
"Hai sayang?" Sapa Daniel kala Aira ingin pergi dari rumahnya.
"Kak?" Tanya Aira menyerit heran. "Kok ga bilang mau kerumah? Aku mau pergi loh!" Tutur Aira dengan jujur.
"Ketaman lagi kan? Ngasih anak jalanan yang... itu makan." Potong Daniel berusaha memperbaiki kalimatnya.
"Ya kak"
"Yaudah hati hati ya..." Ujar Daniel tersenyum lembut pada kekasihnya tak lupa tangan nya mengusap penuh sayang.
"Kak...?"
"Apa sayang?"
"Itu..."
"Gakpapa, aku tungguin dirumah. Aku juga ada tugas magang yang harus di kerjain sama kakakmu. Pulang cepat ya. Aku tungguin." Senyum itu masih di layangkan dengan sangat manis.
"Oh gitu. Yaudah Aira duluan ya..." Jawab Aira.
"Ya bye sayang!" Ujar Daniel, lambaian tangan itu tertuju hingga saat Aira hilang di ujung perempatan gang depan.
Melangkah masuk, seperti layaknya Tuan Rumah. Aira sudah mengizinkannya, dan ART yang bertugas pun menyuruh Daniel untuk menunggu di ruang tamu.
"Kak, loh gak ikut Aira?"
"Kagak nis, gue mau bahas tugas aja buat besok di kantor sambil nunggu Aira pulang!" Jawabnya dengan jujur.
"Kan bisa nanti?" Tanya Annisa heran.
"Gue masih ga bisa nis, lebih baik gue bahas ini aja. Terus ngajak adik lo ke mall kalau dia udah pulang dari taman nanti."
"Oh, yaudah tunggu bentar kak, aku ambilin hasil analisisku, nanti koreksi aja bener atau engga!"
"Oke nis, tenang aja gue tungguin disini."
Seperti layaknya pasangan kekasih memang, saling membantu satu sama lain. Banyak kesamaannya. Berbanding terbalik dengan Aira sang adik. Hingga keduanya tak sadar bahwa Tuan Baskoro sudah kembali kerumah bersama sang istri. Melangkah masuk kedalam kamar untuk membersihkan diri, ia juga tak mau menganggu putrinya terlebih dahulu.
...***************...
__ADS_1
"Hai adik adik!" Ujar Aira senang, "Gimana kabarnya? Sekolahnya gimana?" Ujar Aira ramah, beberapa menjawab dengan riang dan ceria, dan ada beberapa yang menunjukkan tugasnya untuk di koreksi apakah sudah benar atau belum menurut Aira.
"Hay!" Sapa Rendra dengan sengaja mendudukkan dirinya disamping Aira.
"Hai kak Rendra...." Sapa semua anak, senyum itu.
"Nih, permen buat lo! Biar hari ini cerah dan penuh kemanisan!"
"Diabetes dong gue makan permen mulu!"
"Aelah. elu cewe kagak bisa di ajak becanda."
"Hahahhaa.." Senyum Aira menunjukkan gigi putih rapinya.
"Eh bukannya itu mobil pacar lo? Gak lo ajak tadi ke taman? Kenapa?" Tany Rendra kala ia mengantar Aira pulang.
"Oh, Ada urusan sama kakak gue katanya."
"Hem, yaudah gue balik. Ati ati bawa sepedanya."
"iya kak, makasih ya..."
"Oke santai aja, gue balik ya.. Bye..." Pamit Rendra dengan sopan.
"Dek ih, kebiasaan. Bersih bersih dulu sana!" Tegur Annisa.
"Hehehe... ya maaf, kelihatan seger banget jus kakak ya aku minum lah dari pada mubazir."
"Udah sana mandi..." Tegur Annisa lagi pada adiknya. "Sayang mandi dulu, cuci tangan dulu!" Sewot Daniel.
"Hem.. Ya tuan dan nyonya saya mandi dan mohon undur diri!" Ujar Aira membungkuk dengan hormat dan kembali kekamarnya untuk membersihkan diri sendiri.
Clek!!!
Pintu terbuka yang menampilkan Aira leluar sudah dalam keadaan bersih, jamnya makan siang dong ini..Pasti bibi sudah menyiapkan beberapa hidangan yang menggugah selera untuk kita semua. Bathin Aira membayangkan berbagai macam menu yang ada di otaknya.
"Ra..." Panggil Papa Baskoro kala melihat putri bungsunya sudah keluar kamar.
"Papa kok udah pulang? Mama mana?" Ujar Aira senang memeluk Papanya.
__ADS_1
"Ada di bawah, sekarang kamu ikut Papa keruang kerja, ada yang ingin Papa tanyakan padamu!" Ujar Papa Baskoro, entahlah Auranya mengapa harus berubah dingin seperti ini?
"Siapa pria yang menemanimu pulang tadi."
"Yang mana pa? rara ga tau?"
"Yang baru saja memakai motor jelek itu!" Ujar Papa Baskoro menjelaskan dengan fakta tanpa bertele tele kembali.
"Oh temen Aira pa! Namanya Rendra. Dia pemilik coffe langganan Aira!" Ujar Aira dengan jujur, siapa tadi cowok yang mengantarkannya.
"Papa tidak peduli namanya, tapi jauhi dia!!!" Ultimatum macam apa ini?
"Kenapa? Kan Aira cuman berteman."
"Dia bukan selevel dengan kita. Kau harus bisa menjaga pergaulan mu Aira."
"Pa, tapi semua manusia sama!" Ujar Aira merasa aneh dengan perintah Papanya. Apa salahnya jika kita hanya berteman?
"Papa tak ingin ada bantahan Aira, turuti kata Papa dan sekarang ayo turun!" Ujar Papa Baskoro mutlak tak ingin di bantah
"Hem...."
"Oh ya satu lagi!!! Inget ya, Papa hanya akan setuju kalau kamu menikah dengan Daniel. Kamu tidak akan pernah kekurangan, kamu aka menjadi nyonya..."
"Aira turun dulu Pa! Bye!" Ujar Aira berlalu pergi meninggalkan Papanya.
"Papa ngomong apa? Kok sampai muka kamu cemberut gitu?" Ujar Annisa kala melihat adiknya menuruni tangga rumah dengan wajah masam, langkah kakinya mendekati sang adik dengan buku di tangannya.
"Gakpapa kak!" Ujar Aira memaksakan tersenyum.
"Udah itu masih ada Daniel di bawah, kamu pergi aja seneng seneng sama dia."
"Tapi kak..."
"Daniel, ajak Aira pergi jalan jalan keluar sana!" Ujar Annisa sedikit berteriak.
"Kak..."
"Udah sana, Kakak izinin ke Papa dan pasti Papa dan Mama ngerti ko. Daripada kamu disni!"
__ADS_1
"Oke thanks kakak." Ujar Aira, ah kakaknya ini memang manusia baik dan sangat baik.
...*******************...