Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 50


__ADS_3

"Brengs*k!" Beberapa peralatan dan lembar dokumen bertebaran dimana mana, Rendra mengamuk meluapkan segala emosinya.


...Gue berusaha keras buat buktiin ke elo Ra, gue gak salah. Gue cuman pengen peduli aja sebelum dia mati. Gue gak mau punya kesan jelek ke orang. Gue sayang ke elo. Kenapa lo malah giniin ke gue. Sialan... Kenapa lo mau mau aja di peluk sama dia. Kurang gue apa Ra!!!! kurang gue apa.... Apa karena dia punya perusahaan dan pewaris tunggal sedangkan gue cuman punya cafe ini.. Kenapa ra!!!!!!...


Semua kalimat yang merasa dia adalah orang yang tersakiti dan paling menyedihkan di dunia ini. Rendra...


"Dimana kakak gue?" Jelita datang dengan nafasnya yang memburu.


"Tu di ruangan, gila kakak lo. Ngamuk ngamuk mulu dari tadi siang makanya jam segini cafe udah gue tutup!"


"Lo gak berusaha ngehubungin kak Aira!" Tanya Jelita.


"Udah gue coba tapi ga bisa!" Pasrah Rizki.


"Oke tunggu disini. Gue mau masuk kedalam dulu!" Ujarnya lagi.


"Siap deh, buruan sono. Gue mau bantu tapi ngeri juga, salah salah gue yang jadi samsaknya!" keluh Rizki. Kaki Jelita perlahan melangkah masuk kedalam, ruangan tersebut sangat kacau. Semua berserakan dimana mana, ada beberapa benda yang pecah dan teronggok tak percuma.


"Kak!!!" Panggilnya lirih.


"Kak!!!" Masih tak ada sahutan di sebrang sana.


"Pulang kak, Bunda nyariin. Kakak gak boleh kayak gini. Kalau ada masalah harus di selesaikan dengan baik baik Ka!" Kali ini Jelita memegang lembut bahu sang kakak dan memeluknya.


"Kakak kehilangan Aira, dia jahat. Dia sama dengan wanita itu, dia berpelukan dengan Daniel. Dia sama!" Bayangan pengkhiatan kembali menghantui Rendra, rasanya bertambah sakit. Bagaimana bisa orang yang dia anggap penyembuh kini malah memperdalam trauma itu.


"Kakak masih ada Jelita dan Bunda, kakak gak boleh gini. Jelita percaya kakak Aira berbeda, kakak jangan mengambil kesimpulan seperti itu. Jelita akan bantu!"


"Gak dia sama sama!" Tubuh Rendra bergetar hebat.


"Pulang kak, pulang jangan kayak gini lagi. Jelita takut!" Lirihnya dengan tangis tertahan, setelah perdebatan yang menguras air mata akhirnya Rendra mau untuk diajak pulang meski sepanjang perjalanan hanya kesunyian yanh menghiasi keduanya.

__ADS_1


"Minum vitaminnya dulu kak, setelah itu kakak istirahat jangan memikirkan apapun. Masih ada Jelita dan Bunda, Jelita janji akan membantu kakak!" Bagai anak burung, Rendra hanya mampu menganggukan kepala tanpa berniat ingin menjawab.


...Hah,..... Kenapa kilasan masa lalu terulang lagi, ada apa sebenarnya yang terjadi dengan hubungan Kakaknya dan Aira....


...******************...


Seminggu berlalu, sang kakak masih tetap sama diam dan tak bisa diajak komunikasi seperti biasanya. Bunda menatap sendu putra sulungnya saat ini.


"Jelita pamit dulu Bunda!" Salimnya berangkat.


Mobil miliknya melaju ke suatu tempat, ini sudah ketiga kalinya mendatangi rumah milik Aira. Tapi yang ia dapati sunyi senyap tak ada tanda kehidupan disana. Rumah itu seakan sudah lama ditinggal oleh pemiliknya.


Berbagai pertanyaan muncul di benak Jelita, apa memang benar bahwa Aira sudah tak peduli lagi dengan sang kakak. Apa benar?


Nafasnya begitu frutasi lagi dan lagi ia harus menahan pil pahitnya kegagalan.


"Jelita!" Pria paruh baya itu memangil membuatnya mengalihkan sorot matanya.


"Dimana kakak mu, kenapa kau disini!" Ujarnya bertanya.


"Papa...."Air mata gadis kecil ini sudah tak mampu untuk di bendung, pelukannya mengerat pada Papanya.


"Hey kenapa dengan putri Papa!" Pria paruh baya ini bertanya.


"Kakak!" Gugupnya, harus darimana ia menjelaskan semua yang sudah terjadi dengan kakak sulungnya.


"Kita kerumah mu sekarang ayo!" Putus sanh Pap, hubungan keduanya sudah membaik beberapa bulan yang lalu, kala Papa nya dengan rutin berkunjung kerumah miliknya.


Selama mobil melaju, Jelita menjelaskan kiranya biduk permasalahan yang tengah di hadapi oleh kakaknya. "Dia gadis baik Pa!" Kata itu terus mengudara dari bibir Jelita, ia tak ingin nama Aira jelek dimata Papanya.


"Baiklah ayo turun temui kakakmu!" Ujar sang Papa menemani Jelita masuk kedalam rumah.

__ADS_1


"Kalian? Ayo masuk!" Bunda menyambut keduanya dengan tangan terbuka, percuma juga tetap membenci, semua tak akan mengubah apapun hanya akan menjadi penyakit hati yang terus tumbuh.


"Dimana Rendra?" Tanya Papa pada kedua wanita disana.


"Kamar!" Lirih Jelita.


"Biar Papa yang menemuinya!" Ujar Papa, kakinya melangkah masuk kedalam kamar menemui putra sulungnya.


"Hanya karena wanita kau seperti ini, Kau memang pantas di tinggalkan!" Kalimat sambutan yang begitu tertohok mengenai ulu hati Rendra, tapi pemuda ini masih tak bergeming.


"Bangun!!! kenapa masih disini? Untuk apa? Kau memang tak pantas mendapatkan cinta Aira, pemuda lemah sepertimu cih.... " Ujarnya masih mencibir.


Plak!!!!


Pukulan di hahu, tak begitu keras tapi mampu membuat Rendra mengalihkan sorot matanya mengahadap Papanya.


"Jangan seperti pecundang, kau bukan laki laki lemah. Kau mencintainya bukan? Bangun dan terimalah seluruh kekayaan Papa. Kau juga punya harta dan kekuasaan untuk mendapatkan gadis itu. Apapun yang membuat mu bahagia!!! Rebut dia!!! Papa membantu mu son!!!" Kalimat itu meyakinkan.


"Pa..." panggilnya lirih.


"Jangan lemah, kau mencintainya bukan?" Pertanyaan itu dijawab dengan anggukan lemah.


"Rebut dia, sejak awal dia milikmu. Paksa di tetap bertahan menjadi milikmu!"


"Tapi pa...."


"Tak ada tapi tapian, apapun yang membuatmu bahagia kau harus mendapatkannya meski caranya kotor."


"Pa, Hiks..." Tangis yang ditahan kemudian tumpah ruah, pemuda ini ternyata rapuh juga. Tubuhnya memeluk sang Papa untuk mencari semangat.


...******************...

__ADS_1


__ADS_2