
"Dek, makan dulu!" Pagi ini hanya kata sederhana yang terlontar dari mulut Annisa kala melihat Aira sudah rapi menuruni tangga.
Melaju tanpa menghiraukan, menganggap suara itu hanya angin lalu belaka.
"Sayang!" Jika membunuh adalah hal yang di perbolehkan oleh negara dan tidak mendapatkan sanksi pidana maupun sosial pasti Aira sudah pasti akan melenyapkan sosok Daniel yang sedang berdiri tegap di hadapannya.
Lagi dan lagi berjalan berlalu tanpa menghiraukan, namun cekalan tangan membuat langkah Aira terhenti menatap nyalang dengan penuh rasa kebencian.
"Lepasin!"
"Plis dengerin gue Ra! Gue ngaku salah tapi gue...
"Lo pinter dan ga tuli kan? Harusnya lo udah faham bahwa kita gak ada hubungan apapun dan stop ganggu gue! Gue bukan pacar lo lagi ya! INGET!!!!" Kali ini setiap kata bernada tinggi dengan menghempaskan pergelangan tangannya yang di cekal.
"Lo ko..."
"Gue gak mau denger apapun dari mulut lemes lo ya!"
"Dek kok ngomongnya gitu sama Daniel? Gak sopan! Kakak gak pernah ngajarin kayak gitu!" Ujar Annisa, tadinya ia hendak ingin memberikan kotak makan pada adiknya.
"Lo liat! Gara gara lo!!! Cih... Gue benci lo Daniel!" Ujar Aira menunjuk Daniel dengan jari telunjuknya, peduli apa soal tatapan dari kakak kandungnya.
"Sabar ya, Aira memang gitu kak!" Ujar Annisa tak enak hati, ia meminta maaf atas perlakuan adiknya.
"Gue memang salah nis, tapi plis!!! Bantuin, Gue gak mau putus dari adik lo! Gue cinta sama dia!" Kali ini rasa cinta itu nampaknya hanya sebuah keraguan yang menghiasi atau kebohongan yang sudah berganti menjadi ambisi seorang Daniel memiliki Aira dan membuatnya bertekuk lutut? entahlah.
Moodnya benar benar tak baik untuk hari ini, semoga dosen yang di carinya tak membuat moodnya kembali meledak. Semoga. hanya doa itu yang bisa di panjatkan kepada yang dia atas.
...**************...
"Cie yang udah jadian?" Oloknya jelita dengan cengiran tegil menggoda sang kakak.
"Jadian?" Ujar Rendra tak mengerti, dahinya menyerit menuntut penjelasan lebih atas tuduhan dari adik kesayangannya.
"Kakak sama kak Aira!" Ujar Jelita, mengapa ia yang malu malu seperti ini sih.
"Ngawur aja kamu dek, kita cuman temen. Aira udah punya pacar!" Ujar Rendra menjawab.
"Ha masak? Ah ga percaya aku!" Ujar Jelita.
"Lha ngapain kakak bohong, lagian kamu dapet berita dari mana si kok tau gituan!" Ujar Rendra menyelidik.
__ADS_1
"Kakak aja sering pulang kemaleman, kalu aku ke caffe kakak jarang ada. Ya aku penasaran dan ya gitu!" Jujur jelita begitu menggemaskan.
"Kamu ya... Udah kuliah yang bener aja! Jangan ngebuntutin kakak!"
"Kak tapi kalau kaka jadian sama kak Aira, traktiran ya!" Ujar Jelita masih menggoda.
"Dek gak boleh gitu! Bilangin bunda nih!"Ancam Rendra.
"Justru kakak dong yang dapet masalah!! hahaha..." Menyenangkan, kedua kakak adik ini sekarang begitu akrab dan mendukung satu dengan yang lainnya. Tak seprti awal mereka keluar dari rumah.
oh ya, untuk masalah rumah. Masih menyicil. Setidaknya Rendra bisa memberikan rumah yang lumayan layak untuk ia tinggali dengan sang Bunda dan adik kesayangannya.
Apapun yang Tuhan berikan kepada kita, semuanya patut untuk di syukuri dan terima dengan ikhlas kehadirannya.
...***************...
"Hai kakak ipar!" Goda Jelita, dewi keberuntungan memang selalu berpihak pada Jelita hari ini. Tanpa sengaja ia berpapasan dengan orang yang ingin ua cari selama ini.
