Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 20


__ADS_3

Lelah? Itu yang saat ini mendera tubuh Annisa, langkahnya begitu letih memasuki rumah. Hanya suasana hening yang langsung tercipta ketika ia masuk kedalam.


"Eh Nona Annisa sudah pulang! Bibi siapkan makannya ya!" Ujar Maid yang di pekerjakan oleh kedua orang tuanya.


"Ah ya bi, Aira udah makan?" Tanya Annisa.


"Nona Aira belum makan non, bibi ketuk pintu kamarnya juga gak keluar!" Tutur maid menjelaskan.


"Pulang jam berapa bi?" Tanyanya penasaran.


"1 jam yang lalu mungkin non."


"Yasudah saya ke kamar dulu, bibi siapan makanan nya aja, Urusan Aira biar aku yang ngajakin dia makan!" Finalnya.


Berdiam diri, memanjakan dirinya dengan air hangat beberapa sabun yang di campur atomaterapi untuk menyegarkan tubuhnya. Tak lama, 30 menit merupakan waktu yang cukup untuknya berendam dan bersiap.


Tok


Tok


Tok


"Dek ini kakak!" Ujarnya kembali mengetuk dengan pelan, namun tak ada sahutan yang ada hanyalah kesunyian.


"Dek ayo makan!" Hening....


"Dek makan, nanti kamu sakit." Hening....


"Dek, kakak mau bicara sama kamu. Gak baik kita bertengkar seperti ini!" Ujarnya kembali melirik, ketokan pintunya juga lembut meminta belas kasih untuk segera menyelesaikan masalah. Aira cenderung memiliki sifat yang keras kepala, manja dan sedikit kekanak-kanakan agaknya.


Clek! Pintu terbuka tanpa mau mempersilahkan sang kakak masuk, ah tentu saja dia akan masuk kedalam tanpa dipersilahkan bukan?


"Dek, kakak ga tau harus mulai pembicaraan dari mana." Ujarnya kembali, "Tapi, semua ini harus di selesaikan dengan segera dan jangan mengambil keputusan saat kita di liputi kemarahan. Kakak juga tak tau harus percaya kepada siapa, tapi sebuah hubungan tak baik menghadirkan orang lain jika kita berada di titik kesalahan. Meskipun orang baru tak tau, bahkan tak bersalah. Menghadirkan seseorang di tengah hubungan yang bermasalah adalah keputusan yang tidak tepat." Ujarnya kembali.


"Adik kakak udah besar nampaknya, hidup tak selalu memihak sesuai apa yang kau mau dek. Tapi apapun yang membuatmu bahagia pertahankan, dan apapun yang membuatmu merasa tak nyaman tinggalkan."


"Ayo makan..." Ujar Annisa mengakhiri pembicaraannya.

__ADS_1


"Kak..." Panggilnya lembut.


"Belajar memaafkan, dan Tuhan pasti akan mengganti yang lebih baik lagi. Kakak percaya kamu mampu menyelesaikan masalah ini!" Ujar Annisa memberikan pelukan untuk adik yang paling di sayang.


"Makasih kak dan maaf...."Lirihnya.


"Kakak yang seharusnya meminta maaf padamu!" Ujarnya mengusap sayang.


...**********************...


"Sayang ada apa?" Ujar Daniel, hari ini ia mendapatkan pesan dari Aira untuk menemuinya di taman kampus. Seperti angin segar, harapan Aira meminta balikan membuat suasana hatinya membaik dan membumbung tinggi.


"Duduk kak!" Ujar Aira tersenyum.


"Maaf, kakak...." Gagap Daniel dengan mulut terbatanya.


"Hah... Aira yang seharusnya minta maaf. Maaf kalau kemarin Aira membentak kakak , bahkan Aira belum bisa menjadi pacar yang baik seperti yang kakak inginkan." Ujar Aira melembut.


"Kamu sudah baik, aku aja yang gak pernah ngerti dan bersyukur!"Ujar Daniel kembali menunduk.


"Saling memaafkan saja kak, atas masalah kemarin. Kita masih bisa berteman kan?" Ujar Aira menatap lekat dengan senyum manisnya.


