Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 53 END


__ADS_3

"Ini ya obat yang harus adikmu minum, saya sudah resepkan lagi." Titah Dokter Aris, lagi dan lagi tubuh Aira menolak semua obat yang ada.


"Baik dok!" Pacsa operasi di hari ke 7 Aira memutuskam untuk pulang ke rumahnya.


Kaki Annisa melangkah pergi, bergerak cepat untuk menebus obat tersebut dengan segera.


"Aira!!!!" Pekiknya langsung mencekal pergelangan tangan Annisa, sial saking rindunya Rendra tak dapat membedakan Aira dan Annisa. "Jadi kamu milih dokter ini daripada aku? Seleramu!" Perkataan Rendra membuat Dokter Aris berkerut. Memangnya apa? Kenapa?


"Biarkan saya yang menanganinya dok, saya mengenalnya, dia adalah teman saya." Ujar Annisa.


"Baiklah saya pergi dulu!" Pamitnya dokter Aris.


"Ikut gue!" Ujar Rendra menarik paksa.


"Lepas! Gue bukan Aira!" Ujarnya. Perkataan itu mampu membuat Rendra menghentikan langkah kakinya. "Liat pake mata lo! GUE ANNISA BUKAN AIRA!!!!" Ujarnya nampak galak.


"Sorry gue..."


"Gue gak ada waktu buat lo, gue harus pulang dan terimakasih!" Ujar Annisa berlari, kakinya melangkah pergi meninggalkan Rendra.


"Ikuti dia! Laporkan apa yang dia lakukan kepadaku." Titahnya di ujung telfon kepada asisten pribadinya.


"Baik tuan!" Ujarnya lagi.


...Nona sedang berada di apotik tuan, dia membeli berapa obat obatan....


20 Menit kemudian


Asisten nya membagi lokasi keberadaan Annisa, Pantai? mengapa tak terpikirkan oleh Rendra sebelumnya. Bodoh!! Ujarnya lagi.


...Pasti Aira ada disana...


"Kena lo!! Dimana Aira!" Ucap Rendra yang saat ini melihat selulet Annisa keluar dari sebuah rumah. Ditangannya menenteng sejumlah obat obatan.


"Lepasin!"


"Aira dimana!!!"


"Gue ga tau, pergi dari sini. Plis!!! Lo pergi."


"Gak, gue gak akan pergi. Gue akan ngikutin kemana lo pergi. Kasih tau gue, Aira dimana nis!"


"Hah.... Kenapa lo nyari dia sekarang! Liatlah. Lo punya segalanya Ndra, cewek manapun akan mau jika lo tembak. Lupain adek gue."


"Gue gak bisa, gue cinta sama adik lo! Kasih tau gue dimana Aira nis!" Katanya memohon, setelah perdebatan kolot akhirnya Annisa mau memberitahu keberadaan adiknya.


"Gue bakal kasih tau lo dengan syarat. Lo gak boleh ngeluarin sedikit air mata lo ketemu adek gue!" Ujar Annisa yang langsung di angguki oleh Rendra, apapun yang terpenting ia bisa bertemu dengan Aira terlebih dahulu.


"Lo bawa gue kemana si? ngapain ke pantai? Kita kan harusnya masuk kerumah!" Cercah Rendra.


"Itu Aira!" Tunjuknya pada gadis yang tengah duduk dikursi roda, ditanganya tergenggam alat lukis sederhana.


"Dia sakit?" Tanya Rendra.

__ADS_1


"Ya, kanker kelenjar getah bening. Sudah 6 bulan terakhir." Ujarnya lagi.


"6 bulan itu berarti?" Ujar Rendra menerka waktu.


"Momen liburan ke singapura, itu samua kebohongan. Dia kesana untuk berobat." Jujur Annisa. "2 kali dia melakukan operasi dan semua nya gagal. tubuhnya tak mau menerima obat obatan." Ucap Annisa.


"Tapi selama ini dia kelihatan baik baik saja."


"Lo terlalu sibuk dengan mantan lo yang sakit, sampai lo sendiri gak sadar pacar lo juga sakit. Gue tau segalanya. Dan lo udah tau semua sekarang, gue harap didepan dia lo jangan nunjukin kalau lo kasihan. Dia paling gak suka!" Peringatan Annisa pada Rendra.


"Udah ngelukisnya?" Tanya Annisa.


"Udah kak." Jawabnya tersenyum senang.


"Nih minum obat dulu!" Ujar Annisa menyedorkan pil obat yang harus ia minum.


"Kak, Aira tak mau."


"Gak boleh gitu sayang, kakak kan sudah susah payah beliin ini buat kamu!" Ujarnya lagi.


"Hem... Yasudah!" Ucapnya meminum obat.


"Ada yang ingin bertemu kamu." Tunjuknya membuat Aira menoleh sesuai arah telunjuk kakaknya.


"Kakak kau melanggar janji!"


"Maaf dek, tapi kita tak sengaja bertemu dia yang membuntuti kakak sampai sini." Jujurnya. "Kakak tinggal ya, silahkan kalian mengobrol dulu!".


"Hai.... Lama tak bertemu Ra, Apa kabar?" Tanyanya. Beberapa kantung mata terlihat begitu jelas, pipi chabi kesayanganya menghilang. Aira begitu kurus dengan kulit putih pucat. Bibirnya mengering.


"Hai?" Gugupnya dengan canggung, wajahnya tertunduk malu.


"Kamu gak mau lihat aku Ra!" Tanyanya lagi.


