Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Roh Pelindung Yang Marah


__ADS_3

Semua barang-barang yang ada di ruangan itu masih beterbangan kecuali kotak misterius itu. Anna merangkak ke dinding dan bersandar di sana. Dia sungguh tidak menduga, arwah si payung merah merubah wujudnya menjadi Nick Devan. Dia sungguh tidak tahu jika arwah bisa melakukan hal seperti itu. Sepertinya dia harus mencari tahu lebih banyak akan kemampuan mereka jika dia bisa selamat malam ini.


Arwah itu tertawa mengerikan melihat keadaan Anna yang sudah tidak berdaya. Malam ini juga dia akan membunuh Anna Baker yang sudah mengganggu dirinya. Jika tidak ada wanita itu, dia sudah mendapatkan Luca Devan. Karena dia belum mendapatkan jiwa gadis itu membuatnya tidak bisa mengambil korban lainnya.


"Aku akan membunuh dirimu!" teriaknya.


Anna memegangi gagang pisau yang masih menancap. Darah mengalir deras, jika dia mencabut pisau itu maka darahnya akan semakin mengalir deras. Tatapan mata Anna tertuju pada telepon yang ada di meja nakas. Dia harus bisa menghubungi Barrow dan memintanya untuk datang namun jarak meja dan dirinya cukuplah jauh karena meja itu ada di ruang tamu.


Tatapan mata Anna kini berpindah pada arwah yang sedang tertawa puas. Semua barang benar-benar hancur karena terbang sasi sini dan menghantam dinding dan lantai.


"Sial, semoga asuransi mau membayar perabotan rumahku!" gerutu Anna.


Anna mencari kesempatan, angin ****** beliung yang disebabkan oleh hantu belum melanda ruang tamu, semoga saja teleponnya tidak terkena amukan sehingga bisa dia gunakan.


"Mati kau, Anna!" teriak arwah si payung merah.


"Sial!" Anna merangkak menuju telepon berada dengan cepat.


Satu kibasan tangan dari arwah itu, menerbangkan benda tajam ke arah Anna. Pecahan kaca dan beberapa benda tajam lain terbang ke arah Anna bahkan palu yang Anna gunakan untuk memukul kotak juga melayang ke arahnya.


"Mati! Hi... Hi... Hi...!"


"Hanya kata itu saja yang kau ucapkan. Aku tidak akan mati dengan mudah karena aku belum menikah!" ucap Anna.


Benda-Benda tajam sudah terbang semakin mendekat, Anna tampak panik dan merangkak semakin cepat sampai membuatnya mengabaikan rasa sakit yang dia rasakan.


"Ya Tuhanku. Arwah leluhur, Nenek, siapa saja tolong aku!" racaunya tidak jelas.

__ADS_1


Benda-Benda tajam itu semakin dekat, dan dekat. Anna merasa tidak ada lagi peluang untuknya, oleh sebab itu Anna meringkuk di atas lantai. Dia benar-benar sudah pasrah. Mati sekarang atau nanti, tidak ada bedanya.


Jarak benda-benda tajam itu tinggal beberapa meter lagi, akan menghujam tubuhnya namun tiba-tiba saja, semua benda itu terhenti dan terpental karena tiba-tiba saja ada yang keluar dari tubuh Anna.


Kali ini bukan sinar putih, tapi sosok wanita bergaun putih. Sepertinya itu adalah roh pelindung yang ibunya ucapkan. Tidak saja gaunnya yang berwarna putih, rambut dan juga wajahnya terlihat putih seperti seseorang yang kekurangan pigmen. Sosok itu melihat ke arah Anna lalu terbang ke arah si payung merah.


Anna sangat heran namun dia tidak mau memikirkan atau melihat apa yang dilakukan oleh dua sosok tersebut. Sambil menarik tubuhnya dengan susah payah, Anna menghampiri telepon. Dia harus meminta Barrow datang jika tidak dia akan mati.


Adu kekuatan pun tidak bisa dihindari oleh sosok jahat dan baik. Anna menekan nomor ponsel Barrow dan beruntungnya dia ingat.


"Ada apa, jangan katakan ada masalah hantu lagi," ucap Barrow.


"Barrow," suara Anna terdengar lemah, napasnya pun terdengar berat.


"Ada apa denganmu?" tanya Barrow.


"Sial, pasti terjadi sesuatu padamu karena kotak itu!" Barrow bergegas tanpa membuang waktu.


