Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 17


__ADS_3

"Lo capek ga?" Ujar Rendra kala ia memeriksa barang belanjaan miliknya, semua sudah terbeli untuk kebutuhan caffe.


"Lumayan si tapi dikit hehehe..." Ujar Aira terkekeh, menggerakan jarinya berjarak kecil untuk mengungkapkan kata sedikit.


"Laper?"


"Lumayan nih, enak kali makan yang seger seger!" Ujar Aira usul.


"Mau bakso?"


"Mau mau, itu aja beli disana yang rame..Enak kayaknya kak!" Ujar Aira menunjuk warung bakso kaki lima pinggir jalan.


"Ra, lo kagak salah minum obat kan ya? Yakin lo mau makan disana?"


"Bawel ih, yakin gue traktir kalau duit lo abis. Gakpapa tenang aja."


"Bukan itu, tapi kan Ra." Masa bodo dengan apa yang di ucapkan oleh Rendra, kakinya tetap melangkah mendekat menikmati semangkuk bakso.


"Yang kaya Papa dan Mama gue, dan satu lagi. Gue gak malu makan di pinggir jalan. Justru dengan ini gue bisa bantu mereka."Ujar Aira disela mengunyah bakso miliknya.


"Ya gue kira semua anak orang kaya itu..."


"Gue pengecualian nya kak. Udah habisin, langsung balik caffe udah di tungguin itu belanjaan."


Suasana dapur nampaknya menunjukkan aura cinta, ah bukan baru bunga bunga cinta saja nampaknya.


"Gue ajarin bikin kek gini" Ujar Rendra menunjukkan kemampuannya khusus membuat nail art coffe di depan Aira.


"Buat lo!" Ujar Rendra menatap cantik gambar yang terlukis di atas cangkir coffe.


Prok Prok Prok "Hebat juga lu kak, jadi kagak tega mau minum."


"Hahaha.. santai aja buruan minum, Ntar keburu dingin."


"Tapi kan lu tau kalau gue sukanya coffe murni."


"Ya gue tau, dan gue juga sama kayak lo. Tapi sesekali coba itu. Sama kok enaknya."


"Beneran nih kak?"


"Ya.. Cobain aja." Ujar Rendra memepersilahkan.


...**************...


"Jadi ceritanya gimana si kok lo sampe bisa di rampok?" Tanya Rendra penasaran, kala keduanya sudah duduk di bibir pantai menikmati hembusan angin.


"Gue gak tau, kejadiannya cepet banget. Salah gue juga si, Ngapain juga keeluar malem malem." Tutur Aira.


"Dan lo disini?" Tanya Rendra sedikit penasaran.


"Disini gue lahir, Hah... Gue suka kepantai, dulu gak seramai ini. Papa dan Mama gue yang selalu ngajakin anaknya kesini. Sekarang mereka masih sibuk dan bahkan ga peduli tentang gue dan kakak gue. Yang mereka tau, uang yang mereka kirim ke gue dan kakak cukup buat bahagia dan ya... Sesimple itu." Tutur Aira pandangannya masih menatap lurus.


"Soal semalem, gue trauma. Gue pernah hampir di culik saat kecil, untungnya kakak gue serta Mama Papa dateng tepat waktu." Ujar Aira kembali menjelaskan.


"Terus kenapa lo gak ngajak kakak lo kesini buat nemenin?" tanya Rendra.


"Dia masih sibuk sama tugas magangnya. Mau nyusulin pagi tadi katanya. Tapi Entahlah gue gak tau."


"Pacar lo?"


"Sama, mereka satu tempat magang. Lebih tepatnya mereka berdua patner magang di perusahaan bokap pacar gue!" Tutur Aira melirih.


"Gak usah sedih gitu ngapa si, gue janji bakal nemenin lo kok, kalau lo mau kesini." Ujar Rendra menghidupkan suasana ceria.

__ADS_1


"Hahahaha... Papa Mama gue sebelum pindah juga bilang gitu, tapi faktanya mereka sibuk dan lupa." Lirihnya tertunduk.


"Gue janji, setiap akhir bulan gue bakal nemenin lo kesini!" Ujar Rendra menepuk pelan bahu Aira.


"Thanks dan sorry kalau gue cerita masalah pribadi ke elu."


"Gakpapa Ra!"


"Terus keluarga lo kemana? Gue gak liat Jelita disini, adik lo?" Ujar Aira bertanya.


"Adek gue di rumah nemenin Bunda, gue juga gak lama disini. Paling nanti malem gue pulang."


"Oh... Kenapa ga pagi aja?"


"Ada urusan pagi pagi gue disana, dan pekerjaan gue udah selesai juga disini."


"Oh...." Tutur Aira.


"Gue anter pulang udah malem kayaknya nih!"


"Hem...."


...************************...


"Dari mana si lo dek? Jam segini baru pulang si!"


"Cuman kangen aja, pengen kepantai kak hehehhehe." Ujar Aira.


"Tapi kan gak sendirian juga, lo bisa kan minimal ajak gue atau Daniel gitu."


"Lagi pengen sendiri aja kak. lagian aku liat kakak kayaknya sibuk dengan tugas magang."


"Akhir-akhir ini memang banyak sekali yang kakak urus dek."


"Oh, Nih aku bawain makanan sama minuman kak. Makan yuk, laper ini setelah itu pulang!" ujar Aira.


"Siap bos."


Rasanya canggung, teka teki itu masih bersarang di otak Aira kala melihat sang kakak ada di hotel bersama Daniel. Apa urusan pekerjaan mengharuskan anak magang selalu ikut berkontribusi dengan para investor di luar atau? Entahlah.


"Kak."


