
Ruangan dokter begitu mencekam kali ini, Dokter Aris sudah bekerjasama dengan salah satu rumah sakit di Indonesia atas pasiennya yang tak ingin meneteap disana. Siapa lagi kalau bukan Aira Mutiara.
"Duduk Aira, Annisa!" Ujar sang dokter ramah.
"Kenapa ya dok?" Tanya Aira tak mengerti, mengapa kakaknya sepagi ini mengantarkan dirinya bertemu Dokter Aris dan kenapa dokter ini ada di Indonesia.
"Maaf Ra, dengan berat hati saya menyatakan operasi kamu gagal Ra!" Lirihnya terlihat menyendu, gadis muda di hadapannya saat ini harusnya tengah asyik menikmati masa muda yang ia idamkan bersama teman teman lainnya, bukan memerangi penyakit.
"Oh!!!" Ujarnya nampak acuh.
"Obat yang saya berikan tidak mampu menyembuhkan penyakit kamu, tubuh kamu menolak semua obat itu. Mereka hanya bekerja untuk menyembuhkan luka operasinya dan memberikan vitamin penguat pada tubuhmu. Bukan menyembuhkan sakitmu!" Jabarnya, Entahlah soal medis orang awam terlalu tak mengerti sebab akibat mengapa kenapa suatu obat di tolak dan tak mau bekerja secara maksimal.
"Hanya itu? saya mau pulang saja dok!" Ujarnya nampak acuh.
"Dek kamu ini ya...." Sengit Annisa kala melihat respon sang adik biasa saja.
"Saya permisi! Kak aku ingin sendiri!" Pamit Aira tanpa persetujuan keduanya.
"Airaaa!!!" Panggil sang kakak.
"Biarkan dia, mungkin informasi ini sedikit membuatnya terguncang. Biarkan dia sendiri dulu nis!" Titah sang Dokter, membuat pasien untuk tak setres juga memberikan dampak positif pada dirinya.
"Tapi dok!" Ujarnya tak enak.
"Jangan meresa tak enak, saya sudah terbiasa menghadapi pasien seperti itu dengan segala tingkahnya. Aira seharusnya tak berjuang dengan penyakit ini, dia harusnya bisa bersenang senang seperti temannya." Dokter Aris begitu berwibawa memberikan sebuah nasihat.
Kakinya melangkah lemah untuk tetap berjalan keluar rumah sakit, pikirannya bercabang.
"Kakak mau permen?" Anak kecil mendekat ke arah Aira yang tengah terduduk di taman rumah sakit. Baju rumah sakit masih melekat ditubuh kecilnya, wajahnya sedikit pucat tapi tak ada selang infus ditangannya.
__ADS_1
"Eh? ah?" Gugu Aira merasa aneh.
"Jangan sedih, kata Bunda kalau sedih kasihan langitnya nanti jelek warnanya! Gak cerah lagi!" Celotehnya di rasa aneh kala di dengar oleh Aira.
"Eh?" Masih belum mengerti dan harus bersikap seperti apa untuk situasi macam ini.
"Ini ambil, namanya permen kesehatan!" Permen kecil rasa strawberry diberikan dengan senyum seindah mungkin, sedikit paksaan.
"Makasih, orang tua kamu dimana? Bundamu kemana? Kakak antar ya!" Ujar Aira.
"Bunda jauh di atas sana kata bibi, sama Ayah juga." Tunjuknya pada langit.
"Eh? kamu tinggal dengan siapa? dan kenapa disini?"
"Tinggal di panti sama bibi. Ah aku? disini? Karena sakit, bukankah orang yang dirumah sakit selalu sakit kan? Kakak juga sakit kan, buktinya aja kakak ada disini!" jawabnya polos.
"ya.... Kamu sakit apa?" Gemas Aira.
"Kenapa gak minum obat, ntar kamu gak sembuh lo!"