"Kenapa kamu kesini, kenapa nemuin aku lagi! Pulang Ndra!" Titahnya lirih. Gadis ini terlalu malu, otaknya berputar kapan terakhir dia mandi. Tubuhnya sudah tak berdaya, hanya sang kakak yang sesekali mengelap tubuhnya agar telihat bersih.


Tubuh dingin itu menghangat, rupanya Rendra memberikannya sebuah pelukan. "Kenapa Ra, kenaoa lo hukum gue kayak gini. Kenapa lo ga cerita ke gue Ra." Tangisnya pecah, rasa sesal itu kian sangat nyata.


"Pulang Ndra, gak seharusnya kamu disini. Felicia menunggu kamu dirumah sakit. Dia lebih membutuhkanmu!" Ujarnya mengurai pelukan itu namun sial tak ada kata sedikit pun mengendur. Jika boleh jujur, Aira juga merindukan pelukan hangat ini. sangat.


"Plis Ra, Maafin gue maaf. Gue bodoh Ra!"


"Jangan nyalahin diri kamu sendiri Ndra, aku baik baik saja."


"Lo harus sembuh gue bakal ngelakuin apapun itu."


"Aku udah 2 kali ngelakuin operasi Ndra, rasanya sakit harus dilukai dan menutup luka. Apalagi kemo, peralatan itu ngebuat gue seperti ini. Rambut rontok, kurus!" Katanya masih lembut.


"Pukul gue Ra , pukul gue!!!! Tapi jangan pernah tinggalin gue Ra, gue sayang, gue cinta sama lo. Jangan hukum gue dengan kayak gini!" Ujarnya mengurai pelukan, tatapan matanya mereka bertemu. Kedua tangan Rendra mengusap lembut beberapa air mata yang tersisa.


"Kamu gak cinta sama aku Ndra, kalau kamu cinta sama aku. Kamu pasti akan percaya, tapi faktanya kamu memilih pergi tanpa mau mendengar pejelasanku sedikit pun."


"Ra, maaf...."

__ADS_1


"Pulang Ndra, aku bukan lagi rumah yang kau inginkan. Kita sudah berpisah dan kamu setuju!"


CUP!!!


Ciuman itu membungkam mulut Aira, pukulan tangan di dada Rendra membuat pemuda itu tak mau melepaskannya. Hingva nafas keduanya tersenggal, Rendra baru melepaskannya.


PLAK!!!!!


"Pulang Ndra, aku bukan wanita mu lagi jangan seperti ini!"


"Berhenti bilang kayak gitu Ra gue mohon, gue udah buktiin ke elo. Gue sukses seperti saat ini harusnya lo juga buktiin ke gue bakal nemenin gue! Kita nikah dan punya keluarga dengan lo yang selalu ada buat nyambut gue pulang dari kantor."


"Maaf Ndra, maaf gue gak bisa."


"Lo bisa dan lo akan sembuh."


"Bisa bantu aku berdiri?" Tanya gadis itu malu malu.


"Tentu." Dengan sigapnya Rendra membantu.


"Jangan natap aku kayak gitu Ndra, aku jelek!" Peringat Aira.


"Kamu tetap menjadi wanita tercantik bagiku!" Ujarnya.


"Boleh peluk?" Mintanya.


"Tentu!" Sambut Rendra.


"Dengerin aku ngomong ya, jangan di lepas pelukan ini, aku Rindu!" Candanya.


"Ya, aku tak akan lagi melepas pelukan ini, aku akan memintanya padamu setiap hari."


"Setiap pagi atau sore hari, setelah kita bertengkar aku selalu pergi kepantai ini. aku selalu menunggu kamu disini. Menanti sebuah keajaiban kau akan kesini mencariku. Dan ternyata kau kesini mencariku! Tuhan baik sama aku ya Ndra!"


"Dan mulai sekarang aku akan terus berada di sampingmu."


"Jangan menyela ku Ndra, dengarkan semuanya!" Peringat Aira.


"Maaf."


"Setiap aku melihat anak kecil, aku menginginkan sebuah waktu dimana aku dan kamu mengandeng sosok malaikat kecil di tengah kita. Menikah, berkeluarga dan menua bersama. Tapi nampaknya Tuhan marah padaku karena terlalu mencintaimu. Dia bahkan tak memberiku bahagia, selalu saja aku mau tak mau membagimu dengan Felicia." Jedanya.


"Saat melihat mu khawatir dengan Felicia, aku selalu bertanya apa kau juga akan khawatir seperti itu jika melihatku sakit? Ndra, aku minta maaf. Jangan salahkan siapapun. Maaf mungkin aku tak bisa menemanimu menua bersama, berbahagialah. Jangan sia siakan hidupmu. Jangan pernah menangis jika kamu mengingat tentangku, aku sudah bahagia diatas sana. Koki kesayanganku dan kau milikku. Aira Mutiara akan selalu mencintai Tuan Rendra. Love you!" Ujarnya.


18.00 WIB gadis cantik bernama Aira Mutiara, Ia sudah sembuh dari penyakitnya. Tak ada lagi obat yang harus di telan atau serangkaian kemoterapi yang menyakitkan. Dia pulang kepada sang pencipta. Tidur untuk selamanya.


"Aira!!!!!!!!!" Tangis nya tergugu, badan pemuda itu ambruk terduduk. Pipi ditepuk dengan pelan, NIHIL mata itu sudah terpejam untuk selamanya.


Kata cinta yang tak sempat terbalaskan.


Selamat pergi Aira dan selamat tertidur untuk tak bangun kembali, Gadis baik yang selalu peduli dengan sekitar. Aku percaya, Tuhan menempatkan mu pada tempat terbaik di sisinya.


...~ END ~...

__ADS_1


__ADS_2