Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 31


__ADS_3

"Gue bantu angkatin kedalam nis! lo tinggal nunjukin dimana kamarnya!" Ujar Daniel, kala melihat Aira tertidur dengan mata sembab saat di perjalanan pulang.


"Sorry ya kalau gue ngerepotin lo!" Ujar Annisa tak enak hati.


"Gakpapa, lo dan Aira udah gue anggap sahabat!" Jawabnya kembali.


"Hah ya...." Ujar Annisa, kaki keduanya melangkah masuk kedalam rumah. Ini sudah malam, pamit pulang saja setelahnya. Tak baik juga jika dirinya masih berada di rumah Annisa dan Aira meski keduanya tak akan keberatan, apalagi orangtua mereka saat berharap jika salah satu anaknya bisa berjodoh dengan Daniel.


"Gue pulang ya..." Ujar Daniel, pamit. Annisa pun mengantar Daniel hingga kedepan pintu rumahnya.


"Thanks ya, kalau engga ada lo. Gue gak tau harus gimana." Ujarnya lagi.


"Gakpapa." Jawabnya tersenyum.


Belum selesai Daniel pergi dan pamit, nampak Rendra turun dari mobilnya dan tergesa-gesa menghampiri Annisa. Ah ya, Rendra sudah bisa membedakan keduanya meskipun terkadang masih sering salah.


"Sialan, ngapain lo kesini!" Ujar Daniel masih di liputi dengan amarahnya.


"Harusnya gue yang tanya ke lo, kenapa lo kesini. Kerumah pacar gue!"


"Cih, menjijikan. Pacar yang tak menuruti janjinya dan meninggalkan Aira sampai semalam ini!" Ujar Daniel menatap sinis pemuda itu.


"Lo....."


"Stop!!!!" Ujar Annisa menengahi keduanya. "Ini udah malem, gue harap lo berdua bisa tenang dan jangan bikin keributan di rumah gue!" Ujar Annisa kembali.


"Daniel, makasih sekali lagi atas bantuan lo. Dan maaf, lo boleh pulang sekarang!" Ujarnya.


"Nis, tapi...."


"Plis, jangan ikut campur masalah Aira dengannya. Jangan bikin ini makin rumit Daniel!" Ujar Annisa lagi, langkah nya pelan sangat tak rela meninggalkan rumah itu. Namun tetap ia harus kembali dan pulang.


"Gimana keadaan Aira?" Tanya Rendra pada Annisa, kala Daniel sudah pergi dari rumah ini.


"Gue gak tau hal apa yang lo janjiin ke adek gue. Intinya gue gak tega liat adek gue kecewa karena laki laki kayak lo gini. Dia udah tidur, besok lo kembali aja kesini dan jelasin semuanya!"


"Kak, gue..."


"Gue gak mau ikut campur apapun masalah kalian, tapi jangan buat adek gue kecewa lagi. Gak ada kakak yang terima adiknya di sakiti sama orang lain!"

__ADS_1


"Gue minta maaf!"


"Bukan sama gue, tapi sama adek gue. Sekarang pulang, ini sudah malem!" Ujar Annisa, kakinya melangkah masuk kedalam tampa peduli lagi jawaban pemuda itu.


...Rasanya masalah tersebut nampak sederhana, hanya tak bisa menemani namun tak dapat kejelasan. Sebuah janji sederhana yang nampaknya tak berguna akan sangat menyakitkan jika salah satunya tak memiliki tanggung jawab tuk menjalankan....


...*******************...


"Saya ingin bertemu dengan Tuan Anggara!" Ujar Rendra pada resepsionis Global Industri.


"Apa anda sudah memilik janji sebelumnya tuan?" tanyanya sopan.


"Tidak, tapi katakan Rendra ingin menemuinya."


"Tuan, maaf...." Ujar Resepsionis dengan sopan terpotong.


"Ada apa mencari Papa?" Tanya orang yang memang ingin ia temui saat itu.


"Direktur! Maaf saya....." Ujar sang resepsionis tak enak hati.


"Tidak apa-apa, kamu lanjutan pekerjaan mu. Tapi ingat jika dia mencari saya kembali berikan akses untuk langsung keruangan saya!"


"Baik direktur!"


"Apa yang membawamu kemari menemui Papa!" Ujar Tuan Anggara kala keduanya sudah sampai di ruangan miliknya.


