
"Selamat datang mahasiswa baru di kampus yang kalian impian." Ujar Rektor kampus kala memberikan sambutan untuk acara yang akan segera berlangsung selama 3 hari dengan serangkaian kegiatan yang menperkenalkan budaya dan visimisi kampus tersebut kepada seluruh para mahasiswa baru.
Beberapa panitia berbaris dengan rapi disisi kanan kini sang Rektor yang tengah naik podium memberikan sambutan beberapa patah kata.
Setelahnya, ketua panita menyapa adik adik mahasiswa baru yang ada di depan, mengucapkan kata dengan sesekali candaan. "Biar tak tegang!" Katanua begitu santai.
3 lagu wajib mahasiswa di nyanyikan sebagai sebelum acara dilakukan sebagai bentuk untuk memompa semangat yang besar di dalam jati diri para mahasiswa.
Acara selanjutnya yaitu dengan kuliah umum yang di adakan di gedung bersama dengan mengenalkan beberapa karakteristik kampus dengan mempresentasikannya dan keikutsertaan mahasiswa di perhitungkan. Ada beberapa yang bertanya untuk lebih memahami dan mencari jawaban lebih dalam atas beberapa keinginan yang ada dalam diri namun tak mampu terjawab.
Berjalan lancar tanpa suatu halangan apapun, semangat untuk hari esok, begitu kiranya.
Wajah lesu para panitia yang masih tertinggal di ruang rapat setelah makan malam selesai dilakukan, terdiri dari Evaluasi dan persiapan untuk acara esok harinya.
"Ra! Pulang bareng gue aja, udah malem ini!" Ujar Daniel menawarkan kala semua para panitia sudah di izinkan untuk pulang.
"Gak usah, gue udah di jemput kak Annisa di depan!" Ujar Aira menolak dengan halus.
"Yaudah gue anterin sampai kedepan ya!"Ujarnya kembali.
"Gak usah!" Tolaknya lagi, ayolah Daniel, Acara hari ini cukup membuat Aira lelah ia hanya ingin segera mandi membersihkan diri, lalu berbaring di tempat tidur dan terlelap. Peduli apa dengan dokumen itu, besok bisa dikoreksi kembali Bathin Aira.
"Ayo , keburu malem!" Ujar Daniel kembali, pasrah saja lah ini tangan di tarik keluar, malas juga berdebat. keetika gerutuan itu hanya bisa tertahan di bathin Aira.
"Hai kakak ipar!" Ujarnya tampak tak tau malu.
"Makasih Daniel ya!" Ujar Annisa ramah.
Ah, belakangan ini Annisa sudah mengenal sosok pria bernama Daniel, dia pria yang cukup baik dengan segala latar keluarga yang tentunya sangat terpandang. Entahlah Annisa juga heran mengapa adiknya seperti itu, kurangnya Daniel apa coba. Mengapa tak tertarik sedikit pun????
Annisa? Kakak Aira ini tak suka dengan organisasi, ia lebih menyukai serangkaian acara terkait bidang penelitian dengan beberapa senior atau dosen yang mengajaknya membuat suatu karya ilmiah.
"Capek banget dek?"
"Hem, Yes...." Ujar Aira seadanya.
"Kasihan kakak liat kamu, lagian kamu juga si ngapain ikut organisasi begitu ah!" Ujarnya menasehati.
"Suka aja sama dedek emes!" Ujar Aira dengan cengiran khasnya.
"Dek kamu tu..."
"Hehehhehe, cafe depan berhenti dulu ya kak. Mau beli coffe."
__ADS_1
"Gak bagus terlalu sering minum kopi apalagi malem malem kayak gini!" Ujar Annisa menasehati.
"Ayolah kak, sekali Aira pengen nih!"
"Hem.. Yaudah."
"Tunggu disini ya kak, Aira masuk sendiri aja kedalam. Mau titip apa?" Ini anak mode nya sudah terisi penuh jika melihat kenikmatan secangkir coffe.
