Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 14


__ADS_3

"Hay!" Ujar Rendra menyapa dengan senyuman, hanya bola mata Aira yang bergerak melihat ke arah dimana pemilik suara itu berasal.


"Ngapain kesini?" Ujar Rendra bertanya.


"Ngopi!" Ujar Aira menjawab dengab singkat dan cuek sambil mengaduk minuman coffe miliknya.


"Ya gue tau lo ngopi, tapi kan udah gue bilangin. Kopi ga baik kalau lo minum terus terusan!"


"Baru kali ini gue nemu penjual coffe yang gak mau di beli tiap hari!" Sinis Aira menyeruput coffe miliknya.


"Gak gitu juga." Ujar Rendra menyangkal.


"Terus?" Tanya Aira dengan alis menyerit heran.


"Pacar lo kemana? Sendirian mulu?" Tanya Rendra mengalihkan pembicaraan nya.


"Oh lagi sibuk, ada meeting katanya!" Ujar Aira jujur.


"Yaudah ikut gue, biar lo ga ngopi mulu!" Ujar Rendra menawarkan.


"Ogah, mau kemana emang?" Katanya ga mau! Kok sekarang bertanya kemana?


"Ke tempat yang lo suka."


"Kayak lo tau aja kesukaan gue. Pacar gue aha gak tau." Sinis Aira, merasa laki laki ini hanya modus dengannya.


"Udah ayo makanya ikut! Ga percayaan amat jafi cewe!" Ujar Rendra menarik paksa Aira untuk ikut dengan nya.


"Bukan gak percaya, tapi jaga diri!" Sangkal Aira.


...****************...


"Akhirnya!" Ujar Daniel senang sambil merenggangkan otot miliknya yang pegal dan kebas akibat serangkaian yang di berikan oadanya hari ini.


Ayolah berhenti mengeluh, Anniaa dan teman satu magang mu juga bisa merasakan itu Daniel.


"Pulang yok nis! Bareng gue aja udah malem ini!" Ujar Daniel menawarkan diri pada Annisa setelah melihat jam pergelangan tangan miliknya, sudah sangat malam dan sangat rawan bila wanita pulang sendiri.


"Aku bawa mobil sendiri kak." Tolaknya sscara halus.


"Tinggal aja, gue kasihan kalau lo pulang malem sendirian, gimana pun lo kan calon kakak ipar gue!" Ujarnya dengan cengiran senang.


"Gakpapa, aku bisa pulang sendiri kok kak!"


"Udah gak usah nolak, balik bareng gue aja pokoknya! Gue anterin sampe depan rumah lo."


"Tapi...." kata itu terputus kala Daniel menggandeng paksa tangan milik Annisa, degup jantung kian bertalu dalam dirinya.


Mencintai dalam diam benar benar menyakitkan. Maafkan aku Airin, bolehkah satu jam kedepan aku menduduki posisi mu di hatinya. Minimal untuk saat ini kala ia sedang mengantarkan ku pulang.


Esok hari dan selamanya, seumur hidupnya hanya milikmu. Aku iri padamu Airin.


Semua keluh kesan itu, hanya mampu tertahan di dalam hati dengan lidah yang mengigit kelu.

__ADS_1


...*******************...


"Lo mau bawa gue kemana si?" Ujar Airin protes kala Rendra terus mengandeng dan menuntut Airin untuk melangkah. Anak satu ini memang selalu tak sabaran terhadap siapapun itu.


"Ini...." Ujar Rendra.


"Ngapain si? Ini taman sepi amat ealah..."Ujar Airin bergidik ngeri, sorot matanya menjelajah kesana kemari. "Awas lu macem macem, gue telen lu hidup hidip!" Ujarnya dengan nada galak penuh ancaman.


"Gila, sadis bener. Kagak doyan gue sama lu!"


"Lha terus lu ngapain bawa kesini gue?"


"Bentar ngapa, Diem mulu sebentar itu mulut." Ujar Rendra melihat jam di pergelangan tangan miliknya. "Nah, 3.... 2.... 1...." Beberapa lampu menyala menerangi taman tersebut hingga membuat semua yang tersembunyi nampak terlihat dan begitu indah, sangat nyata.


Beberapa pedagang makanan dengan permainan kecil khas anak anak. Seperti pasar rakyat versi mini, namun sangat menarik.


"Apa maksud semua ini?" Ujar Aira masih tak mengerti.


"Kakak...." Ujar Ucup menghampiri Aira dengan riang, memeluk dirinya dengan sayang.


"Ucup kamu..."


"Ayo kesana kak!" Tarikan ucup membawa Aira untuk mengikuti langkah bocah kecil itu. Rendra hanya mengikuti dari belakang, hingga berakhir di meja panjang dengan berbagai menu rakyat hidangan nusantara yang menggugah selera.


