
"Lo bisa bantu gue?"
"Oke gue kesana!" Ujar Rendra, telfon sepihak itu dimatikannya, kakinya melangkah secara tergesa-gesa keluar rumah dan pergi.
"Mau kemana kakak sepagi ini?" Ujar Jelita nampak aneh dengan sikap kakaknya.
"Ini semua yang lo butuhin!" Ujar Rendra menaruh beberapa belanjaan dan sedikit makanan.
"Thanks, dan maaf ngerepotin lo!" Ujarnya kembali.
"Hem... Gue pulang!" Ujar Rendra sedikit cuek.
"Ndra.... Gue mau ngomong!" Lirihnya memohon.
"Apaan an!"
"Sorry, gue salah sama lo. gak seharusnya gue gini. Tapi gue gak ada pilihan lain Ndra, gue sebenernya masih sayang sama lo!" Ujar Felicia lirih.
"Gue juga masih sayang sama lo, tapi sebagai istri Papa gue!"
"Ndra.... Plis jangan ungkit itu lagi, gue...."
"Semua udah berakhir Fel, gue kecewa sama lo dan banget. Gue gak bisa lupain hal itu." Tudingnya pada wanita cantik yang tidur di atas ranjang rumah sakit.
"Gue tau Ndra, gue tau!!! gue salah sama lo. Gak seharusnya gue nikah sama bokap lo tapi dengerin dulu penjelasan gue Ndra! Dengerin!!!" Kali ini nadanya sudah naik beberapa oktaf, memohon kepada Rendra agar di beri kesempatan untuk menjelaskan semuanya.
"Lo....."
Tok
Tok
Tok
"Permisi, saya mau mengantar sarapan untuk ibu Felicia!" Ujar Suster masuk dengan membawa sarapannya.
"Mohon untuk dimakan ya bu, dari kemarin ibu belum makan sama sekali!" Ujar Suster menasehati.
"Apa? Dia belum makan dari kemarin?" Tanya Rendra memastikan, kenapa? Apa dia tak kelaparan? tatapannya begitu tajam mengarah pada gadis itu.
Gadis ini, cinta pertamanya. Kecewanya sungguh tak bermuara tapi akan tetap tersedia ruang kecil dihatinya untuk memastikan bahwa gadis itu baik baik saja. Terlebih takdir begitu jahat membuatnya menjadi ibu tirinya.
"Ya sus!" Ujar Felicia, setelahnya suster pamit undur diri untuk pergi.
"Kenapa lo ga makan!" Tanya Rendra.
"Gue...." Ujarnya terbata.
"Nih buruan makan, gue tungguin!" Ujar Rendra memberikan piring itu, sekarang posisi Felicia terduduk dengan bersandar di kepala ranjang rumah sakit.
"Gue gak mau makan Ndra, gue mau jelasin sesuatu ke elo!"
"Gak usah bandel, nih makan!" Ujar Rendra kembali.
"Janji ya, setelah ini lo dengerin gue!" Ujarnya lagi dengan memohon.
"Hem...."
"Nih minum!" Ujar Rendra memberikan susu coklat untuk Felicia.
__ADS_1
"Loh masih tau minuman kesukaan gue?"
"Gue gak ada waktu banyak buat lo! Kalau mau ngomong buruan!" Ujarnya tak ingin terlibat soal pembahasan ternyata masih ingat. Jelas Rendra masih mengingat semuanya dengan sangat jelas.
"Gue gak tau Ndra, harus mulai darimana ngejelasin ini semua ke elo. Gue kepaksa ngelakuin semua itu, nyokap gue ngancem akan celakain lo kalau gue gak nurutin semua ucapannya."
"Lo cocoknya jadi penulis novel, cerita karangan lo bagus juga!" Ujar Rendra.
"Gue gak bohong Ndra, gue gak tau masalah apa yang ngebuat nyokap gue ngebenci keluarga lo. Kita pacaran dari semenjak SMA, dan lo kelemahan gue Ndra. Gue tau nyokap gue gak pernah main main sama ucapannya!" Ujarnya kembali.
"Gue lemah banget ya dimata lo? sehingga menurut lo, gue gak bisa jaga diri gue sendiri. Hah...." Ujar Rendra tertawa campah.
"Ndra tapi gue..." Ujar Felicia terbata.
"Gue mual ngedenger lo ngedongeng. Gue pulang!" Ujar Rendra melangkah pergi.
Hah... omong kosong apa yang sedang di rencanakan manusia tak tau diri didalam sana.. Bualan apa!!!!
...*******************...
"Kak lo kenapa si? kok akhir akhir ini aneh! Ada masalah lo sama kak Aira?" Tanya Jelita, pasalnya kakaknya ini terlihat sibuk dan jarang sekali di rumah. Bahkan akses menghubunginya saja susah sekali. Tak seperti biasanya.
"Apa si? Gue baik baik saja sama Aira. Gue gak mau ganggu dia aja. Kan dia lagi sibuk ngurus skripsinya. Bulan depan dia mau sidang!" Ujar Rendra kembali.
