
Setelah melewati jebakan, Anna dituntun oleh Roh pelindungnya menuju sebuah ruangan lain. Lagi-Lagi dia harus melewati lorong yang sempit. Kali ini dia harus waspada, jangan sampai dia terhimpit oleh tembok.
Anna masih belum bergerak, dia menunggu bangunan itu bergerak. Dia sudah mempelajari polanya. Bangunan itu akan bergerak setiap beberapa menit sekali. Mariana yang pintar, tapi lebih pintar dirinya yang bisa masuk ke dalam tempat yang Mariana ciptakan.
Setelah menunggu beberapa saat, bangunan itu bergerak. Diding yang harus dia lewati menyempit namun sebuah lubang sempit terbuka juga beberapa pintu. Anna menyinari tiga pintu yang terbuka, dia harus memilih dengan benar.
"Yang mana?" tanyanya.
"Bukan ketiga pintu itu, Anna. Carilah yang lain!"
Anna mengernyitkan dahi, bukan pintu itu? Jika demikian dia harus masuk dari mana? Anna mulai mencari, setiap dinding dia telusuri. Dari atas sampai ke bawah. Bebatuan besar pun didorong karena bisa saja salah satu batu itu bisa didorong.
Setelah beberapa saat Anna mencari akhirnya dia menemukan sebuah lubang sempit yang hanya bisa dilewati oleh satu orang saja. Anna terlihat ragu, apa dia harus masuk ke dalam lubang itu? Anna menyenter lubang gelap yang tidak tahu di mana ujungnya.
"Apa kau yakin?" tanya Anna memastikan.
"Tentu saja, jangan membuang waktu. Sekarang masuklah, kau akan tiba di ruangan di mana salah satu benda itu berada."
Anna menyimpan pistol, gagang senter dikulum di mulut karena dia harus merangkak masuk. Benar-Benar lubang yang sangat sempit, beruntungnya dia tidak punya phobia dengan tempat sempit.
__ADS_1
Anna mulai merangkak masuk, tempat gelap dan sempit membuatnya kesulitan bernapas. Lebih baik dia segera bergegas karena dia tidak tahan berada di lorong sempit yang membuatnya kesulitan bernapas.
Supaya tidak membuang banyak waktu, Anna terus merangkak namun dia sudah merasa aneh sedari tadi karena ada yang bergerak-gerak di bahu dan rambutnya. Tangannya juga menyentuh sesuatu yang terus bergerak bahkan dia merasa ada yang merayap naik dari kedua tangannya, tiba-tiba dia jadi merinding. Apakah ular, atau tikus?
Senter yang dia kulum pun diambil, Anna memberanikan diri untuk menyenter ke bawah. Anna terkejut dan berteriak karena di bawah sana begitu banyak serangga. Kelabang berukuran besar, ulat kaki seribu yang berukuran cukup besar. Tidak hanya dua binatang itu saja, kecoa dan berbagai jenis binatang menjijikkan lain pun ada.
Sekujur tubuh Anna merinding karena geli, kedua tangannya bahkan gemetar karena binatang-binatang itu naik ke atas tubuhnya lalu merayap ke leher dan bahu melalui sela rambutnya.
"Per-Pergi dariku!" Anna menepis-nepis binatang yang di bahu dan rambut juga yang sedang merangkak di atas tangannya. Binatang-Binatang menjijikkan itu membuatnya takut apalagi ketika Anna menyenter ke arah kakinya, ternyata binatang itu sudah memenuhi kedua kakinya.
"Serangga menjijikkan, pergi dariku!" teriaknya, Anna kembali merangkak agar dia bisa cepat keluar dari lubang sempit yang dipenuhi oleh serangga.
Anna merangkak tanpa mempedulikan apa pun lagi, jujur saja dia lebih takut serangga dari pada hantu. Dia terus merangkak sampai akhirnya menemukan jalan keluar dan setelah itu, Anna melompat-lompat untuk membersihkan serangga yang ada di tubuhnya. Kedua tangannya pun sibuk menepis serangga yang ada di rambut dan lehernya. Lubang, dia benci lubang. Semoga dia tidak perlu melewati lubang apa pun lagi setelah ini.
