Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 8


__ADS_3

Sebenarnya aku ingin dekatmu...


namun ku sadari ku tak bisa, tak boleh ku disini...


bahaya ku makin cinta...


ku tak ingin jauh, tak ingin berpisah...


mengapa semua selalu indah, saat dengan mu...


sayang untuk di akhiri...


andai engkau bisa mengerti...


betapa beratnya aku, harus aku tetap tersenyum...


padahal hatiku tetap terluka...


adakah arti cinta ini,bila ku tak jadi dengan mu...


jika memang ku harus pergi, yakinlah hatiku untuk kamu...


bukan kah semesta, yang pertemukan kita...


haruskah ku sampaikan pada bintang...


mengapa bukan kamu,yang memiliki aku...


...~ Bahaya ~...


Bait tersebut di nyanyikan dengan alunan piano nan indah sebagai tanda berakhirnya serangkaian acara yang di khususkan untuk mahasiswa baru, ah tak terasa ini hari ini akhirnya berakhir juga...


"Terimakasih...." Ujar Aira membungkuk dengan hormat, nada lembut dengan visual cantik membuatnya semakin di gilai oleh para kaum adam.


Mahluk paling sempurna, kira kira siapa yang bisa memenangkan hatinya?


Selanjutnya acara di khususkan untuk bersenang-senang. Bagi adek mahasiswa baru yang ingin tambil dengan berbagai pertunjukan di persilahkan. syaratnya harus menarik dan tentunya sopan.


"Ini minum dulu!" Ujar Daniel memberikan sebotol air mineral pada Aira.


"Ah ya, makasih kak!" Ujarnya, lumayan juga punya pengemar seperti ini. Adakalanya bisa menguntungkan juga kan ya?


"Mau makan?" Ujarnya kembali.


"Hem... engga deh kak, gak enak sama yang lain nanti aja!" Ujarnya menolak halus.


"Gakpapa nanti juga gantian sama yang lain!" Masih berjuang dengan keras untuk merayu.


"Tapi kak...."


"Kakak cantik?" Tak asing nampaknya, suara yang menyapanya membuat Aira menoleh mencari asal muasal sumber suara tersebut.


"Siapa?" Tanya nya dengan mode tak mengerti.

__ADS_1


"Itu loh yang kaka tolong, kenalin aku Jelita."


"Oh iya , hehehe maaf ya lupa..." Ujar Aira menyambut baik uluran tangan dari Jelita.


"Siapa ra?" Tanya Daniel.


"Ah iya sorry ya Daniel, aku ada urusan sama Jelita ini. Ah ya aku lupa aku permisi dulu!" Ujar Aira pamit tanpa persetujuan tangannya menggandeng keluar Jelita bersamanya.


"Eh maaf ya kamu jadi kena!" Ujar Aira melepas genggaman tangan itu dikala sudah kenjauh dari sana. "Oh ya aku Aira, panggil saja Rara!" Ujar Aira dengan baik mengulurkan tangan nya lebih dahulu.


"Jelita," Jawabnya menyambut uluran tangan itu. "Kak kenapa menghindar? Eh maaf kak kalau tak sopan!" Ujar Jelita tak enak hati.


"Tak apa! Kamu kuliah di sini juga? Ambil apa?" Ujar Aira bertanya dengan sopan.


"Aku ngambil jurusan Bisnis kak!" Ujar Jelita menjawab.


"Suka bisnis?"


"Ya, aku sangat suka. Ingin jadi pembisnis seperti kakakku." Jawab Jelita tulus membayangkan wajah Rendra sang kakak. Keuletan dan kerajinanya membuahkan hasil sehingga usahanya bisa maju dan berkembang pesat.


"Seperti kakak ku!" Ujar Aira.


"Kakak?"


"Ya, wanita cantik tapi masih cantikan aku. Suka bisnis kayak kamu. Nanti kamu bakal ketemu sama dia kok!" Ujar Aira.


"Hahaha.. kakak bisa aja!"


"Aku kesana dulu ya kak, di panggil kayaknya. Bye kak Aira.." Ujar Jelita tersenyum melambaikan tangannya.


Entahlah, mendengar nama bisnis dan ingin menjadi seperti kakak nampaknya membuat Aira seketika mengingat sang kakak yang begitu baik kepadanya dan selalu mengutamakan keinginan orang lain daripada dirinya sendiri. Boleh dibilang sosok wanita yang sangat sempurna.