"Hem? Minuman coklat aja! Campur susu!" Ujar Annisa, ah ia suka dengan yang manis sangat bertolak belakang dengan Aira si manis.
Tringg!!!!
"Mas mau coffe 1 tanpa gula sama coklat susunya 1 ya!" Ujarnya.
"Ditunggu...." Kalimat itu menggantung kala Rendra mendongakkan kepalanya melihat kiranya siapa si pemesan itu.
"Elu..." Ujar keduanya bebarengan.
"Gak jadi deh!" Ujar Aira badmood.
"Eh tunggu duduk! Gue bikinin pesenan lo!" Ujar Rendra sedikit memaksa.
"Ogah!"
"Oke tambah cake nya satu yang strawberry!"
"Eh bocah?"
"Harus ikhlas katanya mau ngasih gratis!" Ujar Aira, ah kenapa kau suka sekali menjahili Rendra Aira.
"Rasain , tombok tombok tu duit wkwkwk...."Ujar Aira penuh kemenangan, salah siapa dia dulu selalu menuduh Aira yang bukan-bukan, wkwkwk tampaknya ada sedikit dendam disini.
"Ini pesenan lo!" Ujar Rendra memberikan bungkusan kepada Aira.
"Oke bye..."
"Tunggu."Cegah Rendra kala Aira hendak melangkahkan kakinya.
"Apalagi, gue capek ngadepin lo besok aja!"
"Cih amit amit, siapa juga yang berharap ketemu lo lagi!" Ujar Rendra tak kalah sengit.
"Terus lo mau apa?"
__ADS_1
"Gue mau minta maaf karena nuduh lo waktu sama adek gue itu..."
"Oh udah gue maafin..."
"Tunggu ngapa si bocah, kalau orang belum selesai ngomong tu jangan di potong!!!"
"Apaan lagi..."
"Dan makasih udah nolong adek gue! dan itu gue kasih sebagai tanda terimaksih gue ke elu!" Ujar Rendra kembali menjelaskan.
"Udah?"
"Hem...."
"Iye gue maafin dan makasih bye...." Ujar Aira melangkah pergi.
"Hah... Ini pesanan lo!" Ujar Aira menyerahkan pesanan milik sang kakak.
"La lo la lo..." Sinisnya.
"Lupa kak , lupa. Ini kakak ku tercantik!" Ujar Aira meralat dan memberikannya kepada sang kakak tak lupa senyum manis ia bumbui kedalamnya.
...*************...
Malam semakin larut dan bintang kian bersinar menerangi langit malam.
"Gimana tadi?"
"Cukup seru kak, gak seburuk yang Jelita bayangin!" Ujar Jelita lagi, Adik Rendra ini memilih jurusan bisnis dalam menempuh pendidikan 4 tahun kedepan. Entahlah, melihat sang kakak menggeluti bisnis cafe membuatnya terinspirasi.
"Kan kakak udah bilang, kuliah itu enak. Bawa santai dek tapi inget ya jangan menyepelekan" Ujar Rendra menasehati.
"Siap bos..."
"Tugas buat besok udah semua?"
"Beres kak tenang aja!" Ujar Jelita kembali.
"Nah gitu dong, kan kalau gini adik kakak yang tercantik.."
"Jelita kan memang cantik kak!" Ujarnya sombong.
"Dih sombong..."
__ADS_1
"Hahahhaa... Gakpapa kan memang Jelita cantik wkwkwkw..."Tawanya kembali mengudara. Sejak kapan ia dengan adiknya bisa tertawa lepas seperti ini? Terimakasih. Nampaknya tuhan mulai memberikan kebahagian nya kembali pada diri Rendra meskipun tak lagi memiliki keluarga yang utuh untuknya kembali. Tak apa, Rendra selalu mensyukuri apapun itu. Yang terpenting kebahagiaan adik dan ibunya.