Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 28


__ADS_3

"Wkwkwkwk, itu mata gak jenuh mandang terus! Heran!" Ujar Aira yang memergoki kakaknya terus memandang layar handphone.


"Ah lo, ngangetin aja!" Ujar Annisa.


"Wkwkwkwk... Ini tahun 2020!!! gakpapa kali kak cewek mengungkapkan perasaan ke cowok duluan!" Ujar Aira kembali.


Memang, menyembunyikan apapun dari sang adik yang maha mengetahui segalanya seperti sosok cenayang. Bagaimana bisa jika wajahnya begitu ketara bahwa ia mencintai Daniel. Ditambah kesengajaan yang tak terduga ia membaca secarik kata yang sialnya jika dibalik adalah foto proa bernama Daniel.


"Gak , apaan! Gue gak pantes buat dia!" Ujar Annisa masih berkecil hati, dan tak pantas.


"Lo dan dia memiliki banyak kesamaan, contohnya aja sama sama suka bisnis."


"hah... masih ada cewek di luar sana yang lebih jago dari kakak, di atas langit masih ada langit dek! apalagi dia pewaris tunggal kekayaan Papanya. Dah lah, gak usah dibahas! Kakak masih ga pantes buat dia!" Ujar Annisa tertunduk lesu, setelah lulus otomatis Daniel akan meneruskan usaha Papanya menjadi seorang pembinis hebat dan tentunya ia bisa menunjuk wanita manapun, pasti banyak yang mengantri dan lebih baik dari Annisa bukan?


"Yaudah deh terserah lo aja!" Ujar Aira menyerah.


Terkait foto, itu adalah hal yang tak sengaja dimana Aira meminta Daniel berfoto berdua dengan kakaknya sebagai imbalan tanda bahwa dirinya berterimakasih sudah mau memfotokan Aira dengan sang kakak.


Awalnya menolak, tapi karena Aira yang menyuruh ya mau bagaimana lagi.


"Lo sendiri gimana?" Tanya Annisa.


"Gue? apanya? Ya baik baik lah sama Rendra." Ujar Aira.


"Rencana lo kedepan, hubungan lo sudah hampir satu tahun sama Rendra kan...."


"Gue gak yakin Papa setuju, gue pengen nya sederhana. Lulus terus nikah sama dia dan bahagia punya anak lucu gitu!" Ujar Aira membayangkan bagaimana dan betapa lucunya kalau ia memiliki seorang anak.


"Etdah, itungannya mah kerja dulu gitu atuh neng Aira, ini kepikirannya nikah langsung!"


"Lah lo bayangin aja kak, gue cantik imut manis kayak gini terus Rendra nya ganteng tinggi putih. Arghhhh Gimana coba anaknya nanti? pasti imut bgt!" Ujar Aira makin ngelantur saja pembicaraannya.

__ADS_1


"Gila lo... Dah lah gue mau masuk dulu!" Ujar Annisa membiarkan sang adik.


"Hahahhaa.... Woy Tungguin gue!" Ujar Aura berlari kecil menyusul kakaknya.


...*******************...


"Akhirnya Papa bisa ketemu kamu!" Ujar Tuan Anggara.


"Mau apa anda kesini?" Ujar Rendra menatap galak.


"Sebrengs*k nya pria tua ini, dia tetaplah Papamu. Kau tak bisa menghilangkan atau memungkiri ada darahku yang mengalir di tubuhmu!"


"Dan aku jijik jika mengetahui fakta itu, kembali kerumahmu dan dan jangan pernah datang kesini lagi atau menemuiku!" Kaki Rendra hendak melangkah pergi namun tertahan.


"Papa salah Rendra, Papa menyesal Rendra, Maaf!!!!" Ujarnya lirih.


"Memang salah dan seharusnya anda menyesal dan malu akan semua itu!" Ujar Rendra masih nampak dingin.


"Pulang lah, "


"Kerumah itu? Rendra tak sudi!" Ujarnya lagi.


