga sudah tidak berbunyi. Mereka melangkah perlahan, menyelusuri lorong dan memasuki ruangan yang kosong.


Kotak itu tidak mungkin berada di atas, mereka berani bertaruh orang yang mencurinya tidak mungkin mampu membawa kotak berat itu ke atas.


Senter menyinari ruangan yang gelap, mereka melangkah maju sambil mencari namun sudah beberapa ruangan yang mereka masuki, mereka tidak menemukan apa pun.


"Aku rasa kotak itu sudah dibawa pergi, Anna. Oleh sebab itu mobilku di curi!" ucap Barrow.

__ADS_1


"Tidak ada salahnya berusaha, Barrow. Siapa tahu kita mendapatkan petunjuk siapa yang telah mengambil kotak itu. Sebentar lagi akan terang, jadi tidak ada salahnya kita berusaha."


"Baiklah, ayo kita cari!" ucap Barrow.


Mereka kembali mencari, bau tidak sedap semakin tercium. Mereka mencari sumber bau itu, bau busuk yang menyengat sampai membuat mereka mual namun semakin mereka mencari, mereka tidak menemukan apa pun


"Aneh, aku yakin baunya berasal dari sini!" ucap Anna saat mereka sudah berada di dalam sebuah ruangan.


"Aku juga sangat yakin baunya berasal dari sini!" ucap Barrow menyetujui.


"Jika begitu ayo cari yang benar!"


Mereka mengendus bau yang semakin tercium dari ruangan itu, langkah semakin maju sampai pada akhirnya mereka berdiri di depan sebuah lemari yang sudah tua. Barrow dan Anna saling pandang, Barrow melangkah maju sedangkan Anna mengangkat pistol juga senternya.


Anna memberi isyarat pada Barrow dan pada saat itu juga, Barrow membuka pintu lemari. Bau busuk yang begitu menyengat menyeruak keluar. Barrow dan Anna melangkah mundur sambil menutup hidung. Mereka bahkan terbatuk sampai muntah.


"Sial, bau apa ini?' teriak Barrow. Bau itu seperti bangkai yang sudah membusuk di dalam selama berhari-hari.


Barrow melangkah mendekati lemari, dia mengira akan ada tumpukan mayat di dalam lemari tapi nyatanya tidak, dia justru menemukan sebuah lorong yang entah menuju ke mana.


"Anna, di sini ada lorong!" teriak Barrow.


"Apa?" Anna berbalik, dan mendekati Barrow sambil menutup hidung. Seperti yang Barrow katakan, ada sebuah lorong di dalam lemari itu dan sepertinya itu adalah jalan rahasia.


"Ayo kita periksa," ucap Anna. Senter menyinari lorong yang lurus saja, mereka pun melangkah maju.


Bau bangkai semakin tidak terkendali, mereka berusaha bertahan dan terus melangkah maju. Anna menembak itu adalah bau bangkai korban dari kotak dan dia berharap korbannya adalah binatang seperti yang ada di gudang milik Barrow.


Entah bagaimana para bangkai itu cepat membusuk, mereka tidak tahu. Lorong yang lurus membawa mereka ke dalam sebuah ruangan yang begitu gelap. Barrow bahkan menelan ludah dan merasa merinding. Firasatnya buruk apalagi bau yang sedari tadi mereka cium berasal dari ruangan itu.


"Ruangan apa ini, Anna?" tanya Barrow.


"Entahlah, mungkin ruangan untuk pemujaan!" ucap Anna.

__ADS_1


"Aku benci tempat ini!" mereka melangkah sampai pada akhirnya mereka sudah berdiri di depan sebuah pintu. Anna dan Barrow kembali saling pandang lalu mereka berdua melangkah masuk ke dalam ruangan itu.


"Siapa pun, angkat tangan!" teriak Barow.


Mereka berlari masuk ke dalam sambil mengarahkan senjata api namun langkah mereka terhenti saat mendapati sebuah lingkaran di tengah-tengah ruangan lalu ada lambang bintang dan di tengah-tengahnya ada lambang kepala binatang. Pentagram itu memang selalu digunakan oleh pemuja iblis. Tidak hanya itu saja, lilin menyala di sekeliling pentagram tersebut namun yang membuat mereka terkejut adalah, puluhan gadis yang berbaring di sekitar pentagram. Tentunya para gadis itu sudah tidak benyawa bahkan sebagian dari mereka sudah membusuh.


"Sh**it!!!" Barrow keluar dari ruangan, perutnya kembali mual melihat para korban yang sudah membusuk bahkan beberapa dari mereka sudah dikerubuti belatung.


"Sungguh kotak terkutuk!" teriak Barrow kesal. Hanya dalam satu malam saja, kotak itu sudah mengambil korban begitu banyak.


Anna melihat para korban, dia tampak menyesal karena terlambat. Entah bagaimana kotak itu mencari korban tapi dia yakin ada campur tangan dari orang yang mengammbil kotak itu darinya.


Anna berjongkok disalah satu korban yang masih terlihat baru, dia bahkan memegangi tangan korban yang sudah dingin.


"Maaf, gara-gara aku," ucapnya dengan penuh sesal. Seandainya dia tidak mengeluarkan kotak itu dari rumah tua, apakah semua ini akan terjadi? Anna bahkan menangis melihat para korban yang tidak bersalah tapi mau dia bawa keluar atau tidak kotak itu, kotak itu tetap akan mengambil korban karena kebangkitan Mariana sudah akan tiba.


"Kotak itu sudah tidak ada, Anna," ucap Barrow yang sudah kembali masuk dan memeriksa semuanya. Hanya ada mayat saja di dalam ruangan itu bersama lambang pentagram yang ada di tengah-tengah ruangan.


"Semua salahku, Barrow. Semua karena kesalahanku!" ucap Anna seraya menghapus air matanya.


"Apa maksuudmu??" Barrow melangkah mendekatinya.


"Mereka menjadi korban karena kesalahanku," ucapnya lagi.


"Bodoh, jangan menyalahkan diri seperti itu," Barrow menarik Anna dan memeluknya, "Kita sudah berusaha bahkan kita hampir kehilangan nyawa tapi kita tidak bisa mencegah apa yang memang seharusnya terjadi. Semua bukan salahmu, Anna. Jadi jangan menyalahkan diri," hiburnya.


Anna mengangguk, air mata dihapus tapi dia tetap merasa bersalah kerena puluhan gadis itu harus mati.


"Kau bau!" ucap Anna seraya mendorong tubuh Barrow.


"Sialan, tempat ini yang bau! Ayo kia keluar, aku akan menghubungi polisi!"


Anna kembali mengangguk, rasa penyesalan kembali memenuhi hati. Kotak itu hilang entah ke mana, mereka juga tidak menemukan pelakunya. Entah di mana kotak itu berada tapi tanpa sepengetahuan mereka, kotak itu akan berada di tangan keturunan murni Mariana.

__ADS_1


__ADS_2