Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 6


__ADS_3

Nampaknya angin malam cukup mendukung untuk memulai sebuah bait tulisan dalam secarik buku milik Aira. Hembusan nafas di hirup kedalam sebelum akhirnya di hembuskan kembali keluar.


...~ Langit malam beruntung ya? memiliki sosok rembulan sebagai penyinar peneranganya......


...~ Ku harap Tuhan sudi mau memberikan sosok rembulan padaku di dunia ini.....


...~ Jika impian ku terlalu tinggi untuk aku yang hina......


...~ Bolehkah aku meminta satu bintang saja?...


...~ Ah rasanya akan ku jaga jika Tuhan sudi memberikannya untukku......


...~ Tuhan, Rara merindukan Papa dan Mama.......


...~ Peluk cium, usapan kasih sayang......


...~ Dogeng rindu, tak tau diri dengan umur rasanya jika Rara menginginkan itu.......


^^^*Aira Mutiara*^^^


Sangkat kaku dari segi tatanan bahasa bukan? Walau Aira anak bahasa tapi Aira tak pandai dalam merangkai kata menjadi satu puisi yang bermakna.


Pembelajarannya hanya seputar tentang bahasa baku, tata cara olah kata yang baik. yang jelas bukan mencetak untuk menjadi penyair yang handal.


Tapi gadis ini sangat merindu kedua orang tuanya, lagi dan lagi. Sudah seminggu semenjak pertengkaran terakhir itu, Papa dan Mamanya berada di luar kota untuk urusan bisnis, akan kembali satu bulan kemudian. Itupun informasi ia peroleh dari sang kakak. Menolak tak peduli padahal raganya menginginkan perhatian dari sosk keduanya.


...************...


"Mau kemana pagi pagi dek?" Tegur Annisa, ini hari minggu dan adiknya sudah siap dengan pakaian biasa, celana jeans panjang dan kaos biasa tak lupa jaket dan topi.


"Hehehe, biasa kakak. Cabut dulu ya!"


"Bawa mobil aja dek!"


"Gak ah, Rara naik sepeda aja ya!" Ujarnya lagi.


Sepeda di kayuh dengan senang dan riang, ini hari minggu. Saatnya menjalankan aktivitas yang membuatnya bahagia bukan?

__ADS_1


"Kak Aira.....!" Ujar salah seseorang, beberapa pengamen kecil tengah berkumpul di halaman taman. Tak banyak hanya beberapa anak saja. Setiap minggunya kadang berubah ubah.


Tapi yang pasti, "Ucup!" nama yang mudah di hafalkan Aira, dialah yang mengajak anak lainnya untuk duduk di pagi hari seperti ini.


"Seperti biasa jagoan dan peri. Kak Aira bawa ini!" Ujar Aira bangga. Kali ini ia membawa bubur ayam sebagai sarapan tak lupa susu hangat untuk mereka semua.


"Kak Aira memang the best!!" Ujar beberapa bocah disana dengan serempak.


"Siapa dulu!!! Aira..." Ujarnya menyombongkan diri.


Suasananya tampak kekeluargaan dan bercanda ria, hingga akhirnya Rara ikut bersama salah satu di antaranya untuk mengamen di pinggir jalan dan di beberapa toko.


"Kak razia...." Ujar salah satu mereka.


"Hah apa?" Ujar Aira kaget.


"Razia.. Kakak mencar ya kesana jangan sampai ketangkep jangan pedulikan aku. kakak harus jaga diri ya!" Ujarnya lagi mengingatkan Aira, mereka berpecar agar tak ketahuan dengan satpol PP yang tengah bertugas merazia anak jalanan.


Bersembunyi di belakang pohon nampaknya lucu, tapi itu dilakukan Aira dengan nafas yang tersenggal senggal tak beraturan.


"Lo ngapain?" Tegur seseorang.


"Ha apa?" Ujar Rendra tak mengerti, kenapa juga dia harus bersembunyi dengan Aira yang ada disebelahnya.


"Cantik!!!" Sialan , malah kata itu yang terucap dalam bathinnya. Tolong dikondisikan ya Tuan Rendra yang terhormat, ini eneng lagi ngumpet dengan nafas ngos-ngos an seperti lari maraton. Yok bisa fokus sedikit.


"Apaan si!" Keluh Rendra.


"Dih elo lagi, kenapa nasib gue sial mulu kalau ketemu lo! Awas minggir mau pulang!"


"Lo kan yang narik gue, dasar cewe aneh."


"Siapa suruh lo juga mau, dasar cowo kegatelan!"


"Apa!!" Rahang Rendra mengeras, ia seperti pria yang tak punya harga diri saja. Sialan memang gadis yang di depannya. Untung pernah nolong adiknya, coba kalau tidak? Ku tampol mulutnya.


Eits, Tuan Rendra kagak boleh kekerasan ya sama perempuan... Hehehe...

__ADS_1


Kaki Aira melangkah menjauh untuk segera pulang "Dasar cowo gak tau terimakasih!" Itu mulut Masyaallah Aira masih saja mengomel hingga ia sampai di rumah.


"Gimana dek? Seru?" Ujar Annisa menegur adiknya.


"Kagak, Tadi ada ulat bulu gede! Gatal gatal badan Aira, mau mandi!" Ujarnya, siapa lagi ulat bulu yang di maksud jika bukan tuan Rendra?


"Hah? Tapi kamu gakpapa kan? Gak bentol bentol kemerahan kan?" Ujar Annisa cemas, ah selalu saja seperti itu menganggap semuanya serius, tak tau jika itu tadi hanya kalimat sindiran.


"Kakak ih, serius mulu. Udah ya Aira gakpapa, Aira mandi dulu... Daa.... kakak ku sayang!" Ujarnya berlari masuk kedalam kamar.


"Selalu seperti itu," Ujar Annisa menggelengkan kepalanya.


Entahlah, dua kepribadian itu nampaknya saling melengkapi satu dengan yang lainnya, Annisa yang menganggap semua dengan keseriusan dengan wibawa wanita karir sukses seperti sang Papa sedangkan Aira yang selalu bersikap lucu, humoris kadang sedikit mengesalkan nampaknya perpaduan yang saling pas. Aira tampak seperti sang Mama yang berhati lembut dan segala yang dilakukan berdasarkan hatinya. Argh... Annisa juga rindu dengan kedua orang tuanya.


"Eits, itu muka masam bener bro? Gimana belanjaan nya?" Ujar Rizki bertanya pada Rendra yang sudah masuk kedalam cafe.


"Sialan!" Bathin Rendra mengumpat, mengapa ia lupa tujuan awalnya keluar cafe di hari libur seprti ini, bibirnya tampak gugu.


"Gue kerja sama temen apa sama kompeni belanda si! Udah hari libur di suruh berangkat mana lupa kagak bawa belanjaan!"


"Ribut!!! Iya ya gue beli sekarang!"


"Bukan sekarang bos, memang harus sejak dari tadi!"


"Cih... punya anak buah bawel banget orangnya!" ketus Rendra.


"Cih punya bos masih muda goblok banget, mana pelupa!"


"Potong bonus 50%."


"Dih bos, kagak lucu ah mainnya kalau potong potong gitu!"


"Bodo amat!"


"Canda bos, canda..." Ujar Rizki membujuk, namun langkah kaki Rendra sudah pergi menjauh untuk keluar cafe.


"Bhahahaa... Makanya kak.. Lo sih godain si bos mulu!"

__ADS_1


"Diem lu bocil SD!" Ujar Rizki melempar kain lap ke arah Desi patner kerja nya.


...************...


__ADS_2