
Makan malam kali ini nampaknya kurang bersahabat, terimakasih di sampaikan pada Daniel yang sudah mau menghibur kekasihnya Aira, tentu dengan jalan jalan di suatu mall. Ala kadarnya seperti orang pacaran dan orang kaya.
"Mama ada sesuatu buat kamu!" Ujar Mama tersenyum kepada putri bungsu kesayanganya, sangat sayang sekali.
"Apa Ma?" Tanya Aira kala mereka semua sudah selesai makan malam, ini saatnya menyantap makanan penutup seperti buah yang tersedia.
"Ini." Ujar Mama memberikan kotak kecil cantik.
"Apa ma?" Tanga Aira tak mengerti.
"Buka aja!" Ujar Mama masih dengan senyum sumringah yang terus melekat.
"Kunci?" Tanya Aira tak mengerti.
"Ya, kunci mobil buat kamu. Sekarang kan kakak kamu lagi magang dan kamu di kampus. Ya sudah Mama belikan saja. Biar mudah."
"Tapi Annisa masih sanggup ngatur waktu buat anterin Aira ma!" Ujar Annisa.
"Mama kasihan kamu yang harus bolak.balik, kan juga gak sejalur. Dan Aira selamat!" Ujar Mama tersenyum dengan senang.
"Ma, Aira naik angkutan aja!" Tolak Aira dengan halus.
Tring
Bunyi Sendok dan garpu terjatuh, itu dari arah sang Papa. "Papa sudah selesai makan!" Ujarnya berdiri dan berlalu pergi meninggalkan meja makan.
"Ma...."
"Aira pake ya, kan Aira anak baik. Jangan ngecewain atau nolak pemberian dari Mama Papa ya sayang!" Ujar sang Mama memberikan pengertian.
"Baiklah ma..." Pasrah Aira.
"Mama ke atas dulu ya, nyusulin Papa. Jangan tidur malem malem. Bye sayang!" Kecupan hangat untuk kedua putrinya di layangkan sang Mama di puncak kepala, sesekali memgelus dengan sayang.
"Gak usah mikirn yang aneh aneh dek. Gakpapa terima aja. Kalau nanti kakak udah selesai magang kan kita bisa berangkat lagi bareng bareng." Ujar Annisa tersenyum hangat sebelum dirinya mendapatkan layangan protes dari adik cantiknya.
"Huft Baiklah..." Ujar Aira pasrah.
Badan di gulingkan kesana kemari, entahlah matanya tak bisa terpejam hingga ia memutuskan untuk duduk dengan tangan yang sesekali mengelus penuh kasih sayang kucing miliknya.
Nampaknya Papa dan Mama berfikir uang semakin segalanya dalam tatanan hidup ini..Boleh jujur? Aira tak senang di berikan mobil, bisakah ia meminta setiap pagi dan malam kedua nya bisa satu meja bersama dirinya dengan sang kakak secara terus menerus tanpa satu hari pun.
Seperti biasanya, ini sudah waktu nya pulang kerumah. Kakinya melangkah masuk, hanya terdapat kesunyian. Jam masih menunjukkan pukul 4 sore dan tak ada siapa pun di rumah itu. Kakaknya masih belum pulang, mungkin terjena macet ibukota. Fikirnya seperti itu.
"Nah oke, lets go!" Ujar Aira tersenyum senang kala melihat pantulan dirinya dalam cermin besar.
Cofe? Tidak! Aira tak sedang tidak berselera untuk meminum secangkir pahit itu. Kata Rendra tak baik meminum kopi setiap hari dan saat. Bukan begitu?
Ah Rendraa....
Satu reverasi kamar hotel ia pesan, lumayan agak jauh dari rumahnya, mumpung Papa dan Mamanya sudah kembali keluar kota untuk bisnis. Kalaupun ada mereka, Susah nampaknya untuk menginap.
"Terimakasih mba!" Ujar Aira tersenyum senang, kakinya melangkah masuk kedalam kamar dan merebahkan dirinya. "Arghh... Enaknya." Memanjakan sejenak dan berpejam mata.