"Pacar?" Tanya Aira memastikan.


"Ya..." Jawabnya dengan jujur!


"Sorry kak, Aira gak bisa. Kita gak sama. Tapi kakak adalah orang baik dan sangat perhatian. Semoga kakak mendapatkan wanita yang mengerti tentang diri kakak. Tapi bukan aku!" Ujar Aira memberikan pengertian sesopan mungkin agar dapat di terima.


"Ra, Kamu suka dia?" Ujarnya bertanya, tak perlu menjelaskan dia yang dimaksud kan? Aira mengerti arah pembicaraan laki laki di hadapannya ini.


"Rendra namanya kak, namun untuk saat ini Tidak. Aku hanya menganggapnya sebagai kakakku, tak lebih. Tapi aku akui, dia memberikan kenyamanan bagiku. Banyak kesamaan hal yang kita sukai. Ini salahku kak, jangan salah kan dia yang hadir." Ujarnya kembali.


"Hah... Aku hargai keputusan mu Ra, tapi jika kau berubah fikiran aku masih ada untukmu, mungkin akan selalu ada."


"Tapi aku bukan orang yang suka kembali atas apa yang telah aku relakan." Ujar Aira menipis, tak ingin lagi memberikan setitik harapan pada pemuda didepannya ini soal suatu saat nanti. Tidak!!!


"Bolehkah aku memelukmu?" Ujarnya, nampaknya kalimat ini terasa canggung. "Sebagai seorang sahabat!" Sambungnya kembali.

__ADS_1


"Tentu." jawab Aira dengan tersenyum, pelukan seorang sahabat? Tak masalah bukan? Pemuda ini juga pernah memiliki beberapa kebaikan yang di berikan kepada Aira.


"Pulang kak!" Tepukan bahu membuat Rendra yang menatap sepasang insan itu untuk segera tersadar dari lamunannya.


"Mungkin kak Aira bukan jodoh kakak, Ikhlasin aja. Tak baik menganggu hubungan seseorang kak!" Ujar Jelita menasehati secara dewasa.


"Ayo..." Ujar Rendra, pertama kali di minta menjemput sang adik ke kampus, membuatnya melihat dan baru menyadari kenyataan bahwa gadis di sebrang sana memiliki tempat khusus dalam hati Rendra.


"Ke Caffe kakak ya!" Ujar Jelita.


"Hem...." Hening Rendra menjawab.


Tring..... Tring.... Tring....


Lonceng pintu caffe berdering kala Jelita dan Rendra memasukinya.


"Shut! Kakak lo kenapa?" Tanya Riziki kala melihat Rendra yang hanya diam masuk kedalam ruang kerjanya.


"Patah hati!" Ujar Jelita mempratikkan bagaimana hati bisa patah dengan menyatukan kedua tangan membentuk love dan terpisah.


"Sama siapa patah hati? Pacar aja kagak punya. Inget abang lo jomblo noh!" Ujar Rizki, kok ini sewot si. Kenapa gak percayaan.


"Ye dibilangin gak percaya, sama si onoh itu cewe yang sering di ajak kesini."


"Yang mana ealah, kan cewek banyak!"


"Dasar oon, sama cewe yang suka minun kopi gak pake gula."


"Oh sama yang itu, cantik banget si dia." Ujar Rizki membayangkan sosok Aira.


"Cantik ya sayang...."Desi datang menekan kata cantik tersebut.


"Eh engga engga, kan cewe ya cantik! kalau cowok baru tampan." Ujar Rizki gelagapan.


"Mampus, makanya itu mata jangan jelalatan apalagi bayangin yang engga engga! Hajar aja kak!" Ujar Jelita mendukung Desi sebagai pihaknya.


Rizki? Desi? kebiasaan bersama menjadikan keduanya memiliki suatu hubungan khusus. Terbiasa bersama. Biarkan cinta merajut dua insan dengan tingkahnya yang konyol itu. Hehehhee..

__ADS_1


Untuk Rendra, semoga mendapatkan kebahagiaan yang abadi....❤❤❤


...******************...


__ADS_2