
Tolong, Aira ingin kabur dari berbagai rangkaian rumah sakit. Ia benar benar tak ingin berada di ruangan ini dengan serangkaian obat obatan.
"Selamat pagi Aira, gimana kabarnya?" Dokter Aris masuk kedalam ruangan memerika luka setelah operasi, beberapa obat di suntikkan dalam tubuhnya dan entahlah sudah berapa kali sampel darah yang ia ambil untuk mengetahui pekembangan respon tubuh gadis ini.
"Apa saya sudah bisa pulang?" Tanya Aira sedikit meragu.
"Untuk lukanya sudah mengering tapi lebih baik jangan dulu!" Jawab Dokter Aris dengan begitu bijak.
"Ayolah dokter Aris, saya sudah seminggu disini ya! Saya pengen pulang!" Renggek Aira bak anak kecil, mumpung sang Kakak tidak ada di ruangan ini.
"Kenapa? Tak nyaman di ruangan ini?" Tanya Dokter Aris.
"Aku...." Ucapannya terbata kala sosok yang paling ditakutinya sudah muncul secara tiba tiba.
"Jangan membantah, kamu tetap harus tinggal dirumah sakit ini sampai sembuh!" Kak Annisa masuk dengan raut wajah yang sangat lelah, ia harus menjaga adiknya dengan posisi tidur yang sangat tidak menguntungkan dengan makanan yang tak di perhatikan.
"Kak, Aira pengen pulang aja di apartemen kakak!" Renggeknya memasang wajah seimut mungkin.
"Jangan membantah, kamu disini! Kakak juga tak keberatan menemanimu!"
"Tak keberatan memang? Tapi lihatlah dirimu makan dengan tak teratur bahkan tidur dengan posisi yang tak enak setiap malam, apalagi dengan tugas kuliah mu." Sinis Aira.
"Oke oke, Aira boleh pulang dan di rawat di rumah tapi setiap 2 hari sekali harus kesini untuk memeriksa, jangan lupa minum obat dan vitaminnya secara teratur!" Ujar Dokter Aris menengahi.
"Dokter, kalau memang Aira....." Ujar Annisa kala ingin menyela dan melayangkan protesnya tak setuju.
"Tak apa Annisa, lukanya sudah mengering dan saya juga akan merekomendasikan beberapa vitamin agar tubuhmu sehat dan bugar!" Ujar Dokter Aris.
pada akhirnya Aira di perbolehkan pulang dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Kedua gadis ini sangat menjaga satu sama lain, melihat Annisa rasanya dokter Aris tak tega dan itu sudah di sesuaikan oleh kondisi Aira yang memang bisa untuk rawat jalan.
"Ah, akhirnya!" Aira sudah merebahkan dirinya di atas kasur apartemen milik sang kakak, panggilan video call dari sang kekasih nampaknya menjadi penawar rindu untuk dirirnya. Sungguh Aira merindu.
"Hai sayang gimana kabarnya?"Tanya Rendra di ujung sana.
"Kurang baik!" Jawab Aira dengan mimik wajah yang menyendu.
"Sayang kau sakit?" Tanya Rendra dengan ekspresi khawatirnya.
"Iya sakit Rindu gak ketemu kamu!" Kekehennya lucu.
"Ah kau ini membuat ku khawatir saja!" Ujar Rendra, nyatanya perasan pemuda ini tak enak jika melihat wajah kekasihnya rasa ingin memeluk dan mendekap begitu tinggi. Apakah Rendra serindu ini pada sosok Aira.
...******************...
__ADS_1
Sudah 2 minggu Aira berada di Singapura lamanya, ah hatinya makin merindu. Soal cek up ia sudah melakukannya dengan baik.
Pakain casual ia pakai dengan sangat cantik, koper di tarik dengan sangat anggun.
Indonesia aku datang... Katanya senang menatap tiket penerbangan yang akan segera ia lakukan untuk pulang bertemu sang pujaan hati.
"Hah!!" Setelah beberapa jam mengudara di langit, Akhirnya Aira pulang ke Indonesia, soal izin sang kakak pulang? anak ini terlalu bandel untuk urusan itu.
sepucuk surat ia tulis di atas meja dengan beberapa menu yang ia masak katanya "Kakak aku pulang dulu ya.. Hehehhe maaf tak pamit aku sudah rindu. Jangan marah ya. Aku masakin makanan kesukaan kakak! peluk cium dari Aira!" Katanya yang tertulis.
"Rendra ada?" Tanya Aira pada Rizki yang kebetulan saat itu berjaga di meja kasir.
"Aira? Kamu? Katanya si bos bukannya di singapura dan pulang masih 2 minggu lagi!" Gagap Rizki, ada apa dengan semua ini? kenapa?
"Ya, aku ingin memberikan kejutan pada Rendra." Jawan Aira jujur dan malu malu.
"Ah ya!"
"Ada kan Rendra di dalam aku langsung masuk ya!" Izinnya melangkah masuk ke ruangan Rendra.
