Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 13


__ADS_3

Hari ini mahasiswa semester 5 terutama program studi bisnis sudah akan melaksanakan magangnya. Sudah ada penjadwalan yang bisa di akses oleh mahasiswa terkait info magang di laman situs web universitas. Entahlah ini hanya kebetulan atau memang sangat meguntungkan Annisa?


Yaps, Daniel dan Annisa magang di perusahaan milik orangtua Daniel, bukan pilihan dari Daniel secara pribadi. Namun memang pihak kampus dan perusahaan Papa Winanta menjalin kerjasama, dan sesekali Tuan Winanta menjadi donatur kala di universitas anaknya mengadakan suatu event penting.


"Udah belum nis?" Tanya Daniel, hari ini ia sudah menyusun beberapa file pemberkasaan terkait data diri untuk kegiatan magang tersebut bersama beberapa mahasiswa yang magang di tempat yang sama.


"Udah kak tenang aja!" Jawab Annisa, biasa saja dan tentunya formal. Abaikan rasa senang ini, karena laki laki yang berada di hadapanmu adalah pacar milik adikmu sendiri, bathin Annisa.


Untuk Aira yang berbeda jurusan? Mungkin ini speasial ya? Aira terpilih menjadi salah satu dari beberapa mahasiswa bahasa yang terbebas dadi magang namun harus membuat proposal tentang bahasa dan mempresentasikan pada sidang seminar yang bekerjasama dengan Mentri pendidikan.


Tring


"Maaf sayang, aku tak bisa mengantar mu pulang!Masih ada beberapa berkas yang harus aku urus!" Sebuah notifikasi pesan masuk yang Aira dapatkan dari Daniel, Aira mengerti kok dengan kesibukan kekasihnya itu.


"Ngapain kesini?" Tegur Rendra kala melihat Aira ingin memsan secangkir coffe.


"Mau beli kembang!" Sewotnya kemudian Aira berkata "Ya mah beli coffe lah, tanpa gula satu." Ujar Aira.


"Nih...." Ujar Rendra menyerahkan secangkir coffe kehadapan Aira.


"Oke makasih" Ujar Aira tersenyum.


"Lu ngapain disini sendirian? Pacar lu kemana? Kok kagak nemenin lu disini!"


"Diem kang siomay! Mau lu gue getok pake cangkir ini!" Ujar Aira menatap galak.


"Ya maaf" Ujar Rendra, kopi di sruput dengan nikmat, pancarannya jelas menunjukkan bahwa Aira sangat menikmati tiap teguk coffe hangat didepannya.


"Kenapa lu suka coffe?" Tanya Rendra kala melihat Aira sudah meletakkan cangkir coffe di atas meja.


"Kenapa ya? Gue suka aja. Rasanya tenang gitu!" Jawab Aira dengab singkat, jujur tanpa ada yang ia sembunyikan.


"Tenang otak lo! Setres ini bocah. Kan kopi lu tanpa gula."


"Lha terus kenapa?"


"Kagak pahit apa itu mulut!" Ujar Rendra bertanya heran.


"Wkwkwk... Kasihan kalau bergula. Dia ada untuk menambah cita rasa nikmat namun kopi lah yang selalu di puji."


"Ha maksud lo?"


"Gpp lupain."


"Sejak kapan lo suka kopi?"


"SMP kelas 1 mungkin."


"Coffe hitam tanpa gula?"


"True nikmat sekali!"


"Lo gak mau nyobain gitu? Pake gula atau apa?"

__ADS_1


"Kurang tertarik." Jawab Aira dengan nada singkat.


"Tapi lu tau kan? Minum kopi tiap hari juga kagak bagus buat kesehatan lu! Termasuk kesehatan ginjal lu. Kan coffe...."


"Gue tau dan umur seseorang kagak ada yang tau kan?" Ujar Aira tersenyum.


Ada yang salah dengan gadis ini? Ah bukan? Tapi hati Rendra nampaknya. Kenapa dirinya seolah berbeda? seperti sedang melakukan wawancara guna menyiapkan diri untuk memahami sosok Aira bukan? agar serasi.


Rintik hujan turun dengan begitu deras tanpa bisa di hindarkan, dan Aira masih terjebak di dalam caffe milik Rendra.


"Belum pulang?" Ujar Rendra yang sudah berganti pakaian, menenteng tas kecil. Waktunya juga sudah malam dan saatnya toko tutup.


"Keburu hujan!" Jawab Aira singkat.


"Oh..."


Hanya keheningan yang menerpa, alunan rintik air yang jatuh menambah kesunyian yang semakin tercipta dengan begitu nyata.