"Iya bibi juga bilang sama aku gitu. Tapi kalau aku gak sembuh kan aku bisa ketemu Ayah sama Bunda, mereka pergi juga karena sakit dan gak mau minum obat. Lagian rasa obat itu pamit. Aku gak suka." Ujarnyan mengerucutkan bibir.
"Biar sembuh dan gak sakit makanya disuruh minum obat! Kalau sembuh kan bisa main sama temen yang lain." Ujar Aira menasehati.
"Hem? Gitu ya kakak. Yaudah aku masuk dulu ya. Bye kakak cantik, dimakan ya permennya!" Kaki kecil itu melangkah pergi.
"Anak kecil tadi sakit leukimia mbak sudah sampai stadium akhir. Dia disini juga karena bantuan dari beberapa donatur yang bermurah hati. Banyak orang yang dia kasih permen kalau lagi duduk disini sendiri!" Seorang suster menjelaskan, seolah ia tahu kebingungan yang di pikirkan Aira.
"Suster dengar semuanya?" Tanya Aira heran.
__ADS_1
"Hahaha, tidak mbak. Tapi saya salah satu suster yang merawat dia disini, jadi saya tau semua kebiasaannya. Saya pergi dulu ya!" Pamitnya melangkah masuk.
Bukankah dirinya lebih beruntung dari Anak kecil tadi yang harus berjuang tanpa sosok keluarga, ada tapi hanya bibi dan orang asing. Sedangkan dia punya kedua orang tua, tak lupa sang kakak yang selalu ada untuknya.
...Aku akan berjuang untuk sembuh kak!!...
"Rendra!" Baru saja kakinya melangkah untuk ingin segera pulang, ia melihat sosok Rendra yang saat ini tengah berjalan masuk ke rumah sakit.
"Kenapa dia disini?" Bathin Aira. Ikuti saja daripada penasaran, mungkin saja untuk cek up Bunda ya kan? ujarnya masih berfikir positif.
Kakinya melemah kala melihat raut wajah Rendra yang menyendu di dalam ruangan, tangan nya menggenggam tangan Felicia dengan begitu tulus, jelas terlihat dari sorot matanya. Apakah benar bahwa Rendra masih mencintai gadis itu.
Clek!!!!
"Kau pasti haus kan? Minumlah!" Ujar Aira menyerahkan sebotol air mineral pada Rendra.
"Ra, aku...."
"Gpp, kamu gak perlu menjelaskannya!" Senyumnya.
"Gue kasihan sama dia Ra, dia udah gak punya siapa siapa lagi di dunia ini dan lebih parahnya dia sakit kayak gitu. dokter bilang kedua ginjalnya sudah gak berfungsi. Aku cuman kasihan aja Ra!" Mulut itu masih menjelaskan meski Aira tak meminta.
"Kalau dia pergi kamu sedih?"
"Ra kok ngomongnya gitu, ya sedihlah. Aku sudah menganggap dia temen aku. Cuman pengen dia sembuh dan hidup bahagia dengan yang lain. Kamu tetap menjadi orang yang aku cintai Ra, hanya bersamamu aku ingin menua!" Ujarnya kembali dengan jujur.
...Menua? aku meragu bisa menemani Ndra.......
"Kamu kurang tidur ya?" Tanya Aira, gadis ini tak menanggapi apapun. Biarkan sejenak ia melupakan bahwa keduanya tengah bermasalah.
__ADS_1
"Rindu kamu! Aku gak bisa tidur gara gara kita bermasalah Ra!" Jujurnya, tubuhnya tanpa permisi memeluk Aira menghirup harumnya wangi tubuh gadis yang di rindukannya. "Biarkan seperti ini Ra, aku sayang kamu!" Pintanya lirih. Usapanya begitu lembut terkulur membalas pelukan Rendra.
...Apa kamu juga akan sedih kalau aku gak ada di hidup kamu lagi Ndra???...