
"Semua sudah berkumpul di ruang rapat Ndra!" Ujarnya mengintruksi.
"Ayo Pa kesana!" Ujar Rendra, keduanya melangkah masuk kedalam ruangan tersebut.
"Selamat pagi semua, seperti yang sudah kalian liat di media. Perkenalkan ini putra saya yang akan menggantikan saya kedepannya. saya harap kalian semua saling membantunya jika ada masalah!" Ujarnya lagi. Papa Anggara membuka percakapan sebelum akhirnya Rendra mempresentasikan. Semuanya begitu sempurna disana.
Tepuk tangan riuh, tak salah Papa Anggara mengangkat Rendra menjadi penerusnya, semua terlihat sangat puas atas apa yang telah pemuda itu presentasikan.
Satu orang disana berwajah pias, tangannya bergetar hebat. "Jadi Rendra!" Kalimat itu semua hanya mampu tertahan. Siapa lagi kalau bukan Papa Baskoro, ia dia memang seharusnya ada dan hadir diacara sepenting ini bukan.
"Sekian dan kalian boleh meninggalkan ruang rapat!" Ujar Rendra dengan sopan, sudah 2 jam lamanya mereka melakukan rapat tersebut dan memang ini sudah jam nya istirahat.
Helaan nafas lega, Papa Baksoro segera melangkah keluar ikut bersama kepala cabang yang lainnya.
"Panggil tuan Baskoro untuk keruangan ku!" Rendra mengintruksi sekretarisnya kala ia sudah sampai di ruangan miliknya. Papanya pulang sejak rapat berakhir.
Tok
Tok
Tok
"Silahkan masuk!" Ujarnya dari dalam menjawab.
"Silahkan duduk tuan Baskoro!" Ujar Rendra memberikan perintah dengan sopan.
"Apa saya melakukan sebuah kesalahan hingga saya harus di panggil menemui tuan disini?" Bicaranya formal, bagaimana pun ini masih lingkungan kantor dan Rendra adalah pimpinannya yang wajib ia hormati.
"Anda pindah kemana?"
"Maksudnya tuan?"
"Jangan berbicara formal seperti itu, Kita hanya berdua panggil Rendra saja. Saya hanya ingin bertemu dengan putri bungsu anda Aira, calon mertua." Jujurnya tanpa basa basi.
"Maaf tuan, kita masih di lingkungan kantor. Tak baik mencampur adukkan masalah pribadi disini. Soal anda ingin menemui putri saya, maaf saya harus katakan ini bahwa putri saya tidak ingin bertemu dengan anda apapun masalahnya. Saya permisi!" Ujarnya pamit, peduli apa dengan sorot mata Rendra yang kelihatan menahan amarah.
__ADS_1
Brak!!!!!
Meja di gebrak, sialan. Ia sudah berbiacara sebaik dan selembut mungkin. Kenapa sifat Papa mertuanya sama seperti gadisnya. Keras kepala! Sinisnya menatap nyalang.
Tring!!!!!
"Papa!!! Aira!!" Sambungan telfon membuat tubuh paruh baya itu melemah.
"Baik Papa kesana sekarang!" Ujarnya lagi. Kakinya melangkah tergesa gesa untuk segera pergi meninggalkan area perusahaan dan menyusul ke alamat yang Annisa berikan.
Sudah ada sang istri dan Annisa disana. "Bagaimana bisa?" Tanya Papa Baksoro.
"Annisa ga tau Pa, Annisa udah nemuin adek pingsan di atas lantai Pa!" Ujarnya sesenggukkan.
"Sudah tenang ya, Aira pasti selamat!" Ujarnya lagi.
Klik!!
"Bagaimna dokter Aris keadaan putri saya!" ujar Papa Baksoro bertanya.
"Mama!!!" Pekik Annisa kaget kala tubuh Mamanya tak sadarkan diri, beberapa suster pun ikut membantu Nyonya Baskoro.
"Anda ikut keruangan saya!" Ujar Dokter Aris setelah selesai memeriksa keadaan Nyonya Baskoro tersebut.
"Baik dokter!" Ujar Papa Baskoro, kakinya begitu pasrah melangkah.
"Ini..." Dokter tersebut menyerahkan selembar dokumen yang harus Tuan Baskoro tanda tangani.
"Paru paru serta Organ hati pada pasien sudah tak bisa berfungsi secara maksimal. Ini kasus yang cukup sulit, tubuhnya masih terlalu muda menerima serangkaian pengobatan. Obat obatan yang saya berikan juga ditolak oleh tubuh pasien."
"Berapa kemungkinan putri saya akan sembuh!"
"Dengan berat hati, Kita hanya bisa memperpanjang umur hidupnya. Saya akan berusaha semaksimal mungkin, hanya keajaiban Tuhan yang mampu menyembukan putri anda tuan."
...*************************...
__ADS_1
Hari itu operasi segera dilakukan , semua tim dokter hebat ikut turun tangan. 4 jam lamanya hingga pukul 2 malam Dokter Aris keluar dari ruang operasi.
"Pasien akan saya pindahkan ke ruangan inap terlebih dahulu ya!" Dokter Aris berbicara, "Kau harus tidur Annisa dan anda juga tuan!" Ucapnya dengan sopan.
"Apakah berhasil?"
"Kita tunggu respon tubuh pasien esok hari ya. Saya dan tim dokter sudah melakukan semaksimal mumgkin untuk kesembuhan pasien." Ujarnya.
2 hari lamanya, Aira masih saja damai tertidurm Tubun cantik ini pucat pasi dan bertambah kurus saja.
Kelopak matanya perlahan terbangun "Kak!" Lirihnya. "Haus!" Ujarnya lagi.
"Ini minum kakak bantu ya." Dengan telaten Anisa membantu adiknya untuk minum, "Kakak panggilin dokter sebentar ya!" Ujarnya lagi.Dokter Aris masuk kedalam "Hai Aira?" Sapanya tersenyum.
"Hai dok?" Jawabnya.
"Periksa dulu ya, ikutin perintah saya ya!" Ujarnya. Anggukan lemah Aira layangkan.
"Oke baik, semuanya sudah normal. Kamu jangan banyak bergerak dulu ya. Istirahat saja!" Ujatnya lagi, beberap nasihat Dokter Aris berikan pada Annisa tentang nerawat pasien. Mama dan Paoa begitu senang mendengar keadaan putri bungsunya.
"Hari ini Mama kan sudah di perbolehkam pulang? Pulang saja dulu kerumah Ma , Pa Istirahat. Biar Annisa saja yang menemani Aira disini!" Ujarnya memberikan pendapat.
"Tapi Annisa, Mama...."
"Mama juga harus memikirkan kesehatan Mama, Papa juga. Aira sudah jauh lebih baik, nanti akan Annisa beritahu perkembangannya!"
"Ah baiklah! Kau harus janji itu!"
"Tentu Ma, istirahatlah. Besok Mama bisa kesini lagi bukan?"
"Kau harus hati hati ya!"
"Ya Ma!"
...**********************...
__ADS_1