"Rendra itu..." Gugup Rizki, kakinya melangkah menyusul Aira yang sudah jauh melangkah.
"Rendra!!!!!!" Pekik Aira terkaget dengan apa yang ada di depannya.
"Kalian berdua!" Gemeter Aira melihat pemandangan yang ada di depannya sakit.
"Ra... Ini... Aku bisa jelasin Ra!!!" Ujar Rendra langsung terbangun, namun naas kaki Aira sudah melangkah jauh pergi. Meminta penjelasan? Bagian mana yang harus ia maafkan kembali.
Sebenarnya dia bukan yang ingin memberikan kejutan kepada Rendra? kenapa malah dirinya yang terkejut.
"Goblok bgt si lu!" Sinis Rizki, nampaknya mengizinkan Felicia masuk bukan pilihan yang tepat.
"Sialan lu, lagian kan lu udah gue bilangin jagain dan jangan ada yang ganggu gue!" Tarikan nafasnya terlihat kesal. "Bukannya dia pulang masih 2 minggu lagi?" Dahi Rendra berkerut heran.
" Ya gue gak tau sialan, ah lu bego banget. Otak lo dimana si ah, Aira tu udah perfect bangs*t masih aja lo selingkuh dengan Kera Dufan!" Cacian itu begitu menyakitkan di lontarkan oleh Rizki.
"Minggir lo!"
"Udah gak keburu lo mau ngejar dia!" Ujar Rizki kembali.
"Lo ya...."
"Udah deh, gue gedek sama lo. Sebenernya masalah lo udah selesai belum si sama dia. Kalau belum selesai setidaknya jangan ngelibatin orang lain masuk kek kehidupan lo!" Cercahnya.
__ADS_1
"Ndra , sorry. Gue tadinya mau bangunin lo tapi ngeliat lo tidur nyenyak gitu. Gue gak tega buat bangunin lo!" Ujar Felicia dengan wajah yang sedih dan mengenaskan.
"Permintaan lo udah gue turutin kan? bisa ga lo sekarang pergi dan tolong jangan ganggu hubungan gue lagi!" Sinis Rendra, amarah berusaha ia tahan sebisa mungkin didepan gadis ini.
"Ndra, gue minta maaf. gue...."
"Pergi Feliciaaaa!!!!!" Teriak Rendra begitu menggema.
Flashback!!!!
Felica datang, entahlah ini sudah berapa kali dia berusaha untuk menemui Rendra. Nampaknya dewa tengah berpihak padanya, setelah melewati beberapa rintangan untuk diizinkan masuk tibalah dia didalam ruangan milik Rendra.
"Ada apa lo!" Rendra masih nampak begitu dingin.
"Gue minta maaf kalau buat lo gak nyaman!" Gadis ini memasang wajah sangat menyendu.
"Udah tau ganggu, sekarang lo pergi deh. Gue gak mau ada salah faham lagi dalam hubungan gue karena lo!" Ujar Rendra, oke kali ini tumben sang pengeran setengah otak bisa membuat keputusan yang sangat tepat sekali.
"Hah, gue minta maaf sama lo dan keluarga lo! Ginjal gue udah makin rusak Ndra, kedepannya mungkin gue gak bisa nemuin lo lagi kesini." Jedanya dengan sedikit sedih, nampak raut wajah Rendra menyedu simpatik.
"Gue doain semoga lo dan Aira di berikan umur yang panjang, gak kayak gue gini!" Lanjutnya.
"Ndra gue boleh minta satu permintaan? Sebelum gue benar benar pergi!" Tanya Felicia dengan wajah sendunya.
"Apa yang ingin lo ingin dari gue!"
"Tolong kemari dan duduk disini!" Ujarnya memohon.
"Lo yakin kan ini yang terkahir? lo gak akan lagi ganggu hidup gue?" Tanya Rendra.
"Gue janji Ndra, ini yang terkahir.!" Ujarnya lagi.
"Oke, lo mau apa!" Tanya Rendra yang saat ini sudah duduk disebelah Felicia.
"Gue bawain lo ini, Minuman kesukaan lo!"
"Lo sebenernya mau apa si?" Tanya Rendra heran.
"Gue cuman mau lo minum ini aja gak lebih kok! Setelahnya gue akan pergi!" Ujarnya kembali.
"Oke," Tanpa menaruh rasa curiga, Rendra meminum itu dengan tandas, dan menit berikutnya Rendra tertidur di samping Felicia dengan sangat nyenyak.
"Sorry! Gue kangen lo Ndra!!! Kangen!" Felicia mengusap sayang pipi Remdra yang sedang tertidur pulas di sebelah dirinya, ia juga menyusul Rendra ke alam mimpi.
__ADS_1
...Sorry Ra, gue pinjem Rendra bentar. Sisa hidup gue mungkin ga akan lama. Biarin gue ngerasain sekali aja tidur di sebelah Rendra gini. rasa cinta gue ke dia masih sama Ra.. Sorryyy.......
FlashBack OFF