"Bukan, Papa sudah menyiapkan sebuah rumah untuk mu, Bunda dan adikmu Jelita. Bukan dirumah dulu!"


"Aku tak butuh itu, Jangan menganggu kami lagi, itu lebih dari sekedar cukup Pa!" Masih nampak dingin.


"Papa sakit!" Ujarnya membuat Rendra langsung terduduk. "Papa bukan minta di kasihani Rendra, pulang lah kerumah yang Papa siapkan. Bagaimanapun kau putraku, dan perusahaan Global Industri adalah milikmu saat ini, Papa mewariskannya padamu!"


"Aku sudah punya cafe ini!"


"Lantas siapa yang akan meneruskan perusahaan Papa? Mengertilah, perusahaan sebesar itu Papa bangun dengan usaha dan kerja keras dari nol Rendra. Untukmu!" Ujarnya, mata tua itu mulai sedikit berair.

__ADS_1


"Berikan saja pada istri mudamu itu, aku tak menginginkannya!"


"Kapan kau bisa percaya, Papa terpaksa. Sungguh. Papa tak akan mau menjalani pengobatan sebelum kau mau mewarisi perusahaan Papa!" Ujarnya "Papa pergi dulu! Maaf semua kesalahan Papa padamu di masa lalu." Tepukan bahu di pundak putranya membawa langkahnya pergi keluar.


Lega..... Perasaan itu yang di rasakannya saat ini.


Tubuhnya luruh kenangan masa lalunya berputar dalam otaknya, dan Rendra hanya dalam diam melihat jendela luar.


"Sayang...." Ujar Aira masuk kedalam, sudah pukul 10 malam namun pemuda itu masih berdiam diri di kursinya menatap kosong pemandangan luar semenjak tadi sore. Jelita pasti tau bahwa ini semua adalah ulah sang Papa, untuk itu meminta pertolongan Aira mungkin adalah jalan yang terbaik. Nampaknya.


Masih diam tak ada suara untuk menjawab kakinya melangkah mendekati Rendra.


"Sayang!" Panggil Aira lembut diiringi dengan usapan lembut di Pipi Rendra.


"Ra..." Lirihnya, tangisnya pecah memeluk erat kekasih hatinya.


"Aku ada disini untukmu, menangislah!" Ujar Aira mengusap pelan. Gadis baik yang selalu dewasa jika keadaan menginginkannya.


"Gue gak bisa Ra, gue gak bisa maafin dia. Dia udah jahat sama gue, adik gue terutama sama Bunda. Sakit Ra sakit!" Lelaki itu mengutarakan hatinya, ternyata ini sisi masa kelamnya.


Aira tak tau harus bereaksi seperti apa, sungguh ia tak tau apa pokok permasalahan yang terjadi. Yang jelas Rendra belum siap untuk menceritakan semuanya. Hanya saja, Aira mengetahui bahwasanya hubungan Rendra dan Papanya tak harmonis dan tak baik baik saja.


"Gak usah di inget kalau sesuatu hal tersebut nyakitin buat kamu, tak semuanya manusia itu kuat menghadapi masalahnya. Terkadang mereka perlu lari untuk menghindarinya! Tapi jangan selamanya."


"Aku pengecut Ra, aku gak bisa ngadepin kenyataan pahit itu!" Lirihnya dengan tangis.


"No!!! kamu bukan pengecut sayang, hanya butuh sedikit waktu lebih lama lagi!" Ujarnya masih dalam pelukan hangat untuk Rendra, tak semua manusia mengerti dan faham kenapa seseorang begitu tertutup akan suatu masalah, cukup tunggu dan jangan pernah memaksanyan bercerita.


Melihatmu seperti ini membuatku sakit Rendra, jangan seperti ini. Ku mohon ini jadi yang pertama dan terakhir kalinya. Tetesan air matamu membuat semua syarafku sakit!!!! Ku mohon tersenyumlah...😭


...*******************...

__ADS_1


__ADS_2