
Anna melangkah mundur, begitu juga kembarannya. Tubuh kembarannya melayang ke belakang, tatapan matanya melihat ke bawah di bagian perutnya di mana sebilah pisau sudah menancap di sana.
Sebelum pisau yang ada di tangan kembarannya menghujam punggung Anna, secara diam-diam Anna menarik pisaunya lalu menusukkan ke perut kembarannya. Dia sudah melewati beberapa rintangan, dia tidak akan diperdaya lagi apalagi oleh sosok yang menyerupai saudara kembarannya itu.
Lagi pula sejak awal dia bersama dengan sosok Natalie, dia pun sudah diperingati untuk waspada oleh roh pelindungnya. Hal aneh tentu membuatnya curiga. Dia sangat yakin saudara kembarnya tidak mungkin berada di sana.
Yang membuatnya curiga tidak hanya itu saja, kedua kaki kembarannya yang tidak menyentuh lantai dan melayang saat mereka berpindah ruangan. Dia yakin hanya makhluk halus yang melayang. Lagi pula saudara kembarannya meninggal saat bayi, bagaimana mungkin dia bisa terkurung di sana lalu tumbuh dewasa? Meskipun dia sudah melewati berbagai kejadian mistis yang tidak bisa diterima oleh akal sehat namun yang kali ini dia tidak bisa mempercayainya apalagi saat saudara kembarnya meninggal, Neneknya masih hidup. Dia yakin neneknya tidak mungkin membiarkan jiwa cucunya di bawa oleh Mariana dan diperbudak olehnya.
"A-Apa yang kau lakukan, Anna? Kenapa kau menikamku?" sosok yang menyerupai kembarannya itu masih berpura-pura bahkan pisau yang berada di tangannya sudah tidak ada.
"Tidak perlu menipu, aku tahu saudaraku tidak mungkin berada di tempat ini!" Anna mengambil air suci yang tadi dia simpan.
Sosok yang menyerupai kembarannya menunduk, ternyata tidak mudah mengelabui Anna.
"Hi... Hi... Hi... Hi...!" tawa mengerikannya terdengar, pisau yang menusuk perutnya tiba-tiba berkarat dan melebur bagaikan debu. Seluruh ruangan putih itu terbakar, seperti labirin yang mulai lenyap diganti dengan kegelapan.
Kini sosok itu sudah menyerupai wujud aslinya, sosok itu memang bisa menyerupai siapa saja sesuai dengan yang ada di dalam pikiran korbannya oleh sebab itu sosok tersebut ingin mengelabui Anna dengan berubah wujud menjadi Natalie dan saudara kembarnya agar Anna terpedaya.
"Beraninya kau?" Anna membuka penutup botol air suci. Dibandingkan semua yang dia alami, dia tidak terima sosok saudara kembarnya yang sudah lama meninggal justru dipergunakan seperti itu.
"Sayang sekali, aku kira aku bisa menipumu," ucap sosok itu lalu tawa mengerikannya kembali terdengar.
__ADS_1
Anna benar-benar marah, entah berguna atau tidak namun Anna berlari ke arah sosok tersebut dan menyiramkan air suci ke tubuh sosok mengerikan itu.
Sosok itu terkejut, asap putih muncul di bagian tubuhnya yang tersiram air suci. Sosok itu melihat ke arah Anna lalu dia berteriak dengan nyaring.
"Panas... Panas!" asap putih semakin terlihat banyak di bagian yang terkena air suci.
Anna melihat air suci yang tinggal setengah di dalam botol, ternyata sangatlah berguna. Dia kembali menghampiri sosok tersebut yang masih merintih kesakitan dan menyiramkan seluruh air suci itu ke atas tubuhnya.
Sosok itu terkejut, namun tidak lama kemudian jeritan kesakitanya terdengar. Anna melangkah mundur dan mengarahkan senternya ke arah sosok yang semakin menjerit kesakitan. Asap putih semakin banyak, tubuh sosok itu seperti meleleh akibat air suci.
"Beraninya kau, beraninya kau membakar aku?" sosok itu melangkah mendekati Anna, sedangkan Anna melangkah mundur sambil menutup hidung dengan lengan akibat bau busuk yang keluar dari tubuh sosok mengerikan itu.
Sosok itu masih mendekati Anna, dengan kedua tangan yang hendak menyekiknya. Kedua tangannya pun meleleh, memperlihatkan kerangka tangannya. Sosok itu semakin ripuh akibat bagian-bagian tubuhnya yang mulai meleleh dan setelah itu, sosok itu sudah menjadi tulang belulang dan jatuh ke atas tanah.
