
Pikirannya berkelana liar atas penjelasan Papanya. Inikah yang dinamakan harga mahal yang harus dibayar atas perbuatan masa lalu yang banyak melukai hati.
Langkahnya pelan, Aira. Ah gadisnya itu masih dalam mode marah padanya ia harus segera menyelesaikan semuanya.
"Dek, bangun! Udah pagi nih, kakak buatin susu sama roti buat sarapan!" Ujarnya membangunkan Aira, tak baik jika anak ini terus tertidur, karena sang kakak tau bahwa adiknya mungkin belum makan malam.
"Kak...."Jawabnya masih mode bantal.
"Bangun dulu, kakak udah siapan semuanya." Jawabnya dengan lembut dan sopan.
"Makasih ya..."
"Gak perlu berterimakasih, memang tugas kakak yang harus selalu menjaga kamu kan?" Ujarnya lagi.
"Ah ya!" Jawab Aira gugup, masih bingung harus merakai kata apa, serpihan kecewa berputar. Namun ia tak ingin mengecewakan sang kakak, getir roti dan susu yang tak mampu tuk di telan namun ia terpaksa harus menghabiskan.
"Kakak ga tau masalah kalian berdua apa, dan kakak gak mau ikut campur. Tapi belajarlah untuk menyelesaikan masalah dengan segera dek."
"Iya... Kan Rara juga udah gpp, udah baikan. ada kakak!" Ujarmya
"Kakak gak selamanya ada saat kamu seperti semalam, jangan lemah atas segala hal. Jadilah wanita yang kuat dek. Maafkanlah, jika dia masih mengecewakan mu lepaskan lah..."
"Kak, ngomong apa si!"
"Jangan mau sakit hati atau kecewa berdasarkan kamu masih ada rasa atau cinta dek, keduanya harus saling memahami dan menghargai. Ingat! Jangan membuat kakak khawatir! Habiskan makanan mu!" Ujarnya lagi, kakinya melangkah keluar kamar.
Semua orang layak memiliki kesempatan kedua, apabila pihak tersakiti mampu memaklumi segalanya. Hanya ada 2, jika ia tetap melakukan kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya itu adalah murni kesengajaan yang dia perbuat untuk terus menyakiti, walau bersifat tak sengaja.
"Maaf nona Annisa, diluar ada orang yang nyariin Nona Aira!"
"Namanya siapa bi?"
"Katanya Rendra non!"
"Oh ya, suruh masuk aja bi. Buatin minuman dan bawain cemilan. Biar Annisa yang manggil Aira."
"Baik non."
Tok
Tok
Tok
"Kenapa lagi kakak!" Ujar Aira yang membuka pintu kamarnya karena di ketuk oleh seseorang.
"Tu di cariin pangeran kodokmu! Buruan ke bawah ya! Inget yang sopan gak boleh berlebihan!"
"Pangeran kodok? Rendra?"
"Ya siapa lagi dek menurutmu?" Ujarnya lagi.
...******************...
__ADS_1
"Maaf nunggu lama, ada apa?" aish, masih jutek saja nadanya.
"Maaf!" Lirihnya mengiba.
"Hm...."
"Maaf! Iya aku salah aku lupa. Temen aku yang dirumah sakit minta tolong buat bawain dia obat-obatan sama baju buat dia!"
Cowok apa cewek si temen mu?"
"Ehm... Cowok!" Dusta Rendra.
"Harus kamu ya yang nganterin semuanya? jaman secanggih ini? dia gak bisa pesen jasa antar barang lewat aplikasi?" Good girl, jawaban yang baik.
"Ya... Maaf!" Lirihnya lagi.
"Seberharga itu dia buat kamu?"
"Kok gitu si ngomongnya, kan aku udah minta maaf ke kamu!"
"Ya kamu udah ingkar janji untuk kedua kalinya!"
"Maaf...."
"Percuma minta maaf, kalau bakal di ulangi lagi!"
"Janji engga!!" Jawabnya cepat.
"Janji?"
Jangan menganggap Aira terlalu gampang atau murah untuk mau memaafkan sosok Rendra, bukankah semua penjelasan itu sudah cukup? Soal apakah itu jujur atau tidak? Aira bukan orang yang ahli dalam mendeteksi sebuah kebohongan yang baru saja terlontar.
Baginya Rendra adalah laki-laki baik dengan segala kesmpurnaannya.
...*********************...
