
"Kenapa kamu menemui saya disini?" Dokter Aris bertanya menyelidik, ini sudah diluar jam kerjanya dia. Tak seperti biasanya, ini berbeda dengan Aira. Gadis itu akan menghindarinya bukan?
"Berapa lama waktu yang saya punya untuk hidup!" Tanyanya tanpa basa basi.
"Ra, kenapa kamu tiba tiba berbicara seperti ini. Saya tau bahwa operasi kamu gagal tapi kita masih ada berbagai cara untuk menyembuhkan mu!" Jawabnya memberi semangat.
"Sembuh? ayolah dokter jangan membuat saya terus tenang dengan kalimat seperti itu!" Ujarnya lagi.
"Ra, saya...." Gugupnya
"Katakan dokter!" Tuturnya kembali.
"Penyakit yang kamu derita ini sangat serius, saya bukan Tuhan yang bisa menentukan umur seseorang Ra, tapi penyakitmu menyerang sistem syaraf otak yang kamu miliki. Kau tau bahwa otak adalah elemen paling penting dalam tubuh manusia kan?"
"Bagaimana dengan organ saya yang lain?" Tanya nya kembali.
"Ra, kamu akan sembuh. Saya kan berusaha menyembuhkan mu, itu janji saya!"
"Katakan saja!"
"Saya belum tau Ra, kita harus memeriksa ulang kembali semua organ dalam tubuhmu apakah berdampak atau tidak, pasalnya tubuhnya juga sudah menerima beberapa obat secara rutin dan dosisnya juga sangat tinggi!" Finalnya.
"Apa yang akan dokter lakukan setelah ini? apakah saya akan di operasi lagi!"
"Kita tetap akan melakukan operasi tapi tak secepat itu, kau harus melakukan kemo terlebih dahulu untuk berapa bulan kedepan!"
"Kalau saya tak mau?"
"Semua akan bertambah buruk Ra!" Tangan sang dokter sudah terkulur tergenggam, sangat lembut.
"Jangan beritahu kakak saya ataupun kedua orang tua saja jika kita betemu hari ini. Dokter tau bukan? Bahwa kondisi kakak saya sangat kelelahan menjaga saya selama ini. Saya tak ingin menjadi beban pemikirannya lagi. Katakan bahwa saya sudah sehat."
"Tapi itu melanggar kode etik saya sebagai dokter Ra!"
"Saya mohon dok!" Ujarnya memohon.
"Baik ra, sekarang ayo pulang. Saya akan mengantarkan kamu."
"Saya bisa sendiri dok!" Ujarnya menolak halus.
"Jangan menolak atau saya akan memberitahu semuanya pada kakak mu dan kedua orang tuamu!" Ujarnya lagi.
"Baiklah oke..." Pasrah Aira, seusai masuk kedalam mobil pandangannya menatap ke jendela luar, dunia ini kenapa tak mengizinkannya hidup sedikit lebih lama lagi.
__ADS_1
...*******************...
"Hallo? Lo dimana?? Gue tunggu di cafe deket kampus dulu ya!" Panggilan ini menjadi akhir untuk menutup telfon, ini sudah hari esok dan apalagi yang ingin Aira lakukan.
"Ra, kenapa si mesti ketemu siang siang gini?" keluh Daniel, tapi pemuda itu tetap saja menuruti gadis ini.
"Duduk, aku udah pesenin makanan buat kamu!" Ujarnya tersenyum pada Daniel, berbagai menu yang terhidang sungguh menggugah selera.
"Ra, maksudnya apa ya?"
"Hanya mengajak mu makan siang, apa kau tak suka?" tanyanya.
"Bukan seperti kamu!" Ujar Daniel berbicara dengan jujur.
"Baiklah kalau kau tak suka, ayo kita ganti cafe yang lain!"
"No ra, yasudah ayo makan!" Intruksinya memulai makannya.
"Lo masih sayang gue?" Tanya Aira disela keduanya menikmati hidangan tersebut, pertanyaan itu cukup membuat Daniel tersedak.
"Apaan si lo ngomongnya!" Ujar Daniel kala ia sudah meminum segelas air untuk membasahi tenggorokannya sekaligus menormalkan degup jantungnya.
"Jawab aja!" Santai Aira.
"Sorry Ra, gue tau ini salah. Lo juga udah bahagia kan sama Rendra!" Sendunya dengan menunduk kepala.
"Katakanlah, aku akan berusaha memenuhinya!"
"Cintai kakakku Annisa, jaga dia. Limpahkan semua rasa mu padaku kepadanya!" Ucapnya tanpa ragu, kali ini Daniel langsung terdiam setelah Aira menyelesaikan kalimatnya.