"Ini maksudnya apaan!" bisik Aira kembali.


Ting


Ting


Ting


"Selamat malam semuanya, perkenalkan saya Rendra dan ini Aira teman saya. Terimakasih atas partisipasi bapak dan ibu yang mau menjadi pedagang disini. Kedepannya semoga usaha kita makin maju dan mensejahterakan kalian semua!" Ujar Rendra menyampaikan sepait kata doa.


Akhirnya...


"Ini minum, aus banget lo kayaknya!"


"Lo kok bisa kenal semuanya, termasuk...???"


"Ucup maksud lo?"


"Hemmm..." Ujar Aira menengguk minuman yang di berikan Rendra.


"Sorry gue gak sengaja kemarin liat lo sama anak anak."


"Ha? kapan?" Ujar Aira terpekik kaget.


"Saat ada pacar lo juga waktu itu!" Tutur Rendra tanpa di tutup-tutupi.


"Lo tau..."


"Gue tau apa yang lo bicarain sama dia santai aja, gue gak mau bahas hubungan lo!"

__ADS_1


"Lalu?"


"Gue kasihan sama mereka semua, dari pagi sampe malem harus kerja!" Ujar Rendra pelan, kembali ia sesekali menengguk minuman nya itu "Gue udah ndaftarin mereka ke salah satu sekolah gratis. Meskipun ga punya dan terlahir miskin, setidaknya mereka punya pendidikan yang lebih baik untuk kedepannya!" Ujarnya.


"Lo...."


"Mereka bisa sekolah sampai siang, lalu istirahat sejenak sebelum malem nya mereka kesini membantu sedikit para pedagang yang ada disini dan ada yang mengamen juga!" Ujar Rendra kembali menjelaskan.


"Apa mereka ga bakal kecapean?" Tanya Aira.


"Kalau menurut gue si engga, tapi liat aja perkembangan 1 bulan kedepan gimana dampaknya? Berhasil atau tidak." Ujar Rendra mengedikkan bahunya.


"Hah.... Kalau membantu keseluruhan hidup mereka, gue masih ga bisa. Uang gue belum sebanyak koruptor!" Goda Rendra mencairkan suasana kala melihat Aira terus menatap nya, Rendra terlalu malu untuk posisi seperti ini.


"Dih apaan si lo! Garing banget." Ujar Aira menyindir kesal ke arah Rendra.


"Hahaha... Makanya muka tu biasa aja, jangan tegang. Kayak mau lahap gue lu! Takut gue!" Ujar Rendra di buat takut.


"Pede banget hidup lo!" Ujar Aira membuang mukanya marah.


"Hahaha... Gue udah coba tawarin mereka hidup di panti asuhan, tapi ga mau. Ini jalan hidup yang mereka pilih. Seenggaknya kita bisa bantu mereka memperlancar segalanya!" Kalimat penjelas itu Rendra lontarkan kembali.


ada perasaan hangat atas sosok Rendra di mata Aira, lelaki ini ternyata....


"Gue gak nyangka lo yang judes dan galak punya pemikiran dewasa gitu!"


"Ye... ngehina mulu... Kan gue udah minta maaf. Ya gimana itu adik gue satu satunya."


"Hahaha.." Tawa Aira pecah, sangat manis dan lugu sekali.


"Kak Rendra...." Ujar Aira memanggil lembut.


"Apaan!"


"Thanks ya lo udah mau bantu gue buat...."


"Santai aja, yok balik udah malem nih. Gue anterin rumah lo sekalian gimana?" Tawar Rendra.


"A...."


Tringgggg.... Bunyi telfon lebih dulu terdengar nyaring kala Aira ingin mengiyakan ucapan dari Rendra.


"Bentar kakak gue telfon nih!" Ujar Aira mengangkat telfonnya.


"Gimana? gue anterin!" Ujar Rendra kembali menawarkan kala melihat Aira sudah mematikan sambungan telfon miliknya.


"Hemmm... Oke..." Ucap Aira setuju. Kedunya melangkah menjauh. Soal itu, sebut saya Angkringan merakyat yang menyediakan berbagai makanan dan minuman serta permainan ala anak kecil dengan harga yang murah dan tentunya sangat lezat untuk makanan yang di perjual belikan.


"Gue balik langsung ya, kagak enak. Udah malem juga!" Ujar Rendra kala berpamitan pada Aira yang sudah turun.


"Ya... Ati-ati dan makasih."


"Oke..." Jawab Rendra singkat dan kembali melaju menghilang untuk pulang kerumah nya.

__ADS_1


...*************...


__ADS_2