Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Rencana Setelah Kasus Selesai


__ADS_3

Malam yang melelahkan sudah berakhir, Anna terbangun di sebuah ruangan rawat inap. Tentunya itu ruangan di mana ibu dan sang bibi sedang dirawat. Barrow membawa mereka di sebuah rumah sakit untuk mendapatkan perawatan karena keadaan mereka yang sangat lemah. Anna pun bergegas ke rumah sakit begitu pergi dari kastil.


Ibu dan bibi Anna sudah mendapatkan perawatan saat Anna tiba. Keadaan mereka pun sudah lebih baik namun mereka masih belum terbangun. Barrow pun tidur di ruangan itu, mereka benar-benar lelah setelah melewati malam yang panjang.


Anna melihat sekitar, Barrow tidur di sofa dan belum bangun. Setelah ini mereka harus pergi menemui atasan untuk melaporkan apa yang telah terjadi semalam. Mereka akan menginterogasi salah satu pengikut Mariana untuk mengumpulkan bukti-bukti jika semua kasus yang sedang mereka tangani memang berhubungan dengan ilmu hitam dan dengan begitu, mereka bisa menutup kasus yang sudah mereka tangani begitu lama.


Setelah kasus yang mereka tangani selesai, mereka harus menangani kasus yang lainnya yang sudah menanti. Anna beranjak untuk melihat keadaan ibu dan bibinya. Mereka tampak tertidur dengan nyenyak, Anna tersenyum dengan perasaan lega. Walau banyak hal berbahaya telah mereka lewati tapi mereka dapat melewati semuanya.


Setelah melihat keadaan ibu dan bibinya, Anna pergi ke kamar mandi. Wajahnya tampak kusut, lingkaran hitam tampak di bawah matanya. Setelah ini dia mau meminta cuti sebelum menangani kasus baru yang sudah pasti kasus pembunuhan.


Anna mendekati Barrow yang masih tidur, pemuda itu pun tampak lelah. Anna duduk di sisi Barrow, menyentuh kaki Barrow dengan perlahan tapi karena sentuhan yang dia berikan membuat Barrow terkejut dan terbangun dari tidurnya.


"Mariana penyihir sialan, jangan menyentuhku!" teriak Barrow.


Anna terkejut, apalagi Barrow hampir saja memukulnya. Barrow pun terkejut mendapati Anna berada di sisinya.


"Anna, kenapa kau di sini?" tanyanya.


"Aku hanya menyentuh kakimu saja, Barrow. Kenapa kau berteriak seperti itu?"


"Sorry, aku kira kau Mariana."


"Sembarangan!" Anna hendak beranjak namun Barrow menarik tangannya sehingga Anna terjatuh dan berbaring di sisinya.


"Barrow, apa yang mau kau lakukan?" teriak Anna.


"Untuk sesaat saja, Anna. Kita sudah melewati banyak hal jadi kita butuh seperti ini untuk sebentar."


"Tapi aku bukan pacarmu jadi jangan perlakukan aku seperti pacarmu!"


"Ayolah, jadi pacarku jika begitu. Kau sudah tahu jika aku sudah menyukaimu sejak lama," ucap Barrow.


"Benarkah?" Anna yang tadinya berbaring membelakangi Barrow berbalik, agar mereka bisa saling berhadapan.


"Apa kau tidak percaya? Bukankah selama ini kau tahu?"


"Tidak, aku kira kau hanya bercanda saja tentang hal itu," Anna kembali berbalik membelakangi Barrow.


"Apa? Jadi kau mengira aku sedang bercanda saja?"


"Bukannya begitu? Kau menggoda aku dengan kata-katamu saja selama ini. Aku tahu kau tidak serius, lagi pula kita rekan kerja jadi aku rasa tidak seharusnya memiliki perasaan spesial satu sama lain."

__ADS_1


"Aku rasa tidak ada aturan untuk hal itu di mana rekan kerja tidak diperbolehkan memiliki hubungan spesial."


"Aku tahu, tapi aku hanya merasa aneh saja. Kita sudah menjadi rekan sejak lama, aku merasa aneh jika kita berdua tiba-tiba memiliki hubungan spesial."


"Benarkah, apa aku harus mengundurkan diri terlebih dahulu agar kau tidak merasa aneh lagi?"


"Apa? Jangan lakukan hal itu! Karirmu sedang bagus, jangan berhenti gara-gara aku!" ucap Anna. Jangan sampai Barrow berhenti gara-gara ingin dekat dengan dirinya.


"Jadi? Apa kau tidak mau menjalin hubungan denganku?" tanya Barrow. Memang terasa aneh menjalin hubungan dengan rekan sendiri.


"Tidak, kau tidak bisa membuat aku berdebar jadi aku tidak mau!"


