Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 41


__ADS_3

"Boleh bunda masuk?" Ujarnya permisi sebelum masuk kedalam kamar putra sulungnya.


"Tentu, masuk saja Bunda. Tak usah izin seperti itu kepadaku?" Lirihnya, pandangannya masih memandang lurus kedepan sana.


"Kau tau? Bagaimana rasanya Bunda kecewa terhadap Papamu?" Ujarnya memulai cerita dan duduk di sofa yang tersedia disana. "Hah....... Sampai sekarang bunda masih tak percaya, orang yang sudah menemani bunda selama bertahun tahun tak disangka dia ternyata mengkhianati bunda, lebih tak menyangka jika yang menjadi orang ketiga adalah kekasihmu!" Wajahnya sendu mengingat kenyataan pahit yang mungkin seumur hidupnya akan terus terkenang.


"Bunda maaf tapi.... bunda tapi Felicia tak bersalah dia?" Ujarnya tertunduk.


"Lalu? Jika Felicia tak bersalah menurutmu apakah ia pantas mendapatkan maaf darimu?" Tanyanya.


"Ya, Felicia sangat pantas mendapatkan maaf dariku?"Jawabnya tanpa ada kata ragu sedikitpun.


"Lantas? Kenapa kau tidak bisa memaafkan Papa mu? Orang yang sedari kecil mencintaimu, darahnya juga mengalir di tubuhmu bahkan disini harusnya Bunda yang menjadi korban yang paling menyedihkan bukan?"


"Bunda.... Tapi Papa yang menyebabkan semuanya?" Ujarnya terbata bata.


"Tapi secara tak langsung kamu juga yang membuat semua rencana yang telah ia susun menjadu lebih mudah terjadi bukan? Kamu yang memperkenalkan Felicia kepada kita dan..... begitu lah. Apakah Bunda membenci mu?"


"Bunda maaf aku........" Gugupnya.


"Kau tak salah memaafkan Felicia, itu tindakan yang benar memang sesama manusia kita harus saling memaafkan bukan?" Helaannya terdengar sangat berat sekali."Tapi kau juga harus memaafkan Papa mu sendiri!" Seolah tau bahwa putra sulungnya masih menyimpan dendam terhadap sang Papa.


"Apa Bunda masih mencintai Papa setelah pengkhianatan yang dilakukan!" Tanya Rendra dengan hati hati.


"Munafik jika cinta bunda kepada Papa mu sudah hilang sepenuhnya. Bagaimana bisa? Bunda melupakan sosok yang sudah lebih dari 20 tahun menemani Bunda?"


"Dan Bunda ingin kembali dengan Papa?"

__ADS_1


"Hahahaha untuk saat ini kebahagiaan kamu dan Jelita adalah yang paling utama buat Bunda."


"Maaflkan Bunda tak sengaja mendengar kamu mengobrol dengan Aira tadi, kamu memang pemuda yang baik, bunda sangat kagum padamu dan bangga, tapi......."


"Tapi apa Bunda?"


"Peduli boleh tapi jangan seperti itu, kamu dan Felicia memang sudah berakhir dan memperbaiki sebuah buku dengan cerita baru akan sangat merepotkan."


"Maksud Bunda?" Dahinya menyerit tak faham.


"Felicia adalah orang yang dulu menyayangimu dan sekarang dia lah yang menghancurkanmu. Hingga Aira datang dengan tulus membuatmu berubah seperti sedia kala, seperti Rendra baik anak Bunda. Semua kepedulian mu ini terhadap Felicia merupakan bentuk pengorbanan dari Aira yang sabar mengenalkan kamu bahwa smeua wanita itu tak sama, Masih ada aku. Bunda harap kamu jangan sakiti dia!"


"Tapi Rendra hanya membantu Bunda tak lebih. Rendra juga cinta sama Aira."


"Tak ada wanita yang mau berbagi lelaki kesayangannya demi wanita lain, Bunda yang sudah menikah lebih memilih melepaskan Papamu bukan? Meski Bunda mencintainya tapi bunda sadar jika kebahagiaannya sekarang tak bersama bunda, tak apa bunda yang tersakiti, asalkan Papamu bahagia. Tapi sekarang biar sikap Papamu yang menjelaskan bagaimana dia menyesal telah meninggalkan Bunda."


"Jangan kecewakan Aira Rendra sebelum kamu benar benar kehilangan dia dan kamu akan menyesal jika itu terjadi.


"Papa?" Pekiknya kaget, matanya diusap agar tak ada lagi linangan air mata.


"Hah, ya masuklah....." Ujarnya menghela nafas.


"Papa ingin berbicara padamu!" Ujarnya lagi kala keduanya sudah duduk di meja ruang tamu.


"Mama kemana?"


"Tak usah mengalihkan pembicaraan, Aira!!!!!"

__ADS_1


"Maaf Pa!" Tunduknya.


"Papa tau semuanya tentangmu, lepaskan Rendra, dia bukan laki laki baik untukmu!" Apa dari semua ini, kenapa Papanya tiba-tiba berbiacara seperti itu.


"Pa aku dengan Rendra!"Gagapnya mrnjawab.


"Bertengkar, apa yang pemuda itu katakan sehingga membuat putri bungsu Papa menangis seperti ini!" Tanyanya.


"Pa, Aira hanya......"


"Mengertilah, semua keras kepala Papa hanya ingin kalian hidup bahagia tak pernah kekurangan seperti dulu. Papa tau rasanya sakit berjuang saat kalian kecil dan itu tak enak Aira. Papa hanya ingin terbaik untuk kedua putri Papa!"


"Tapi tak baik memandang seseorang dari perekonomian nya Pa!"


"Memang tak baik, papa sadari itu. Tapi melihatmu bersama dengan laki laki yang kurang mampu seperti itu hanya berdasarkan cinta. Orang tua mana yang rela Aira? Bahkan Papa membesarkanmu dengan semua materi yang Papa berikan. Papa mengorbankan masa muda Papa asal kedua putri Papa dapat mengenyam pendidikan yang layak dengan fasilitas mewah! Lantas dia datang dengan kekurangannya untuk menemaninya susah merintis usaha dari bawah? Jaminan apa yang membuatnya akan mencintaimu sayang! Jelaskan pada Papa!"


"Pa, Rara........" kelunya


"Kamu lulus. Papa tau perjuanganmu. Sekrang simpanlah uangmu itu, berangkatlah ke singapura dan belajarlah bersama dengan kakakmu! Lupakan dia yang menyakitimu!" Putusnya.


"Papa tidak bisa seenaknya seperti ini, bertengkar dalam sebuah hubungan wajar Pa!"


"Jangan suruh Papa memaklumi atas kecewa yang dia berikan sehingga kamu mengeluarkan air mata seperti ini Ra!"


"Pa, Rara mohon!"


"Telfon dia, suruh dia menemui Papa dirumah besok. Papa tunggu!"

__ADS_1


"Pa tapi.........."


"Papa ingin berbicara 4 mata dengannya! atau kamu yang harus pergi ke singapura!"


__ADS_2