Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 42


__ADS_3

"Minum dulu!" Tawarnya pada Rendra yang saat ini duduk dengan raut wajah yang tak bisa di jelaskan tegangnya.


"Terimakasih om!" Senyumnya simpul.


"Kau jelas tau bahwa saya tidak menyetujui hubunganmu dengan Aira!" ah Papa Baskoro kenapa selalu berbicara telak ke inti tanpa ada kata basa basi terlebih dahulu si ealahhhh.


"Tapi putri saya bersikeras untuk memperjuangkanmu, saya heran? Kenapa kamu mendapatkan ke istimewaan dari putri saya!" Sindirnya lagi. Arghhhhh...


"Maaf om, tapi saya juga mencintai putri anda!"


"Haha....Cinta? Saya juga baru pertama kali melihat putri saya pulang larut malam kemarin dengan mata sembabnya!" Sindirnya telak.


"Maaf om kalau saya...."


"Saya orang tua nya saja tidak pernah mengecewakan dia, kamu siapa? orang asing yang kebetulan mendapatkan cinta putri saya. Kenapa dengan tak tau dirinya menyakiti hati putri saya."


"Kedepannya saya berjanji itu yang terkahir untuk saya mengecewakannya dan saya tak akan lagi membuatnya menangis."


"Lepskan putri saya, biarkan dia pergi menuntut ilmunya seperti kakaknya. Berkembang dan tidak berporos pada kamu!"


Deg


Kalimat di atas jelas menyuruhnya untuk mundur secara halus bukan? Ayolah Rendra! Sadar.


"Saya tidak pernah melarang putri anda untuk melanjutkan studinya om, saya juga baru tau permasalahn bahwa dia bekerja sekeras itu. Jika saya tau di awal saya tak akan membiarkan putri anda bekerja sekaras itu."


"Ckck ternyata dia tak jujur padamu, Lepaskan saja. buat apa kamu mencintai gadis yang tak jujur seperti itu." Katanya menjelekkan putri bungsunya.


"Justru karena itu saya makin mencintainya, dia tak jujur kepada saya pasti tak ingin membuat saya bersedih dan mengasihani saya."


"Terlalu pede sekali kamu menjadi manusia."


"Tapi faktanya putri anda memang sangat mencintai saya tuan!"


"Sejak kecil saya membesarkan Aira tanpa kekurangan , apapun keinginan nya aka saya penuhi dan saya rela menukar masa muda saya demi memberikan hasil yang terbaik untuk kedua putri saya. Lantas kamu?"


"Maksudnya gimana ya om?"


"Kamu hanya seorang pemilik cafe yang tak pantas bersanding dengan putri saya. Kamu hanya akan membuatnya susah!"


Huh..... Sabar.... Tahan..... "Ya om memang benar saya hanya pemilik.sebuah cafe kecil, tapi saya berjanji akan bekerja keras hingga kelak putri om tidak kekurangan materi atau bahkan lebih memiliki banyak materi yang saya kasih kedia dari pada Papanya. Jika saat ini dia ingin melanjutkan studinya saya siap lahir dan batin membiayai kuliahnya."


"Ckck.... Banyak wanita di luar sana yang lebih cantik, kenapa kau memilih putri saya!"


"Karena saya mencintainya dan saya menerima segala kekurangan dan kelebihannya om!"


"Ckck!" Cibirnya.


"Aira!!!! Keluarlah jangan menguping di belakang Papa!" Ucapnya sedikit berteriak, dengan langkah gontai gadis ini berjalan mendekat ke arah sang Papa.


"Maaf Pa!" Ujarnya tertunduk.


"Ckck!!! Alasanmu saja. Tuh , lolos sama Papa!" ujarnya lagi.


"Pa...." Ujarnya mengerjapkan sebelah mata.


"Jangan sakiti putri saya!!! Buat dia mau melanjutkan studinya dan ingat, Papanya masih mampu membiayainya tak butuh bantuan mu! Jangan memangil saya om, panggil Papa sepertinya. Saya capek, mau tidur karena besok harus ke luar kota." Ujar sang Papa menepuk pundak Rendra.

__ADS_1


"Papa istirahat dulu sayang, kamu kalau mau makan minta sama Bibi atau engga tuh sana keluar sama dia!" Tunjuknya pada Rendra yang masih terbengong.


"Inget kalau pulang jangan malam malam!"Nasihatnya.


"Thanks Pa!" Ujar Aira memeluk haru.


"Yayaya. tapi kau harus belajar yang rajin!" Ucapnya lagi.


"Makasih Pa!" Ujar Rendra gugup dan mendapatkan anggukan dari Papa Baskoro yang sudah melangkah menjauh.


...***********************...


"Ra!" Panggilnya, keduanya hanya duduk didepan taman yang ada di pekarangan rumah Aira.


"Hmmm...."


"Jangan sembunyikan apapun, maaf aku...." Ujarnya tertunduk.


"Hem, semua sudah berlalu! Aku tau maksudmu baik, tapi aku tak suka. Maaf kalau aku egois tentangmu!" Ujarnya lagi.


"Ra, aku....."


"Hmmmmm..."


"Jangan seperti ini padaku... Maaf!" Lirihnya lagi.