Mencintai? menjaga? Bukankah Annisa sudah memiliki seseorang yang speasial? Daniel melihatnya dengan begitu jelas saat itu. Ini sebenarnya permainan gila apa yang tengah kedua kakak adik ini lakukan kepadanya. Hati dan perasaannya bukan tempat untuk bermain.
"Bisa?" Tanya Aira kembali memastikan kala pemuda dihadapannya hanya terdiam tanpa ekspresi senang di wajahnya. Semuanya terlihat datar.
"Emang kamu mau kemana?? lagian kalian berdua juga saling menjaga kan?" Jawab Daniel seadaanya, pemuda itu tak serius menanggapi ucapan Aira.
"Ini!" Ujar Aira, buku kecil di berikannya pada Daniel.
"Apa?" Tanya Daniel tak mengerti.
"Bacalah, kau akan mengerti bahwa kau sangat berharga Daniel. Berharga untuk sosok hebat seperti kakakkku!"
"Ini milik Annisa?" Tanyanya.
__ADS_1
"Ya, bacalah.... Aku tau, bahwa kakak ku sudah mengungkapkan perasannya padamu bukan? Kenapa? Bukankah kita kembar, kau bahkan akam sangat mudah jika mengalihkan rasa sukamu pada kakakku. Kita sama Daniel!"
"Rasa tak sebercanda itu, aku juga mau di cintai Aira!!! Dimengerti tentang segalanya!"
"Jelas kau bisa merasakan perbedaan saat kau bersamaku dan bersamanya dulu kala kalian magang bersama. Jangan pernah menyia-nyiakan seseorang yang tulus mencintaimu. Dia tak datang untuk kedua kali setelah dia memutuskan pergi."
"Ra...." Pekik Daniel, semua kata nasihat itu hanya bualan, kata sorot mata Daniel menangkap setetes darah yang keluar dari hidung gadis tersebut. Tangannya terkulus untuk menyentuh.
"Oh maaf kalau kau terganggu!" Ujar Aira, kala tangan Daniel sudah berada di hidungnya.
"Ra, kamu sakit!" Tanyanya meragu.
"Ya, kelenjar getah bening. Operasi ku gagal. Semua obat yang masuk ditubuhku tak mampu menyembuhkanku! Aku kesini hanya untuk memadtikan jika aku pergi, setidaknya ada seseorang yang menjaga kakaku." Lirihnya.
"Aira!!!" Lirihnya memangil, kali ini pemuda itu tanda permisi memeluk Aira.
"Kau pasti akan sembuh, aku akan merekomendasikan dokter hebat untuk menyembuhkanmu Ra!" Tangis pemuda itu ditahan, Aira tak menolak atas pelukan itu.
"Tak usah, berjanjilah untuk menjaga kakak ku Daniel, kau pemuda yang dicintainya."
"Aira lihat aku!" Pelukan itu di urai, "Kau juga harus sembuh dan menemani kakakmu!" Ucap Daniel menggenggam tangannya.
"Hah...."
"Aku tak menyangka seperti ini kelakuanmu, kemarin aku melihat mu dengan seorang pria yang sudah dewasa dan sekarang kau disini bersama mantan terindahmu!" Rendra datang dengan cercaan membuat keduanya menoleh seketika dan menjaga jarak.
"Rendra!!!"
"Kau menyudutkan ku karena menjaga Felicia yang sakit, kau yang bilang aku yang terlalu peduli dengannya. Ya aku peduli dengan orang sakit itu. Daripada kau berpelukan disini dengan seorang laki-laki yang sehat dan sama sekali tak butuh bantuanmu! Tak tau malu!" Sinisnya mengudara.
"Daniel jangan!" Ucap Aira lirih kala melihat sorot mata Daniel ingin sekali menerkam Rendra.
"Pembelaan apa lagi yang kau lakukan. Kita sama Aira , sama!!! Dua orang yang belum selesai dengan masalalu. Ah cukup. Memang berpisah adalah pilihan terbaik!" Ucap Rendra di akhir tanpa mau mendengar penjelasan, kakinya melangkah pergi dengan segudang emosi.
"Brengs*k!!!!" Umpat Daniel yang mampu di dengar oleh Aira.
"Dia tak tau aku sedang sakit, aku tak memberitahunya. Aku tau cafe miliknya sedang bermasalah, menjaga Bunda dan dia juga menjaga mantan kekasihnya yang tengah sakit. Biarkan." Ucap Aira
"Tapi dia harus tau kalau pacarnya juga sakit!"
"Jangan memberitahunya. aku tak ingin menjadi beban pikirannya dan lagi, aku bukan pacarnya. aku pulang!" Final Aira.
"Aku antar, mau tak mau kau harus mau!"
__ADS_1
"Baiklah!!!" Pasarahnya.
...**********************...