Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 26


__ADS_3

"Segitu gak sukanya lo sama gue Ra, lo benci gue!" Suara ini kenapa kembali menyapanya.


"Gue gak benci lo kak." Ujarnya lagi.


"Lalu?" Dering telfon mengalihkan pandangan Aira ke arah telfon yang ia genggam, "Mine" manis sekali nampak nama kontak seseorang disana, tak lupa ada sebuah emoji berbentuk merah hati. Baru juga 1 sehari, kenapa Aira bisa sebucin ini.


"Angkat dulu aja, gue gakpapa. Gue nungguin lo!" Ujar Daniel, pria ini tampak tau diri kakinya melangkah sedikit menjauh dari tempat duduk dimana Aira berada.


Kurang lebih 10 menit, tanpa melihat seongok manusia yang tengah menunggu dengan sabar. Hatinya bernada sakit melihat Aira begitu riangnya bertukar kabar dengan seseorang yang jauh disana.


"Pacar lo?" Ujar Daniel mendekat, setelah dirasa Aira sudah menyelesaikan panggilan telfonnya.


"Hem...." hening menyapa, lidahnya tampak kelu? jahatkah Aira terlalu cepat melupakan Daniel setelah keputusannya berpisah mengakhiri.


"Rendra? pemilik cafe? pembuat coffe!"


"Sorry Daniel kalau ini ngebuat lo merasa gak enak ataupun penilaian diri lo ke gue menjadi jelek, Plis jangan salahin dia, disini gue yang salah. Gue berfikir dengan di cintai seseorang gue merasa bahagia. Tapi gak sesingkat itu.... Kedua manusia yang menjalin hubungan harus sama sama memiliki rasa bukan salah satunya. Kenyataan sebegitu menyakitkan dan jahatnya."


"Lo udah besar? gak kayak anak kecil!" Ujar Daniel tampak terkekeh geli.


"Maksud lo?"


"Akhirnya lo ngerti juga apa artinya cinta itu. Hah gue iri rasanya dengan si Rendra itu." Tawanya begitu campah.


"Lo lebih hebat dari segi manapun kak, dia hanya laki laki baik dengan segala kesederhanaannya."


"Secepet itu lo suka dan cinta sama dia?"


"Gue gak mau munafik kak, gue udah berusaha memperbaiki apapun. menyesuaikan semua hal yang lo suka dengan kesukaan gue. Tapi gak bisa, semua bertolak belakang."


"Sangat, itu yang membuatmu lebih istimewa dari wanita lainnya." Ujar Daniel membenarkan.

__ADS_1


"Tapi gue bukan wanita yang sesuai dengan apa yang lo idamkan, bahkan bukan gue orang yang kedua orang tua lo inginkan!" Ujar Aira.


"Hah...." Helaan nafas itu terdengar berat saat keluar sari rongga mulut Daniel.


"Gue bahkan tau reaksi pertama Papa lo yang nampaknya gak rela anak tunggal satu satunya cinta sama mahasiswa jurusan bahasa kayak gue, meski kedua orang tua lo suka sama Papa Mama gue." Ujar Aira kembali.


"Ra, gue minta maaf atas apapun masalah yang ada di antara kita. Gue doain terbaik buat lo, semuanya." Akhirnya hanya kata itu yang mampu Daniel ucapkan, ia sudah kalah telak.


"Lo berharga, sangat berharga. Suatu saat lo bakal nemu orang yang sayang dengan lo!" Ujar Aira kembali.


"Thanks Ra, gue boleh peluk lo ga sih buat yang terakhir kalinya!" Nadanya begitu lirih memohon.


"Hem.... Sorry gue gak bisa!" Ujar Aira tersenyum, tepukan tangan pada pundak pemuda itu membawa langkah kakinya pergi menjauh.


...*********************...


Sudah 3 hari Aira berada di singapura, tentu masih bertukar kabar dengan Rendra , rencana penerbangan pulang mereka di jadwalkan besok pagi waktu singapura.