"Entahlah saat Papa sudah setuju tapi hatiku meragu padamu!" Ucapnya jujur.


"No sayang, jangan katakan itu! Aku cuman membantunya saja tak lebih dari itu!"


"Aku...." Gagapnya.


Namun dering telfon yang berasal dari Handphone milik Rendra membuatnya mengalihkan pandangan dan menjeda kalimatnya.


"Hallo!!!!"


"Ha?? Apa???"


"Baik saya kesana!!!" Ujar Rendra menutup telfon miliknya.


"Felicia?" Tanya Aira begitu menohok.


"Bukan, tapi suster rumah sakit yang nelfon katanya Felicia masuk rumah sakit lagi!" Paparnya.


"Aku tau! Ayo aku temani kesana!" Ujarnya tersenyum kecut.


"Kamu gpp?" Tanya nya.


"Gpp ayo!" Ujar Aira.


Kaki keduanya masuk kedalm mobil untuk segera menuju kerumah sakit, setibanya disana kakinya melangkah masuk kedalam.


Benar saja, Felicia memang terbaring disana dengan selang infus ditangannya.


"Bagaiman sus?" Tanya Rendra saat dirasa suster telah selesai mengecek keadaan Felicia.


"Nona Felicia tak apa, keadaan nya sudah stabil mungkin sebentar lagi sudah bangun!" Tuturnya lagi.

__ADS_1


"Terimakasih!" Ujar Rendra, kala suster sudah ingon beranjak pergi.


wajah pucat itu sungguh mengenaskan, ayolah Felicia memang salah dan itu benar tapi dia hanya manusia biasa yang butuh perhatian kali ini saja ditengah sakitnya yang sekarat seperti ini.


"Boleh aku minta tolong padamu sayang?" Tanya Aira pada Rendra.


"Kau ingin sesuatu?"


"Hem.... bisakah kau membelikanku susu hangat? rasanya dingin disini hehehe..." Ujarnya dengan kekehan.


"Oh astaga, baiklah kau tunggu disini saja ya. Aku pergi sebentar." Pamitnya, begitu pintu tertutup dan tak selang beberapa lama Felicia tersadar.


"Hai?" Sapa Aira.


"Kau? dimana Rendra?" Pekiknya kaget dan bertanya.


"Kekasihku sedang membelikan ku minum nona!" Ujarnya menjelaskan.


"Kenapa kau disini?" Tanyanya.


"Karena kekasihku ada disini dan dia meminta aku menemaninya!" Singkatnya dengan acuh, pandangannya masih menatap layar handphone. terlalu malas melihat pasien.


"Kau curiga kalau dia kembali padaku?" Tanyanya.


"Hah...." Tarikan nafas membuatnya mengalihkan pandangan ke arah pasien.


"Dengarkan aku, Sungguh aku kasihan melihatmu terbaring di atas ranjang ini dengan selang infus yang ada ditanganmu." Jawabnya.


"Tapi aku tak menyangka, kau sudah berpenyakitan juga miskin pula. Ah tidak tidak! Bagaimana kau bisa dianggap miskin. Kau saja mampu membayar rumah sakit ini dengan segala pengobatan mahalmu. Tapi kau tak mampu menyewa seseorang yang bisa merawatmu!"


"Aku tak terbiasa di rawat oleh orang lain! Kalau Rendra, dia denganku sudah berteman lama bahkan dia pernah menjadi kekasihku!"


"Benar sekali dia permah menjadi kekasihmu tapi dia juga anak tirimu! kau cantik tapi begitu menjijikan. Berhenti menganggu milikku! Jika kau terus memanfaatkan kebaikannya dengan memintanya mengasihanimu. Akan ku percepat kau menemui Tuhan!" Ucapnya serius.


Clek!!!


"Sayang ini susumu!" Rendra datang dengan menenteng pesanan kekasihnya.


"Oh ya makasih!" Menerima susu yang diberikan dari Rendra.


"Kau sudah sadar Feli?" Tanya Rendra.


"Ya maaf merepotkan mu!" jawabnya.


"Sayang, Papa sudah menyuruhku pulang ini sudah malam!" Ujarnya memberitahu.


"Oh sudah aku antar pulang, setelah mengantarmu aku izin untuk menemani Feli disini ya?" Ujar Rendra meminta izin.


"Ah apakah Nona Felicia membutuhkan kekasih saya untuk menemani disini?" Tanyanya.


"Tidak," jawabnya dengan cepat. "Rendra kamu tak usah menemaniku disini, tak enak jika wanita dan pria dalam satu ruangan tertutup seperti ini. Tenaglah temanku nanti akan segera datang untuk menemani. Kau pulang saja dan istirahatlah. Maaf telah merepotkan kalian berdua." Jawabnya panjang lebar.


"Ah ya benar juga kami permisi!" Pamit Aira undur diri,tangannya mengandengan lengan Rendra untuk segera keluar dari sana.


...Sialan kau, akan ku pastikan Rendra akan membencimu seumur hidupmu kali ini. dan Rendra akan memilih diriku walau aku dalam keadaan sakit. Lihatlah saat penyakitku sudah sembuh nanti aku pastikan Rendra akan menjadi milikku seutuhnya....


...********************...

__ADS_1


__ADS_2