"Bukankah saya sudah memberikan semua kekayaan yang kamu inginkan? Kenapa masih menganggu putra saya!" Tuan Anggara menatap sinis wanita cantik yang bersifat mantan istrinya itu, ya! Mereka sudah bercerai, pernikhan paksa itu berakhir setelah Tuan Anggara mengetahui semuanya dan sialnya Felicia memanfaatkan harta gono gini.
"Hahahaha... Tenang tuan Anggra, tak baik membentak gadis secantik saja. Terlebih saya ini pernah menikah dengan anda!"
"Aku menyesal telah terjebak oleh perempuan iblis sepertimu!"
"Hahahaha...." Tawanya sudah tak mampu untuk dikendalikan.
"Hentikan tawa menjijikkan mu, apa yang kau inginkan dariku!"
"Aku sudah tak membutuhkan mu, aku membutuhkan Rendra!"
"Bukankah kau sudah tak mencintainya lagi!"
"Aku meralat perkataanku, aku mencintainya dan kamu? sudah tak berguna bagiku!"
"Rencana apa yang kau susun sekarang ini?" Tanyanya dengan menatap nyalang.
__ADS_1
"Shut, jangan keras keras. Jangan membentakku tua bangka!".
"Dasar kau...."
"Apa? Harta? kau bahkan hanya memberikan 5%kekayaan yang kau miliki. Kau curang menyembunyikan semua aset yang kau punya dan satu lagi. Kau akan memberikan semua kekayaan ini pada Rendra bukan? Menikah dengan putramu. Hidup bergelimang harta tanpa bersusah payah bekerja. Dia muda tampan dan sempurna. Sangat cocok denganku bukan? Yang masih cantik dan tentu Rendra masih mencintaiku!" Masih dalam mode terjebak rasa dimasalalu.
"Kau yakin Rendra masih mencintai wanita sepertimu?"
"Tentu, karena akulah cinta pertama Rendra."
"Aku tak yakin Rendra mau menerima wanita bekas dari Papa kandungnya. Itu hal yang menjijikkan bukan?"
"Sialan kau...."
"Hampir 2 tahun Rendra keluar, dan aku pastikan tak ada cinta lagi dihatinya untuk perempuan iblis sepetimu."
"Kau......."
"Bermimpilah......"
...************************...
Seminggu berjalan dengan begitu indah, Rendra menepati janjinya dan Aira sangat bahagia untuk hal itu.
"Bye..." Ujarnya melambaikan tangan kala dirinya sudah turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam rumahnya.
"Halloooo kakak, Assalamualaikum!" Ujar Aira masuk kedalam rumah memberikan salam.
"Duduk!" Suara dingin langsung menyapa, dialah Tuan Baskoro.
"Pa, Ma, Kak!" Gugup Aira, ini sudah jam 10 malam dan Aira baru saja pulang.
Sebaik-baiknya manusia menyembunyikan bangkai, akan tercium juga. Hari ini Annisa gagal menyelematkan Aira. Sungguh ini diluar ekspektasinya. Papa dan Mamanya kembali sebelum jadwal yang seharusnya mereka kembali.
"Jelaskan!" Keempat orang itu duduk, Papa Baskoro meletakkan beberapa foto Aira dan Rendra secara kasar di atas meja yang yang tersedia. Orang awan akan langsung bisa menilai bahwa kedua terlihat seperti sepasang kekasih yang bahagia.
"Itu Rendra! Pacar Aira!" Ujarnya lantang.
"Pacar? Kau memutuskan Daniel demi tukang kopi rendahan tak berguna sepertinya!"
"Pa! Rendra sudah sukses. Memangnya kenapa? toh semua usahanya atas kerja keringat Rendra sendiri, bukan hasil warisan orangtua seperti Daniel!" Ujar Aira, dapat keberanian darimana gadis ini, sehingga dengan beraninya berujar kasar pada sang Papa!
"Tak disangka gadis kecil Papa berani membentak demi pria yang tak jelas asal usul bahkan masa depannya."
"Maaf...."
"Putuskan dia!!! Papa tak setuju kau berpacaran bahkan menikah dengan pelayan cafe sepertinya!"
"Pa dia bukan pelayan caffe, tapi dia pemiliknya!"
"Hahaha!!!! bagi Papa dia tetap pelayan cafe, turuti perkataan Papa jangan mencoreng nama keluarga kita jika kau sampai menikah dengan pemuda yang tak jelas masa depannya!"
"Pa!!!!!" Nadanya sudah naik.
__ADS_1
"Setelah kuliahmu selesai, Papa kirim kamu kesingapura. Suka tak suka, mau tak mau kau harus tinggal disana dan berhenti mengharapkan pemuda itu!"
...**********************...