
"Kamu dimana? Ini udah jam 4!" Ujar Aira, ia memastikan kembali apakah Rendra bisa menemaninya.
"Gimana sayang? sorry aku ga bisa! Ada kerjaan dadakan, maaf ya. aku tutup dulu. Bye sayang!"
Oke, kecewa kembali dengan kata harap memaklumi dan maaf yang beriringan. Baiklah tak boleh cenggeng anggap ini ujian apabila ada seseorang yang ingin memesan produk nya tapi tak jadi.
Roda mobil itu berputar beberapa kali, mengelilingi suasana sore ibukota. Beberapa titik terjadi kemacetan, sudah ada 5 lokasi yang ia dapatkan dengan beberapa kisaran harga yang beragam.
Hah, kali ini Kak Annisa lah yang bisa memberikannya keputusan. Arghhb Aira jadi Rindu kepadanya.
"Haloo kak!! Kagen!!!" Ujar Aira memanggil sang kakak, ia duduk di bangku cafe mall sembari menunggu pesanannya di antar.
"Kamu dimana? Kok rame gitu?"
"Hihihihi, di Mall Kak. Laper Aira , makanya cari makan dulu!" Kekehennya lucu.
"Jangan telat makan , inget!!! Kalau ada apa apa kabari kakak!" Dih masih galak saja.
"Iya kakak ku yang bawel, kakak ih di tanya kok gitu si, Aira kangen nih!"
"Duh uluh uluh. Kakak juga kangen sama Aira, sini main lah sekali sekali." Ujarnya lagi, obrolan ini sangat asyik. Kakaknya memang tempat terbaik untuk mencurahkan semuanya.
"Ada yang mau aku omongin nih kak!"
"Apa hm...."
"Itu, Aira sudah dapet pekerjaan. Uangnya juga sudah terkumpul, Rencana Aira pengen bikin toko bunga. Tadi kan Aira sudah survey tempatnya. Nah harganya beda beda, nanti Aira kirimin fotonya ya. Ntar bantuin tentuin, kira kira Aira harus pilih ruko yang mana. Kakak kan lebih jago!" Jelasnya panjang lebar.
"Beres!!!" Annisa mengacungkan kedua tangannya.
"Hehehe duh baiknya."
"Mau kapan dek kamu launcing toko Bunganya dek?"
"Kapan ya ? 2 bulan lagi deh kak kayaknya, soalnya kan harus beli beberapa alat perlengkapannya juga."
"Hem... Butuh bantuan kakak?"
"Engga dulu deh, tapi pengen kakak pulang ke Indonesia sini, pas Aira bisa buka toko bunganya."
"Ah beres mah gitu, bisa di atur!"
"Udah dulu ya, pesenan Aira sudah dateng kak, Aira mau makan dulu. Jaga kesehatan dan love you!" Beritahunya dengan kiss bye sebagai tanda mengakhiri.
__ADS_1
"Apa apa an sih ini!" Ujar Aira, tangannya menarik Rendra yang ingin duduk untuk berdiri. Baru saja ia menghabiskan makanan nya sudah terlintas pemadangan yang mengecewakan.
"Ini uang, lo bisa kan pulang sendiri? Kagak usaha jadi benalu buat cowok gue. Yang sakit kan tubuh lo, gak otak lo kan? Setidaknya lo bisa kan pesen taksi online? Gatel banget jadi cewe!" Ucapannya menohok, tangannya menarik Rendra keluar, peduli apa dengan sekitar.
"Ra, kamu apa apa si!"
"Elo yang apa apaan? Ini yang namanya kerja Ha!" Nafasnya memburu, jenggah sudah Aira harus memaklumi semuanya.
"Aku bisa jelasin!"
"Jelasin apa? Jelasin kalau dia belum makan dan gak selera dengan makanan rumah sakit terus kamu nganterin dia makan disini karena ini menu favorite kalian pas pacaran!"
"Kok kamu tau?"
"Kamu bodoh atau gimana si jadi cowok?"
"Kamu kok ngomongnya jadi kasar gini sih Ra! Kamu berubah!"
"Kamu, kamu kamu, bukan aku yang berubah!" Tepisnya fakta itu dengan telak.
Hah.........