"Hem, kenapa dek?" Tanya Annisa kala keduanya sudah sampai di rumah.


"Rara liat kakak sama Daniel keluar hotel." Masa bodo, tapi Aira kepo dengan itu.


Deg


Deg


Deg


Jantung Annisa berdegub kencang kala mendapat pertanyaan yang tak terduga dari adiknya.


"Dek kakak bisa jelasin jangan salah faham duluan. Itu kakak nemenin Daniel buat rapat sama investor dan ada Papa nya juga!" Jujur Annisa gelagapan.


"Oh... Harus sama kakak ya?"


"Itu kemauan dari Papanya Daniel dek, kakak mau nolak juga gak enak bilangnya. Kan kakak masih mahasiswa magang."


"Oh..."


"Kamu percaya kan sama kakak?" Tanya Annisa kembali memastikan.

__ADS_1


"Kak, kayaknya kakak lebih cocok dengan Daniel deh dari pada aku. Mending aku putus aja ya!" Selalu mengambil keputusan tanpa memperhitungkan dampaknya.


"Apaan si dek, kakak sama dia cuman sebatas rekan kerja sama aja. Gak lebih." Ujar Annisa.


"Udah malem, Gak usah berfikir aneh aneh lagi. Tidur besok kuliah!" Ujar Annisa memperingatkan.


"Iya kak...."


Semakin hari, rasanya hubungan Daniel dan Aira di landa kerenggangan. Daniel yang selalu memberinya kabar saat istirahat namun akhir ini hanya sesekali mengirimkan beberapa pesan padanya itupun tengah malam. Kakaknya? akan pulang jika jam sudah menunjukkan pukul 8 malam bahkan terkadang lebih dari jam itu.


Sisbuk inikah menjadi seorang prmbisnis? mengelola perusahaan? makin sepi dan sunyi aja.


"Sibuk banget ya kak akhir-akhir ini?" Tanya Aira kala ia memiliki waktu keluar bersama Daniel saat ini, terlalu membosankan jika melihat gaya pacaran keduanya.


"Sibuk banget sayang, Kebetulan perusahaan Papa mendapatkan keuntungan yang banyak dan di karenakan banyak investor baru yang mau bekerja sama!" Jelas Daniel, dan stop Aira tak mau mendengarkan tentang perbisnisan , itu memuakkan baginya.


"Kak, Aira pengen pergi ke taman!" Ujar Aira kembali.


"Oke." Ujar Daniel tersenyum tangannya mengelus kepala Aira.


"Laper ga kak? Makan yuk?" Ajaknya menunjuk warung kaki lima bertuliskan bakso dan mie ayam yang ada di ujung taman sana.


"Kamu yakin? mau makan di warunga kayak gitu sayang?" Ujar Daniel mengamati warung tersebut, bola matanya kembali memandang Aira dan "Yaudah ayo, aku temenin." Ujar Daniel pasrah.


Duduk menunggu makanan di antarkan, beberapa kali Daniel menyemprotkan cairan anti kuman di atas meja dan ke alat makannya.


Tak selang beberapa lama, makanan datang dengan wajah senang Aira yang berbinar tak sabar untuk memakannya. Berbanding terbalik dengan Daniel yang nampaknya ragu dengan bakso yang ada dihadapannya.


"Kak minta kak..." Salah satu pengemis berbadan kecil lusuh dan berbau menghampiri Aira dan Daniel.


"Sini duduk, makan sama kakak!" Ujar Aira malah mempersilahkannya untuk duduk di sampingnya.


"Terimakasih kak!" Ujar pengemis kecil itu dengan senang.


BRAK!!!!


Daniel menggebrak meja, tak keras tapi membuat Aira tak mengerti apalagi setelahnya kakinya melangkah keluar dari warung bakso tersebut tanpa sepatah kata apapun.


"Ini ya uang buat kamu, baksonya udah kakak bayar kamu tunggu disni ya dimakan. Maaf kakak gak bisa temenin kamu ya adik kecil." Ujar Aira dengan sayang.


"Terimakasih kak!" Ujar pengemis itu dengan tulus.


"Kamu kenapa si?" Tanya Aira keluar saat ia sudah berhadapan dengan Daniel.


"Kamu yang kenapa Ra! Kamu!!" Sulut Daniel.


"Mamangnya aku kenapa?" Tanya Aira tak mengerti.


"Aku udah mau ya nemenin kamu makan di pinggir jalan yang gak jelas kayak gitu. Makanan yang buat sakit perut. Mana tempatnya kumuh." Sinis Daniel masih meninggikan nadanya.


"Aku gak nyuruh kamu mau ya!" Ujar Aira tak kalah sewot.


"Dasar cewek ga tau di untung. Udah bagus aku mau nemenin kamu ya." Kerasnya mengintimidasi.


"Gue gak butuh itu!!"


"Ngapain juga lo sok sok an ngasih duduk pengemis kayak gitu? Lo mentri sosial? Kagak kan? gak usah berlagak sok deh!" Ujar Daniel memandang remeh.


"Daniel stop!!!"


"Apa apa!!! gue heran sama lo yang suka bergaul sama orang yang bau dan miskin. Contoh dong kakak lo. Udah pinter dalam bisnis, diajak kemana kemana gak malu malu in kayak lo yang sok dermawan." Sinisnya.


"Daniel lo!!!"

__ADS_1


"Apa! Gue mau pulang. Lo sana pulang sendiri, kagak mau gue anterin lo. Tangan lo banyak bakteri gara gara nyentuh anak tadi!" Ujar Daniel meninggalkan Aira yang masih dengan keterkejuatannya.


...********************...


__ADS_2