Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 37


__ADS_3

Sudah ada beberapa surat lamaran yang Aira masukkan kedalam beberapa kantor pilihannya, entah seleras dengan jurusan atau tidak? yang terpenting ia mendapatkan penghasilan.


Membuktikan bahwa Aira harus bisa mandiri dan memperjuangkan cintanya. Gadis ini selalau gigih perihal sesuatu yang ia sayanginya, ah apalagi soal Rendra.


"Nih minum?" Ujar Annisa kala melihat sang adik memasuki rumah.


"Ah makasih.... " Ujar Aira tersenyum ramah.


"Sama sama, kenapa si gak milih lanjut aja? cari beasiswa dek?" Tanya Annisa.


"Kan kakak tau, Papa Mama si mau kalau ngebiayain aku kuliah. Tapi musti di luar negeri kan?" Sedihnya.


"LDR juga gakpapa!"


"Duh kak, kagak bisa. Cinta eneng ke abang Rendra mentok pol ini. Kagak bisa jauh jauhan!" Ujarnya terdengar lucu, anak ini memang selalu bisa mencairkan suasana saja.


"Kamu yakin nih?"


"Yakin ga yakin harus yakin kakak!"


"Gak ada niatan mau minta tolong kerjaan ke Daniel?" Ujarnya nampak pelan dan hati hati, takut menyinggung perasaan Aira.


"Ah engga deh kak, nanti malah salah faham sama Rendra aku!" Ujarnya menepis.


"Hah, tapi kamu kalau ada apa apa harus ngabarin kakak ya, Duh berat rasanya kakak berangkat!" Ujarnya sedih memeluk sang adik.


"Dih apaan kek gitu. Gak boleh sedih gitu kakak. Harus semangat yah, besok kan penerbangan kakak?" Ujar Aira memberikan semangat.


"Ya, jam 10 pagi."


"Yaudah sana tidur atau berkemas kemas. Besok Aira anterin kesana. Harus bangun pagi, ntar telat kalau ga bangun pagi!" Nasihatnya, kali ini ia menjadi sosok yang berfikiran dewasa, tak seperti anak kecil.


"Hah, Yaa...."


...************************...


Baru aja peswat lepas landas, rasanya hatinya sudah merindu terhadap sang kakak. Ini kali pertama ia dan kakaknya harus berjauhan.


Hidup tetap berlanjut, meski mereka kembar tapi mereka memiliki tujuan hidup dan perjuangan masing masing dan Aira memilih memperjuangkan dengan jalan yang sangat berbeda.

__ADS_1


"Hah, musti cari dimana lagi ya pekerjaan. Susah juga walau nilaiku tinggi!" Keluhnya, ia mampir sejenak di area mall sekedar istirahat dan membeli beberapa baju kantor. Siapa tau ia besok mendapatkan panggilan pekerjaan.


Kakinya melangkah keluar dan pulang, rasanya begitu penat dan letih. Apa benar bahwa di negara kita Indonesia mendapatkan pekerjaan bagus harus ada orang dalam yang membantu masuk? Arghhhh.... nampaknya kecerdasaan akan percuma jika pola pikir akan seperti ini terus terusan.


Bugh


Bugh


Bugh


"Eh maaf maaf ini dokumennya!" Ujarnya tak enak hati, tangannya ikut memunggut beberapa lembar kertas.


"Ra...." Ujarnya nampak kaget kala menyerahkan amplop itu.


"Makasih kak, Aira pulang dulu!" Ujarnya segera pamit.


"Tunggu!!" Cekelan itu didapatkan Daniel, hingga berakhir di sebuah taman. Mereka duduk berdua dan bercengkrama.


"Nih minum!" Ujar Daniel menyodorkan minuman.


"Ya..." Jawab Aira dengan singkat.


"Kakak salah faham itu file aku buat mencari beasiswa di beberaoa kampus deket sini kok!" Kilahnya.


