Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 11


__ADS_3

Kakinya melangkah berjalan menjauh, beberapa panggilan masuk dari Daniel, Aira abaikan begitu saja. Sesekali kakinya menendang udara yang tak kasat mata. Tidak berguna.


"Hah...." Helaan nya begitu panjang, pada akhirnya ia lebih memilih menaiki bus umum untuk menuju ke kampusnya yang sebentar lagi sampai, 10 menit saja.


Melangkah masuk, masih dengan keterbengongannya. "Sayang! Kau kemana?" Ujar Daniel menegur Aira yang baru saja sampai di area kampus.


"Ah maaf tadi ada masalah!" Ujarnya sedikit mencari alasan.


"Kenapa ga bilang sayang kalau ada masalah? Membuat kahwatir saja." Ujarnya kembali.


"Gpp udah selesai kok kak!" Jawab Aira tersenyum.


"Lalu? Kesini naik apa?" Tanyanya.


"Bus!" Singkat.


"Apa!!!!" Ujar Daniel terpekik. "Kenapa naik bus? ngomong aja aku jemput. Kenapa si kamu panas panasan kayak gitu? Gerah juga kan pasti? Banyak...."


"Kak stop! Aku masuk dulu ya!" Ujar Aira pamit menghindar.


...*******************...


Kebiasaannya tetap berjalan seperti hari minggu sebelumnya.


"Kakak kesini ada apa?" Tanya Annisa dengan sopan.


"Nyari pacar gue lah! Adik lu mana?" Tanya Daniel pada Annisa yang tengah menyiram tanaman di depan rumah.


"Gak ada di rumah kak!" Ujarnya menjawab.


"Ha?? Sepagi ini dia gak ada di rumah?" Tanyanya dengan heran.


"Kamu gak tau kebiasaan Aira?" Tanyanya sedikit curiga.


"Kagak? Kebiasaan apa emangnya?"


"Kamu keluar dari rumahku, terus lurus kedepan. Adalah 10 menit an, nanti ada taman. Nah cari aja, Aira pasti ada di sana!"


"Ha?"


"Hem...."


"Ngapain Aira kesana?"


"Nanti kamu juga akan tau sendiri kak?" Ujar Annisa tersenyum dengan sopan, gadis ini selalu dengan siapa saja. Pembawaannya selalu formal dan sopan. Feminim sekali.


Setelah sampai, kakinya melangkah begitu pasti menelusuri area taman disana, mencari sosok Aira.

__ADS_1


"Aira?" Dahinya menyerit kala melihat Aira dengan beberapa anak pengamen dan pengemis yang tampilannya begitu kumuh.


"Ayo makan!!!" Masih bisa Daniel dengar bahwa Aira mengajak semua anak yang ada disana untuk makan bersama-sama.


Ini gila, apa Aira tak tau bahayanya? Ah apa tadi? Makan dengan anak itu semua. Pasti Aira akan tertular bakteri dan sakit akibat anak yang tak jelas itu semua.


"Aira!!!" Panggil Daniel.


"Kok elu ada disini kak!" Jawab Aira dengan kaget.


"Kamu ngapain si disini! Jelaslah aku ada disini, kalau engga? Entah jadi apa pacar aku bergaul sama anak kumuh seperti mereka!" Tak membentak tapi kata itu cukup di dengar oleh mereka anak jalanan yang masih duduk rapi menyantap makanannya.


"Uhukkk!!!"


"Ucup! Ini minum!" Dengan sigapnya Aira memberikan Ucup air mineral, yang merupakan anak jalanan yang paling akrab dengannya setelah mendengar bunyi batuk yang di keluarkannya.


"Kamu gakpapa?" Tanya Aira.


"Gakpapa kak!" Ujarnya dengan tersenyum.


"Aira kamu ngapain si sayang! Jangan dekat dekat!" Kembali suara Daniel langsung menarik Aira agar menjaga jarak amannya.


"Ucup kamu temenin adik yang lain ya! Maaf kak Aira gak bisa nemenin kalian! Kakak pergi dulu ya bye!" Ujar Aira ramah , tangan nya lagi dan lagi digunakan untuk mengusap kepala beberapa anak yang masih bisa ia jangkau.


"Ngapain si kak kayak gitu!" Ujar Aira menegur dengan sopan.


