Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Keturunan Murni Mariana


__ADS_3

Anna masih mencari keberadaan ibu dan bibinya, Barrow juga mencari. Anna bahkan berdiri di kamar ibunya dan berpikir di sana. Apa semua itu ulah Barrow? Jujur saja dia masih mencurigai keadaan Barrow yang tiba-tiba pulih dari kendali Mariana tapi Barrow tidak tahu rumah dinasnya selama ini.


Tidak, dia rasa bukan Barrow. Anna berlari keluar dari kamar, dia melihat sekelilingnya. Jika tidak salah menebak, semua pasti ulah Keturunan murni Mariana. Anna sudah berdiri di bawah cctv yang ada di rumahnya, cctv itu sudah dirusak oleh seseorang. Kini dia berlari ke cctv lainnya, hal yang sama pun dia dapatkan.


Semua cctv yang ada di rumahnya sudah dirusak, tidak salah lagi. Ibu dan bibinya pasti sudah jatuh ke tangan Mariana tanpa dia ketahui apalagi dia pergi selama dua hari. Seharusnya dia mengatakan pada mereka siapa keturunan murni Mariana agar mereka waspada apalagi mereka begitu percaya kepada putra mariana.


"Anna," Barrow keluar dari kamar bibi Anna dan mencari Anna.


"Apa kau menemukan sesuatu, Barrow?" Anna berlari menghampirinya.


"Tidak ada siapa pun tapi aku menemukan ini," Barrow memberikan sebuah kertas yang dia temukan di kamar bibi Anna. Ketas yang ada di tangan Barrow segera diambil, Anna membaca tulisan tangan di kertas tersebut.


"Mereka ada padaku, jika ingin mereka hidup lebih baik tidak melakukan apa pun sampai aku menghubungimu!"


Anna meremas kertas itu dan terlihat marah, dia sungguh tidak menduga keberadaan ibu dan bibinya begitu cepat diketahui oleh keturunan murni Mariana. Seharusnya dia mengatakan pada mereka untuk mewaspadai putra Mariana, tapi dia mengira sudah aman karena mereka sudah pindah.


"Bagaimana, Anna? Siapa yang telah menculik mereka berdua?" tanya Barrow.


"Putra Mariana!" jawab Anna.


"Hei, apa maksudmu?" Barrow sungguh tidak mengerti.


"Di sini tidak aman, aku harus pergi! Tolong ambil jimat yang ada di setiap ruangan, Barrow. Kita membutuhkan jimat itu untuk melawan Mariana nanti!"


"Apa yang akan kau lakukan?" Barrow mengikuti langkah Anna yang melangkah menuju kamarnya.


"Beberapa hari lagi malam bulan purnama, malam di mana Mariana akan bangkit abadi. Dia sudah mendapatkan ibu dan bibiku, dan aku juga mendapatkan apa yang menjadi kelemahannya. Aku yakin akan adanya pertukaran, Mariana tidak lebih dari seorang penjahat yang menginginkan pertukaran jadi kita harus bersiap-siap untuk melawannya. Aku mempercayai dirimu, Barrow. Aku harap kau tidak mengkhianati aku!" ucap Anna.


"Aku tidak akan melakukan hal itu, Anna," Barrow menarik tangan Anna, sehingga Anna melangkah mundur dan berada di dalam pelukannya.


"Aku tidak akan diperdaya olehnya lagi, kita akan menyelesaikan kasus ini bersama-sama karena sejak awal kita memang harus menyelesaikan kasus ini. Maaf aku justru merepotkan dirimu tapi sekarang, kita berdua akan menghentikan Mariana!"


"Terima kasih kau sudah kembali di waktu yang tepat, Barrow."

__ADS_1


"Aku sangat ingin menciummu, Anna. Tapi kau bau!" ucap Barrow.


"Sial, aku belum mandi selama dua hari!"


"Pergilah mandi terlebih dahulu, aku akan menunggu. Bawa barang-barangmu yang penting saja, kita pergi untuk menendang Mariana dan setelah itu, jangan lupa ucapanmu yang akan menggoyang ranjang bersama denganku setelah kasus ini selesai!" dia tidak akan melupakan hal ini.


"Mesum, aku akan meminta arwah nenek tua itu untuk menggoyang ranjangmu setiap malam!" Anna melepaskan diri dari pelukan Barrow dan melangkah pergi.


"Enak saja!"


Anna tersenyum, Barrow benar-benar sudah kembali. Barrow pergi mengambil jimat seperti yang Anna perintahkan sedangkan Anna berada di kamar mandi. Kotak P3K sudah berada di atas wastafel, Anna membuka bajunya dan melihat luka bakar yang ada di bahu. Luka bakar itu cukup besar, luka di lengannya juga terasa perih.