Kini dia berada di sebuah ruangan, Anna melangkah maju untuk melihat apa yang ada di hadapannya. Langkahnya pun terhenti saat ada tangga untuk turun. Anna menuruni tangga itu dengan perlahan, entah ada rintangan apa lagi tapi yang pasti dia harus waspada.
Anak tangga terakhir sudah terlihat, Anna menghentikan langkahnya dan mengarahkan senternya ke depan. Dia kembali dikejutkan oleh kumpulan makhluk yang menyerupai mumi.
Sekujur tubuh makhluk itu dibalut menggunakan perban, makhluk yang berjumlah puluhan itu tidak bergerak sama sekali. Anna kembali menapakkan kakinya, menuruni anak tangga yang terakhir. Kumpulan makhluk itu tampak bereaksi saat suara sepatunya yang menyetuh lantai terdengar.
__ADS_1
Anna menghentikan langkah, diam. Sekarang dia sudah berada di antara para mumi itu. Ke mana dia harus mencari benda yang dia cari?
"Apa benda yang aku cari ada di sini?" tanya Anna pelan.
"Ya, Anna. Aku bisa merasakannya tapi aku tidak tahu di mana letaknya jadi carilah!!"
Anna melihat tempat itu, dia pun mulai melangkah dengan perlahan. Anna bahkan meletakkan kakinya dengan hati-hati. Para mumi itu memang tidak menyadari kehadirannya karena jimat yang dia gunakan tapi mereka bisa mendengar suara yang dia timbulkan.
Sisi ruangan di lihat dengan teliti, beberapa batu besar yang ada di sisi ruangan pun tidak luput bahkan dia mencoba mendorong batu besar itu karena dia pikir benda yang dia cari bisa saja berada di bawah bebatuan namun batu besar itu tidak bergeming sama sekali.
Tidak menyerah, Anna melangkah ke sisi lainnya. Dia seperti memutari ruangan dan memutari para mumi tersebut untuk mencari. Anna mencoba mendorong berapa batu besar yang ada tapi hasilnya nihil, dia bahkan melihat ke dalam beberapa peti mati dan menyingkirkan tulang belulang yang ada di dalam untuk mencari namun hasilnya tetap tidak ada.
Dia sudah seperti pencuri makam yang mencari harta karun tapi dia memang sedang ingin mencuri dari Mariana. Beberapa peti mati yang terbuka sudah dia periksa, bahkan yang tertutup pun tidak luput walau pada akhirnya dia harus berhati-hati agar tidak mengeluarkan suara tapi hasilnya juga nihil. Anna melihat sekitar dan tampak putus asa, semua sudah dia periksa tapi tidak ada apa pun.
Di antara kumpulan mumi tersebut juga tidak ada apa-apa, hanya ruangan kosong yang dipenuhi oleh para mumi. Tidak mau putus asa begitu saja, Anna mencoba mendorong dinding yang terbuat dari susunan batu persegi besar. Mungkin saja Mariana menyembuyikannya di dalam dinding tapi dinding itu tidak bergemin sama sekali.
"Baiklah," Anna sudah berdiri di anak tangga kembali dengan senter yang mengarah ke arah kumpulan mumi.
"Aku akui Marian sangat pintar," ucapnya.
__ADS_1
Senternya mengarah ke kanan, kiri dan atas lalu ke bawah di mana para mumi masih saja tidak bergerak. Anna tampak berpikir, seluruh ruangan sudah dia cari tapi tidak ada. Ke mana sebenarnya benda yang dia cari? Dia masih juga berpikir sambil melihat mumi-mumi tersebut sampai akhirnya dia menyadari sesuatu.
"Sial, jangan katakan benda itu ada di antara mumi-mumi tersebut," ucap Anna. Jika tebakannya benar berarti dia harus mengalahkan kumpulan mumi tersebut untuk mendapatkan apa yang dia cari.