Anna terengah, gagang telepon jatuh di sampingnya. Darah sudah membasahi baju, Anna berusaha menahan rasa sakit di bagian perutnya. Pandangannya tampak samar, satu tangan memegangi gagang pisau. Rasannya ingin menarik pisau itu dari perutnya tapi dia sudah tidak memiliki tenaga lagi.


Arwah si payung merah sangat marah, roh pelindung Anna mengunci pergerakannya. Roh itu tidak mengatakan apa pun, barang-barang yang beterbangan sudah tidak ada lagi. Rupa arwah si payung merah terlihat semakin mengerikan akibat amarah yang luar biasa.


Dia berusaha memberontak dari cengkeraman roh pelindung Anna yang membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali. Roh itu terlihat marah dengan apa yang telah arwah si merah itu lakukan.


"Lepaskan aku!" teriak arwah yang sedang marah itu.


Satu tangan terangkat ke atas, roh itu masih saja diam. Arwah si payung merah berteriak kencang lalu tidak lama kemudian, roh pelindung Anna mengibaskan tangannya. Angin keras berhembus, arwah si payung merah terdorong. Tentunya angin itu hanya dia yang merasakan, teriakan mengerikannya memenuhi ruangan namun arwah itu terpental ke belakang akibat kerasnya angin yang bertiup. Arwah itu bahkan terpental keluar dari rumah Anna, tidak ada yang bisa melihat apa yang terjadi, suasana menjadi sunyi setelahnya.

__ADS_1


"Anna.... Anna," seorang wanita memanggilnya. Anna bahkan seperti melihat seorang wanita cantik tersenyum dengan manis sambil menatapnya lembut tapi semua itu seperti sebuah ilusi.


"Anna... Anna," Anna tersadar saat mendengar suara Barrow.


Suara sirine mobil ambulance terdengar, Anna sedang dievakuasi dan dibawa ke mobil. Begitu tiba Barrow dikejutkan dengan barang-barang yang berantakan.


Barrow mencari keberadaan Anna di antara barang-barang yang hancur dan terkejut menemukan Anna di sisi ruangan dalam keadaan tidak sadarkan diri. Yang paling membuat Barrow terkejut adalah, pisau yang menancap di perut dan juga darah kering yang menggenang.


"Barrow," Anna berusaha tersenyum walau keadaannya lemah.


"Kau benar-benar menantang bahaya, Anna. Apa yang sebenarnya terjadi?" Barrow mengikutinya yang dibawa ke mobil ambulance.


"Kotak itu," Anna berkata dengan suara yang semakin pelan karena dia semakin lemah.


"Apa yang kau katakan?"Barrow mendekatkan telinganya agar dia bisa mendengar dengan jelas.


"Kotak itu berbahaya, Barrow. Jangan sampai ada yang mengambilnya jadi amankan kotak itu," pinta Anna.


"Apa kau jadi seperti ini gara-gara kotak?" tanya Barrow namun Anna tidak menjawab.


Barrow mengumpat, mereka mendapatkan kotak itu dengan susah payah. Mereka harus melawan lima arwah dan hampir mati tapi yang mereka temukan justru kotak berbahaya. Jika tahu akan mencelakai Anna, dia tidak akan menarik kotak itu sampai keluar.


Barrow kembali ke dalam rumah, dia sibuk mencari kotak hitam misterius di antara barang-barang yang berserakan dan pada akhirnya, dia melihat kotak misterius itu berada di atas meja.


Tengkuk diusap, perasaan tidak nyaman dia rasakan saat menghampiri kotak tersebut. Jangan katakan itu adalah kotak kutukan dan jangan katakan pula kejadian yang Anna alami akibat kutukan. Tidak membuang waktu, Barrow mengambil kotak yang beratnya tidak kira-kira. Dia tidak akan menyimpan kotak itu di dalam rumah karena takut. Gudang adalah tempat paling aman untuk kotak hantu tersebut.


Anna sudah dibawa pergi ke rumah sakit saat Barrow berhasil membawa kotak itu keluar. Arwah si payung merah yang sudah kalah memperhatikannya dari balik pohon yang gelap. Anna Baker, siapa sebenarnya wanita itu? Arwah itu terlihat menipis, dia tidak menduga Anna Baker memiliki roh pelindung yang sangat kuat.

__ADS_1


Arwah itu meenghilang dikegelapan malam, sedangkan Barrow membawa kotak misterius itu pergi. Setelah itu dia akan melihat keadaan Anna untuk mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi sampai Anna bisa terluka parah seperti itu? Tapi dia yakin, ulahnya pasti arwah yang sedang Ana hadapi.


__ADS_2