
"Kau datang tepat waktu nampaknya?" Sapa Annisa kala tuan Rendra sudah sampai didepan rumahnya, jangan tanyakan Daniel! Pemuda itu tak mau pulang kerumahnya sendiri setelah berkunjung ke makam milik Aira bersama kekasihnya.
Daniel, lihatlah dia tengah bercengkrama dengan kedua orang tua Annisa. bermain catur dengan Papanya, sesekali melempar guyonan kepada Mamanya.
Setelah kedatangan Rendra, suasana cukup menjadi canggung, makan malam di lakukan dengan keheningan tak ada kata atau kalimat yang keluar.
Tuan rumah sesekali menyapa dan menanyai kabar tentang Rendra, namun keduanya lebih memilih undur diri untuk istirahat lebih awal.
"Ini......." Ujar Annisa memberikan catatan pribadi sang adik sebelum meninggal kehadapan Rendra. "Mungkin ini sedikit terlambat, karena aku merasa kau sudah bahagia dan merelakan kepergian adikku. Ternyata fikiranku salah besar." Ucap Annisa menjelaskan, Daniel duduk disamping, siap siaga dengan keposesifannya.
Annisa kembali melontarkan kalimatnya "Jauh sebelum kau bertemu dengan Aira dan mencintainya, aku lebih dulu memiliki rasa kepada Daniel dan Aira tau itu."
"Beberapa kalimat disana bisa menjelaskan bagaimana aku berjuang mendapatkan cinta Daniel dan membuat pria ini sadar."
"Sayang, aku minta maaf aku........." Ujar Daniel tak enak.
"Diamlah dulu, jika tidak? aku akan menyuruhmu untuk segera tidur!" Galak Annisa.
"Maaf!" Ujar Daniel kekanak-kanakan.
"Sebelum kepergiannya, memastikan mu bahagia dan membuatku menikah dengan Daniel adalah keingiannnya."
"Lihatlah dengan jelas Rendra!!! Aku ANNISA bukan AIRA, bukan kamu yang kehilangan sosoknya!! AKU JUGA!" Kata juga diakhir ditekan begitu pilu, siapa yang bisa melupakan sosok seceria Aira.
"Aku belum bisa mengiklaskannya pergi! aku... aku...." Lirih Rendra,
"Kau hanya merasa bersalah karena saat terakhirnya kau justru tak dapat menemani Aira dengan lebih lama!"
"Maaf nis, kalau gue........" Gugup Rendra.
"Itu keinginan adik gue kalau dia gak pengen lu tau tentang keadaannya dan sedih." Berusaha mengurai semua keinginan almahrumah sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
"Nis gue......."
"Kau mencintainya bukan?" Tanya Annisa, dan anggukan itu langsung dilayangkan Rendra dengan jelas.
"Halaman terakhir bab buku tersebut menceritakan bagaimana dia bahagia karena tak menyusahkanmu diakhir hayatnya. Perintahnya jelas tertulis bahwa kau harus bahagia juga!" Paparnya dengan sedikit air mata menggenang.
__ADS_1
"Gue........."
"Lo bisa!"
"Ini, gue berikan lo kunci rumah gue dulu disana. Rumah itu gue jaga kebersihannya."
"Kalau lo kangen lo boleh kesana dan ini jadi milik lo."
"Adik gue mungkin kecewa sama lo, tapi lo harus tau dia juga mau orang yang dicintainya bahagia, lo harusnya bersyukur!!! lo adalah pria pertama dan satu-satunya yang dia sayang sampai akhir hayatnya."
"Nis, makasih. Maaf kalau gue!"
"Gue maafin lo Ndra, walau gue kembar dengan Aira tapi kita berbeda. Gue cinta sama Daniel, bukan lo. Dan itu jelas ada sebelum hubungan lo dengan Aira."
"Gue salah nis, maaf!"
"Gue maafin lo! Ikhlasin adik gue perlahan! jangan memaksa, dia akan selalu ada dihati lo sama lo cuman wujudnya aja yang gak bisa lo rasain."
"Gue janji, mulai hari ini gue akan hidup lebih baik lagi nis!"
"Semoga kalian bahagia." Jawabnya tersenyum "Cukup gue yang bodoh Niel, lo jangan sia-sia in cewek sebaik Annisa! Gue minta maaf kalau gue pernah salah ke elo!"Kalimatnya sebelum kata berpisah.
...****************************...
Hamparan langit malam yang begitu indah, debuaran ombak yang begitu terdengar. bebas tanpa terikat.
Pemuda bernama Rendra duduk dikursi nyamanya, sudah seminggu ia dirumah ini.
Bagian bab terakhir buku tersebut sudah selesai dibaca olehnya.
Membacanya perlahan, beberapa lukisan jelas terpampang nyata.
Bagaimana seorang Aira begitu mencintai tuan Rendra.
"Hai? Pasti kakak ku sudah memberikan buku ini padamu kan? pasti kau membacanya begitu serius dan perlahan. huhuhu.... jangan menangis, aku tau kau menangis saat ini kan?
hehehe, aku sudah sembuh sayang.
__ADS_1
bahkan tempatku jauh lebih indah, hanya saja kau tak ada disini....
tapi tak apa, kelak kau pasti akan menyusulku disini kan? bukan bukan? hm....
Hiduplah bahagia dan carilah pengganti diriku....
jangan merasa telah berkhianat aku justru bahagia dan berterimakasih kepada sosok gadis yang nantinya akan menggantikanku....
My Rendra, Mr Chef Is Mine❤"
Lelehan air mata di ujung pelupuknya di susut dengan lembut, terhapus meski berjejak basah pada lengan tangan miliknya.
Seluruhnya telah dibaca, atas kisah cinta sosok Aira yang nampaknya Dunia tak memberikannya bahagia lebih lama. Mengajarkan bahwa manusia harus bersyukur atas apa yang dimilikinya.
Jaga dan rawat sebelum kata kehilangan dan bahkan penyesalan menghantui sepanjang hidupnya.
Annisa bahagia dengan Daniel, impian Aira terwujud melihat saudari kembarnya menikah dengan pria yang telah lama dikagumi.
Dan Rendra sudah mengikhlaskan Aira pergi...❤ Benar mengikhlaskan dan bukan mencari sosok Aira pada diri orang lain...💙
...TAMAT...
...******************...
EPILOG
10 tahun berlalu, gadis cantik itu berlari dengan kucir dua di rambutnya. Sangat manis, dengan pipi gembil yang ia miliki.
"Papa....... Rindu......"Ujarnya memeluk sang Papa dengan begitu posesif, baru saja laki laki itu pulang dari perjalanan bisnisnya selama satu minggu.
"Papa juga rindu dengan putri cantik Papa..." Ujarnya penuh rindu menyambut. ini kali pertama dirinya berani pergi meninggalkan keluarga kecil. Argh pekerjaan dan posisinya sebagai pimpinan mendesaknya untuk pergi.
"Oleh oleh buat Ra?" Tanyanya dengan coletehan lucu.
"Tentu, Papa bawa banyak hadiah untuk putri Papa Aira...." Kata itu diucap oleh laki-laki bernama Renda yang menjadi sosok Ayahnya.
...❤❤❤❤❤❤❤❤...
__ADS_1