"Kayak nya udah reda! Yok pulang!" Ujar Rendra menawarkan diri.


"Gak, kakak gue bentar lagi jemput." Jawab Aira dengan singkat.


"Lo yakin? Udah jam segini?" Ujar Rendra melirik jam di pergelangan tangannya.


"Gue serius."


"Kenapa ga dari tadi kakak lo...."


"Itu dia, gue duluan!" Ujar Aira pamit melangkah keluar dan masuk kedalam mobil sang kakak.


"Gak usah minta maaf kali kak, tenang aja. Rara ngerti kok." Ujar Aira tersenyum sambil memasang sabuk pengaman nya.


"Yaudah pulang yuk!" Ujar Annisa.


...********************...


"Langsung pulang?" Tawar Aira kala Daniel mengantarkan nya sampai kerumah, seminggu setelah magang kedua nya masih berkomunikasi dengan lancar.


"Gak sayang, aku mau ketemu kakak mu ada urusan." Ujar Daniel mengikuti langkah Aira masuk kedalam rumah, sesekali tangannya mengusap lembut kepala kekasihnya.


"Tunggu ya, aku panggilin kakak!" Ujar Aira melangkah masuk.


Tok


Tok


Tok


"Kak, di cariin Daniel noh!"


"Ha? Daniel? Pacar kamu?"


"Ya..."

__ADS_1


"Ada urusan apa nyariin kakak?"


"Ya mana Rara tau, udah ya Rara mandi dulu. Gerah ih!" Ujar Aira masuk kedalam kamarnya dan bergegas mandi membersihkan dirinya.


Nyaman....


30 menit, kakinya melangkah turun. Rasanya lapar. Tapi? tak mau lah makan nasi, moodnya menginginkan sekotak salad buah.


"Loh? masih disini kak?" Ujar Aira kaget melihat Daniel yang masih berdiskusi dengan kakaknya.


"Ya sayang, masih ada urusan."


"Oh..." Berhenti sejenak lalu "Mau salad buah?" Tawaran itu di tujukan pada mereka berdua.


"Gak sayang."


"Gak dek!" Kompak, keduanya menolak yang di tawarkan Aira.


"Oke...." Singkat tak mau ambil pusing apalagi berburuk sangka terhadap kedua orang yang paling Aira sayangi.


Matanya sekilas milirik ke arah mereka berdua yang tengah berdiskusi, suap sendok salad buah menikmati pemandangan Aira. Seperti manjdi juri saja.


Cocok dan serasi, sama sama suka berbau dengan binis dan dokumen yang bertanda tangan namun saja masih tak sesuai ucapan.


"Aku pulang dulu ya sayang!" Ujar Daniel pamit, tangannya melambai sebelum ia benar benar pergi untuk pulang.


"Tugas kamu gimana dek? udah?" Tanya Annisa yang masih membersihkan beberapa kertas di meja itu.


"Hem, udah tenang aja kak." Ujar Aira, ia duduk bersila memperhatikan sang kakak yang telaten dan rapi menyusun kertas menjijikan berbau bisnis itu.


"Kayaknya kakak deh yang lebih cocok dengan Daniel bukan aku!!!!" Celetuk Aira mampu mengalihkan bahkan membuyarkan gerakan menata tangan Annisa.


"Dek? maksud lo?"


"Ya kalian sama sama suka bisnis, ngobrol apapun nyambung. Gak kayak aku?"


"Ngomong apa si dek ah!" Ujar Annisa menegur ucapan adiknya yang di anggap tak baik.


"Aku tu gak cocok deh kayaknya!"


"Udah gak boleh gitu, Daniel udah cinta gitu sama kamu. Kalian juga pacaran udah lama si, perbedaan itu wajar. Ada untuk saling mengisi dan melengkapi satu sama lain."


"Tapi kak...."


"Udah malem dek, tidur!" Tegur Annisa.


"Hah... Iya deh, bentar habisin salad buah ini dulu!" Ujar Aira teesenyum.


...*****************...


Perbedaan memang ada untuk saling melengkapi, tak ada sosok manusia yang sempurna.


Namun faktanya, perbedaan yang ada! Seperti sosok garam yang menyakitkan terhadap luka akibat ketidak singkronan kesamaan yang ada.

__ADS_1


Itu nyata, Aira dan Daniel adalah kedua sosok yang memaksakan terus bersama. Aira yang harus memaklumi Daniel, dan Daniel yang membuat Aira mau menerima cintanya berdasarkan kata Kita coba dulu ya Ra!!!!!


Sejatinya hubungan bukanlah cobaan seperti itu, namun kemantapan hati atas sosok pria yang ingin sekali aku miliki....


__ADS_2