"Serius kan? Lo gak bohong?"
"Buat apa si gue ngebohongin elu dek!"
"Tadi kak Aira kesini, cariin kakak. Tapi kakak gak ada!"
"Astaga.... Gue lupa!" Ujar Rendra kali ini ia terlihat panik, beberapa kali menekan nomor Aira namun sialnya tak bisa terhubung.
"Lupa apa lo? pantes tadi raut wajahnya kecewa." Ujar Jelita.
FlashBack
Pakaian dipilih dengan terbaik, kali ini sedikit memoles wajah cantiknya. Perfect.
"Cie eleh, mau kemana neng? Cantik banget hari ini!"
"Hehehe biasa, Mau ke rumah Rendra terus ke pantai!" Ujar Aira dengan jujur, wajahnya tampak berbinar dengan senang.
"Oke deh, titip bawain makanan kalau pulang ya. "
"Ogah...."
"Dih kualat lo! Titip makanan ya.." Ujarnya sedikit cemberut.
"Hahaha, siap siap.Btw pinjem mobilnya kak. Mobil gue di bengkel hehehe..."
"Lo apain sampe mobil itu masuk bengkel?"
"Hehehehe....."
"Kenapa gak Rendra aja yang kesini si dek?"
"Mau bikin kejutan aja, sekali sekali gitu aku yang jemput."
"Dih ganjennya, yaudah nih kunci mobil kakak. Hati hati ya." Ujar Annisa dengan sayang.
__ADS_1
"Siap kakakku!" Ujar Aira dengan gerakan hormat, lagu di setel dengan nada beraroma cinta didalamnya ,hatinya berbunga bunga. Ah ini waktunya yang tepat untuk menghabiskan waktu bersama Rendra, pasalnya pacarnya itu akhir akhir ini sibuk dan susah di hubungi. Ia juga sedang sibuk menyusun skripsi yang akan segera sidang bulan depan.
Tok
Tok
Tok
"Eh kak Aira, masuk!" Ujar Jelita mempersilahkan masuk.
"Kak Rendra ada?" Tanya Aira nampak malu malu.
"Kak Rendra? Loh baru aja 5 menit tadi keluar rumah. Buru buru, Emang janjian jam berapa Kak Ra?" Tanya Jelita.
"Eh itu... Ya..." Ujar Aira bereaksi bingung, pasalnya harusnya dia yang terlalu pagi bukan? Melihat Rendra dengan muka bantal dan menunggunya dengan sedikit bercengkrama dengan Bunda. alasan berkedok modus ingin jemput sekali sekali.
"Yaudah masuk kak, makan dulu. Ntar paling Kak Rendra pulang!"
"Ah ya," Ujar Aira menurut hingga 2 jam lamanya Rendra masih tak kembali untuk pulang bahkan hendphone miliknya juga tak dapat di hubungi. Hingga akhirnya Aira memutuskan untuk mencari Rendra di caffe saja.
Nihil, kecewa itu yang saat ini Aira rasakan.Tak di temukan Rendra di manapun berada.
Disisi lain, "Kok perasaan gue gak enak ya! Mau nyusul tapi bingung pake mobil apa?" Ujar Annisa, hatiny mulai tak karuan.
"Minta tolong siapa?"
"Pake taksi juga susah kayaknya! Apalagi kalau sampai malem dan harus nunggu." Ujarnya bermonolog.
"Hallo, sorry kak kalau gue ganggu lo di hari minggu? lo sibuk ga? Gue boleh minta tolong?" Ujar Annisa, pikirannya langsung menelfon ke Daniel.
"Lo mau minta tolong Apa nis?"
"Anterin gue ke pantai, tapi lo jangan salah faham dulu. Perasaan gue gak enak soal Aira, gue mau nyusulin tapi mobil gue..."
"Ote kerumah lo, 5 menit gue sampai."
***Hiks
Hiks
Hiks***
Tangis perempuan itu tergugu, kakinya di tekuk menutupi seluruh mukanya.
"Lo Jahat Rendra... Lo udah janji buat nemenin gue tapi lo!!" Ujarnya dengan nafas tersengal, seperti orang gila. untung ini sudah sore jadi pantai tak terlalu ramai orang.
Kembali tangisnya pecah.
"Dek, pulang yuk!" Ujar Annisa memanggil dengan lirih.
"Kakak, Rendra... Hiks... " Ujarnya sesenggukkan.
"Udah ya, yok pulang." Ujarnya kembali menepuk dengan sayang, berusaha menyalurkan ketenangan kepada adiknya.
"Gue anterin lo sama Aira balik nis! Soal mobil, ntar gue suruh orang buat pulangin ke rumah lo!"
"Tapi..."
"Gakpapa nis ayo..." Ujar Daniel.
__ADS_1
Gue udah nyerah dan ngikhlasin Aira ke lo sialan, kenapa lo bikin nangis dia separah ini. Awas lo!!! tangannya mengepal dendam pada sosok Rendra saat ini.
...************...