"Aku?" Ujar Aira tak mengerti arti kata yang di maksud dari Jelita, adik tingkatnya.
"Ya memang ada cewe lain selain kakak disini? Kan hanya ada kita berdua!" Kekehan nya.
"Lagi ada masalah ya kak?" Tanya Jelita jadi tak enak hati.
"Sedikit!" Jujur Aira.
"Ah maaf kalau gitu, maaf ya Jelita udah ganggu kakak, Jelita permisi." Ujar Jelita menunduk hendak pamit dan berlalu pergi.
"Hei tunggu!"
"Kenapa Kak Ra?" Tany jelita tak mengerti.
"Kakak gakpapa, apa ada yang mau kamu omongin ke kakak!" Ujar Aira, kali ini biacaranya sudah tak mode menghemat. Bagaimana pun, ia hanya memiliki masalah dengan kakaknya Annisa dan Daniel, orang lain tak boleh menerima dampak buruk masalah yang jelas jelas tak tau menahu.
"Gak ada si, tapi Jelita punya tempat kalau kak Aira lagi suntuk gini!" Ujar Jelita memberikan penawarannya.
"Kemana?" Tanya Aira tak mengerti.
"Ayo ikut aku!" Ujar Jelita menggandeng tangan Aira.
"Sampai..." Ucap Jelita penuh dengan kesenangan.
__ADS_1
"Ngapain kita di atas gedung?" Tanya Aira tak mengerti.
"Mau bunuh diri kak!"
"Astaga Jelita, itu dosa. Gak baik..." Ujar Aira dengan nada tergagap miliknya.
"Becanda kak!" Ujar Jelita lagi sebelum Aira benar benar berfikir buruk seperti itu.
"Nih,kakak tulis semua masalah yang ada di hidup kakak!" Ujarnya memberikan kertas origami dan satu spidol buat Aira.
"Nah bentuk seperti ini!" Ajari Jelita, seperti sosok guru saja. kala di rasa Aira sudah menulis segala keluh kesahnya dengan sempurna meembentuk sebuah pesawat dan "Terbangin!!!" Ujar Jelita penuh dengab semangat.
"Arghhhhh Byee masalah....." Ujar Jelita berteriak sekencang kencangnya.
"Ayo kak, ikuti!" Ujar Jelita kala melihat Aira hanya terbenggong saja.
"Arghh...." Teriak Aira tak kalah kerasnya.
"Lega kan?" Tanya Jelita seusai Aira beeteriak dengan kencang.
"Hah, lega... Tapi haus!" Senyum itu kembali merekah setelah mendapatkan media untuk melampiaskan dan melepaskannya dengan paksa.
"Semua orang hidup pasti ada masalah kak, tapi jangan buat masalah itu menjadi beban atau penghalang kita untuk terus maju kedepannya. Dan kalau kita di sakiti jangan sampai menyimpan dendam pada orang itu. Biarkan takdir yang membalasnya!" Nampaknya Jelita kerasukan jin bernama mario teguh.
"Hahaha... Kayak Rendra." Kekeh Aira merasa tak asing dengan kata mutiara itu.
"Heheh iya lah. Kan kita satu produksi. Jelita juga ngambil kata kata kak Rendra!" Ujarnya nampak malu begitu lucu.
"Hahahahaaa...."
...*********************...
"Kenapa milih disini? Kan enak ke caffe miliik kakakmu! Lumayan dapet gratis!" Kekeh Annisa menyantap siomay dengan bumbu kacang. Mereka berdua tengah duduk dengan manis di pinggir jalan menyantap sepiring siomay. Kalau sore seperti ini pasti ada beberapa pedagang yang mangkal di luar kampus.
"Bosen kak, coffe mulu. Lebih bosen lagi liat baristanya! Cih!" Ujar Jelita meremehkan kakaknya.
"Hahaha... Bilangin loh nanti, atau mau bilang sendiri." Goda Aira pada Jelita.
"Hahaha bilangin aja gakpapa. Lagiyan Jelita pengen makan siomay, apalagi nih sama es jeruk. Beuh mantep!" Ujar Jelita mengekspresikan kata nikmat atas perpaduan siomay dengan bumbu kacang yang disegarkan oleh jus jeruk. Tiada tanding.
...*******************...
__ADS_1