"Apa kau sudah setuju dengan tawaran Papa!" Ujarnya kembali bertanya.


"Jawabanku masih sama Pa! Ada hal yang ingin aku tanyakan lebih dari itu!" Ujarnya lagi.


"Masalah?"


"Apa masalah yang ada di antara Papa, Bunda dan Mamanya Felicia!"Telaknya langsung pada inti tanpa basa basi.


"Kenapa? kau masih mencintai wanita yang menjadi istri Papamu? masih tak rela? kau masih ingin merebutnya?" Ujarnya kembali.


"Jangan mengalihkan pembicaraan ku Pa!"


"Dia bukan gadis yang baik untukmu!"

__ADS_1


"Tau apa Papa tentang itu!"


"Lebih dari segalanya..." Ujarnya kembali.


"Lalu apa masalahmu dengan Mamanya Felicia Pa! Jangan membuatku mengulang pertanyaan ini!" Geramnya.


"Hah..... Baiklah Papa akan bercerita." Ujarnya lagi.


"Mamanya Felicia adalah gadis yang sangat Papa cintai! Sangat, jauh sebelum Papa bertemu dengan Bundamu!" Ujarnya kembali, cukup baik untuk permulaan bercerita.


"Lalu....?"


"Hingga masalah datang pada perusahaan ini, dan Papa di jodohkan dengan Bundamu agar perusahaan ini tetap utuh berdiri kokoh. Papa jahat Ndra! Jahat! Meninggalkan seorang wanita tanpa kepastian dan kejelasan saat itu."


"Memang jahat!"


"Papa tak menemukan kebahagiaan pada pernikahan Papa dan Bunda mu. Hingga Papa bertemu kembali dengan cinta Papa, Mamanya Felicia. Kami menjalin hubungan terlarang karena rasa cinta Papa tak berubah untuknya."


"Rendra tak menyaka jika Papa bisa sebrengs*k itu..."


"Dengarkan!!!!! Papa selalu membentak Bundamu jika dia berani ikut campir dengan urusan Papa, hingga Bunda mu menyerah dan membuat kesepakatan yaitu jika dalam 3 bulan kedepan Papa masih mencintai Mamanya Felica ia siap mundur demi kebahagiaan Papa. dengan syarat selama waktu tersebut Papa tidak di ijinkan menemui Mamanya Felicia dan membiarkan Bundamu menjalankan kewajibannya sebagai istri Papa." jedanya.


"Kebaikan, Kesabaran Bundamu dalam mengahadapi Papa, hingga tanpa sadar Papa mencintai Bundamu. Papa sadar apa yang telah Papa lakukan ini salah, tak baik seorang suami memiliki hubungan dengan wanita lain. Untuk itu Papa memutuskan hubungan dengan Mamanya Felicia." Akhirnya.


"Papa salah jika menganggap Mamanya Felicia mau mengikhlaskan takdir bahwa kita memang tak berjodoh. Hingga saat kamu lahir dan ada untuk melengkapi kebahagiaan Papa dan Bunda. Dia hadir kembali namun dengan segala cara ia berusaha mencelakai dan membunuhmu. Cinta yang tak bersambut menjadi sebuah dendam hingga sekarang!"


"Dan Papa tau bahwa Felicia menikah dengan Papa adalah rencana balas dendam untuk menghancurkan keluarga kita."


"Papa tak tau bahwa Felicia adalah anak dari wanita itu, Papa tau setelah menikahinya." Jawabnya panjang.


"Tapi Felicia tak salah Pa, dia hanya korban dari dendam masalalu kalian berdua. Dan Papalah orang yang paling bersalah dalam masalah ini!"


"Papa tau Ndra! Tapi Felicia juga tak sebaik yang kau kira."


"Apa maksud Papa!"


"Dia tau bahwa kau putraku, maka dia mendekatimu membuat mu jatuh cinta dan meninggalkan mu setelahnya menikah dengan Papa. Sakit hatimu juga menjadi tujuannya."


"Tapi dia hanya menuruti ucapan Mamanya Pa!"

__ADS_1


"Wanita baik baik tak akan mau menuruti segala ucapan Mamanya. Dia sadar bahwa itu adalah perbuatan yang salah dan ia mau menurutinya! tidak ada balas dendam atau tindakan kejahatan apapun yang di benarkan Ndra!"


...*********************...


__ADS_2