Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 23


__ADS_3

Nikmati liburanmu, begitu pikirnya. Mulai sari berlibur di beberapa daerah pegunungan, ataupun berdiam diri di rumah bersama dengan keluarga.


Ini masa liburan perkuliahan akhir semester ganjil dan tahun baru, masih ada 2 minggu lagi untuk


Aira, Annisa dan Daniel memasuki perkuliahan di semester 6.


“Dek mau kemana?” Ujar Annisa.


“Biasa kak, hehehe….” Sudah seminggu ini Aira membantu Rendra melayani beberpa pengunjung di cafe miliknya. Gadis ini Nampak susah


untuk di nasehatin nampaknya.


“Ra, duduk aja disini. Kalau mau bantuin hitung dan terima uang saja!” Ujar Rendra karena ia takut Aira akan kecapekan jika membantunya seperti ini.


“Hehehe.... gak capek kok. Its okey sayang.” Ujarnya mengedipkan sebelah mata dengan genitnya kearah Rendra. Ah anak ini semakin menggemaskan saja setiap harinya.


Malam minggu suasana cafe miliknya akan ramai lebih dari biasanya. Biasa, di peduni dengan muda mudi yang di mabuk asmara. Terkadang Jelita juga harus membantu untuk melayani beberapa pengunjung. Untuk sekarang kekompakan kakak beradik tersebut tak dapat di ragukan lagi.


Hubungannya Aira dengan Jelita sudah membaik, “Kak Ra pengen ya?” Ujarnya berbisik di telinga Aira kala Jelita melihat pandangan gadis itu mengarah pada grup anak muda yang sengaja di sewa untuk menambah suasana agar lebih menyenangkan.


Strategi marketing agar pengunjung membludak memenuhi cafe miliknya.


“AH engga!” Ujar Aira Nampak malu malu.


“Udah sana, Jelita jagain kasirnya. Jelita tau kak Ra kan suaranya bagus!” Ujarnya kembali.


“Takut ngecewain, nanti kalau suara kakak membuat para pengunjung gak suka gimana!” Takutnya Aira, gadis ini masih saya tak percaya bahwa dia memiliki suara yang indah.


“Udah gak usah peduliin itu kak, karena gak mungkin. Suara kakak tu bagus.” Ujar Jelita meyakinkan Aira.


“Tapi…..” Ragunya.


“Udah sana.” Tarikan tangan Jelita membawa Aira untuk mendekat kearah penyanyi tersebut dan membisikkan bahwa Aira ingin menyumbangkan lagu.


Salah satu vokalis mulai bersuara, “Oke teman-teman, kakak adik ataupun mas mbak yang ada disini, yang tengah di mabuk cinta akan ada lagu yang dibawakan oleh kakak cantik satu ini.


Namanya siapa?” Tanya Vokalis begitu ramah guna menarik arah mata pengunjung.


“Perkenalkan nama saya Rara, maaf sebelumnya kalau suara saya tak bagus. Dan selamat mendengarkan.” Ujarnya masih gugup.


“Oke, kita tampilkan Nona Rara cantik!” Ujarnya tersenyum.


“Dekkkkk……….” Panggil Rendra membuat sang adik mengarahkan pandangan nya seolah tau, bahwa sang kakak meminta penjelasan atas apa yang


telah adiknya perbuat sehingga membuat Rara ada di panggung sana.


“Tenanglah kak.” Kedipan Jelita di tujukan pada kakaknya.


Petikan alunan gitar dan keterampilan piano beradu membentuk nada yang indah dan mengalun, yang kan mengiri setiap bait yang Aira nyanyikan.


Waktu pertama kali , Kulihat dirimu hadir


Rasa hati ini inginkan dirimu


Hati tenang mendengar, Suara indah menyapa


Geloranya hati ini tak kusangka


Rasa ini tak tertahan , Hati ini selalu untukmu


Reff……


Terimalah lagu ini, Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga, Aku tak punya harta

__ADS_1


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu


Hari-hari berganti, Kini cinta pun hadir


Melihatmu, memandangmu bagai bidadari


Lentik indah matamu


Manis senyum bibirmu


Hitam panjang rambutmu anggun terikat


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


“Terimalah cintaku yang


luar biasa…….. Hm-mm……… Tulus padamu………”


Suaranya indah mengalun untuk bait terakhir. Sangat sempurna. Beberapa pasang


mata menatap kagum sosok Aira yang mampu mengetarkan hati lewat untaian bait


lagu.


“Kedip bang kedip, gitu


banget!” Ujar Jelita menyenggol tubuh Rendra yang tampak diam dan kaku dengan


keterkejutannya.