Pemandangan yang mengarah ke lautan, menikmati sunset sore yang begitu indah. Mahakarya Tuhan yang tiada duanya dengan perpaudan warna yang menarik bagi manusia.
Duduk di atas pasir putih menikmati hembusan angin yang bertiup, membiarkan ombak laut beriak seperti alunan musik yang indah.
Pukul 7 malam, waktunya pulang dan kembali ke kamar hotel, namun langkahnya terhenti dan berbalik badan. Bersembunyi di antara dinding oenyangga yang ada.
"Kakaknya? Daniel?" Selulet itu Aira lihat dengan jelas, ada apa sebenarnya dengan keduanya. Tepisan itu di gelengkan dengan kuat. Kakaknya adalah sosok manusia baik, kan tak mungkin? Ah TIDAK!!!!
"Hallo dek kemana kok belum pulang?" Tanya Annisa di ujung sebrang sana kala Aira mengangkat telfon.
"Hehehe.... Hotel kak, nikmati hidup!" Ujarnya terkekeh geli.
__ADS_1
"Ya ampun, lain kali bilang dek. Kakak khawatir sama kamu. Sekarang kamu dihotel mana?" Ujarnya kembali.
"Seperti biasanya, toh Aira juga baru sampai kak." Ucap Aira menipu.
"Yasudah besok kakak kesana!" Ujar Annisa.
"Hehehehe... Oke kak, Maaf ya!" Ujar Aira menutup telfon miliknya.
Belum cukup malam untuk keluar dan menangkan pikirannya menepis segala hal yang negatif atas apa yang Aira liat saat itu. "Hahh....."
Beberapa orang menghadang langkahnya, kejadian itu begitu cepat dan sangat cepat hingga Aira masih dengan keterkejutannya.
"Nah gitu dong! Awas lo!" Ujar perampok itu mendorong tubuh Aira hingga tersungkur di bawah tanah, bayangan ketakutan seketika menghampirinya. sendiri duduk termenung dengan apa yang terjadi barusan.
Aira takut, keluh lidahnya hanya mampu tertahan.
"Mba? Ada apa?" Ujar seseorang bertanya kala melihatnya hanya menunduk dengan posisi yang menyedihkan.
"Ra?" Ujar Rendra kaget, kebetulan sekali mengapa mereka sampai bertemu disini.
"Takut!" Lirihnya pelan bersama dengan isak tangis yang tertahan.
"Hey!" Ujar Rendra kembali menepuk pelan bahu milik Aira, membuatnya sadar bahwa dia sudah aman "Begitu sorot matanya."
"Hiks... Hiks... Hiks... Hitam takut...." Isakan itu akhirnya lolos sempurna di bibir Aira bersamaan peluk yang hangat dari tubuh kekar milik Rendra.
"Lo tenang ya! Gue ada disini! Lo tenang ya!" Kembalinya lagi memberikan usapan lembit di belakang punggung gadis cantik itu.
30 menit berlalu setelah di rasa tenang, Aira menceritakan kejadian naas yang di alaminya."Gue takut!" Ujarnya mengakhiri cerita tersebut.
"Lo kok bisa si keluar malem malem gini, mana jauh dari rumah!" Ujar Rendra.
"Gue nginep dihotel sana!" Tunjuknya ke arah gedung hotel.
"Oh, yaudah gue anterin lo balik hotel ya!" Ujar Rendra.
"Gue disini ada urusan Ra, cabang caffe gue yang kedua ada disana!" Ujarnya menjelaskan.
"Gue kan ga tanya!"
"Tapi tatapan lo ke gue mengintiminasi gitu!" ujar Rendra memandang lurus kedepan.
"Sok tau lu!" Ujar Aira gelagapan.
"Lo pasti ada masalah kan? Tumben ke hotel?" Ujar Rendra.
"Gakpapa!"
"Cewek gitu, kalau ada masalah bilangnya sok gakpapa. Minta didesak dulu baru mau jelasin. Cih...." Sindir Rendra mengejek.