"Kak , mereka juga gak dikasih pilihan mau lahir dari orang tua seperti apa dengan keadaan yang bagaimana?"


"Tau! Tapi kenapa kamu bermain dengan mereka!Nanti kamu sakit sayang!! Lihatlah penampilan mereka semua, itu sangat menjijikkan!" Masih saja Daniel dalam mode membantah dan menganggap semua yang dilakukan Aira tadi sama sekali tidak berguna apalagi memberikan keuntungan.


"Kak, pulang sana!" Ujar Aira bete langsung melangkah pergi meninggalkan Daniel dengan segala omelan nya yang masih tertahan.


...**************...


"Hai??" Sapa Rendra yang memang sejak tadi Aira sampai ia memperhatikan. Eits bukan penguntit ya. Hanya saja ini jadwalnya Rendra untuk membeli beberapa bahan yang habis, guna keperluan caffe miliknya dan kebetulan lewat di area taman tersebut.


Gadis yang baik hati, itu pikiran yang terlintas kala melihat Aira yang tak canggung dengan beberapa anak, dengan sikap rendah hati dan ke ibuan. Makin menarik saja Aira di mata Rendra.


"Kakak siapa?" Tanya Ucup yang lebih tua di antara yang lainnya.


"Ah ya kenalin, nama kakak adalah Rendra. Dilanjut makannya, ini kakak bawakan beberapa cemilan buat kalian semua!" Ujar Rendra memberikan bungkus plastik yang sempat ia beli tadi.


"Kak tapi...."


"Gakpapa, buat kalian. Kakak juga temennya kak Aira kok." Ujar Rendra mencairkan suasana, ia juga sudah duduk di antara semua anak kecil itu.


"Serius?"

__ADS_1


"Ya!!! Ayo makan!!" Ujar Rendra penuh semangat kepada beberapa anak.


...**************...


"Ngapain si dek cemberut gitu?" Ujar Annisa yang ada di depan rumah, duduk di ayunan sambil memakan beberapa buah yang ia potong dengan buku yang ia baca di tangannya.


"Gakpapa kak, Aira masuk dulu ya!" Ujarnya tersenyum.


Tak selang beberapa menit, Daniel muncul "Nis, Aira mana?" Ujar Daniel bertanya.


"Kalian ada masalah kak?" Ujarnya bertanya.


"Ah gakpapa ko!"


"Jangan di ganggu dulu Aira, biarkan dia sendiri dulu kak. Besok kesini lagi!" Ujar Annisa menengahi.


"Nis boleh aku tanya?" Tanya Daniel langsung mendudukkan dirinya didepan Annisa, sedangkan yang ditanya masih dengan mode membaca bukunya.


"Hem...."


"Tiap minggu Aira gitu ya?" Tanyanya hati hati.


"Gitu gimana?" Tanya Annisa tak mengerti.


"Sama anak jalanan!"


"Hah...." Ujar Annisa menutup bukunya.


"Memangnya kenapa kalau Aira dengan anak jalanan?" Tanya Annisa tak mengerti.


"Mereka itu? kan kotor nanti Aira sakit atau tertular bakteri gimana?" Ujar Daniel mengkhawatirkannya.


"Tapi Aira tak apa kan? Kau bisa lihat itu kan?" Ujar Annisa kembali bertanya.


"Tapi kan nis?"


"Dari kecil Aira suka dengan anak anak dan berbagi Daniel, tak bisa aku jelaskan dengan detail. Tapi Aira suka kegiatan yang berbau sosial dengan berbagai kepada anak yang tak mampu.!"


"Kenapa tidak dititipkan saja di panti asuhan atau lembaga!"


"Aira suka berinteraksi dan menyerahkannya secara langsung."


"Apa kamu ga kahwatir Aira nanti...."


"Kalau kamu mencintainya, kamu harus bisa menerima itu dan mendukungnya Daniel!" Ujar Annisa bangkit. "Aku masuk kedalam, sebaiknya kamu pulang. Biarkan Aira sendiri dulu ya!" Ujar Annisa memberikan saran terbaiknya.


"Hah... Oke nis!" Kaki Daniel melangkah pergi, kala melihat Annisa yang sudah melangkah masuk dan tidak terlihat sosoknya lagi.

__ADS_1


...*****************...


__ADS_2