Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 5


__ADS_3

"Sorry ya, gue telat!" Ujar Aira, tubuhnya sudah ia dudukkan di kursi kosong di samping Daniel, jangan di tanya. bukan Aira yang menginginkan itu. Tapi hanya kursi itu yang kosong.


"Khusus buat lo gakpapa , soalnya cantik si!" Ujar salah sessorang disana menggoda Aira.


"Jangan godain, lo mau di mangsa ketua lo sendiri!" Ujarnya mengingatkan.


"Apaan si lo pada, udah ayo di mulai. sampai mana!" Ujar Aira menengahinya, serasa tak ingin berlama lama juga.


"Tangan lo kenapa?" Ujar Daniel yang dari tadi mengamati tangan Aira. Tak terluka parah si, tapi ada goresan yang tercetak jelas di tangannya.


"Nah ita, tangan lo kenapa?" Ujar yang lain bertanya karena baru mengetahuinya.


"Gakpapa, gak sengaja jatuh tadi."Ujarnya lagi. "Ini udah kan? Gue balik duluan ya! Takut kemaleman!" Ujar Aira berkemas dan ingin segera pergi.


"Gue anterin!" Ujar Daniel memaksa dan ikut menyusul Aira.


"Ngapain kak berhenti disini?" Tanya Aira kala mobil yang di tumpanginya bersama Daniel berhenti di depan apotik.


"Tunggu bentar, tangan lo perlu di obatin biar ga infeksi."


"Gak usah kak, gak perlu di rumah aja!"


"Udah tungguin bentar." Ujar Daniel memaksa, kakinya sudah melangkah keluar masuk kedalam apotik.


"Hah... lo baik kak, tapi rasanya gue gak bisa suka sama lo lebih dari seorang temen, gue udah nganggep lo sebagai kakak gue!" Ujar Aira dalam hati, melihat betapa khawatirnya Daniel saat tangannya tergores.


"Makasih ya kak!"


"Sama-Sama! Gue pulang duluan ya! Sorry gak bisa mampir, udah malem. Gak enak juga!"


"Oke kak gakpapa!" Ujar Aira lagi. Setelah mobil yang di kendarai Daniel pergi meninggalkan pekarangan rumah miliknya. Kaki Aira melangkah masuk kedalam.


"Asslamualaikum..." ujarnya masuk.


"Waalaikumaalam!" Ujar sang kakak.


"Itu ngapain si kak di belakang jendela!" Tanya Aira kaget melihat kakaknya yang ada di belakang.


"Cie... yang anterin sama Daniel!"


"Apaan si, dianya yang maksa. Bukan gue yang mau."

__ADS_1


"Tapi lo seneng kan?"


"Dih apaan ogah..."


"Jangan bilang gitu dek, ntar takutnya benci jatuh cinta."


"Jangan godain gue kak.. Udah ah mau mandi." Ujar Aira melangkah masuk kedalam, bodo amat dengan ledekan dari kakaknya. Toh dia memang tak suka bahkan cinta dengan Daniel, walaupun laki laki itu selalu baik kepadanya.


...***********...


Semua berjalan cukup baik, Jelita yang sudah berubah akhir-akhir ini dan bulan depan ia sudah masuk bangku perkuliahan.


Urusan cafe, rencanya bulan depan Rendra akan membuka cabang yang kedua. Ah indahnya. Pada akhirnya kerja kerasnya membuahkan hasil yang sangat memuaskan.


Rendra suka dengan suasana yang seperti ini, tenang damai. Sangat nyaman untuk dirinya. Lupakan soal ayahnya.


Di sisi lain, semua mahasiswa tengah melaksankan ujian akhir sebelum akhirnya menyambut mahasiswa baru yang akan bersekolah di kampus yang sama dengan mereka. Persiapan sudah 90% sempurna hanya menunggu hari yang sudah di tentukan.


"Akhirnya!" Ujar Aira kala ujian terakhir nya sudah selesai di kerjakan, perhitungan waktu luang ia masih memiliki 1 minggu kedepan untuk bersenang senang memanjakan dirinya.


Kakinya melangkah berjalan , sebelum akhirnya terhenti.


"Aku anterin pulang ya!" Tawaran itu tak henti henti nya ia terima dari beberapa laki-laki. Yang paling pantang mundur adalah Daniel, memang sosok pria yang sangat sempurna.