"Mana ada."
"Banyak Ra banyak, tumben lo ga ngopi? Biasanya..."
"Kopi ga baik kalau di minum tiap hari Ra!" Ujar Aira menjawab dengan logat bicara mirip Rendra.
"Hahhaha.. Nah itu bagus, tapi gak ke hotel juga si. Buang buang duit!" Goda Rendra.
"Elu mah, harusnya tu cowo yang serba salah. Lha ini kok jadi gue yang salah mulu. Kan gue cewe."
"Hahaha... Udah malem Ra, noh udah sampai hotel. Buruan masuk, jangan sok keluar sendirian kalau malem. Kalau lo butuh gue, ke caffe aja. Gue ada disana."
"Thanks ya kak."
"Santai aja!" Ujar Rendra tersenyum.
__ADS_1
"Besok pagi gue caffe lo ya! Bye!" Ujar Aira berlarik masuk kedalam hotel.
Ah, mimpi indah kali ini. Rasanya begitu nyaman bersama dengan Rendra. Laki-lali baik penuh pengertian.
Jam saja masih menunjukkan pukul 7 pagi, Mau kemana si neng? Biasanya jam segini masih bobo.
Tok
Tok
Tok
"Permisi nona, saya ingin mengantarkan makanan anda!" Ujar pelayan hotek tersebut.
"Oke mba, makasih ya!" Ujar Aira mengambil makanan itu dan menutup pintunya.
"Sarapan dulu kali ya!" Ujarnya lagi, menunya sangat sederhana namun menggugah selera nikmat.
Semprot sana sini, liat lagi dan cantik kok sayang. Lets go Ujarnya senang menyalakan mobil miliknya untuk bergegas bertemu Rendra.
"Hallo!" Panggilnya sedikir memaksa, saat pintunya masih bertuliskan tutup. Ya si eneng kepagiannsi datang kecafe jam segini.
"Hallo!" Gedoran itu tambah mengeras bak seseorang yang ingin maling saja. Bodoh amat.
"Masih tutup mba! Ga liat apa tulisannya!" Ujar Rendra mengucek matanya, kesadarannya masih melalang buana tertinggal disana.
"Hai kak! Sorry ya ganggu. Iya gue tau kalau caffenya masih tutup!" Ujar Aira merasa tak enak.
"Astaga Ra! Gue kira siapa. Lagian ini masih terlalu pagi."
"Hehehehe..."
"Yaudah masuk, tungguin gue bentar ya!" Ujar Rendra menyuruh Aira masui kedalam caffe miliknya.
"Oh ya, kalah lo butuh minum sementara ambil di situ dulu ya!" Ujar Rendra menunjuk mesin pendingin minuman kaleng.
"Santai, udah lo mandi sana. Bau."
"Oke bentar."
"Kak, jangan ganggu gue. Ada urusan penting. Kunci kamar udah aku titipin ke resepsionis ya. Ambil aja, pulang gue sore! Bye...." Ujar Aira mengirim pesan itu kepada kakaknya.
"Lo ada kerjaan ga?" Ujar Rendra bertanya pada Aira.
"Kagak si, lo mau ajakin gue kemana?" Ujar Aira bertanya menyangga wajah dengan kedua tangan miliknya.
"Yakin nih?"
"Udah ayo!" Ujar Aira menarik Rendra keluar.
"Itu mobil lo?"
"Heem. Dari mama gue, padahal ga minta."
"Tunggu sini aja deh, gue gak yakin lo."
"Emang mau kemana si?" Tanya Aira penasaran.
"Ke pasar naik motor tapi, kalau pake mobil lo nanti...."
"Yaudah tinggalin aja mobil gue disini gakpapa."
"Lo yakin nih? gue mau ke pasar tradisional loh ini" Itu.."
"Yakin gue yakin. Kagak bakal nyusahin elu, percaya." Ujar Aira meyakinkan kembali.
__ADS_1
"Tapi...."
...***************...