
3 bulan lamanya, semua sudah baik baik saja. Uang yang terkumpul juga lumayan banyak, walau setiap malam badannya terkadang merasakan pegal yang luar biasa.
"Hah..." Hembusnya.
Entahlah seminggu ini Aira sering pusing dan beberapa kali mengeluh sakit, rencananya esok ia akan memeriksa kondisinya untuk mengecek apakah dia baik baik saja atau tidak.
Hanya cek up saja. Mungkin karena selama ini tak pernah bekerja sekeras ini, biasa. tubuhnya mungkin sedang menyesuaikan dengan segala kesibukan.
"Baiklah, sudah semua ya. Hasilnya minggu depan akan saya kabari lagi Aira!" Ujar Bu dokter paruh baya, wajahnya masih tetap terlihat cantik di umur yang taj lagi muda.
"Hehehee... Iya...." Senyumnya. Dokter keluarga ini sudah seperti Mama kedua bagi Aira. Baik sekali.
"Rendra!!!" Panggilnya kala melihat sosok tersebut lewat. Kakinya mengikuti secara diam diam, hingga kekasihnya masuk kesebuah ruangan. semuanya sudah terlihat dengan jelas. Sosok Felicia ada di ranjang pasien.
"Bisa jelasin?" Ujarnya kala melihat sosok Rendra yang sudah keluar dari kamar milik Falicia.
"Sayang..." Gugupnya.
"Ayo bicara ditaman, nampaknya kamu butuh ruang banyak untuk menjelaskan." Ujarnya melangkah, pasrah saja. Mau bagaimana lagi, ia sudah ketahuan bukan? lebih baik jelaskan dengan segera.
"Aku ga tau harus ngomong ini dari mana?" ujar Rendra nampak bingung, bibirnya kelu untuk mengungkapkan sebuah kata. Nampaknya udara segar ditaman tak dapat membuatnya tenang dan berfikir jernih, menyusun kata sehingga Aira tak sakit hati oleh perbuatannya.
Rendra tau, gadis ini jelas tak suka jika dirinya berbohong bukan? Terlebih atas janji yang mengungkapkan bahwa ia tak akan peduli lagi dengan Felicia.
"Jelaskan saja? Sejak kapan?" Tanyanya masih dengan sabar.
"4 bulan!" Lirihnya kembali.
"Hah..... Masih mencintainya?"
"Ra, engga!!! please dengerin aku dulu! Aku bisa jelasin! Aku cuman cinta dan sayang sama kamu, kamu kan pacar aku." Putusnya dengan nada tak terima, nafasnya tersenggal.
"Silahkan!" Airmata sekuat apapun ia tahan.
__ADS_1
"Dia sakit!"
"Lalu? Harus kamu yang mengurusi semuanya? Apakah dia tak punya saudara?" Ujarnya bertanya dengan sinis, oh Tuhan. Kau terlalu peduli sekali Tuan Rendra.
"Ra, kamu tau kan dia itu ibu tiri aku. Maksudnya tu, arghhh.. gimana si ngejelasin ke kamu. Aku sama dia cuman sahabatan Ra! Aku sayang sama kamu. Dia sakit, Gagal ginjal dan hidupnya tak akan lama. Please kamu ngerti kan gimana maksudku?" ujarnya nampak dengan mata berkaca kaca.
"Hah, lalu aku harus membiarkan mu terus merawatnya? haruskah aku memberi izin?"
"Ra kita cuman temen, lagian dia gak ada siapa siapa lagi Ra!!! Aku kasihan sama diam. Kata dokter hidupnya hanya 6 bulan lagi Ra, kamu ngerti kan sayang maksud aku?"
"Tapi gak ada cewe yang bisa ngerti kalau orang yang dia sayang dekat dengan mantan kekasihnya sekaligus ibu tirinya!"
"Ra kamu kok egois gini si, kan aku cuman bantu dia. Lagian dia tu harus bahagia di sisa hidupnya!!!"
"Hahaha... Good, aku egois ya! Tapi soal umur, hanya Tuhan yang tau. Dokter hanya bisa memprediksinya."
"Tapi prediksi dokter ga pernah salah Ra, Pleade kamu tu jangan egois, bisa kan ngerti keadaan orang! Lagian dia tu sakit Ra, gak kayak kamu dan aku yang sehat gini!"
"Astaga, bingung aku jelasin nya. Bukan gitu Ra. Aku sama Felicia udah sepakat kita cuman sahabatan aja, gak lebih. Dan aku bisa bagi waktuku buat kamu kok!"
"Hah, ya sudah aku pulang dulu ya. Aku mengizinkan mu nerawatnya semoga dia lekas membaik!" Ujarnya tersenyum, tepukan tangan membawa langkahnya pergi, tak di kejar sama sekali oleh Rendra. Pria itu hanya menatap Aira yang perlahan melangkah pergi dan menghilang.
...Gue gak jahat kan ya? Felicia masih butuh gue. Aira kan gak sakit, setidaknya hidupnya lebih beruntung dari Felicia bukan?...
Perasaan Rendra bertaut bingung, ingatlah pemuda ini selalu baik kepada siapapun terlebih wanita apalagi Felicia tengah sakit seperti ini bukan?
...***************...
Seminggu setelah kejadian itu, hubungan keduanya menjadi renggang. Entahlah Rendra lebih sibuk akhir akhir ini. Dan Aira harus belajar memaklumi segala hal.
Kadang hatinya bertanya apakah ini tindakan yang paling benar Aira lakukan untuk mempertahankan Rendra?
"Gimana udah siap?" Tanya teman Aira, gadis ini akan mengisi cafe dengan beberapa lagu. Ternyata benar, ini tambahan yang menguntungkan baginya.
__ADS_1
Coba tanyakan pada hatimu....
Apakah sebaiknya kita putus atau terus...
Kita sedang mempertahankan hubungan...
Atau sekedar menunda perpisahan....
Bait tersebut nampaknya cukup mengungkapkan suasana hati Aira yang terpuruk.
"Lo ada masalah? Kok nyanyinya mendalami gitu banget elahhhh!!" Goda temen nya.
"Heheheh... Sok tau lu, kan emang gue kalau nyanyi jago dan harus mendalami bait nya dong!" Gadis ini masih bisa tersenyum di tengah kegundahan hati miliknya.
Lumayan, baginya ini uang yang cukup besar atas hasil keringat dan kerja kerasnya sendiri. kurang lebih ada 10p jt, setidaknya ia bisa mencoba menyewa ruko terlebih dahulu bukan?
"Hah.... Besok deh gue cari tempat yang cocok." Bunga menjadi pilihan Aira dalam memulai bisnis ini.
Filosofi, indah dengan warna unik nan cantik, perpaduan bau harum membuat seseorang akan terhibur dengan keanggunannya. Gadis ini terpikat pada bunga, hatinya akan tenang.
"Hallo!!!" Sambungan telfon itu di jawab dengan baik di ujung sana.
"Kenapa?" Tanyanya, Aira menurunkan ego dan gengsinya. Bagaimana pun ia harus memberitahu Rendra soal semuanya dan usahanya untuk memulai bisnis berjualan buket bunga. Terdengar, disana orang tersebut masih bekerja dengan suara lembar dokumen yang berpindah.
"Besok ada waktu? ada hal yang ingin aku omongin?" Ujarnya lagi.
"Hem.... Ada... Mau jam berapa?"
"Sore bisa?" Tanyanya memastikan.
"Bisa, jam 4 ya aku kerumah kamu!" Ujarnya lagi,
...***********************...
__ADS_1