Anna mengarahkan senternya ke bawah, ludah ditelan dengan susah payah ketika melihat cairan merah di bawah dengan tulang belulang yang berserakan. Cairan itu adalah bagian tubuh sosok itu yang meleleh.
Dia tahu sudah saatnya pergi karena sosok itu pasti akan bangkit lagi. Jangan sampai dia diperdaya untuk kedua kalinya.
Anna melangkah pergi dengan terburu-buru, meninggalkan sosok mengerikan yang sudah menjadi tulang belulang namun setelah dia pergi tidak lama, tulang belulang itu kembali menyatu dan menjadi kerangka lalu cairan merah yang adalah leburan daging makhluk tersebut naik ke atas seperti ada magnet yang menariknya naik ke atas. Tubuh sosok itu kembali utuh, dagingnya kembali membalut tulang dan kulitnya yang membusuk pun kembali. Kedua bola matanya naik ke atas melalui kakinya, terus naik dan pada akhirnya masuk lagi ke dalam mata sosok seram tersebut.
Sosok seram itu pun membuka mata, senyum mengerikan terukir di bibir. Kini dia sudah siap mencari korban lagi yang akan menemani dirinya di alam gaib itu. Jika Anna tergoda oleh ilusi yang dia ciptakan, maka ia akan menelan jiwa Anna sehingga Anna bersatu dengannya dan menjadi temannya di alam gaib itu.
__ADS_1
Anna melangkah semakin menjauh, kini dia dihadapkan oleh dua pilihan karena jalan yang bercabang dua. Anna mulai kebingungan, salah mengambil jalan maka dia akan kehilangan banyak waktu dan terjebak di sana untuk selamanya.
"Ke mana aku harus pergi sekarang?" tanya Anna pada roh pelindungnya.
"Biarkan aku melihat!" sebuah sinar putih keluar dari tubuh Anna dan melesat dengan cepat untuk memeriksa dua jalan bercabang yang ada di hadapan Anna.
Anna menunggu sambil memeriksa perlengkapan yang dia bawa. Kini dia hanya memiliki satu pistol dengan peluru yang tinggal sedikit, sebuah salib dan senter. Pisau yang dia bawa sudah meleleh, sepertinya dia harus mencari senjata untuk melindungi dirinya karena dia tidak tahu apa yang akan dia hadapi di depan sana.
Roh pelindungnya kembali terbang namun dia berpindah ke jalan lain, sinar putih roh pelindungnya bagaikan kunang-kunang kecil di tempat yang super gelap. Tempat itu kembali hening, Anna harap dia segera menemukan tempat keberadaan pisau dan payung itu karena dia takut pelitanya akan padam.
Setelah beberapa saat, roh pelindungnya kembali terbang mendekatinya dan masuk ke dalam tubuhnya.
"Yang kanan, Anna. Kau sudah dekat dengan keberadaan dua benda itu tapi untuk mendekati tempat itu tidaklah mudah jadi berhati-hatilah!"
Anna mengangguk, senter diangkat bersamaan dengan pistol. Dia harus berhemat menggunakan pistol itu akibat peluru yang sudah menipis. Dia pun tidak bisa kembali untuk mencari satu pistolnya yang jatuh entah ke mana. Anna mengambil jalan yang ada di sebelah kanan sesuai dengan perkataan roh pelindungnya. Jalan itu semakin lama semakin lebar. Anna merasa ada yang tidak beres apalagi ketika dia melangkah ke depan dan memijakkan kakinya, tiba-tiba saja kakinya amblas ke bawah seperti menginjak lumpur yang cukup dalam.
Anna hendak menggerakkan kedua kakinya namun sulit, senter di arahkah ke bawah dan benar saja, dia berada di dalam kubangan yang seperti aspal pekat dan super lengket apalagi tubuhnya berada di dalam kubangan itu sampai ke pinggangnya.
"Lewati kubangan ini maka kau akan tiba kerena tujuanmu ada di depan sana," ucap roh pelindungnya.
Lagi-lagi Anna mengangguk, satu kaki mulai digerakkan dengan susah payah. Anna melihat sekeliling namun dia berhenti karena tiba-tiba saja kubangan aspal itu mengeluarkan gelembung besar dan banyak. Sial, apa lagi sekarang?
__ADS_1