"Oh, jadi aku harus membuatmu berdebar terlebih dahulu?" Barrow membalikkan tubuh Anna, jika itu yang Anna mau maka dia akan berusaha membuat Anna menerima dirinya.


"Tentu saja, Barrow. Kau harus berusaha agar aku tidak merasa aneh lagi saat dekat denganmu."


"Apa sekarang kau merasa aneh, Anna?" tanya Barrow ingin tahu.


"Sangat," jawab Anna tanpa ragu karena memang itulah yang dia rasakan.


"Sial, bagaimana jika seperti ini?" Barrow mengangkat dagu Anna dan mencium bibirnya secara tiba-tiba. Anna terkejut, Barrow mendekapnya dengan erat agar Anna tidak melepaskan diri. Rasanya memang aneh, walau itu bukan ciuman pertama mereka.


"Bagaimana? Apa kau sudah berdebar?" tanya Barrow sambil tersenyum.


"Kau gila, bibirku sakit!" Anna menyentuh bibir bagian bawahnya yang berdenyut.


"Aku hanya ingin membuatmu berdebar!"


"Menyebalkan, kau membuat bibirku sakit dan mulutmu bau! Pergi sikat gigi terlebih dahulu jika ingin membuat seorang wanita berdebar!" ucap Anna kesal. Anna pun beranjak, Barrow pun duduk di atas sofa dan mencium napasnya sendiri yang dia hembuskan ke atas telapak tangannya.


"Ck, jadi tidak keren!" ucapnya. Barrow beranjak menuju kamar mandi, sedangkan Anna menghampiri ibunya yang sudah terbangun.


"Bagaimana keadaanmu, Mom?"


"Anna," ibunya berusaha untuk duduk, Anna segera mendekati ibunya untuk membantu.


"Bagaimana perasaan Mommy sekarang?" tanyanya.


"Sudah lebih baik, mana bibimu?"


"Aku di sini," terdengar suara bibinya yang juga sudah sadar.

__ADS_1


"Aku sangat senang kalian sudah baik-baik saja," perasaan lega memenuhi hati, tidak ada satu pun yang terluka karena kejadian itu.


"Bagaimana, apa kau telah menggagalkan kebangkitannya?"


"Tentu saja, Mom. Jika tidak kita tidak akan berada di sini."


"Kau benar tapi kenapa kau memberikan pisau itu pada pengikutnya?" tanya sang bibi.


"Itu hanya untuk pengalihan saja, Aunty. Pisau itu hanya pisau palsu yang sudah aku sediakan sebelumnya untuk mengelabui Mariana."


"Oh, kami kira kau begitu bodoh memberikan pisau itu padanya."


"Tentu saja tidak, aku sangat senang kalian baik-baik saja. Tapi sebentar lagi aku harus pergi untuk memberi laporan. Kalian tidak keberatan aku tinggal sebentar, bukan?" tanya Anna.


"Tentu saja tidak, pergilah. Jangan mengkhawatirkan kami," ucap ibunya.


"Aku hanya sebentar saja, aku juga ingin mengajukan cuti karena aku ingin mengajak kalian berdua jalan-jalan."


"Apa? Bukankah kita sudah sepakat akan jalan-jalan berdua, Anna?" tanya Barrow yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kapan kita membuat kesepakatan seperti itu?" Anna berpaling, menatap Barrow dengan ekspresi heran.


"Ayolah, Anna. Kita butuh refresing, Lagi pula aku harus memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat dirimu berdebar. Mommy dan Aunty tidak keberatan kami pergi berdua, bukan?" tanya Barrow sambil mengedipkan mata.


"Tentu saja, manfaatkan waktu kalian berdua untuk semakin dekat," ucap ibu Anna.


"Mom?" Anna kembali berpaling ke arah ibunya.


"Tidak apa-apa, Anna. Jangan terlalu tenggelam dalam pekerjaan. Gunakan waktu yang ada, Mommy dan Aunty baik-baik saja. Jadi nikmatilah waktu kalian berdua."


"Tapi, Mom?" Anna masih tampak enggan.


"Pergilah, Anna. Aunty akan mengajak Mommy-mu pergi mengunjungi makam nenek," ucap bibinya pula.


"Apa kalian yakin?"


"Yeah... pergilah nikmati waktu kalian berdua," ucap ibunya.


"Baiklah jika begitu."


"Yes!" sorak Barrow senang. Akhirnya, dia akan memanfaatkan keadaan agar hubungannya dengan Anna menjadi hubungan spesial tapi sebelum mereka pergi menikmati waktu mereka nanti, dia harus membawa banyak jimat agar tidak ada hantu apa pun yang mengganggu waktu mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2