"Bisa gak sih sedikit aja kamu tu ngerti perasaan aku? aku tu capek harus ngerti semua keinginan kamu. Yang pacar kamu tu aku, bukan dia. Kenapa si. Aku tu selama seminggu ini diem, aku ngalah ya demi kamu tapi kamu ga tau itu. Kamu kenapa kecewainaku kayak gini! Mana oake alasan bohong kerja!!" Lirih Aira, tubuhnya sudah ingin merosot luluh ke lantai.
"Dia sakit dan aku harus memaklumi itu!"
"Ra...."
"Aku gak bisa gini, aku ga bisa berbagi orang yang aku sayang ke cewe lain, terlebih itu mantan pacarnya sendiri. Kamu...."
Bugh!!!!!
Kesadaran Aira menghilang, untung Rendra dengan sigap menangkap tubuh itu agar tak jatuh ke lantai.
"Ra!!! Sadar Ra!!!!" Ujarnya lagi. Namun tepukan lembut di pipi tak kunjung menyadarkannya.
...************************...
"Nanti berikan kalau Aira sudah sadar ya!" Ujar Bunda memberikan semangkuk bubur dan segelas air hangat.
"Ya bunda, makasih!" Jawabnya lesu, tangannya senantiasa mengusap lembut telapak tangan Aira dengan taburan minyak kayu putih.
"AAughhhh!" Lengguhnya membuka mata.
__ADS_1
"Sayang kamu sudah sadar!" Ujar Rendra, tangannya sibuk membantu Aira yang ingin duduk dan memberikannya segelas air minum untuk sang kekasih.
"Dimana?" Tanyanya lemah.
"Rumah aku!" Ujarnya menyodorkan minuman.
"Oh...." Ujarnya duduk dan cuek dengan Rendra.
"Sayang aku....."
"Jangan bahas ini sekarang ya!"
"Tapi...."
"Aku capek juga harus ngerti keadaan kamu gimana, tanpa kamu peduli tentang aku!" Tawanya campah, ayolah ia baru saja sadar kenapa harus di berikan penjelasan lagi.
"Kamu ngerti ga sih, aku cuman sayang dan cinta sama kamu Ra! Aku peduli sama Felicia cuman sebatas temen aja!"
"Hehehe... Dulu kita juga temen Ndra!!" Ujarnya.
Tring!!!!
Tring!!!!
Dering telfon milik Aira membuat keduanya mengalihkan pandangan, tertera kontak bernama "Daniel" disana.
"Hallo Ra!!! Kamu kenapa ga masuk? Semalem juga kenapa gak dateng ke cafe? Kamu kok gak ada kabar seharian ini, Gimana tadi surveynya tokonya? Kok ga bilang si!" Sialan, ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan dengan raut muka Rendra yang sudah ingin menerkam.
"Daniel, aku gpp ya! Nanti aku hubungi lagi, aku masih sibuk!" Ujarnya mematikan telfon.
"Oh jadi gini? kelakuan kamu di belakang aku? Sok menuduh aku yang bersalah telah jalan sama Felicia tapi kamu? Haha... Hebat aku ga nyangka kamu serapi seperti itu!" Ujarnya mencemooh.
"Aku ga bermaksud nyembunyiin semua ini sama kamu, jangan salah faham!" Lirihnya.
"Apa? Jangan salah faham? kamu setiap malem pasti keluar kan ke cafe sama dia? terus kenapa kamu survey tempat? Apa lagi yang kamu sembunyiin Ha??? gak sekalian survey hotel berdua untuk bermalam!" Sinisnya.
PLAK!!!!!
"Aku ga nyangka kamu bakal ngomong kayak gitu. Papa gak setuju sama hubungan kita berdua, tapi aku tetap memperjuangkan kamu dan Papa memberikan ku syarat agar aku bisa membangun bisnis. Senin sampai jumat aku kerja di bimbel dan sabtu minggu aku di cafe buat nyanyi cari tambahan uang. Aku ngumpulin uang buat buka toko bunga buat bangun usaha aku, semua demi kamu!!! Sesibuk itu, aku masih bisa meluangkan waktu! Kamu kemana Ha?" Nafasnya begitu memburu.
"Aku pulang, aku capek dengan sikap kamu. Ternyata semenyakitkan ini cinta pertama. Aku ga nyangka!" Kakinya melangkah keluar meninggalkan Rendra yang mampu termenung dan membisu.
...*********************...
__ADS_1