"Bisa bertemu dengan pemilik caffe ini? Rendra bukan pemiliknya?" Tanya seorang pria paruh baya itu, dari atas sampai bawah dengan dandanan begitu necis dan perfect, kelihatan sangat muda. Hihihihi


"Katakan saya...." Ucapan pria itu tertahan kala sebuah tangan menariknya keluar.


"Mau apa Papa kesini?" Tanya Jelita dengan sorot mata tajam, yang mengisyaratkan jangan ganggu kehidupan kami kembali Pa dan enyahlah dari sini segera, begitu kiranya.


"Jelita, kenapa mesti marah seperti ini? Papa hanya....."


"Dengan alasan apapun, plis!!! Jangan ganggu kami lagi Pa. Jangan!!! Kami sudah hidup bahagia dan sangat bahagia. Pulang dan urus istri muda Papa, jangan kembali kesini apapun itu." Ujar Jelita tanpa dengan nafas menggebu.


"Jelita, Papa...." Pria tua itu menjawab dengan nada mememalas meminta dengan permohonan sangat, tolong dengarkanlah.


"Pulang...." Tegas Jelita tak ingin dibantah, kakinya melangkah masuk.

__ADS_1


"Siapa tadi?" Rizki bertanya kepada Jelita yang saat ini sudah masuk kedalam.


"Orang aneh, nawarin kredit. Jangan ladenin dia kalau kesini, jawab Kak Rendra gak ada kalau orang itu kesini. Dan soal yang tadi jangan kasih tau kak Rendra, awas ya kak." Perintah Jelita, bagaimanapun ia harus menjauhkan kakak kesayangannya dengan masa lalunya itu.


"Tapi itu siapa?" Ujar Rizki masih ingin mendapatkan alasan dengan jelas.


"Dek, katanya mau nemuin kakak? Kok masih disitu? gak masuk?" Tanya Rendra yang tiba tiba datang.


"Ah ini mau masuk ayo!" Ujar Jelita menggandeng sang kakak masuk keruangan dengan sorot mata mengancam yang masih dia tujukan kepada Rizki untuk tetap diam dan bungkam.


"Kau berhasil Rendra, menjadi seorang chef yang kau inginkan. Maaf Papa selalu menentangmu. Maaf." Ujar Pria itu melihat Rendra dari jauh.


Kesalahan akan tetap menjadi pilu yang paling menyakitkan jika waktu di putar kembalu ke masalah itu, siapapun itu tak akan mau.


Biarlah masa lalu tetap berlalu dan masa depan tetap berjalan dengan semestinya.


...**********************...


"Tara.... Sup daging dengan bihun, pakai tomat dan jangan lupakan daun bawang serta bawang merah goreng. Pakai wortel sedikit banyak dan jangan campurkan kentang. Karena Rara gak suka itu!" Ujar Rendra menjelaskan apa saja komponen sup yang ada didepannya, senyum sumringah menghiasi bibirnya.


Tinggal bilang sop aja susah si.... Dasar bucin....


"Wha.... hebat!" Ujar Aira kagum dengan kedua jempol di angkat tanda senang pada laki laki di depannya, karena telah bersusah payah membuatkan sup yang enak untuknya, kelihatannya begitu.


"Dicoba!" Ujar Rendra, jam kali ini menunjukkan pukul 1 siang yang berarti sudah memasuki jam makan siang.


Hari minggu, pembagian makanan kepada anak anak sudah selesai di lakukan dengan kebahagiaan yang berlipat. Sebelum akhirnya kembali pada rutinitas kampus, Aira dan Rendra menyempatkan untuk datang ke pantai. Tempat yang Aira sukai.


"Enak?" Tanya Rendra saat suapan pertama sudah masuk kedalam mulut kekasihnya.


"Hem, enak!" Ujar Aira, kali ini senyumnya begitu sumringah sekali, bertambah berkali lipat.

__ADS_1


Oke, adegan selanjutnya malu-malu dengan sesekali keduanya memberikan suapan. Biarkanlah mereka mengklaim bahwa Dunia hari ini milik keduanya, yang lain? Anggap sedang piknik ke bulan.


...*******************...


__ADS_2