"Ayolah Ra, aku bukan anak bodoh yamg mampu kau tipu. Aku jelas tau dan bisa membacanya tadi!" Jawabnya dengan tepat membuat Aira tak bisa mengelak. "Maaf kalau aku gak sopan!" Ujarnya lagi.


"Tapi maaf aku gak bisa jelasin masalahnya ini ke kakak, terlalu pribadi!" Ujar Aira memandang lurus kedepan.


"Hah.... Baiklah, aku tak akan bertanya tentang apa masalahmu tapi Papa mu pasti bisa merekomendasikan pekerjaan yang bagys dan gaji besar untukmu kan? Secara ia memiliki beberapa kolega bisnis.".Ujar Daniel bertanya, nampak aneh kalau gadis ini pusing mencari pekerjaan kesana kemari.


"Aku ingin mandiri tanpa mengandalkan bantuan dadi Papa dan Mama ku kak!" Ujarnya lagi.


"Kenapa" Tanya Daniel aneh, tapi ekspresi Aira yang diam seolah membuatnya faham bahwa anak ini pasti tak ingin menceritakan masalahnya dan sumber masalahnya pastu kedua orangtuanya. "Hah, baiklah aku akan merekomendasikan pekerjaan yang cocok untukmu!" Akhirnya, Daniel kasihan juga terhadap Aira. Ah tak sekedar kasihan tapi ia juga masih sayang.


"Benarkah?" Ujar Aira tampak berbinar.


"Ya, Kau bisa mendapatkan gaji yang lumayan dan bisa melanjutkan studimu!" Ujarnya kembali.


"Ahhh tapi... Kalau Kak Rendra tau aku minta tolong carikan pekerjaan ke kamu, gimana? Pasti dia.... akan kasihan. Jangan lah! aku tak mau merepotkan kakak. Biarkan aku mencari ini yang lain saja!"

__ADS_1


"Jangan tolak pertolonganku kali ini, kamu butuh kan? Soal Rendra? Kamu kan gak kerja di perusahaan ku? Jadi gpp."


"Tapi? pekerjaan apa?" Tanya Aira.


"Nah, kebetulan aku punya kenalan dia punya bisnis bimbel. Lumayan gajinya. Kamu bisa kerja disana. Sistem kerjanya enak juga!" Ujarnya kembali.


"Benarkah? Aira mau kak!" Ujarnya lagi.


"Yaudah sekarang pulang, nanti malam aku akan mengirimkan mu, pesan apa saja yang harus kamu persiapkan untuk besok!" Ujar Daniel lagi.


"Besok? langsung kerja? gak ada interview gitu?"


"Gak usah, aku tau kamu berbakat dan memang pekerjaan ini cocok untukmu. Gak masalah bukan kalau harus berangkat besok?"


"Hem.... Gak sih kak."


"Yasudah besok kakak anterin kamu kesana."


"Tapi Aira bisa kesana sendiri. Kakak kirimkan saja alamatnya!"


"Ntar kamu nyasar, udah pertama kali mending sama aku aja." Ujarnya lagi.


"Baiklah kak, terimaksih."


"Ya, ayo pulang. Istirahat!" Ujarnya kembali.


...******************...


"Gue gak pingin Aira salah faham tentang kita lebih baik kamu pergi!" Usirnya dengan halus, entalah wanita ini kenapa bisa tau bahwa ia ada di cabang caffe ini sekarang.


"Hah, aku minta maaf. Aku juga ga tau kalau kamu ada disini!" Jujurnya.


"Hem....."


"Ndra... Aku...." Bicara Felicia sudah tertatih dan di detik berikutnya ia pingsan.


..."FELIIIIIII!!!!!!" Pekik Rendra dengan kaget....


Brankar di dorong menuju ruang UGD, gadis cantik ini tampak tenang dalam tidurnya, hanya saja wajahnya sedikit pucat. "Sebenarnya apa yang terjadi?" Gumam Rendra.

__ADS_1


__ADS_2