Sebelum mengolesi obat, Anna membersihkan tubuhnya dengan hati-hati. Luka di punggung akibat cakaran makhluk gaib pun terasa perih akibat terkena air. Anna meringis menahan rasa sakit. Dia benar-benar harus beristirahat untuk mengisi tenaga sebelum malam purnama tiba.


Setelah selesai mandi, Anna keluar sambil membawa kotak P3K. Dia harus meminta bantuan Barrow untuk mengobati lukanya. Payung dan pisau Artsbond sudah dia sembunyikan, dia tidak memperlihatkan kedua benda itu pada Barrow dan tidak mengatakannya untuk berjaga-jaga. Cukup dia saja yang mengetahui kedua benda yang dia temukan di alam gaib.


"Barrow, bisa kau membantu aku?" Anna berteriak memanggilnya.


"Otak mesum, bantu aku mengolesi obat!" ucap Anna kesal.


Barrow masuk ke dalam kamar dengan terburu-buru, ludah di teguk dengan susah payah saat melihat Anna duduk di sisi ranjang yang hanya dililit dengan sebuah handuk.


"Kenapa kau mendapat begitu banyak luka?"


"Hasil bertempur dengan makhluk gaib," Anna menurunkan handuknya untuk memperlihatkan luka yang ada di punggung.


"Astaga, Anna. Kenapa begitu banyak bekas cakaran seperti ini? Lalu kenapa bahumu terbakar seperti itu?"


"Tolong oleskan obatnya saja, Barrow. Sudah aku katakan semua luka ini aku dapatkan saat melawan makhluk gaib."


"Ck, makhluk yang mengerikan!" kotak obat diambil, Barrow mengolesi setiap luka yang terdapat di punggung, bahu dan lengan Anna.


Ringisan akibat rasa sakit terdengar, apalagi saat luka bakar di bahu diberi obat. Perih luar biasa, beruntungnya tidak ada bekas baju yang menempel pada luka bakar itu sehingga dia tidak perlu pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


Setelah luka-lukanya diobati dan menggunakan pakaian, Anna mengambil barang-barangnya dan bergegas pergi bersama dengan Barrow. Anna khawatir putra Mariana menempatkan mata-mata untuk mengawasi dirinya. Jangan sampai rencana yang dia buat untuk melawan Mariana dan untuk mendapatkan ibu juga bibinya justru diketahui oleh mereka.


Mereka pergi mencari sebuah rumah yang aman, tadinya Barrow ingin mengajak Anna kembali ke rumahnya tapi Anna menolak karena bisa saja, putra Mariana sudah menempatkan orang untuk mengawasi rumah Barrow.


"Kenapa kita harus mencari rumah baru, Anna?" tanya Barrow, dia sungguh tidak mengerti kenapa Anna begitu waspada.


"Tentu saja kita harus waspada, Barrow. Aku khawatir putra Mariana akan memata-matai kita. Mulai sekarang jangan percaya dengan siapa pun, aku hanya percaya padamu dan kau juga harus mempercayai aku saja. Bawa jimat itu ke mana pun kau pergi, jangan sampai kau lepaskan!"


"Kau begitu waspada, apa kau sudah tahu siapa putra Mariana?"


Anna tidak menjawab dan tersenyum, Barrow semakin penasaran dibuatnya. Tiba-Tiba dia ingin tahu bagaimana hubungan Anan dengan Nick Devan. Sudah beberapa hari dia berada di bawah kendali Mariana, dia sangat ingin tahu bagaimana hubungan mereka berdua.


"Bagaimana hubunganmu dengan Nick?" tanya Anna.


"Hubungan apa?" Anna balik bertanya.


"Bukankah kau menyukai pria itu?"


"Kau salah paham, Barrow. Aku dan Nick hanya teman saja."


"Benarkah? Tapi kau begitu mesra dengannya," ucap Barrow tidak percaya.


"Apa kau ingin tahu siapa Nick Devan, Barrow?" Anna melihat Barrow sekilas lalu dia kembali berpaling.


"Apa maksudmu? Dia kakak Lucia Devan, bukan?"


Anna tersenyum, dia  masih belum menjawab. Barrow semakin penasaran, dia berpaling sesekali untuk melihat ke arah Anna.


"Kenapa kau diam saja?" tanyanya.


"Nick Devan, aku rasa dialah keturunan murni Mariana!" ucap Anna.


"Apa?" Barrow terkejut, laju mobil pun dihentikan secara mendadak. Barrow melihat ke arah Anna, apa Anna tidak sedang bercanda akan hal itu? Nick Devan keturunan murni Mariana, bagaimana mungkin?

__ADS_1


__ADS_2