“Kok gue gak tau ya dia


“Kak Rara tu gak pernah mau nyanyi, padahal suaranya bagus, Jelita aja baru tau dulu pas maba. Kengen Jelita sama suaranya kak Rara, makanya hehehe…….” Jujur sang adik, ah Nampak sangat kurang ajar.


“Jangan paksa dia nyanyi lagi dek, awas kamu.” Ujar Rendra, kali ini sudah dalam mode siaga karena beberapa orang khususnya kaum adam meneriaki bagus dan memintanya kembali menyanyikan sebuah lagu


“Dih apaan si kak, kak Rara aja gak keberatan.” Ujar sang adik membantah.


“Kak Ra, ayo nyanyi lagi!” Memang Jelita sosok adik yang tak tau diri nampaknya, teriakannnya begitu keras membuat Aira menoleh ke arahnya dan matanya mengarah pada sosok Rendra yang tak jauh dari sana.


“Ayo dong Kak Rara, boleh kali tambah satu lagu lagi!” Sang Vokalis band malah membuat suasana semakin ricuh untuk menambah lagu, dengan anggukan lemah akhirnya Aira menyetujuinya.


Ah tau aja apa yang diinginkan, sungguh gadis yang sangat pengertian.


“Terimakasih, saya akan menyanyikan satu lagu lagi untuk seseorang!” Ujar Aira menjeda, ricuhnya ingin tau siapa seseorang itu.


“Pertemuan pertama, saya di


marahi olehnya! Mengesalkan bukan?” Ujar Aira dengan ekspresi lucu dan disambut


tawa dari beberapa pengunjung.


“Eits, tapi dia benar pria baik, sungguh. karena dia menjaga seseorang yang disayanginya. Dan lagu ini saya khususkan untuk dia dengan judul BUKTI.” Ujar Aira kembali dan memulai lagunya.


Memenangkan hatiku


*b*ukanlah Satu hal yang mudah


Kau berhasil membuat


Ku tak bisa hidup tanpamu


Menjaga cinta itu

__ADS_1


bukanla, Satu hal yang mudah


Namun sedetik pun tak pernah kau


Berpaling dariku


Beruntungnya aku, Dimiliki kamu


Kamu adalah bukti


Dari indahnya paras dan hati


Kau jadi harmoni saat kubernyanyi


Tentang terang dan gelapnya hidup ini


Kaulah bentuk terindah


Dari baiknya Tuhan padaku


Waktu tak mengusaikan tampanmu


Kau lelaki terhebat bagiku


Tolong kamu camkan itu


Meruntuhkan egoku bukanlah, satu hal yang mudah.


Dengan kasih lembut kau pecahkan,


Kerasnya hatiku.


“Beruntungnya aku, Dimiliki


kamu….” Ah nada indah itu masih mengalun merdu dalam telinga Rendra, gadis itu memang tak akan bisa kemana-mana lagi. Dia akan selalu ada disamping Rendra, selamanya dan selalu.


Tak lebih godaan dari sang adik, ayolah itu sangat menyiksa. Bagaimana bisa beberapa kata yang tak


pantas terlontar, lebih dari hinaan. “Kalau gue jadi kak Rara kagak mau sama


cowo yang lelet kayak kakak gini!” Oh tuhan jika Jelita bukan adiknya, niscaya


sebuah kue pasti sudah mendarat untuk membungkamnya.


“Sorry ya kak, kalau


aku bikin caffe kamu berisik.” Ujar Aira yang saat kini beradapan dengan Rendra,


tatapan laki-laki itu sulit diartikan dan jelaskan.


“Kamu harus menjelaskannya, sejak kapan kamu bisa bernyanyi sebagus itu. Kenapa? ARghhh”


Ujarnya frustasi, harusnya Rendra lebih tau dulu dan mendapatkan sebuah lagu sebelum Aira menyanyi di depan umum seperti tadi bukan?


“Kak ah apaan si, ya kan kakak gak tanya selama ini, lagian suara ku juga gak bagus banget.” Ujar Aira nampak malu.


“Bagus Ra, banget… aku…” Ujar Rendra tertahan kala handphone milik AIra berdering di ujung sana.


“Bentar kak.” Ujar Airaa sedikit menjauh dari keramaian cafe agar terdengar jelas.


“Ya kak, Aira sekarang kesana!” Ujarnya lagi. Sebelum pergi Aira pamit dengan semuanya secara tergesa gesa.


“Ra, are you okey?” Tanya Rendra khawatir.


“Semua baik-baik saja kak, aku pulang dulu nanti aku kirim pesan kalau udah sampai rumah. Gak enak kakak udah nunggu didepan. Bye.....” Langkahnya cepat sedikit berlari.


“Hati-hati……”Ujar Rendra.

__ADS_1


...***************************...


__ADS_2