"Yaudah ayo!" Ujarnya, lagi dan lagi memaksa.


"Hanya buku notes dan pulpen ini?" Ujar Daniel heran pada Aira, kala ia mengantar gadis ini kepusat perbelanjaan. Ekspektasinya mungkin yang terlalu tinggi mengira bahwa Aira akan membeli beberapa perlegkapan make up baju atau fashion lainnya.


"Ya? apa ada yang salah!" Ujar Aira bertanya.


"Ah tidak kau lapar?" tanyanya kembali pada Aira.


"Lumayan si kak, hehehe...." Ujar Aira terkekeh geli.


"Yasudah ayo makan! Mau di restoran mana?"


"Hem... Terserah kakak, di traktir kan tapi ya!"


"Tentu apa yang tidak buat kamu!"


"Duh baiknya!" Ujar Aira kembali.

__ADS_1


Sepasang mata menatap Aira begitu risih, rasa hati ingin berucap maaf malah tertahan dengan rasa yang menjijikan teruntuk Aira. Bagi dirinya.


Rendra, siapa lagi kalau bukan pria itu. Dasar. Selalu saja menilai seseorang dari depan dan langsung memberikan penilaian secara menyeluruh.


"Kok disini?" Ujar Daniel terheran, pasalnya Aira tak mengajak ke restoran seperti yang di fikirkan oleh Daniel. Keduanya berakhir pada warung sederhana kaki lima di samping mall.


"Hehehe.. ini restorannya. Tenang kalau disini Aira yang traktir kakak sebagai ucapan terimakasih karena udah mau nganterin Aira kesini."


"Kamu ga salah ra?" Ujar Daniel terheran.


"Kakak gak suka ya makan disini?"


"Ah tidak apa apa!" Ujar Daniel kembali meralat perkataan nya.


"Ayo makan!" Ujar Aira bersemangat kala semangkuk bakso sudah tersaji di atas meja dengan secangkir es teh. Tak lupa beberapa sendok sambal yang mengguyur kuah bakso agar lebih nikmat untuk di nikmati.


"Enak kan?" Ujar Aira bertanya pada Daniel kala di tengah suapan bakso yang sedang mereka nimkati. Anggukan kepala cepat di layangkan Daniel sebagai wujud persetujuannya.


"Nah kan, gak kalah sama yang di restoran. Kalau kakak mau nambah boleh, bilang aja!" Ujar Aira.


"Tentu." Ujar Daniel bersemangat.


Setelah pembayaran itu selesai Aira lakukan, ah gadis ini benar benar baik dan memenuhi perkataan nya. Uang 100 ribu ia berikan kepedagang tersebut.


"Ini neng kembalian nya!"


"Ah ga usah buat abang aja!" Ujar Aira menolak dan melangkah pergi di susul Daniel di belakang nya.


"Suka makan di pinggir jalan?" Tanya Daniel.


"Hehehe... Suka kak, murah. Maklum kantong saku mahasiswa!" Ujar Aira jujur apa adanya.


"Lha kenapa kamu ga ambil kembalian nya? Kan sama saja jatuhnya mahal?" Ujar Daniel aneh, pasalnya ia tadi melihat dengan serius gelagat Aira yang menolak uang kembalian.


"Oh itu?" "Hehehehehe... Sedekah kak!" Ujar Aira di rasa aneh.


"Ha? sedekah?"


"Gimana ya jelasin nya, Aira juga bingung. Suka aja gitu jajan di pinggir jalan dan ga mau aja ngambil kembalian nya. Ya karena itung itung bantu abangnya juga!" Lagi dan lagi, Daniel di buat aneh dengan gadis di depannya, satu kata. Unik tapi berhati malaikat. Ah makin cinta saja.


"Udah ayo pulang, btw thanks ya kak udah di temenin!" Ujarnya kembali berterimakasih.

__ADS_1


Aira bukan sosok yang dingin pada pria terlebih pada Daniel yang dirasa pria baik. Dia akan menjadi pribadi yang mudah di ajak mengobrol dan sedikit cerewet agaknya. Hanya saja dia tak percaya dengan kata bermakna cinta. eh bukan cintanya tapi manusia bernama laki-laki. Tapi Aira tak lupa bagaimana cara menghormati orang lain termasuk laki-laki.


...************...


__ADS_2