...***************...


"Hujan?" Ujarnya tersenyum, Aira saat ini tengah berada di halte bis untuk pulang ke rumahnya.


Jika di tanya kemana sang kakak? Dia masih sibuk dengan beberapa seminar, dan ia sudah memberitahukannya pada Aira.


"Pakailah!!!" Ujarnya memberikan mobil itu, selalu saja menolak atas apa yang kakaknya sarankan, Ayolah Aira kakak mu mengkahwatirkan keadaan mu.


"Aira bisa naik taksi atau bis kak, tenang saja." Ujarnya tersenyum.


"Jaga diri mu baik-baik!" Titah sang kakak.


"Tentu kakak.!" Obrolan ringan itu menyapa pagi sebelum akhirnya mereka sibuk dengan urusan masing masing.


"Yeay akhirnya!" Jika orang waras, mereka akan menghindari air hujan tersebut agar tak basah dan jatuh sakit. Tapi Aira justru bermain dengan air hujan yang jatuh ke bumi.


"Hey!!!" Tarikan itu membawa Aira ke tempat yang teduh dan memberikan jaket ke dalam tubuh Aira.


"Ngapain si hujan hujan an, lu cantik cantik tapi kagak waras ya!!!" Omelannnya, siapa kamu? Peduli apa kalau Aira sakit?


"Lepas ih!!! Sini!" Jaket di lepas dan tangan nya menarik Rendra untuk ikut hersenang senang dibawah guyuran air hujan.

__ADS_1


"Enak kan? Tumpahin masalah lo kesedihan lo semuanya yang buat lo beban, biar air hujan yang ngapus semuanya!!!" Ujarnya sedikit berteriak dengan Tawanya.


"Lo sakit!" Ujar Rendra.


"Diem dan senyum!!! Kaku amat itu muka!!" Ujarnya kembali dan akhirnya semua sesuai dengan apa yang Aira inginkan, keduanya bermain hujan. Persis seperti orang gila.


"Ini coffe buat lo!"


"Thanks!!" Ucap Aira tersenyum, keduanya sudah sampai di caffe milik Rendra dengan baju yang sudah di ganti.


"Huffftttt!!!"


"Hahaha.... Sorry ya, nih gue ada ini buat lo!!" Ujar Aira, merasa bersalah kala melihat Rendra bersin di depannya.


"Lo mau racunin gue apa lagi!"


"Dih amit amit, buat apa??? Yaudah kalau ga mau!!"


"Mana...!" Ujarnya minum pil itu.


"Mampus, itu racun!!" Ujar Aira menggoda Rendra.


"Apa...!!!!" Pekiknya kaget.


"Hahaha.. itu vitamin biar lo ga sakit. Nih gue kasih lagi, sorry dan thanks udah nemenin gue tadi. Jaga kesehatan lo!" Ujarnya kembali. "Gue pergi, kakak gue udah di depan!" Pamit Aira berlalu.


"Unik, kata yang ia simpulkan jika tentang Aira," Ah ya, mereka sudah berkenalan tadi saat sampai di caffe milik Rendra.


Memang benar? Rasanya sedikit lega, terkadang kita harus bersikap bodo amat pada orang di sekitar, dia anggap gila tak apa. Toh mereka juga tak mau membantu apalagi mau tau apa yang kita rasakan.


Biarkan masalah itu hilang bersama jatuhnya air hujan.


"Hayo!!! Suka kan lo sama itu gadis!"


"Apaan si brisik banget, mana ada gue suka sama gadis bar-bar kayak dia!" Ujar Rendra bergidik ngeri.


"Apa-apaan, bar-bar. Itu mulut lemes bener, ti ati kalau beneran suka!!"


"Lo tu kagak ada kerjaan apa selain gangguin gue!" Sinis nya pada Rizki.


"Kagak!"


"Lo...!!!"


"Noh liat jam, harusnya gue udah pulang bobo cantik. gak disini nungguin lo berdua.!"


"Astaga udah jam 11!!!"


"Memang, lo kira jam berapa?"


"Sialan lo!"


"Dih, gue pulang duluan bye!!! Serah lu mau nginep disini serah!!!" Ujar Rizki berlalu pergi.

__ADS_1


Selama apa obrolan tadi? Pikiran itu terngiang-ngiang menerka semua yang ada. Senyaman itu gue ngobrol sama dia ya? Ujarnya bertanya. Dih....


...***********...


__ADS_2