
Beberapa anggota tubuhnya sudah mulai melemah, terkadang gadis ini tak mampu berjalan lebih lama. Kegiatannya hanya melukis dan menulis, Pantai? ya keluarga Annisa dan Aira kembali kedesa mereka.
"Ayo pulang, kau sudah terlalu lama disini!" Ujar Annisa, kali ini Aira hanya bisa terduduk di kursi roda. Tapi Annisa adalah orang yang siap sedia menemaninya.
Kemo? Efeknya begitu menyakitkan pengobatan yang dilakukan semua berbuah kegagalan saja. Aira lelah dengan kesakitan ini.
"Kak!" Panggilnya.
"Ya!"
"Kalau aku gak ada apa dia bakal bahagia ga ya?" Kalimat itu kembali mengudara, Gadis ini terlalu munafik hanya untuk ingin menemui Rendra. Ia rindu...
"Mari pulang, kakak akan membantumu menemuinya."
"Tidak!" Senyumnya jelas terukir. "Aira gak mau nambah beban di kak, kan kakak tau Aira udah ga pantes buat Rendra!" Kekehennya lucu.
"Kamu masih pantes buat dia dan kamu pasti sembuh!"
"Bukan sembuh, hanya Tuhan yang masih mengizinkan ku hidup!" Ujarnya berusaha tegar.
"Kita semua akan melakukan yang terbaik buat kamu!"
"Hehehe... Jangan memberikan ku harapan kak, jika kakak sendiri tau hasilnya seperti apa!" Tawanya campah.
"Rara juga pengen hidup lebih lama, menikah dan punya anak. Pasti lucu ya kak!" Ujarnya membayangkan, jarinya menujuk anak kecil yang digandeng oleh kedua orang tuanya.
"Lucu ya, kalau Rara nikah sama Rendra nanti anaknya mirip siapa ya?" Gadis ini bertanya kembali kepada kakaknya.
Air mata ditahan sebisa mungkin, Annisa lelah harus mendengar sang adik berbicara tentang Rendra bagaimana jadinya ini itu. Semua kata yang keluar rasanya begitu menyayat.
__ADS_1
Ingin sekali Annisa menyeret pemuda ini untuk datang menemani dan menceritakan semua penyakit yang diderita adiknya tapi. "Jangan, kakak sudah berjanji untuk tidak memberitahunya. Kita sudah tak punya hubungan apa-apa. Dia tak percaya padaku kak, Kalau kakak memberitahunya aku tak mau melanjutkan pengobatanku. Aku tak mau dia datang hanya rasa kasihan. Itu justru membuatku lebih sakit, aku ingin bahagia menikmati sisa hidupku kak!"
"Hai cantik, kue strwberry dan bunga!" Daniel datang sebagai teman untuk menghibur Aira, pemuda itu setiap hari sepulang dari bekerja akan datang hanya untuk menyapa. tangannya sellau membawa apapun yang berhubungan dengan Aira.
"Aku mau rotinya, kalau bunga cocoknya buat kak Annisa hehhee..."Gadis itu menerima kue dan memakannya secara sukacita. Bunga di terima Annisa, sesekali kalimat candaan keluar.
"Kita pulang ya, sudah malam. Kamu juga harus beristirahat dan minum obat!" Ujar Annisa.
"Ya kak..."
"Tidur ya!" Ujar Annisa kala dirinya sudah membaringkan sang adik di atas ranjang, kakinya melangkah keluar.
"Ikut gue, kita duduk ditaman depan!" ujar Daniel membawa tangan gadis itu untuk keluar, menghindar dari Aira agar perkataannya tak didengar.
"Aman nis, kalau lo mau nangis. Gue ada buat lo!" Kalimatnya setelah dirasa aman dan keduanya terduduk nyaman di kursi taman.
"Hiks... Hiks... Hiks.... Gue harus ngapain Niel, operasi gagal. Kemo terapi juga gagal, tubuh Aira menolak semua obat yang ada!" Tangis begitu sesak menceritakan keadaan sang adik semata wayangnya.
...******************...
Rendra Afrizal, foto pemuda ini langsung menjadi tranding di berbagai majalah bisnis yang beredar. Sangat tampan dan berwibawa. Kakinya melangkah dengan begitu pasti.
"Selamat pagi semuanya, terimakasih kepada media yang telah hadir meluangkan waktunya disini. Saya Anggara selaku penerus Global Industri akan menyerahkan semua kekuasaan, tanggung jawab dan wewenang saya kepada putra sulung saya yang bernama Rendra Afrizal!"
Konferensi Pers dilakukan setalah seminggu Rendra memahami dan melakukan pemindah kekuasaan semua aset yang dimiliki oleh Papanya.
"Terimakasih kepada Papa saya, kedepannya saya akan menjadikan Global Industri lebih berkembang dan semakin besar. Terimakasih!" sambutannya singkat. Putra yang tak pernah diketahui oleh public keberadaan nya seketika melejit saat tambuk kekuasaan sudah ditangannya.
Pertemuan penting secara internal terhadap pimpinan akan diadakan minggu depan, mengingat jadwal mereka yang juga sibuk. Maka tak bisa memaksakan mengumpulkan semuanya secara dadakan.
__ADS_1
"Selamat son!!! Papa bangga memiliki putra sepertimu!" Ucapnya menepuk bahu sang putra yang tengah terduduk di kursi Direktur utama. Bagaimana mungkin dalam seminggu Rendra dengan cepat mengusai komponen bisnis papanya itu.
"Ya pa, semua ini berkat Papa! Terimaksih karena Papa mau mengajarkan Rendra semua ini."
"Papa akan lakukan apapun demi kebaikanmu. Sekarang fokuslah terlebih dahulu pada rapat yang akan di adakan minggu depan. Kau harus sempurna memperesentasikan apa yang sudah Papa ajarkan. Setelah itu kau boleh mencari gadis mu itu, pasti kau akan mendapatkannya!"
"Thanks Pa!"
...***********************...
Prang!!!!!!
"Aira!!!!" Pekik Annisa kaget, "Duduk!" Ujarnya mengintruksi sang adik untuk duduk dengan nyaman di sofa.
"Kamu kalau mau sesuatu tinggal panggil kakak aja Aira!" Ujar Annisa menasehati dengan cerewet.
"Dia...." Gagap Aira menunjuk siaran televisi,
"Ap...." Annisa juga tekejut dengan fakta yang diungkap. Kenapa Rendra? Pemuda itu ternyata pewaris tunggal perusahaan tempat kedua orang tuanya bekerja.
"Sudah malam ayo tidur!" Ujar Annisa yang hendak mematikan siaran televisinya.
__ADS_1
"Jangan kak! Aku ingin melihatnya tolong!" Mohon Aira.
"Sangat tampan, aku bersyukur karena Tuhan pernah mengizinkan ku mencintai bahkan memiliki pemuda sempuran sepertinya kak!"